WhatsApp Icon
Amalan Terbaik di Bulan Safar Menurut Islam: Tinggalkan Mitos, Perbanyak Ibadah dan Amal Saleh

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Di sebagian masyarakat masih berkembang anggapan bahwa Safar identik dengan kesialan, musibah, atau waktu yang kurang baik untuk memulai suatu aktivitas. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki landasan dalam ajaran Islam.

Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Karena itu, umat Islam tidak perlu merasa takut atau menunda berbagai urusan hanya karena memasuki bulan ini. Sebaliknya, Bulan Safar dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh demi meraih rida Allah SWT.

Lalu, amalan apa saja yang dianjurkan selama Bulan Safar? Simak penjelasannya berikut ini.

Mengenal Bulan Safar dalam Islam

Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalender Hijriah. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa Bulan Safar membawa kesialan sehingga mereka enggan melakukan perjalanan, menikah, atau berdagang pada bulan tersebut.

Islam datang untuk meluruskan keyakinan yang keliru itu. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada kesialan pada Bulan Safar, dan tidak ada hantu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Tidak ada waktu atau bulan tertentu yang secara hakikat membawa keberuntungan maupun kesialan. Karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk mengisi Bulan Safar dengan amal saleh, bukan dengan mempercayai mitos yang bertentangan dengan akidah.

Mengapa Perlu Memperbanyak Amal Saleh di Bulan Safar?

Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan hanya karena memasuki Bulan Safar. Namun, setiap waktu merupakan kesempatan bagi seorang muslim untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Memperbanyak amal saleh di Bulan Safar memiliki banyak manfaat, di antaranya:

  • Menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

  • Menambah pahala sebagai bekal di akhirat.

  • Membersihkan hati dari sifat-sifat buruk.

  • Menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil.

  • Mempererat hubungan dengan sesama.

  • Menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

10 Amalan Terbaik di Bulan Safar yang Dianjurkan

1. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Selain membantu sesama, sedekah juga menjadi sarana membersihkan harta dan jiwa.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki."

Sedekah dapat dilakukan kapan saja, termasuk selama Bulan Safar. Yang terpenting adalah niatnya semata-mata mengharap rida Allah SWT, bukan karena menganggap sedekah sebagai penolak bala.

2. Membaca dan Mentadaburi Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an setiap hari merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Lebih dari itu, seorang muslim juga dianjurkan memahami kandungan ayat-ayatnya agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup akan memberikan manfaat besar, baik di dunia maupun di akhirat.

3. Memperbanyak Zikir

Zikir merupakan amalan yang ringan dilakukan tetapi memiliki keutamaan yang besar. Dengan memperbanyak tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istigfar, hati menjadi lebih tenang dan selalu mengingat Allah SWT.

4. Memperbanyak Istigfar

Setiap manusia tidak lepas dari kesalahan. Karena itu, memperbanyak istigfar merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW sendiri senantiasa beristigfar setiap hari sebagai teladan bagi umatnya.

5. Menjaga Salat Wajib dan Menambah Salat Sunnah

Salat merupakan tiang agama. Selain menjaga salat lima waktu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak salat sunnah seperti:

  • Salat Tahajud

  • Salat Duha

  • Salat Rawatib

  • Salat Witir

Amalan ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

6. Melaksanakan Puasa Sunnah

Puasa sunnah dapat menjadi pilihan ibadah selama Bulan Safar, di antaranya:

  • Puasa Senin dan Kamis.

  • Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah apabila masih berada di Bulan Safar.

  • Puasa Daud bagi yang mampu.

Selain memperoleh pahala, puasa juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.

7. Menjalin Silaturahmi

Menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, sahabat, maupun sesama muslim merupakan amalan yang memiliki banyak keutamaan.

Silaturahmi menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan umur dan rezeki sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis Rasulullah SAW.

8. Membantu Sesama

Membantu orang lain tidak selalu harus dengan harta. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, maupun perhatian juga termasuk bentuk amal saleh yang bernilai di sisi Allah SWT.

Sikap peduli terhadap sesama merupakan cerminan akhlak mulia seorang muslim.

9. Menuntut Ilmu Agama

Belajar agama merupakan kewajiban setiap muslim. Mengikuti kajian Islam, membaca buku-buku keislaman, mempelajari tafsir Al-Qur'an, atau mendengarkan ceramah menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas ibadah.

Ilmu yang benar akan membimbing seseorang menjalankan ajaran Islam sesuai tuntunan syariat.

10. Memperbanyak Doa

Doa adalah bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah SWT. Memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, kemudahan urusan, serta keteguhan iman merupakan amalan yang dianjurkan setiap saat.

Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui doa-doa yang tulus.

Hikmah Memperbanyak Amal Saleh di Bulan Safar

Mengisi Bulan Safar dengan ibadah dan amal saleh memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim, antara lain:

  • Semakin dekat dengan Allah SWT.

  • Mendapatkan pahala yang berlimpah.

  • Membersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan kesombongan.

  • Membentuk akhlak yang lebih baik.

  • Memberikan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Meluruskan Mitos tentang Bulan Safar

Hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan Bulan Safar dengan berbagai ritual penolak bala atau menganggapnya sebagai bulan pembawa kesialan.

Dalam Islam, keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Oleh sebab itu, umat Islam tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, membuka usaha, maupun aktivitas baik lainnya hanya karena berada di bulan ini.

Yang lebih utama adalah memperkuat tawakal kepada Allah SWT dan mengisi waktu dengan berbagai amal kebajikan.

Tips Istikamah Beribadah di Bulan Safar

Agar semangat beribadah tetap terjaga selama Bulan Safar, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

  • Membuat target ibadah harian.

  • Menjadwalkan membaca Al-Qur'an setiap hari.

  • Menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.

  • Membiasakan salat sunnah sebelum dan sesudah salat wajib.

  • Mengikuti majelis ilmu atau kajian Islam secara rutin.

  • Mengajak keluarga untuk beribadah bersama.

  • Memperbanyak doa agar diberikan keistiqamahan.

  • Mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kualitas ibadah, tidak hanya di Bulan Safar tetapi juga sepanjang tahun.

Pada hakikatnya, amalan terbaik di Bulan Safar adalah seluruh amal saleh yang dianjurkan dalam Islam dan dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan, sehingga tidak ada alasan untuk takut ataupun menunda berbagai aktivitas yang baik.

Sebaliknya, jadikan Bulan Safar sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan melalui sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, menjaga salat, berpuasa sunnah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, menuntut ilmu agama, serta memperbanyak doa.

 

Semoga setiap amal yang dilakukan diterima oleh Allah SWT, menjadi sebab turunnya keberkahan dalam kehidupan, dan menjadi bekal terbaik menuju kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat.***

04/08/2026 | Kontributor: Humas
Zakat untuk Dhuafa di Bulan Safar: Waktu yang Tepat untuk Berbagi dan Menebar Manfaat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki nilai ibadah sekaligus kepedulian sosial. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga berfungsi membantu masyarakat yang membutuhkan agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak.

Salah satu golongan yang berhak menerima zakat adalah kaum dhuafa, yaitu mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagian masyarakat masih mengaitkan Bulan Safar dengan berbagai mitos, seperti anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan atau bukan waktu yang baik untuk memulai sesuatu, termasuk beramal.

Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar.

Karena itu, Bulan Safar justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial, salah satunya dengan menunaikan zakat kepada kaum dhuafa. Selama syarat wajib zakat telah terpenuhi, tidak ada larangan menyalurkannya pada bulan ini.

Mengapa Menunaikan Zakat di Bulan Safar Tetap Dianjurkan?

Dalam Islam, waktu terbaik untuk beramal adalah ketika seseorang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Tidak ada ketentuan yang melarang pembayaran zakat pada Bulan Safar.

Menunaikan zakat di bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

·         Menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan.

·         Membersihkan dan menyucikan harta.

·         Menghadirkan keberkahan dalam rezeki.

·         Membantu memenuhi kebutuhan hidup kaum dhuafa.

·         Mempererat ukhuwah Islamiyah.

·         Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Harta yang telah ditunaikan zakatnya akan menjadi lebih berkah karena di dalamnya terdapat hak orang lain yang telah disampaikan sesuai ketentuan syariat.

Mengapa Kaum Dhuafa Menjadi Prioritas Penerima Zakat?

Allah SWT telah menetapkan delapan golongan (asnaf) yang berhak menerima zakat. Di antara mereka adalah fakir dan miskin yang termasuk dalam kategori kaum dhuafa.

Penyaluran zakat kepada kelompok ini memiliki dampak yang sangat besar karena dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan dasar, seperti:

·         Kebutuhan pangan.

·         Pakaian yang layak.

·         Biaya pendidikan.

·         Layanan kesehatan.

·         Modal usaha bagi dhuafa produktif.

Melalui zakat, kesenjangan sosial dapat dikurangi karena harta yang dimiliki orang mampu didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan. Inilah salah satu bentuk keadilan sosial yang diajarkan dalam Islam.

Lebih dari sekadar bantuan materi, zakat juga menghadirkan harapan dan rasa kepedulian sehingga penerima manfaat merasa diperhatikan oleh sesama umat Islam.

Cara Menyalurkan Zakat agar Tepat Sasaran

Agar manfaat zakat benar-benar dirasakan oleh pihak yang berhak, penyalurannya perlu dilakukan secara tepat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memastikan Penerima Termasuk Mustahik

Pastikan zakat diberikan kepada orang yang benar-benar memenuhi kriteria penerima zakat sesuai syariat Islam, terutama fakir dan miskin.

2. Menyalurkan Melalui Lembaga Amil Zakat Resmi

Menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang terpercaya menjadi pilihan yang tepat. Lembaga resmi umumnya memiliki sistem pendataan mustahik, survei lapangan, serta mekanisme distribusi yang lebih profesional sehingga bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.

3. Memberikan Langsung kepada Mustahik

Apabila mengetahui secara pasti kondisi seseorang yang berhak menerima zakat, penyaluran secara langsung juga diperbolehkan selama sesuai dengan ketentuan syariat.

4. Memastikan Pengelolaan yang Transparan

Transparansi menjadi salah satu faktor penting dalam pengelolaan zakat. Laporan penyaluran yang terbuka akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan dana zakat dimanfaatkan secara optimal.

Dengan pengelolaan yang amanah, zakat tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hikmah Menunaikan Zakat kepada Kaum Dhuafa

Menyalurkan zakat kepada kaum dhuafa memberikan manfaat besar, baik bagi muzaki maupun mustahik.

Beberapa hikmah yang dapat dirasakan antara lain:

Menumbuhkan Rasa Syukur

Zakat mengingatkan bahwa harta hanyalah titipan dari Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Memperkuat Solidaritas Sosial

Hubungan antara masyarakat yang mampu dan mereka yang membutuhkan menjadi semakin erat karena dilandasi rasa saling peduli dan saling membantu.

Membersihkan Hati dari Sifat Kikir

Berzakat melatih seseorang agar tidak terlalu mencintai harta dan membiasakan diri untuk berbagi dengan ikhlas.

Meningkatkan Kesejahteraan Umat

Apabila dikelola dengan baik, zakat tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga dapat digunakan untuk program pemberdayaan ekonomi sehingga mustahik memiliki kesempatan menjadi lebih mandiri.

Menjadi Bekal Amal di Akhirat

Zakat merupakan ibadah yang mendatangkan pahala sekaligus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kepedulian terhadap sesama.

Bulan Safar Bukan Penghalang untuk Berzakat

Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap Bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan sehingga enggan memulai usaha, bepergian, atau bahkan menunda beramal.

Dalam Islam, anggapan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa tidak ada kesialan pada Bulan Safar. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menunda pembayaran zakat maupun amal kebaikan lainnya.

Sebaliknya, Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, dan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Menunaikan zakat kepada kaum dhuafa di Bulan Safar merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan ketika kewajiban zakat telah terpenuhi. Islam tidak mengenal anggapan bahwa Bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan atau menjadi penghalang untuk beramal.

Sebaliknya, bulan ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

Penyaluran zakat yang tepat sasaran tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan mustahik, tetapi juga menghadirkan keberkahan bagi muzaki.

 

Semoga semakin banyak umat Islam yang memahami pentingnya menunaikan zakat kepada kaum dhuafa kapan pun memiliki kesempatan, termasuk di Bulan Safar. Dengan demikian, zakat akan terus menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan, penguat solidaritas sosial, dan wujud nyata kepedulian sesuai tuntunan syariat Islam.***

04/08/2026 | Kontributor: Humas
Harta yang Wajib Dizakati dalam Zakat Maal: Panduan Lengkap Menurut Syariat Islam


Zakat maal merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim yang telah memiliki harta sesuai ketentuan syariat Islam. Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya, harta apa saja yang wajib dizakati? Apakah seluruh kekayaan yang dimiliki harus dikeluarkan zakatnya?

Pada dasarnya, Islam telah menetapkan bahwa hanya jenis harta tertentu yang dikenai zakat. Selain termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati, harta tersebut juga harus memenuhi syarat seperti mencapai nisab (batas minimal kepemilikan) dan haul (masa kepemilikan satu tahun hijriah) untuk sebagian besar jenis zakat maal.

Melalui edukasi ini, BAZNAS Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk memahami ketentuan zakat maal agar ibadah yang ditunaikan sesuai syariat sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi para mustahik.

Pengertian Harta yang Wajib Dizakati

Harta yang wajib dizakati adalah harta yang dimiliki secara sah oleh seorang muslim, memiliki nilai ekonomi, dapat berkembang atau berpotensi berkembang, serta telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam syariat Islam.

Allah SWT berfirman:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana membersihkan harta, menyucikan jiwa, serta membantu masyarakat yang membutuhkan sehingga tercipta keseimbangan sosial dan ekonomi.

Syarat Harta yang Wajib Dizakati

Tidak semua harta secara otomatis dikenai zakat. Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi:

1. Dimiliki Secara Penuh

Harta berada dalam kepemilikan yang sah sehingga pemilik memiliki hak penuh untuk memanfaatkannya.

2. Diperoleh dengan Cara yang Halal

Harta berasal dari usaha atau transaksi yang sesuai syariat, bukan dari hasil yang diharamkan seperti korupsi, pencurian, riba, maupun praktik yang dilarang agama.

3. Bersifat Produktif atau Berpotensi Berkembang

Harta mampu menghasilkan keuntungan atau memiliki potensi untuk bertambah nilainya, baik melalui perdagangan, investasi, maupun bentuk usaha lainnya.

4. Mencapai Nisab

Nisab merupakan batas minimal kepemilikan harta yang menyebabkan seseorang wajib mengeluarkan zakat. Besarannya berbeda sesuai jenis hartanya.

5. Telah Mencapai Haul

Sebagian besar zakat maal diwajibkan setelah harta dimiliki selama satu tahun hijriah. Namun, terdapat pengecualian seperti zakat hasil pertanian yang ditunaikan setiap kali panen.

6. Melebihi Kebutuhan Pokok

Harta yang dizakati merupakan kelebihan dari kebutuhan dasar sehari-hari serta telah memperhitungkan kewajiban utang yang telah jatuh tempo.

Jenis Harta yang Wajib Dizakati

Berikut beberapa jenis harta yang termasuk objek zakat maal menurut syariat Islam.

1. Emas, Perak, dan Uang Tunai

Emas dan perak merupakan objek zakat yang telah ditetapkan sejak masa Rasulullah SAW. Dalam praktik saat ini, uang tunai dipersamakan dengan emas karena memiliki fungsi sebagai alat tukar.

Yang termasuk dalam kategori ini antara lain:

  • Emas batangan
  • Perhiasan emas yang memenuhi ketentuan zakat
  • Perak
  • Tabungan
  • Giro
  • Deposito
  • Saldo rekening
  • Uang tunai
  • Saldo dompet digital

Apabila telah mencapai nisab dan haul, zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 persen dari total harta.

2. Harta Perniagaan

Seluruh aset yang digunakan untuk aktivitas bisnis juga termasuk objek zakat, seperti:

  • Barang dagangan
  • Persediaan toko
  • Nilai stok barang
  • Keuntungan usaha
  • Piutang yang diperkirakan dapat ditagih

Besaran zakat perdagangan adalah 2,5 persen dari total aset bersih setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.

3. Hasil Pertanian

Berbeda dengan jenis zakat lainnya, zakat hasil pertanian ditunaikan setiap kali panen apabila hasilnya telah mencapai nisab.

Contohnya meliputi:

  • Padi
  • Jagung
  • Gandum
  • Kurma
  • Anggur

Besaran zakatnya:

  • 10 persen apabila pengairan mengandalkan air hujan atau sumber alami.
  • 5 persen apabila menggunakan sistem irigasi yang memerlukan biaya.

4. Hasil Peternakan

Hewan ternak tertentu juga memiliki ketentuan zakat apabila jumlah kepemilikannya telah mencapai batas minimal sesuai syariat.

Jenis ternak tersebut meliputi:

  • Unta
  • Sapi
  • Kerbau
  • Kambing
  • Domba

Besaran zakatnya disesuaikan dengan jumlah ternak yang dimiliki.

5. Hasil Tambang dan Barang Temuan

Hasil tambang seperti emas, perak, maupun logam berharga lainnya termasuk objek zakat. Demikian pula rikaz atau harta temuan tertentu yang memiliki ketentuan zakat tersendiri menurut syariat.

6. Investasi dan Surat Berharga

Seiring perkembangan ekonomi modern, berbagai instrumen investasi juga dapat menjadi objek zakat apabila memenuhi syarat, antara lain:

  • Saham
  • Reksa dana
  • Sukuk
  • Obligasi syariah
  • Investasi emas digital

Perhitungan zakat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing instrumen investasi.

Cara Menghitung Zakat Maal

Untuk mengetahui apakah telah wajib menunaikan zakat maal, lakukan langkah berikut:

  1. Hitung seluruh harta yang termasuk objek zakat, seperti uang tunai, tabungan, emas, investasi, piutang yang dapat ditagih, dan aset usaha.
  2. Kurangi dengan kewajiban jangka pendek yang harus segera dibayarkan.
  3. Pastikan jumlah harta telah mencapai nisab.
  4. Apabila telah memenuhi nisab dan haul, keluarkan zakat sebesar 2,5 persen.

Contoh perhitungan:

Total harta bersih: Rp250.000.000

Zakat maal:

Rp250.000.000 × 2,5% = Rp6.250.000

Hikmah dan Manfaat Menunaikan Zakat Maal

Menunaikan zakat maal memberikan banyak manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat. Di antaranya:

  • Membersihkan harta dan menyucikan jiwa.
  • Menghadirkan keberkahan dalam rezeki.
  • Membantu fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat.
  • Mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.
  • Menumbuhkan rasa syukur serta kepedulian terhadap sesama.

Melalui zakat, setiap muslim tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan ekonomi.

Salurkan Zakat Maal Melalui BAZNAS Kabupaten Sleman

Di balik setiap senyum para penerima manfaat, terdapat kepedulian para muzaki yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada BAZNAS Kabupaten Sleman. Setiap amanah yang ditunaikan menjadi harapan baru bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai keterbatasan.

Mari jadikan setiap rezeki yang Allah SWT titipkan sebagai jalan menghadirkan manfaat, keberkahan, dan kebahagiaan bagi sesama.

Tunaikan zakat maal, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman untuk mendukung berbagai program pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Sleman.

Semoga setiap harta yang dizakatkan menjadi penyuci jiwa, penambah keberkahan rezeki, serta investasi amal yang pahalanya terus mengalir di sisi Allah SWT.***

15/07/2026 | Kontributor: Humas
Zakat Maal: Pengertian, Jenis Harta, Cara Menghitung, dan Penyalurannya melalui BAZNAS Kabupaten Sleman

Zakat maal merupakan salah satu kewajiban bagi setiap Muslim yang memiliki harta dan telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat Islam.

Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat maal juga memiliki peran penting dalam menciptakan pemerataan kesejahteraan, mengurangi kesenjangan sosial, serta membantu masyarakat yang membutuhkan melalui pengelolaan zakat yang profesional.

Bagi masyarakat Kabupaten Sleman dan sekitarnya, memahami pengertian zakat maal, jenis harta yang wajib dizakati, hingga cara menghitungnya merupakan langkah penting agar ibadah zakat dapat ditunaikan secara benar.

Melalui BAZNAS Kabupaten Sleman, zakat yang ditunaikan akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan dakwah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Apa Itu Zakat Maal?

Zakat maal adalah zakat yang dikenakan atas kepemilikan harta seorang Muslim yang telah mencapai nisab (batas minimal harta yang wajib dizakati) dan telah dimiliki selama satu tahun hijriah (haul), kecuali pada jenis harta tertentu yang memiliki ketentuan khusus.

Secara bahasa, maal berasal dari bahasa Arab yang berarti harta atau kekayaan. Dalam syariat Islam, harta yang dikenai zakat harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya:

·         Dimiliki secara penuh oleh pemiliknya.

·         Diperoleh melalui cara yang halal.

·         Memiliki potensi berkembang atau bertambah nilainya.

·         Telah mencapai nisab sesuai ketentuan syariat.

·         Telah memenuhi masa kepemilikan (haul) untuk jenis harta yang mensyaratkannya.

Menunaikan zakat maal tidak hanya menjadi bentuk penyucian harta dan jiwa, tetapi juga merupakan wujud kepedulian terhadap sesama. Dana zakat yang dihimpun kemudian disalurkan kepada delapan golongan penerima zakat (asnaf) sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Jenis Harta yang Wajib Dizakati

Dalam praktiknya, zakat maal mencakup berbagai jenis kekayaan yang memenuhi syarat wajib zakat. Beberapa di antaranya meliputi:

·         Emas, perak, dan logam mulia lainnya.

·         Uang tunai, tabungan, deposito, dan aset keuangan sejenis.

·         Penghasilan atau pendapatan dari profesi yang telah memenuhi ketentuan zakat.

·         Harta perdagangan atau aset yang digunakan dalam kegiatan usaha.

·         Investasi yang menghasilkan keuntungan sesuai prinsip syariah.

·         Hasil pertanian, perkebunan, peternakan, serta jenis harta lainnya yang memiliki ketentuan zakat tersendiri.

Setiap jenis harta memiliki aturan mengenai nisab, haul, dan besaran zakat yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memahami ketentuan yang berlaku sebelum menghitung kewajiban zakat.

Cara Menghitung Zakat Maal

Secara umum, zakat maal yang telah memenuhi nisab dan haul dikeluarkan sebesar 2,5% dari total harta yang wajib dizakati.

Rumus perhitungannya adalah:

Zakat Maal = Total Harta yang Wajib Dizakati × 2,5%

Sebagai contoh, apabila seseorang memiliki tabungan atau emas yang nilainya telah mencapai nisab dan telah dimiliki selama satu tahun hijriah, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah sebesar 2,5% dari jumlah harta tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa nilai nisab mengacu pada harga emas, sehingga besarannya dapat berubah mengikuti perkembangan harga emas di pasaran.

Sementara itu, beberapa jenis harta seperti hasil pertanian, peternakan, maupun hasil tambang memiliki ketentuan zakat yang berbeda sesuai dengan syariat Islam.

Mengapa Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS Kabupaten Sleman?

Menunaikan zakat melalui BAZNAS Kabupaten Sleman memberikan kemudahan sekaligus memastikan zakat dikelola secara profesional, amanah, dan transparan.

Dana zakat yang dihimpun disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah.

Selain membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan, penyaluran zakat melalui lembaga resmi juga memberikan dampak yang lebih luas karena dikelola secara terencana, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Hitung Zakat Maal dengan Mudah

Untuk memudahkan masyarakat dalam mengetahui besaran zakat yang wajib ditunaikan, Anda dapat memanfaatkan layanan Kalkulator Zakat yang disediakan oleh BAZNAS.

Layanan ini membantu menghitung zakat sesuai dengan jenis harta yang dimiliki berdasarkan ketentuan syariat Islam.

Apabila masih memiliki pertanyaan mengenai nisab, haul, atau perhitungan zakat maal, masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan BAZNAS Kabupaten Sleman agar memperoleh informasi yang tepat sesuai syariat.

Mari Tunaikan Zakat Melalui BAZNAS Kabupaten Sleman

Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga instrumen pemberdayaan umat yang mampu menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat. Dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS Kabupaten Sleman, Anda turut berkontribusi dalam mendukung berbagai program yang membantu meningkatkan kesejahteraan mustahik di Kabupaten Sleman.

Mari tunaikan zakat maal melalui BAZNAS Kabupaten Sleman sebagai wujud kepedulian sosial, penyucian harta, dan ikhtiar bersama membangun masyarakat yang lebih sejahtera, mandiri, dan berdaya.***

14/07/2026 | Kontributor: Humas
Manfaat Zakat bagi Masyarakat: Peran Zakat dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat di Indonesia

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran besar, tidak hanya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga sebagai instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.

Melalui zakat, harta yang dimiliki umat Islam dapat memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan saling peduli.

Di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sleman, pengelolaan zakat yang dilakukan secara profesional melalui BAZNAS Kabupaten Sleman telah memberikan dampak nyata dalam membantu masyarakat, mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga penanggulangan bencana.

Oleh karena itu, memahami manfaat zakat bagi masyarakat menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran dalam menunaikan kewajiban zakat.

Mengapa Zakat Penting bagi Kehidupan Masyarakat?

Dalam Islam, setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain yang wajib ditunaikan melalui zakat. Ketika seorang muslim menyalurkan zakat dengan ikhlas, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mustahik (penerima zakat), tetapi juga oleh masyarakat secara luas.

Zakat menjadi salah satu instrumen ekonomi Islam yang mampu mendorong pemerataan kesejahteraan, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

1. Membantu Mengurangi Kemiskinan

Salah satu manfaat zakat yang paling nyata adalah membantu mengurangi angka kemiskinan. Dana zakat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Saat ini, pengelolaan zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif. Banyak program zakat yang memberikan bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan usaha mikro agar para penerima manfaat dapat meningkatkan penghasilan dan menjadi lebih mandiri.

Melalui pendekatan tersebut, zakat berperan dalam memutus rantai kemiskinan secara bertahap.

2. Mengurangi Kesenjangan Sosial

Perbedaan kondisi ekonomi merupakan hal yang wajar dalam masyarakat. Namun, apabila tidak diimbangi dengan kepedulian sosial, kesenjangan tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan.

Zakat menjadi mekanisme distribusi kekayaan yang diajarkan Islam agar harta tidak hanya beredar di kalangan tertentu. Dengan adanya penyaluran zakat kepada delapan golongan penerima (asnaf), keseimbangan sosial dapat lebih terjaga dan rasa persaudaraan di tengah masyarakat semakin kuat.

3. Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Zakat mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab terhadap sesama. Kebiasaan menunaikan zakat akan menumbuhkan rasa empati kepada fakir miskin, anak yatim, dhuafa, serta masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Budaya saling membantu inilah yang mempererat hubungan sosial, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

4. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Umat

Pengelolaan zakat modern telah berkembang menjadi program pemberdayaan ekonomi yang berorientasi pada kemandirian.

Dana zakat dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha bagi pelaku UMKM, petani, nelayan, maupun pedagang kecil. Ketika usaha mereka berkembang, pendapatan meningkat dan peluang kerja baru pun tercipta.

Semakin banyak masyarakat yang berdaya secara ekonomi, semakin kuat pula pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

5. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Tujuan zakat bukan hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Melalui berbagai program pemberdayaan, keluarga kurang mampu memperoleh akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pelatihan keterampilan, hingga bantuan usaha. Tidak sedikit penerima zakat yang akhirnya mampu mandiri, bahkan berubah menjadi muzaki yang turut menunaikan zakat.

Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa zakat mampu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan apabila dikelola secara amanah dan profesional.

6. Membersihkan Harta dan Jiwa

Selain memberikan manfaat sosial, zakat juga memiliki nilai spiritual yang sangat besar.

Menunaikan zakat merupakan cara untuk membersihkan harta dari hak orang lain sekaligus melatih keikhlasan, rasa syukur, dan menghindarkan diri dari sifat kikir. Ketika budaya berbagi tumbuh di tengah masyarakat, hubungan antarsesama pun menjadi lebih hangat dan penuh kepedulian.

7. Memperkuat Solidaritas Umat

Persatuan merupakan salah satu kekuatan terbesar umat Islam.

Melalui zakat, masyarakat diajarkan bahwa keberhasilan dan rezeki yang dimiliki tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi sarana membantu sesama. Solidaritas yang terbangun melalui zakat akan menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan saling mendukung.

8. Membantu Penanganan Bencana

Indonesia merupakan negara yang rawan bencana alam. Dalam situasi darurat, dana zakat dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak melalui penyediaan makanan, pakaian, layanan kesehatan, hunian sementara, hingga rehabilitasi tempat tinggal.

Bantuan tersebut membantu mempercepat proses pemulihan sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan lebih baik.

9. Mendukung Pendidikan Generasi Penerus

Pendidikan merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa.

Dana zakat telah banyak dimanfaatkan untuk memberikan beasiswa, bantuan biaya sekolah dan kuliah, perlengkapan pendidikan, hingga pelatihan keterampilan bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Melalui program pendidikan berbasis zakat, lahir generasi yang lebih berkualitas, mandiri, dan siap berkontribusi bagi pembangunan masyarakat.

10. Membantu Pelayanan Kesehatan

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia.

Dana zakat juga dimanfaatkan untuk mendukung berbagai layanan kesehatan, seperti bantuan biaya pengobatan, operasi, ambulans, pemeriksaan kesehatan, serta penyediaan fasilitas kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.

Program-program tersebut memberikan manfaat besar, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Peran Zakat dalam Membangun Peradaban Islam

Jika potensi zakat dapat dihimpun dan dikelola secara optimal, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga oleh masyarakat secara keseluruhan.

Zakat mampu membangun kehidupan yang lebih adil, mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi umat, serta meningkatkan kepedulian sosial. Dalam sejarah Islam, pengelolaan zakat yang baik bahkan pernah berhasil menekan angka kemiskinan hingga sangat sedikit masyarakat yang memenuhi syarat sebagai penerima zakat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar ibadah individu, tetapi juga solusi nyata dalam membangun kesejahteraan umat.

Cara Memaksimalkan Manfaat Zakat

Agar manfaat zakat semakin luas dirasakan masyarakat, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan:

·         Menunaikan zakat tepat waktu sesuai ketentuan syariat.

·         Menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang amanah, profesional, dan terpercaya, seperti BAZNAS Kabupaten Sleman.

·         Mendukung program zakat produktif yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi mustahik.

·         Meningkatkan literasi dan edukasi mengenai zakat kepada masyarakat.

·         Mendorong transparansi serta akuntabilitas dalam pengelolaan dana zakat agar kepercayaan publik terus meningkat.

Dengan pengelolaan yang baik, potensi zakat di Indonesia dapat menjadi kekuatan besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mari Salurkan Zakat Melalui BAZNAS Kabupaten Sleman

Manfaat zakat bagi masyarakat telah terbukti memberikan dampak positif di berbagai bidang, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, penguatan ekonomi umat, pendidikan, kesehatan, hingga penanggulangan bencana.

Menunaikan zakat bukan hanya memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap sesama. Semakin banyak masyarakat yang menyalurkan zakat melalui lembaga yang amanah dan profesional, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh umat.

BAZNAS Kabupaten Sleman mengajak seluruh masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi agar dana yang dihimpun dapat dikelola secara transparan, profesional, dan tepat sasaran. Bersama, mari hadirkan manfaat zakat yang lebih luas demi mewujudkan masyarakat Sleman yang lebih sejahtera, mandiri, dan berkeadilan.***

13/07/2026 | Kontributor: Humas

Artikel Terbaru

Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyrik. Lebih dari sekadar penyembelihan hewan, kurban mengandung nilai keikhlasan, ketaatan, serta kepedulian sosial terhadap sesama. Namun, masih banyak umat Islam yang bertanya: apakah hukum kurban bagi yang mampu itu wajib atau hanya sunnah? Pertanyaan ini penting, terutama bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki namun masih ragu untuk melaksanakannya. Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian kurban, dalilnya, hingga perbedaan pendapat ulama terkait hukum kurban bagi yang mampu. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kata kurban berasal dari “qaruba” yang berarti dekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan. Allah SWT berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Dalil Keutamaan Ibadah Kurban Selain Al-Qur’an, terdapat hadis yang menjelaskan keutamaan kurban. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Kurban bagi yang Mampu 1. Pendapat yang Mewajibkan Sebagian ulama berpendapat bahwa kurban wajib bagi muslim yang mampu. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi dan beberapa ulama salaf. Mereka berdalil dengan hadis: “Barang siapa memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Menurut pendapat ini, adanya peringatan keras menunjukkan bahwa kurban bersifat wajib bagi yang memiliki kemampuan. 2. Pendapat Sunnah Muakkad Mayoritas ulama, seperti mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa kurban hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Dalil yang digunakan salah satunya adalah hadis: “Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban…” (HR. Muslim) Kata “ingin” dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban tidak bersifat wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi yang mampu. Mengapa Terjadi Perbedaan Pendapat? Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari kekayaan khazanah fiqih Islam. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam memahami dalil: Sebagian ulama menekankan adanya perintah dan ancaman Sebagian lainnya melihat konteks pilihan serta praktik para sahabat Meski berbeda, para ulama sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan meninggalkannya bagi yang mampu bukanlah hal yang baik. Siapa yang Termasuk Orang Mampu? Dalam konteks hukum kurban bagi yang mampu, seseorang dianggap mampu jika: Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi Tidak sedang dalam beban utang yang memberatkan Mampu membeli hewan kurban tanpa mengganggu kebutuhan keluarga Dengan demikian, kurban tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan sebagai ibadah bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki. Hikmah dan Keutamaan Ibadah Kurban Memahami hukum kurban tidak cukup dari sisi fiqih saja, tetapi juga dari hikmahnya: 1. Wujud Ketaatan kepada Allah Kurban meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah. 2. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan. 3. Menyucikan Harta Kurban menjadi salah satu cara membersihkan dan mensyukuri rezeki. 4. Mendekatkan Diri kepada Allah Ibadah ini menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Konsekuensi Meninggalkan Kurban Bagi yang mampu, meninggalkan kurban memiliki konsekuensi: Menurut pendapat wajib: berdosa jika tidak dilaksanakan Menurut pendapat sunnah: kehilangan pahala besar Walaupun terdapat perbedaan, meninggalkan kurban tanpa alasan tetap dianggap kurang baik oleh para ulama. Tips Melaksanakan Kurban dengan Benar Agar ibadah kurban lebih optimal, perhatikan beberapa hal berikut: Niat yang ikhlas karena Allah SWT Memilih hewan yang sehat dan sesuai syariat Menyembelih pada waktu yang ditentukan Membagikan daging secara adil Menghindari sikap riya Kesimpulan Hukum kurban bagi yang mampu memiliki dua pendapat utama: Wajib menurut mazhab Hanafi Sunnah muakkad menurut mayoritas ulama Meski berbeda pandangan, keduanya sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Sebagai bentuk kehati-hatian dan upaya meraih keutamaan, seorang muslim sebaiknya berusaha melaksanakan kurban ketika memiliki kelapangan rezeki. Sebab, kurban bukan hanya soal hukum, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.*** Sumber: baznas.go.id
ARTIKEL04/05/2026 | Humas
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?
Perkembangan teknologi memudahkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah. Salah satu yang kini banyak diminati masyarakat adalah kurban online. Melalui layanan ini, seseorang dapat membeli hewan kurban, membayar, hingga proses penyembelihan dilakukan oleh lembaga terpercaya tanpa harus hadir langsung. Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana hukum kurban online dalam Islam? Apakah sah dan sesuai syariat? Artikel ini akan membahas secara lengkap hukum kurban online berdasarkan pandangan ulama serta penjelasan dari lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama. Apa Itu Kurban Online? Kurban online adalah layanan pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan secara tidak langsung (daring). Shohibul kurban (orang yang berkurban) mempercayakan proses pembelian, penyembelihan, hingga distribusi daging kepada lembaga atau panitia kurban. Biasanya, prosesnya meliputi: Pemilihan jenis hewan kurban melalui platform digital Pembayaran secara online Penyerahan pelaksanaan kurban kepada pihak penyelenggara Dokumentasi dan laporan kepada pekurban Hukum Kurban Online dalam Islam Secara umum, hukum kurban online adalah sah dan diperbolehkan dalam Islam, selama memenuhi syarat dan rukun kurban. Hal ini karena dalam praktiknya, kurban online menggunakan akad wakalah (perwakilan). Artinya, orang yang berkurban mewakilkan proses penyembelihan kepada pihak lain. Dalam fiqih Islam, wakalah adalah akad yang dibolehkan. Seseorang boleh mewakilkan ibadah tertentu yang bersifat amaliyah (perbuatan), termasuk penyembelihan hewan kurban. Dalil Kebolehan Kurban dengan Wakalah Konsep perwakilan dalam ibadah memiliki dasar dalam praktik Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah pernah mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada sahabat. Selain itu, para ulama juga sepakat bahwa penyembelihan hewan kurban tidak harus dilakukan sendiri oleh shohibul kurban. Yang terpenting adalah: Niat tetap dari orang yang berkurban Proses penyembelihan sesuai syariat Dengan demikian, kurban online yang menggunakan sistem perwakilan hukumnya diperbolehkan. Syarat Sah Kurban Online Agar kurban online sah menurut syariat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Niat dari Shohibul Kurban Niat berkurban tetap harus dilakukan oleh orang yang berkurban, bukan oleh perwakilan. 2. Hewan Memenuhi Syarat Hewan kurban harus sesuai ketentuan syariat, seperti: Sehat dan tidak cacat Cukup umur (misalnya kambing minimal 1 tahun) 3. Penyembelihan Sesuai Syariat Proses penyembelihan harus dilakukan: Pada waktu yang ditentukan (10–13 Dzulhijjah) Oleh penyembelih yang memahami tata cara syar’i 4. Penyaluran Daging Kurban Daging kurban harus didistribusikan kepada yang berhak, terutama fakir miskin. 5. Lembaga Terpercaya Pastikan memilih lembaga resmi dan amanah, seperti BAZNAS atau lembaga yang memiliki izin dan pengawasan. Keunggulan Kurban Online Kurban online hadir sebagai solusi praktis, terutama bagi masyarakat modern. Beberapa keunggulannya antara lain: Mudah dan praktis, tanpa harus datang ke lokasi penyembelihan Lebih tepat sasaran, karena distribusi bisa menjangkau daerah pelosok Transparan, biasanya disertai laporan dan dokumentasi Efisien waktu, cocok untuk masyarakat dengan mobilitas tinggi Hal yang Perlu Diwaspadai Meskipun diperbolehkan, kurban online tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: Hindari lembaga yang tidak jelas kredibilitasnya Pastikan ada laporan pelaksanaan kurban Pilih lembaga yang memiliki legalitas resmi Periksa harga yang wajar dan transparan Kurban Online Menurut BAZNAS dan Kemenag Lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama pada prinsipnya membolehkan kurban online selama memenuhi syariat. BAZNAS bahkan menyediakan layanan kurban yang terkelola secara profesional, mulai dari pemilihan hewan hingga pendistribusian kepada masyarakat yang membutuhkan. Kementerian Agama juga menegaskan bahwa praktik kurban dengan sistem perwakilan diperbolehkan, selama tidak menghilangkan rukun dan ketentuan ibadah kurban. Hukum kurban online dalam Islam adalah sah dan diperbolehkan, karena menggunakan akad wakalah (perwakilan) yang dibenarkan dalam syariat. Namun, keabsahan tersebut bergantung pada terpenuhinya syarat dan rukun kurban, serta amanah dari pihak penyelenggara. Sebagai umat Islam, penting untuk tetap berhati-hati dalam memilih lembaga kurban online agar ibadah yang dilakukan tidak hanya sah, tetapi juga membawa keberkahan. Di era digital ini, kurban online bisa menjadi solusi untuk tetap beribadah dengan mudah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.***
ARTIKEL04/05/2026 | Humas
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah momen untuk merenung: sudahkah pendidikan benar-benar menjadi milik semua anak bangsa? Ataukah ia masih menjadi “kemewahan” bagi sebagian, sementara yang lain hanya bisa memandang dari kejauhan? Di sudut-sudut negeri ini, masih banyak anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan. Mereka ingin belajar, ingin membaca dunia, ingin mengubah nasib. Namun, kemiskinan seringkali memaksa mereka berhenti. Buku diganti beban, sekolah diganti pekerjaan, cita-cita pun perlahan memudar. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya yang paling dalam. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi jalan nyata untuk memutus rantai kemiskinan—terutama melalui pendidikan. Ketika zakat diarahkan untuk beasiswa, perlengkapan sekolah, atau pemberdayaan pendidikan bagi kaum dhuafa, ia tidak hanya membantu satu individu, tetapi mengubah masa depan sebuah generasi. Bayangkan seorang anak dari keluarga fakir yang bisa melanjutkan sekolah karena uluran tangan kita. Hari ini ia menerima, esok ia bisa memberi. Hari ini ia ditolong, esok ia menjadi penolong. Inilah siklus keberkahan yang Allah janjikan. Infak dan sedekah pun demikian. Ia mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama, dampaknya luar biasa. Seribu rupiah yang kita anggap ringan, bisa menjadi bagian dari seragam sekolah, buku pelajaran, atau bahkan membuka jalan bagi seorang anak untuk tetap bertahan di bangku pendidikan. Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi gerakan. Gerakan kepedulian. Gerakan berbagi. Gerakan memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal hanya karena alasan ekonomi. Mari kita ubah cara pandang kita. Zakat bukan sekadar membersihkan harta, tetapi juga menumbuhkan harapan. Infak dan sedekah bukan sekadar memberi, tetapi menghidupkan masa depan. Jika hari ini kita belum bisa membangun sekolah, setidaknya kita bisa membantu satu anak tetap bersekolah. Jika kita belum mampu mengubah sistem, kita bisa menjadi bagian dari solusi. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga—tetapi tanggung jawab kita semua. Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menjadi bagian dari harapan itu?.*** Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.I (Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL02/05/2026 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10–13 Dzulhijjah. Bagi umat Muslim yang mampu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki tujuan mulia yang sarat makna spiritual dan sosial. Ibadah kurban selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, khususnya saat Hari Raya Iduladha tiba. Di balik prosesi penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai-nilai mendalam yang tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak yang memaknai qurban sebatas tradisi tahunan tanpa memahami tujuan utamanya. Padahal, memahami tujuan ibadah qurban sangat penting agar pelaksanaannya tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menjadi bentuk ibadah yang penuh kesadaran dan keikhlasan. Qurban mengajarkan umat Islam tentang arti ketaatan kepada Allah SWT, pengorbanan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Melalui artikel ini, Anda akan diajak mengenal lebih dalam makna dan tujuan ibadah kurban berdasarkan ajaran Islam yang sahih. Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan kurban dengan lebih optimal, sekaligus menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Lalu, apa tujuan ibadah kurban? Artikel ini akan mengulas secara lengkap agar Anda semakin mantap menunaikan kurban di tahun 1447 H/2026. Pengertian Ibadah Kurban Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti “dekat”. Artinya, qurban atau kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta pada waktu tertentu. Ibadah ini meneladani kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang menjadi simbol kepatuhan total kepada perintah Allah SWT. Tujuan Ibadah Kurban dalam Islam Berikut beberapa tujuan utama ibadah kurban yang perlu dipahami: 1. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT Tujuan utama kurban adalah sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini menunjukkan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya. Allah SWT berfirman bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban. 2. Meneladani Keteladanan Nabi Ibrahim AS Kurban mengajarkan nilai pengorbanan dan kepatuhan tanpa syarat. Nabi Ibrahim AS bersedia mengorbankan putranya atas perintah Allah, yang kemudian digantikan dengan hewan sembelihan. Nilai ini menjadi pelajaran penting tentang keimanan, kesabaran, dan keikhlasan. 3. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin. Hal ini menjadikan kurban sebagai sarana berbagi dan mempererat solidaritas sosial. Melalui kurban, kebahagiaan Iduladha dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. 4. Mensucikan Harta Berqurban juga menjadi bentuk penyucian harta. Dengan mengeluarkan sebagian rezeki untuk kepentingan ibadah, seorang Muslim membersihkan hartanya dari sifat kikir dan cinta dunia berlebihan. 5. Menghidupkan Syiar Islam Pelaksanaan kurban secara bersama-sama di masyarakat menjadi simbol syiar Islam yang kuat. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan ketaatan umat kepada Allah SWT. Hikmah dan Keutamaan Berkurban Selain memiliki tujuan yang jelas, kurban juga menyimpan berbagai hikmah, di antaranya: · Menumbuhkan rasa empati terhadap sesama · Melatih keikhlasan dan pengorbanan · Memperkuat ukhuwah Islamiyah · Mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT Siapa yang Dianjurkan Berkurban? Ibadah kurban dianjurkan bagi Muslim yang mampu secara finansial. Kemampuan ini diukur setelah terpenuhinya kebutuhan pokok diri dan keluarga. Ayo Tunaikan Kurban Terbaik Anda di Sleman! Menunaikan kurban kini semakin mudah dan terpercaya. Anda dapat berpartisipasi dalam program kurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman, yang dikelola oleh peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman. Mengapa memilih di sini? · Dikelola secara profesional · Didampingi peternak berpengalaman · Hewan sehat, sesuai syariat · Memberdayakan ekonomi mustahik · Distribusi tepat sasaran Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya beribadah, tetapi juga turut membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak lokal. Tujuan ibadah kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki makna mendalam: mendekatkan diri kepada Allah, meneladani Nabi Ibrahim, serta membangun kepedulian sosial. Mari jadikan momen Iduladha 1447 H/2026 sebagai kesempatan untuk berkurban terbaik dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi sesama. Sumber Referensi 1. BAZNAS RI – https://baznas.go.id 2. Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id
ARTIKEL28/04/2026 | Humas
Apa Larangan Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat
Apa Larangan Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H/2026, umat Islam yang berniat menunaikan ibadah kurban perlu memahami tidak hanya syarat dan tata caranya, tetapi juga larangan yang harus diperhatikan. Hal ini penting agar ibadah kurban yang dilakukan benar-benar sesuai dengan tuntunan syariat dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Lalu, apa larangan orang yang berkurban? Artikel ini akan mengulasnya secara lengkap agar Anda dapat mempersiapkan kurban dengan lebih optimal. Larangan bagi Orang yang Berkurban Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa larangan yang dianjurkan untuk dipatuhi oleh orang yang hendak berkurban, khususnya sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. 1. Tidak Memotong Rambut dan Kuku Salah satu larangan yang paling utama adalah tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang berniat berkurban. Larangan ini berlaku sejak awal bulan Dzulhijjah hingga pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan agar orang yang berqurban menahan diri dari memotong rambut dan kuku sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. 2. Tidak Mengambil Bagian Tubuh Lainnya Selain rambut dan kuku, dianjurkan juga untuk tidak mengambil bagian tubuh lain seperti kulit (misalnya kulit mati yang sengaja dihilangkan) selama periode tersebut, kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan mendesak. 3. Menjaga Niat dan Keikhlasan Meskipun bukan larangan fisik, menjaga niat dari riya (pamer) juga menjadi hal penting. Ibadah qurban harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. 4. Tidak Menjual Bagian dari Hewan Qurban Setelah penyembelihan, bagian dari hewan qurban tidak boleh diperjualbelikan, baik daging, kulit, maupun bagian lainnya. Semua hasil qurban sebaiknya didistribusikan sesuai ketentuan syariat. 5. Tidak Memberikan Upah Jagal dari Daging Kurban Memberikan upah kepada penyembelih (jagal) tidak diperbolehkan berasal dari bagian hewan qurban. Upah harus diberikan dalam bentuk lain di luar daging qurban. Hikmah dari Larangan Berkurban Larangan-larangan ini bukan tanpa tujuan. Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain: Melatih ketaatan terhadap syariat Menumbuhkan kesadaran spiritual Menyerupai sebagian amalan jamaah haji Menjaga kesempurnaan ibadah kurban Siapkan Kurban Terbaik Anda di Sleman Menjalankan ibadah kurban sesuai syariat tentu harus diiringi dengan pemilihan hewan kurban yang sehat dan layak. Untuk itu, Anda dapat mempercayakan kebutuhan qurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman. Hewan kurban di sini berasal dari peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman yang telah mendapatkan pendampingan secara profesional. Proses pemeliharaan dilakukan dengan standar yang baik, didampingi oleh peternak berpengalaman, sehingga kualitas hewan terjaga dan sesuai syariat. Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi para peternak lokal. Kesimpulan Memahami larangan orang yang berkurban merupakan bagian penting dalam menyempurnakan ibadah kurban. Mulai dari tidak memotong rambut dan kuku hingga menjaga keikhlasan, semua bertujuan agar ibadah diterima oleh Allah SWT. Mari sambut Iduladha 1447 H/2026 dengan kurban terbaik, sesuai syariat, dan penuh keberkahan.*** Sumber Referensi BAZNAS RI – https://baznas.go.id Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id
ARTIKEL28/04/2026 | Humas
Syarat Orang yang Berkurban: Panduan Lengkap Sesuai Syariat
Syarat Orang yang Berkurban: Panduan Lengkap Sesuai Syariat
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya pada Hari Raya Iduladha dan hari tasyrik. Namun, tidak semua orang memiliki kewajiban yang sama dalam melaksanakannya. Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar seseorang termasuk kategori yang dianjurkan untuk berkurban. Berikut adalah syarat orang yang berkurban sesuai dengan ketentuan syariat Islam. 1. Beragama Islam Syarat utama orang yang berkurban adalah beragama Islam. Ibadah kurban merupakan bagian dari ibadah dalam syariat Islam, sehingga hanya sah jika dilakukan oleh seorang Muslim. 2. Baligh dan Berakal Orang yang berkurban harus sudah baligh (dewasa) dan memiliki akal sehat. Artinya, ia memahami makna ibadah yang dilakukan serta mampu berniat secara sadar. Meski demikian, dalam praktiknya, orang tua juga diperbolehkan berkurban atas nama anaknya sebagai bentuk pendidikan dan pembiasaan ibadah. 3. Mampu Secara Finansial Kemampuan menjadi syarat penting dalam pelaksanaan kurban. Seseorang dianjurkan berkurban apabila memiliki kelebihan harta setelah mencukupi kebutuhan pokok diri dan keluarganya, seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Dalam hal ini, kurban tidak boleh memberatkan atau memaksakan kondisi keuangan. Jika seseorang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, maka ia tidak termasuk yang dianjurkan berkurban. 4. Bukan Termasuk Orang yang Memiliki Tanggungan Utang Mendesak Dalam penjelasan fikih yang dirujuk oleh Kementerian Agama, seseorang yang memiliki utang dan harus segera dilunasi sebaiknya mendahulukan kewajiban tersebut dibandingkan berkurban. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prioritas dalam pengelolaan keuangan, di mana kewajiban harus didahulukan daripada amalan sunnah. 5. Merdeka (Menurut Sebagian Pendapat Ulama) Dalam literatur fikih klasik, disebutkan bahwa syarat berkurban adalah merdeka (bukan hamba sahaya). Meskipun konteks ini sudah tidak relevan dalam kehidupan modern, poin ini tetap menjadi bagian dari pembahasan hukum dalam kitab-kitab fikih. 6. Tidak Sedang dalam Kondisi yang Menghalangi (Uzur) Meskipun tidak menjadi syarat mutlak, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang sedang dalam kondisi tertentu seperti sakit berat atau tidak mampu secara fisik dapat menunda atau tidak melaksanakan kurban. Namun, jika secara finansial mampu, pelaksanaan kurban tetap bisa diwakilkan kepada orang lain atau melalui lembaga resmi seperti BAZNAS. Hukum Berkurban bagi yang Memenuhi Syarat Bagi orang yang telah memenuhi syarat di atas, hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan, dalam beberapa pendapat ulama, kurban bisa menjadi wajib bagi yang benar-benar mampu. Hal ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan penting dalam Islam, baik sebagai ibadah individual maupun sosial. Hikmah Memenuhi Syarat dalam Berkurban Memahami syarat orang yang berkurban memiliki beberapa manfaat, antara lain: - Membantu umat Islam melaksanakan ibadah secara tepat sesuai syariat - Menghindari pemaksaan diri dalam beribadah - Menanamkan kesadaran bahwa Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan - Mendorong pengelolaan keuangan yang bijak Syarat orang yang berkurban dalam Islam meliputi beragama Islam, baligh dan berakal, serta mampu secara finansial tanpa mengabaikan kebutuhan pokok dan kewajiban lainnya. Dengan memahami syarat ini, umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban secara tepat, penuh kesadaran, dan sesuai tuntunan syariat. Diharapkan masyarakat semakin paham bahwa kurban bukan hanya tentang kemampuan membeli hewan, tetapi juga tentang kesiapan secara spiritual dan tanggung jawab dalam beribadah.***
ARTIKEL27/04/2026 | Humas
Apa Itu Kurban? Ini Pengertian, Dasar Hukum, dan Syarat Sahnya
Apa Itu Kurban? Ini Pengertian, Dasar Hukum, dan Syarat Sahnya
Apa yang Dimaksud dengan Kurban? Kurban adalah ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak tertentu pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pada Hari Raya Iduladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Ibadah ini merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian sosial dengan berbagi kepada sesama. Kurban tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai simbol pengorbanan, keikhlasan, serta ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya kemudian diganti oleh Allah dengan seekor hewan sembelihan, yang menjadi dasar disyariatkannya kurban hingga saat ini. Dasar Hukum Kurban Hukum kurban dalam Islam adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh BAZNAS RI dan Kementerian Agama RI berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis. 1. Dalil dari Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat ini menjadi landasan utama perintah berkurban sebagai bentuk ibadah kepada Allah. 2. Dalil dari Hadist Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah kurban bagi umat Islam yang mampu secara finansial. Syarat Orang yang Berkurban Agar ibadah kurban sah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang melaksanakannya: 1. Beragama Islam Kurban hanya sah dilakukan oleh seorang Muslim. 2. Baligh dan berakal Orang yang berkurban harus sudah dewasa dan memiliki akal sehat. 3. Mampu secara finansial T Tidak sedang dalam kondisi kekurangan, serta memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi. 4. Bukan musafir (menurut sebagian ulama) Dianjurkan bagi yang menetap, meskipun sebagian pendapat membolehkan bagi musafir. Syarat Hewan Kurban Selain syarat bagi pelaku, hewan kurban juga harus memenuhi ketentuan tertentu agar sah: 1. Jenis hewan ternak Hewan yang diperbolehkan adalah kambing, domba, sapi, atau unta. 2. Cukup umur - Kambing/domba: minimal 1 tahun (atau domba 6 bulan yang sudah tampak dewasa) - Sapi: minimal 2 tahun - Unta: minimal 5 tahun 3. Sehat dan tidak cacat Hewan tidak boleh buta, pincang, kurus ekstrem, atau memiliki penyakit serius. 4. Disembelih pada waktu yang ditentukan Yaitu setelah salat Iduladha hingga akhir hari tasyrik. Hikmah dan Keutamaan Kurban Ibadah kurban memiliki banyak hikmah yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga masyarakat luas: - Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT - Menumbuhkan rasa empati dan solidaritas social - Membantu masyarakat yang membutuhkan - Menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat Bahwa kurban merupakan salah satu cara efektif dalam mendistribusikan manfaat kepada masyarakat luas, terutama bagi mereka yang jarang mengonsumsi daging. Kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ibadah yang sarat makna spiritual dan sosial. Dengan memahami pengertian, dasar hukum, serta syarat-syaratnya, diharapkan umat Islam dapat melaksanakan ibadah kurban dengan benar dan penuh kesadaran. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya kurban sebagai bentuk ketaatan sekaligus kepedulian terhadap sesama.***
ARTIKEL24/04/2026 | Humas
5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah yang Wajib Dipahami Umat Muslim
5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah yang Wajib Dipahami Umat Muslim
Masih bingung perbedaan zakat, infak, dan sedekah? Simak penjelasan lengkap mulai dari pengertian, hukum, hingga contoh penerapannya di sini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah zakat, infak, dan sedekah sering digunakan secara bergantian. Padahal, ketiganya memiliki makna, hukum, dan ketentuan yang berbeda dalam Islam. Memahami perbedaan zakat infak sedekah sangat penting agar ibadah yang kita lakukan sesuai dengan syariat dan memberikan manfaat maksimal bagi sesama. Pengertian Zakat, Infak, dan Sedekah 1. Pengertian Zakat Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim apabila telah memenuhi syarat tertentu, seperti mencapai nisab dan haul. Zakat termasuk rukun Islam dan memiliki ketentuan yang jelas terkait jumlah serta siapa saja yang berhak menerimanya. 2. Pengertian Infak Infak adalah pengeluaran harta yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan yang dianjurkan dalam Islam, tanpa batasan jumlah tertentu. Infak bisa dilakukan kapan saja, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. 3. Pengertian Sedekah Sedekah memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya berupa harta, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan, seperti senyum, tenaga, hingga bantuan non-materi lainnya. 5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah Berikut adalah perbedaan utama yang perlu dipahami: 1. Hukum Pelaksanaan Zakat: Wajib bagi yang memenuhi syarat Infak: Sunnah (dianjurkan) Sedekah: Sunnah (lebih luas bentuknya) 2. Ketentuan dan Batasan Zakat: Memiliki nisab dan haul Infak: Tidak memiliki batasan tertentu Sedekah: Tidak dibatasi, bahkan bisa non-materi 3. Penerima Manfaat Zakat: Hanya untuk 8 golongan (asnaf) Infak: Lebih fleksibel Sedekah: Bisa diberikan kepada siapa saja 4. Waktu Pelaksanaan Zakat: Pada waktu tertentu (misalnya zakat fitrah saat Ramadan) Infak: Kapan saja Sedekah: Kapan saja dan dalam kondisi apa pun 5. Bentuk Pemberian Zakat: Harus berupa harta tertentu Infak: Umumnya berupa harta Sedekah: Bisa berupa harta maupun non-harta Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapannya: Zakat: Membayar zakat mal atau zakat fitrah melalui lembaga resmi Infak: Menyumbang untuk pembangunan masjid atau kegiatan sosial Sedekah: Memberikan makanan kepada tetangga atau membantu orang lain Peran BAZNAS dalam Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah Sebagai lembaga resmi pemerintah, BAZNAS Kabupaten Sleman memiliki peran penting dalam mengelola dana zakat, infak, dan sedekah secara profesional dan amanah. Beberapa peran utama BAZNAS antara lain: Menghimpun dana dari masyarakat (muzaki) Menyalurkan kepada yang berhak (mustahik) Menjalankan program pemberdayaan ekonomi Menjamin transparansi dan akuntabilitas Dengan menyalurkan melalui BAZNAS, dana yang Anda berikan dapat lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan umat. Memahami pengertian zakat serta perbedaan zakat, infak, dan sedekah membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih tepat dan maksimal. Zakat bersifat wajib dengan aturan khusus, sementara infak dan sedekah bersifat sunnah dengan cakupan yang lebih luas. Ketiganya memiliki peran penting dalam membangun kepedulian sosial dan kesejahteraan masyarakat. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Salurkan kebaikan Anda hari ini dan jadilah bagian dari perubahan untuk umat yang lebih sejahtera.***
ARTIKEL14/04/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Amalan Ringan dengan Pahala Berlipat
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Amalan Ringan dengan Pahala Berlipat
Sedekah Syawal memiliki keutamaan besar sebagai amalan setelah Ramadan. Simak dalil, manfaat, dan inspirasi sedekah agar pahala terus mengalir. Setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan, banyak umat Muslim mengalami penurunan semangat dalam beribadah. Padahal, bulan Syawal justru menjadi momentum penting untuk menjaga konsistensi amal kebaikan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah sedekah Syawal. Meski terkesan sederhana, sedekah memiliki keutamaan besar, bahkan mampu mendatangkan pahala berlipat dan keberkahan dalam kehidupan. Dalil Keutamaan Sedekah dalam Islam Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji…” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menjelaskan bahwa pahala sedekah akan dilipatgandakan berkali-kali lipat. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa sedekah bukanlah kerugian, melainkan investasi kebaikan yang akan diganti dengan keberkahan oleh Allah SWT. Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal Berdasarkan rujukan dari BAZNAS RI, sedekah di bulan Syawal memiliki nilai istimewa, di antaranya: 1. Tanda Konsistensi Ibadah Melanjutkan kebiasaan baik setelah Ramadan adalah tanda diterimanya amal ibadah. Sedekah Syawal menjadi bukti bahwa semangat berbagi tetap terjaga. 2. Pahala Tetap Berlipat Meskipun Ramadan telah berakhir, pahala sedekah tetap besar dan terus mengalir, terlebih jika dilakukan dengan ikhlas. 3. Menghapus Dosa Sedekah dapat menjadi sarana penghapus dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadis bahwa sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api. 4. Membuka Pintu Rezeki Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi sebab datangnya rezeki yang lebih luas dan berkah. Manfaat Sedekah: Sosial dan Spiritual 1. Manfaat Spiritual Mendekatkan diri kepada Allah SWT Menumbuhkan rasa syukur Membersihkan hati dari sifat kikir Sedekah juga melatih keikhlasan dan menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. 2. Manfaat Sosial Membantu masyarakat yang membutuhkan Mengurangi kesenjangan sosial Memperkuat ukhuwah Islamiyah Dalam konteks pasca Idulfitri, sedekah sangat relevan untuk membantu mereka yang masih mengalami kesulitan ekonomi setelah Ramadan. Kisah Inspiratif: Sedekah Membawa Keberkahan Banyak kisah nyata menunjukkan bahwa orang yang gemar bersedekah mendapatkan kemudahan dalam hidupnya. BAZNAS menyebutkan bahwa sedekah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga membawa keberkahan bagi pemberinya, bahkan bisa menjadi sebab datangnya rezeki yang tidak terduga. Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun sedekah yang diberikan, tetap memiliki dampak besar jika dilakukan dengan ikhlas. Sedekah Syawal sebagai Amalan Setelah Ramadan Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk menjaga ritme ibadah. Jangan sampai semangat berbagi hanya berhenti di bulan Ramadan. Melalui sedekah Syawal, kita bisa: - Menjaga konsistensi ibadah - Melanjutkan kebiasaan baik - Menguatkan kepedulian sosial BAZNAS juga mengajak masyarakat untuk menjadikan sedekah sebagai amalan rutin, bukan hanya musiman. Memahami keutamaan sedekah di bulan Syawal membantu kita untuk tetap istiqamah dalam berbuat kebaikan setelah Ramadan. Sedekah bukan hanya amalan ringan, tetapi juga memiliki dampak besar, baik secara spiritual maupun sosial. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membuka pintu keberkahan dalam hidup. Mari lanjutkan semangat Ramadan dengan sedekah Syawal melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. ???? Salurkan sedekah terbaik Anda hari ini ???? Jadikan berbagi sebagai kebiasaan ???? Bersama, kita wujudkan kesejahteraan umat
ARTIKEL14/04/2026 | Humas
Tunaikan Zakat Mal dan Sedekah Jariyah, Ikhtiar Menjaga Rezeki Tetap Berkah
Tunaikan Zakat Mal dan Sedekah Jariyah, Ikhtiar Menjaga Rezeki Tetap Berkah
Zakat mal dan sedekah jariyah bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga ikhtiar spiritual untuk menjaga keberkahan harta. Dalam Islam, harta yang dimiliki manusia sejatinya adalah titipan yang harus dikelola dengan amanah dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Memasuki kuartal kedua tahun 2026, banyak umat Islam mulai menata kembali kondisi keuangan setelah Ramadan dan Idulfitri. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat komitmen menunaikan zakat mal dan memperbanyak sedekah jariyah sebagai langkah menjaga kestabilan rezeki. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka...” (QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana membersihkan harta dan jiwa. Sementara itu, sedekah jariyah menjadi amalan yang pahalanya terus mengalir meski seseorang telah wafat. Memahami Zakat Mal dan Sedekah Jariyah 1. Pengertian Zakat Mal Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta tertentu yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Kewajiban ini berlaku atas berbagai jenis harta, seperti: · Emas dan perak · Tabungan serta investasi · Hasil usaha atau perdagangan · Properti yang menghasilkan Secara umum, zakat mal ditunaikan sebesar 2,5 persen dari total harta yang telah memenuhi ketentuan. 2. Pengertian Sedekah Jariyah Sedekah jariyah adalah amalan yang manfaat dan pahalanya terus mengalir dalam jangka panjang. Bentuknya bisa berupa: · Pembangunan masjid · Wakaf sumur atau sarana air bersih · Bantuan pendidikan · Penanaman pohon Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) Karena itu, zakat mal dan sedekah jariyah menjadi kombinasi ibadah yang saling melengkapi: memberi manfaat langsung hari ini sekaligus menjadi bekal pahala jangka panjang. Manfaat Zakat Mal dan Sedekah Jariyah untuk Keberkahan Rezeki 1. Membersihkan Harta dan Menambah Keberkahan Zakat mal membantu membersihkan harta dari hak orang lain, sekaligus menyucikan jiwa dari sifat kikir. Sedekah jariyah pun menjadi jalan memperluas manfaat harta agar lebih bernilai di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim) Secara lahiriah mungkin terlihat berkurang, namun secara spiritual justru mendatangkan keberkahan. 2. Membuka Pintu Rezeki dari Arah Tak Terduga Banyak orang merasakan bahwa kebiasaan berzakat dan bersedekah justru menghadirkan ketenangan hati serta jalan kemudahan dalam hidup. Allah SWT berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3) Ayat ini menjadi penguat bahwa ketaatan dapat menjadi sebab datangnya pertolongan dan kelapangan rezeki. 3. Menjadi Investasi Akhirat yang Tidak Pernah Rugi Berbeda dengan investasi dunia yang penuh risiko, zakat mal dan sedekah jariyah adalah investasi akhirat yang nilainya kekal. Setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan dibalas dengan pahala berlipat. Strategi Mengoptimalkan Zakat Mal dan Sedekah Jariyah di Kuartal Kedua 2026 1. Evaluasi Keuangan Pasca Lebaran Setelah Idulfitri, luangkan waktu untuk meninjau kembali kondisi keuangan dengan cara: · Menghitung total aset yang dimiliki · Mengidentifikasi harta yang wajib dizakati · Menyusun ulang anggaran bulanan Langkah ini membantu agar zakat mal dan sedekah jariyah dapat direncanakan secara tepat. 2. Tetapkan Target Sedekah Jariyah Selain menunaikan zakat, penting juga membuat target amal jariyah secara rutin, misalnya: · Menjadi donatur tetap masjid · Mengikuti program wakaf produktif · Membantu biaya pendidikan anak yatim dan dhuafa Konsistensi dalam berbagi akan memperkuat kepedulian sosial dan keimanan. 3. Salurkan Melalui Lembaga Terpercaya Agar dana yang disalurkan tepat sasaran, pastikan zakat dan sedekah diberikan melalui lembaga resmi dan amanah, seperti: · BAZNAS · LAZ terpercaya · Program sosial masjid Penyaluran melalui lembaga terpercaya membantu memastikan manfaatnya dirasakan oleh yang berhak. 4. Jaga Keikhlasan dan Konsistensi Kunci utama keberhasilan zakat mal dan sedekah jariyah adalah niat yang ikhlas karena Allah SWT. Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena justru berbagi adalah jalan menuju keberkahan. Dampak Sosial Zakat Mal dan Sedekah Jariyah Selain bermanfaat bagi pribadi, zakat mal dan sedekah jariyah juga memberi dampak luas bagi masyarakat. 1. Membantu Mengurangi Kemiskinan Zakat membantu mustahik memenuhi kebutuhan pokok dan meningkatkan kualitas hidup. 2. Mendorong Kesejahteraan Umat Sedekah jariyah dalam bentuk fasilitas umum, pendidikan, dan layanan sosial akan terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 3. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Budaya berbagi menumbuhkan rasa peduli, memperkuat persaudaraan, dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung. Kesalahan yang Perlu Dihindari Agar manfaat zakat mal dan sedekah jariyah lebih optimal, hindari hal berikut: · Menunda pembayaran zakat · Salah menghitung nisab dan haul · Bersedekah karena riya · Tidak konsisten dalam berbagi Kesalahan tersebut dapat mengurangi keberkahan bahkan mengurangi nilai pahala. Penutup: Jadikan Zakat dan Sedekah sebagai Investasi Langit Zakat mal dan sedekah jariyah bukan hanya kewajiban dan amalan sunnah, tetapi juga bagian dari strategi hidup seorang muslim untuk menjaga ketenangan hati, keberkahan harta, dan masa depan akhirat. Di tengah tantangan ekonomi pada kuartal kedua 2026, menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah jariyah adalah langkah nyata untuk menjaga rezeki tetap bersih, berkah, dan bermanfaat. Mari tunaikan zakat mal dan salurkan sedekah jariyah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Dengan zakat dan sedekah yang Anda titipkan, kita bisa membantu lebih banyak saudara yang membutuhkan dan menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi umat. Tunaikan zakat dan sedekah terbaik Anda sekarang melalui layanan resmi BAZNAS Kabupaten Sleman.***
ARTIKEL10/04/2026 | Humas
Cara Membayar Fidyah atau Qadha Puasa di Bulan Syawal: Panduan Lengkap & Hukumnya
Cara Membayar Fidyah atau Qadha Puasa di Bulan Syawal: Panduan Lengkap & Hukumnya
Setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan dan merayakan Idul Fitri, masih ada sebagian umat Muslim yang memiliki tanggungan puasa. Kewajiban ini bisa berupa qadha puasa maupun pembayaran fidyah, tergantung pada kondisi masing-masing. Lalu, bagaimana cara membayar fidyah atau mengganti puasa (qadha) yang benar sesuai syariat? Memahami hal ini penting agar ibadah tetap sempurna dan diterima oleh Allah SWT. Islam sendiri memberikan kemudahan bagi umatnya dalam menyelesaikan kewajiban tersebut. Melalui qadha atau fidyah, setiap Muslim tetap memiliki kesempatan untuk menunaikan tanggungan puasanya dengan cara yang sesuai. Perbedaan Fidyah dan Qadha Puasa Sebelum melaksanakan kewajiban, penting untuk memahami perbedaan antara fidyah dan qadha puasa. Pertama, qadha puasa diwajibkan bagi mereka yang masih mampu berpuasa, seperti orang yang sakit sementara atau wanita yang sedang haid. Penggantiannya dilakukan dengan berpuasa di hari lain sesuai jumlah hari yang ditinggalkan. Sementara itu, fidyah diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia atau penderita penyakit kronis. Bentuknya adalah memberi makan fakir miskin. Kedua, qadha dilakukan dengan mengganti puasa hari per hari, sedangkan fidyah dibayarkan dalam bentuk makanan, umumnya satu porsi untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Ketiga, tidak semua orang dapat memilih antara fidyah atau qadha. Penentuan kewajiban harus disesuaikan dengan kondisi dan ketentuan syariat. Keempat, dalam kasus ibu hamil atau menyusui, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu, dianjurkan untuk mengikuti pendapat yang diyakini atau berkonsultasi dengan ahli agama. Memahami perbedaan ini membantu memastikan ibadah yang dilakukan sudah tepat dan sah. Cara Membayar Fidyah dan Qadha Puasa di Bulan Syawal Bulan Syawal menjadi waktu yang tepat untuk mulai melunasi kewajiban puasa yang tertunda. Untuk qadha puasa, Anda dapat mulai berpuasa setelah Idul Fitri. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan hingga jumlah hari yang ditinggalkan terpenuhi. Sedangkan fidyah dapat dibayarkan dengan memberikan makanan pokok atau makanan siap saji kepada fakir miskin. Umumnya, jumlahnya setara satu porsi makanan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Selain itu, fidyah juga dapat disalurkan melalui lembaga amil zakat terpercaya. Cara ini lebih praktis dan memastikan bantuan sampai kepada yang berhak. Agar tidak menumpuk, sebaiknya kewajiban ini segera ditunaikan tanpa menunda terlalu lama. Jangan lupa untuk meluruskan niat, karena niat menjadi bagian penting dalam setiap ibadah. Hukum Menunda Qadha dan Fidyah Menunda qadha atau fidyah hingga melewati Ramadan berikutnya menjadi pertanyaan yang sering muncul. Dalam Islam, menunda tanpa alasan yang dibenarkan tidak dianjurkan. Bahkan, sebagian ulama berpendapat hal tersebut dapat menjadi dosa. Jika penundaan dilakukan tanpa uzur hingga masuk Ramadan berikutnya, maka selain wajib mengqadha puasa, sebagian ulama juga mewajibkan pembayaran fidyah sebagai denda. Namun, bagi yang memiliki alasan syar’i seperti sakit berkepanjangan, penundaan masih dapat dimaklumi sesuai kondisi. Agar tidak terlupa, penting untuk mencatat jumlah hari puasa yang belum ditunaikan. Keutamaan Menyegerakan Qadha dan Fidyah Menyegerakan kewajiban ibadah memiliki banyak keutamaan. Melaksanakan qadha atau fidyah lebih awal menunjukkan ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Selain itu, hati menjadi lebih tenang karena tidak lagi memiliki tanggungan ibadah. Bulan Syawal juga merupakan waktu yang penuh keberkahan, sehingga menjadi momentum yang tepat untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Di sisi lain, menyegerakan ibadah juga mencerminkan sikap disiplin dan tanggung jawab sebagai seorang Muslim, serta menghindarkan dari risiko lupa. Tips Agar Tidak Menunda Qadha dan Fidyah Agar lebih konsisten dalam menunaikan kewajiban ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Mulailah dengan membuat jadwal khusus untuk qadha puasa, misalnya menentukan hari-hari tertentu. Kemudian, tanamkan niat bahwa ini adalah kewajiban yang harus diselesaikan. Melibatkan keluarga atau teman juga dapat membantu saling mengingatkan. Selain itu, manfaatkan layanan digital atau lembaga zakat untuk mempermudah pembayaran fidyah. Terakhir, jangan lupa berdoa agar diberikan kemudahan dalam menunaikan kewajiban hingga tuntas. Melunasi fidyah atau qadha puasa merupakan bagian penting dalam menyempurnakan ibadah setelah Ramadan. Jangan sampai kewajiban ini terus tertunda hingga menjadi beban di kemudian hari. Dengan memahami cara, hukum, dan keutamaannya, kita dapat menjalankannya dengan lebih ringan dan penuh kesadaran. Jadikan bulan Syawal sebagai momentum untuk menyelesaikan tanggungan ibadah dengan segera. Semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah kita dalam menunaikan kewajiban ini dan menerima seluruh amal ibadah yang dilakukan. Jangan tunda lagi pembayaran fidyah Anda. Di bulan Syawal yang penuh berkah ini, tunaikan fidyah dengan mudah dan aman melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Selain menyempurnakan ibadah, fidyah yang Anda bayarkan akan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Yuk, segera tunaikan fidyah serta sempurnakan amal dengan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sekarang juga!
ARTIKEL08/04/2026 | Humas
Siapa Itu Mustahik? Pengertian dan 8 Golongan Penerima Zakat dalam Islam
Siapa Itu Mustahik? Pengertian dan 8 Golongan Penerima Zakat dalam Islam
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. Melalui zakat, harta yang dimiliki seorang muslim tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga sarana membantu sesama yang membutuhkan. Namun, zakat tidak boleh disalurkan secara sembarangan. Islam telah mengatur dengan jelas siapa saja yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami siapa itu mustahik agar zakat tersalurkan secara tepat dan sesuai syariat. Pengertian Mustahik dalam Islam Secara bahasa, mustahik berasal dari kata istahaqqa yang berarti berhak atau layak menerima sesuatu. Dalam konteks zakat, mustahik adalah individu atau kelompok yang berhak menerima zakat sesuai ketentuan dalam Islam. Memahami mustahik menjadi hal penting karena zakat adalah amanah. Penyaluran yang tidak tepat dapat mengurangi nilai ibadah itu sendiri. Dengan pemahaman yang benar, zakat dapat memberikan manfaat maksimal bagi penerima dan keberkahan bagi pemberi. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan…” (QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menjadi dasar utama dalam menentukan golongan mustahik penerima zakat. Pentingnya Memahami Mustahik Mengetahui siapa itu mustahik tidak hanya penting secara agama, tetapi juga berdampak luas dalam kehidupan sosial. Zakat yang disalurkan kepada pihak yang tepat dapat: · Mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial · Membantu masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi · Meningkatkan kesejahteraan umat · Memperkuat ukhuwah Islamiyah · Mendorong pemerataan ekonomi Dengan demikian, zakat menjadi instrumen nyata dalam membangun keadilan sosial sesuai ajaran Islam. 8 Golongan Mustahik Penerima Zakat Islam telah menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat. Berikut penjelasan lengkapnya: 1. Fakir Fakir adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mereka menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat. 2. Miskin Miskin adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara layak. 3. Amil Zakat Amil zakat adalah pihak yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan hingga pendistribusian. Mereka berhak menerima bagian sebagai imbalan atas tugas tersebut. 4. Muallaf Muallaf adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang perlu dikuatkan keimanannya. Zakat diberikan untuk membantu mereka beradaptasi dan memperkuat keyakinan. 5. Riqab (Memerdekakan Budak) Riqab merujuk pada budak yang ingin memerdekakan diri. Dalam konteks modern, golongan ini juga mencakup upaya membebaskan individu dari penindasan, seperti korban perdagangan manusia. 6. Gharimin (Orang Berutang) Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan mendesak dan tidak mampu melunasinya, selama utang tersebut bukan untuk hal yang dilarang. 7. Fi Sabilillah Fi sabilillah mencakup segala aktivitas di jalan Allah yang bertujuan untuk kemaslahatan umat, seperti dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan. 8. Ibnu Sabil Ibnu sabil adalah musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan, sehingga membutuhkan bantuan untuk melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat asal. Penutup Memahami siapa itu mustahik merupakan bagian penting dalam menunaikan zakat secara benar dan sempurna. Delapan golongan penerima zakat yang telah ditetapkan dalam Islam mencerminkan nilai keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Ketika zakat disalurkan kepada pihak yang tepat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mustahik, tetapi juga oleh muzaki. Harta menjadi lebih berkah, hati menjadi lebih tenang, dan kehidupan sosial menjadi lebih harmonis. Oleh karena itu, pemahaman tentang mustahik bukan sekadar pengetahuan, tetapi langkah nyata dalam mewujudkan kesejahteraan dan solidaritas umat.***
ARTIKEL07/04/2026 | Humas
Siapa Itu Muzaki? Mengenal Kriteria Orang yang Wajib Berzakat
Siapa Itu Muzaki? Mengenal Kriteria Orang yang Wajib Berzakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang krusial dalam menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. Lebih dari sekadar ibadah ritual kepada Allah SWT, zakat adalah wujud nyata kepedulian sosial terhadap sesama. Seseorang yang memiliki kewajiban menunaikan zakat disebut dengan muzaki. Memahami kriteria seorang muzaki sangatlah penting bagi setiap Muslim. Dengan mengenali status ini, Anda dapat menjalankan kewajiban agama dengan tepat, sekaligus memastikan harta yang dimiliki menjadi lebih bersih dan berkah. Apa Itu Muzaki? Secara bahasa, muzaki berasal dari akar kata “Zakat” yang berarti suci, tumbuh, dan berkah. Dalam perspektif syariat, muzaki adalah seorang Muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga wajib mengeluarkan zakat atas harta yang dimilikinya. Peran muzaki sangat vital dalam sistem ekonomi Islam. Melalui zakat yang disalurkan, kesenjangan ekonomi dapat diminimalisir dan kesejahteraan umat dapat terjaga. Oleh karena itu, status sebagai muzaki bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga cerminan kesadaran spiritual dan sosial seseorang. Dasar Hukum Kewajiban Zakat Kewajiban zakat telah ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat…” (QS. Al-Baqarah: 43) Ayat ini menempatkan zakat sejajar dengan salat sebagai pilar utama umat Islam. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima perkara, dan menunaikan zakat adalah salah satunya. Hal ini menjadi pengingat bagi setiap muzaki untuk tidak menunda atau mengabaikan kewajiban ini. 5 Kriteria Utama Seseorang Menjadi Muzaki Tidak semua Muslim otomatis berstatus sebagai muzaki. Terdapat syarat-syarat syar'i yang harus terpenuhi agar seseorang diwajibkan berzakat. Berikut adalah kriteria utamanya: 1. Beragama Islam: Zakat adalah ibadah wajib khusus bagi pemeluk agama Islam. 2. Merdeka & Kepemilikan Penuh: Harta harus berada di bawah kendali penuh pemiliknya. Harta yang masih dalam sengketa atau bukan milik pribadi tidak dihitung dalam zakat. 3. Mencapai Nisab: Harta telah mencapai batas minimal yang diwajibkan zakat (seperti 85 gram emas atau 653 kg gabah kering untuk pertanian). 4. Mencapai Haul: Kepemilikan harta telah berlangsung selama satu tahun Hijriyah (berlaku untuk emas, tabungan, dan perdagangan). Namun, zakat pertanian, hasil tambang, dan harta temuan tidak mensyaratkan haul. 5. Harta Produktif: Harta tersebut berkembang atau memiliki potensi untuk berkembang, seperti tabungan, investasi, emas, dan hasil tani. Ragam Jenis Harta yang Dikenai Zakat Dalam kehidupan modern, bentuk harta muzaki semakin beragam. Beberapa jenis harta yang mewajibkan seseorang membayar zakat antara lain: · Zakat Penghasilan: Berlaku untuk gaji atau honorarium yang mencapai nisab 85 gram emas per tahun. · Zakat Perdagangan: Dihitung dari modal usaha dan keuntungan bersih. · Zakat Pertanian: Dikeluarkan saat panen dengan kadar 5% atau 10% sesuai sistem pengairan. · Zakat Emas & Tabungan: Dikenakan zakat sebesar 2,5% jika telah memenuhi nisab dan haul. · Zakat Investasi: Mencakup keuntungan dari properti, saham, atau aset produktif lainnya. Perbedaan Muzaki dan Mustahik Agar zakat tepat sasaran, Anda wajib membedakan dua istilah ini: · Muzaki: Orang yang wajib mengeluarkan zakat karena hartanya memenuhi syarat. · Mustahik: Delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana diatur dalam QS. At-Taubah ayat 60, seperti fakir, miskin, dan amil zakat. Kesimpulan Menjadi muzaki adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Memahami kriteria muzaki bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif, melainkan bentuk ketaatan penuh kepada Allah SWT. Dengan menunaikan zakat, harta Anda akan lebih bersih, berkah, dan memberikan manfaat bagi keadilan sosial. Mari kenali peran Anda sebagai muzaki dan tunaikan zakat secara tepat waktu serta tepat sasaran untuk menebar kemaslahatan bagi sesama. Apakah Anda merasa sudah memenuhi kriteria sebagai muzaki dan membutuhkan panduan lebih lanjut mengenai cara menghitung zakat harta Anda? Jadikan Harta Lebih Berkah dengan ZIS di BAZNAS Sleman Tunaikan kewajiban zakat dan salurkan infak maupun sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Bersama kita wujudkan kesejahteraan umat dan meringankan beban sesama di wilayah Sleman. Klik di sini untuk menunaikan zakat sekarang: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat
ARTIKEL06/04/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah Subuh: Dalil, Manfaat, dan Hikmah yang Perlu Diketahui
Keutamaan Sedekah Subuh: Dalil, Manfaat, dan Hikmah yang Perlu Diketahui
Sedekah Subuh adalah amalan berbagi yang dilakukan pada waktu pagi, khususnya setelah salat Subuh. Dalam Islam, sedekah tidak hanya terbatas pada pemberian harta, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan seperti tenaga, pikiran, hingga senyuman. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menegaskan bahwa sedekah memiliki balasan yang berlipat ganda, terlebih jika dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan seperti Subuh. Dalil Keutamaan Sedekah Subuh Keutamaan sedekah Subuh memiliki landasan kuat dalam hadis Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda: “Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.’” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa waktu pagi adalah momen istimewa, di mana malaikat mendoakan kebaikan bagi orang yang gemar bersedekah. Mengapa Waktu Subuh Istimewa? Waktu Subuh dikenal sebagai awal aktivitas manusia dan termasuk waktu yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Melakukan sedekah di waktu ini diharapkan membawa keberkahan dalam rezeki, aktivitas, dan kehidupan sepanjang hari. Keutamaan Sedekah Subuh dalam Kehidupan Berikut beberapa manfaat dan keutamaan sedekah Subuh yang dapat dirasakan: 1. Mendapat Doa Malaikat Orang yang bersedekah di pagi hari akan didoakan langsung oleh malaikat. Doa ini sangat istimewa karena berasal dari makhluk yang selalu taat kepada Allah. 2. Membuka Pintu Rezeki Allah SWT berjanji akan mengganti setiap harta yang disedekahkan: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39) Penggantian ini bisa berupa materi, kesehatan, kemudahan urusan, maupun perlindungan dari kesulitan. 3. Membersihkan Hati Sedekah membantu menghilangkan sifat kikir dan cinta berlebihan terhadap dunia, serta menumbuhkan empati kepada sesama. 4. Mengawali Hari dengan Amal Kebaikan Memulai hari dengan sedekah memberikan energi positif dan ketenangan batin dalam menjalani aktivitas. 5. Menolak Musibah Para ulama menjelaskan bahwa sedekah dapat menjadi sebab tertolaknya bala atau musibah yang tidak terlihat. Sedekah Subuh di Era Digital Saat ini, sedekah Subuh semakin mudah dilakukan. Berbagai platform digital dan lembaga amil zakat menyediakan layanan donasi online, bahkan fitur sedekah otomatis setiap pagi. Salah satunya adalah BAZNAS Kabupaten Sleman yang menghadirkan berbagai program penyaluran di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat. Dengan bersedekah melalui lembaga terpercaya, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Pentingnya Niat dan Keikhlasan Keutamaan sedekah Subuh akan lebih sempurna jika dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Sedekah sebaiknya tidak dilakukan untuk pamer atau mencari pujian. Namun, berbagi kebaikan di ruang publik tetap diperbolehkan selama bertujuan untuk menginspirasi orang lain dan tetap menjaga keikhlasan. Kunci Utama: Konsistensi dalam Bersedekah Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu kaya untuk memulai sedekah Subuh. Mulailah dari nominal ringan, tetapi dilakukan secara istiqamah. Kebiasaan kecil ini akan membentuk karakter dermawan dan memperkuat kepedulian sosial. Keutamaan sedekah Subuh bukan sekadar tren, tetapi amalan yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Doa malaikat, keberkahan waktu pagi, serta janji Allah tentang balasan berlipat menjadi alasan kuat untuk mengamalkannya. Mari jadikan sedekah Subuh sebagai bagian dari rutinitas harian. Dengan niat yang ikhlas dan langkah sederhana, kita bisa meraih keberkahan hidup sekaligus membantu sesama. Yuk, mulai hari dengan kebaikan! Tunaikan sedekah Subuh melalui BAZNAS Kabupaten Sleman dan jadilah bagian dari kebaikan yang terus mengalir.***
ARTIKEL02/04/2026 | Humas
Sudah Wajib Zakat? Simak Cara Menghitungnya Agar Tidak Salah
Sudah Wajib Zakat? Simak Cara Menghitungnya Agar Tidak Salah
Dalam ajaran Islam, zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah ini bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana menyucikan harta sekaligus membantu sesama yang membutuhkan. Sayangnya, masih banyak umat Islam yang belum memahami cara menghitung zakat secara tepat. Hal ini kerap menimbulkan keraguan saat hendak menunaikannya. Padahal, memahami cara menghitung zakat sangat penting agar ibadah yang dilakukan sah secara syariat dan tepat sasaran. Melalui panduan ini, Anda akan mempelajari cara menghitung zakat secara lengkap dan mudah dipahami, mulai dari pengertian, jenis, hingga contoh perhitungannya. Apa Itu Zakat dan Siapa yang Wajib Membayarnya? Secara bahasa, zakat berarti suci, tumbuh, dan penuh berkah. Sementara secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan untuk diberikan kepada golongan yang berhak (mustahik) sesuai ketentuan syariat. Seseorang diwajibkan menunaikan zakat apabila memenuhi kriteria berikut: Beragama Islam Merdeka (bukan budak) Memiliki harta yang telah mencapai nisab (batas minimum) Harta tersebut dimiliki selama satu tahun (haul) untuk jenis zakat tertentu Dengan memahami syarat ini, Anda dapat menentukan apakah sudah wajib berzakat sebelum masuk ke tahap perhitungan. Jenis-Jenis Zakat yang Perlu Diketahui Sebelum membahas cara menghitung zakat, penting untuk memahami jenis-jenis zakat dalam Islam: 1. Zakat Fitrah Zakat yang wajib ditunaikan menjelang Idul Fitri, berupa makanan pokok (beras) sebanyak 2,5 kg atau setara. 2. Zakat Mal (Harta) Zakat yang dikenakan pada berbagai jenis harta, seperti: Penghasilan (gaji) Emas dan perak Tabungan Investasi Perdagangan Pembahasan cara menghitung zakat umumnya berfokus pada zakat mal karena membutuhkan perhitungan khusus. Nisab dan Haul dalam Zakat Dalam cara menghitung zakat, terdapat dua konsep penting yang harus dipahami: Nisab Nisab adalah batas minimum harta yang mewajibkan seseorang untuk berzakat. Contohnya: Emas: 85 gram Perak: 595 gram - Penghasilan: setara 85 gram emas per tahun Haul Haul adalah masa kepemilikan harta selama satu tahun hijriyah. Apabila harta telah mencapai nisab dan melewati haul, maka zakat wajib ditunaikan dengan perhitungan yang benar. Cara Menghitung Zakat Penghasilan (Zakat Profesi) Zakat penghasilan termasuk yang paling sering ditanyakan. Berikut cara menghitung zakat yang sederhana: Rumus: Zakat = 2,5 persen x total penghasilan bersih Contoh: Jika penghasilan per bulan Rp10.000.000, maka: · Penghasilan tahunan: Rp120.000.000 · Jika telah mencapai nisab (setara 85 gram emas), maka: Zakat = 2,5 persen x Rp120.000.000 = Rp3.000.000 per tahun Atau dapat dibayarkan setiap bulan: · Rp10.000.000 x 2,5 persen = Rp250.000 Dengan metode ini, zakat bisa ditunaikan tanpa harus menunggu satu tahun. Cara Menghitung Zakat Emas dan Tabungan Jika Anda memiliki emas atau tabungan, berikut cara menghitung zakatnya: Syarat: · Mencapai nisab (85 gram emas) · Disimpan selama 1 tahun Rumus: Zakat = 2,5 persen x total harta Contoh: Jika memiliki tabungan Rp100.000.000: · Zakat = 2,5 persen x Rp100.000.000 = Rp2.500.000 Perhitungan ini penting agar jumlah zakat yang dikeluarkan sesuai dengan ketentuan syariat. Cara Menghitung Zakat Perdagangan Bagi pelaku usaha, zakat juga dikenakan pada harta perdagangan. Yang diperhitungkan: Modal usaha Keuntungan Piutang yang bisa ditagih · Dikurangi utang jatuh tempo Rumus: Zakat = 2,5 persen x (aset lancar – kewajiban) Contoh: · Modal + keuntungan: Rp200.000.000 · Utang: Rp50.000.000 · Total harta: Rp150.000.000 · Zakat = 2,5 persen x Rp150.000.000 = Rp3.750.000 Dengan perhitungan ini, pelaku usaha dapat menunaikan zakat secara profesional dan sesuai syariat. Kesalahan Umum dalam Menghitung Zakat Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam perhitungan zakat antara lain: Tidak memperhitungkan nisab Menggunakan penghasilan kotor tanpa dikurangi kebutuhan pokok Tidak memasukkan seluruh aset Menunda pembayaran hingga terlupa Kesalahan ini dapat menyebabkan zakat tidak sah atau kurang sempurna. Oleh karena itu, penting untuk memahami perhitungan zakat dengan benar. Tips Praktis Agar Mudah Menghitung Zakat Agar lebih mudah dalam menghitung zakat, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran Gunakan harga emas terbaru sebagai acuan nisab Sisihkan zakat sejak awal menerima penghasilan Gunakan kalkulator zakat dari lembaga terpercaya Konsultasikan dengan amil zakat jika masih ragu Dengan kebiasaan ini, proses menghitung zakat akan terasa lebih mudah dan praktis. Hikmah dan Keutamaan Menunaikan Zakat Menunaikan zakat memiliki banyak keutamaan, di antaranya: Membersihkan harta dan jiwa Membantu fakir miskin Menghindarkan dari sifat kikir Mendatangkan keberkahan Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...” (QS. At-Taubah: 103) Dengan memahami cara menghitung zakat, kita tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga meraih keberkahan dalam kehidupan. Saatnya Menunaikan Zakat dengan Tepat Sebagai seorang Muslim, memahami cara menghitung zakat adalah bagian penting dari ibadah. Tidak cukup hanya mengetahui kewajibannya, tetapi juga harus mampu menghitungnya secara akurat agar zakat yang ditunaikan sah dan diterima oleh Allah SWT. Di era modern, berbagai kemudahan telah tersedia untuk membantu proses ini, mulai dari aplikasi hingga layanan lembaga zakat terpercaya seperti BAZNAS. Jangan jadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk menunda kewajiban. Biasakan menghitung zakat dengan benar, karena dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Yuk, tunaikan zakat Anda sekarang juga melalui BAZNAS Kabupaten Sleman agar lebih aman, transparan, dan sesuai syariat. Kunjungi layanan bayar zakat dan mulai berbagi kebaikan hari ini!.***
ARTIKEL01/04/2026 | Humas
Belum Bayar Fidyah atau Qadha Puasa? Ini Cara Melunasinya di Bulan Syawal
Belum Bayar Fidyah atau Qadha Puasa? Ini Cara Melunasinya di Bulan Syawal
Setelah melewati bulan suci Ramadan dan merayakan Idul Fitri, banyak umat Islam merasa lega karena telah menunaikan ibadah puasa. Namun, bagi sebagian orang, masih ada kewajiban yang belum terselesaikan, yaitu qadha puasa atau fidyah. Kondisi ini umum terjadi, terutama bagi mereka yang memiliki uzur syar’i seperti sakit, haid, hamil, atau menyusui. Lalu, bagaimana cara melunasi kewajiban tersebut di bulan Syawal? Artikel ini akan membantu Anda memahami perbedaan, cara membayar, hukum, hingga tips melunasi fidyah dan qadha puasa secara tepat sesuai syariat. Perbedaan Fidyah dan Qadha Puasa yang Perlu Dipahami Sebelum melunasi kewajiban, penting untuk memahami perbedaan antara qadha puasa dan fidyah. 1. Dari sisi kewajiban · Qadha puasa wajib bagi yang masih mampu berpuasa, seperti orang sakit sementara atau wanita haid · Fidyah diperuntukkan bagi yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia atau penderita sakit kronis 2. Dari cara pelaksanaan · Qadha dilakukan dengan mengganti puasa di hari lain sesuai jumlah yang ditinggalkan · Fidyah dilakukan dengan memberi makan fakir miskin, umumnya 1 porsi per hari puasa 3. Tidak bisa memilih sembarangan Tidak semua orang bebas memilih antara fidyah atau qadha. Keduanya memiliki ketentuan masing-masing sesuai kondisi. 4. Kasus khusus (hamil & menyusui) Dalam kondisi ini, terdapat perbedaan pendapat ulama. Sebagian mewajibkan qadha saja, sebagian lainnya qadha + fidyah. ???? Karena itu, penting untuk memahami kondisi pribadi atau berkonsultasi dengan ahli agar tidak keliru. Cara Membayar Fidyah atau Qadha Puasa di Bulan Syawal Bulan Syawal adalah momentum yang tepat untuk mulai melunasi kewajiban yang tertunda. 1. Qadha Puasa · Dilaksanakan setelah hari raya · Bisa dilakukan bertahap sesuai kemampuan · Jumlahnya harus sesuai dengan hari yang ditinggalkan 2. Membayar Fidyah · Dapat berupa makanan siap santap atau bahan pokok · Diberikan kepada fakir miskin · Takaran umum: 1 porsi per hari puasa 3. Melalui Lembaga Resmi Saat ini, fidyah dapat ditunaikan melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS Kabupaten Sleman agar lebih praktis dan tepat sasaran. 4. Jangan Ditunda Semakin cepat dilunasi, semakin baik agar tidak menumpuk hingga Ramadan berikutnya. 5. Niat yang Ikhlas Pastikan setiap ibadah dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Hukum Menunda Qadha atau Fidyah Puasa Menunda kewajiban ibadah perlu diperhatikan dengan serius. · Menunda tanpa alasan yang jelas tidak dianjurkan · Jika melewati Ramadan berikutnya, sebagian ulama mewajibkan qadha + fidyah · Jika ada uzur (misalnya sakit berkepanjangan), maka penundaan masih ditoleransi ???? Oleh karena itu, penting untuk mencatat jumlah hutang puasa agar tidak terlupakan. Keutamaan Menyegerakan Qadha dan Fidyah Melunasi kewajiban lebih awal memiliki banyak keutamaan: · Menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT · Memberikan ketenangan hati · Menghindarkan dari lupa atau lalai · Mendapat peluang pahala lebih besar, terutama di bulan Syawal · Mencerminkan sikap disiplin sebagai seorang Muslim Tips Agar Konsisten Melunasi Puasa Agar tidak kembali menunda, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan: · Buat jadwal khusus untuk qadha puasa · Tanamkan niat kuat sebagai kewajiban ibadah · Ajak keluarga atau teman untuk saling mengingatkan · Manfaatkan layanan digital untuk pembayaran fidyah · Perbanyak doa agar dimudahkan Segera Lunasi, Sempurnakan Ibadah Anda Melunasi fidyah atau qadha puasa adalah bagian penting dalam menyempurnakan ibadah setelah Ramadan. Jangan biarkan kewajiban ini tertunda hingga menjadi beban di kemudian hari. Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk memulai dan menyelesaikannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Tunaikan fidyah dengan mudah dan aman melalui BAZNAS Kabupaten Sleman Selain menyempurnakan ibadah, fidyah Anda akan disalurkan kepada yang benar-benar membutuhkan. Mari sempurnakan amal dengan zakat, infak, dan sedekah. Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita. Sebagai informasi, besaran fidyah di BAZNAS Kabupaten Sleman, sesuai SK Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman No. 05 Tahun 2026, yaitu dapat dibayarkan dalam bentuk paket makan senilai Rp15.000,. /jiwa/hari * (minimal).
ARTIKEL31/03/2026 | Humas
5 Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal yang Perlu Diketahui Umat Muslim
5 Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal yang Perlu Diketahui Umat Muslim
Sedekah di bulan Syawal menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan setelah menjalani ibadah Ramadan. Bulan Syawal tidak hanya identik dengan perayaan Idul Fitri, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga konsistensi ibadah dan memperkuat kepedulian sosial. Setelah sebulan penuh berpuasa, menunaikan zakat, dan memperbanyak amal, umat Islam dianjurkan untuk tetap melanjutkan kebaikan tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan rutin bersedekah. Lalu, apa saja keutamaan sedekah di bulan Syawal? Berikut penjelasannya. 1. Menyempurnakan Ibadah Ramadan Sedekah di bulan Syawal dapat menjadi penyempurna ibadah yang telah dilakukan selama Ramadan. Tidak ada ibadah manusia yang benar-benar sempurna, sehingga diperlukan amalan tambahan untuk menutup kekurangan. Sebagaimana amalan sunnah yang melengkapi ibadah wajib, sedekah menjadi bentuk ibadah lanjutan yang sangat dianjurkan. Dengan bersedekah setelah Ramadan, seorang Muslim menunjukkan bahwa kebaikan tidak berhenti di satu bulan saja. 2. Menjaga Konsistensi Amal Saleh Salah satu tanda diterimanya amal adalah kemampuan untuk tetap istiqamah dalam berbuat baik. Sedekah di bulan Syawal membantu menjaga konsistensi tersebut. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit. Oleh karena itu, membiasakan sedekah setelah Ramadan merupakan langkah nyata untuk mempertahankan semangat ibadah sepanjang tahun. 3. Membuka Pintu Rezeki dan Keberkahan Sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi sebab datangnya keberkahan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang bersedekah. Bulan Syawal menjadi waktu yang tepat untuk menanam kebaikan yang akan berbuah pada kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, maupun ketenangan hati. 4. Mempererat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial Setelah Idul Fitri, suasana silaturahmi masih terasa hangat. Sedekah dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar sesama. Dengan membantu mereka yang membutuhkan, kita turut menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial. Hal ini penting untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling peduli. Sedekah tidak selalu berupa uang. Memberikan makanan, pakaian, atau bantuan tenaga juga termasuk sedekah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT. 5. Mendatangkan Ketenangan dan Kebahagiaan Hati Sedekah memberikan dampak positif bagi kondisi batin seseorang. Banyak orang merasakan ketenangan dan kebahagiaan setelah berbagi dengan sesama. Dalam Islam, kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Sedekah menjadi salah satu jalan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Tips Agar Konsisten Bersedekah di Bulan Syawal Agar sedekah tidak hanya menjadi amalan sesaat, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: 1. Niatkan sedekah karena Allah SWT 2. Mulai dari nominal kecil namun rutin 3. Salurkan kepada yang benar-benar membutuhkan 4. Lakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan 5. Libatkan keluarga agar menjadi kebiasaan bersama Jadikan Sedekah sebagai Gaya Hidup Sedekah di bulan Syawal bukan sekadar amalan tambahan, tetapi wujud keberlanjutan ibadah setelah Ramadan. Melalui sedekah, kita belajar untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama. Keutamaan yang besar, baik dari sisi spiritual maupun sosial, menjadikan sedekah sebagai amalan yang layak untuk terus dijaga. Jangan biarkan semangat berbagi berhenti setelah Ramadan. Mari jadikan sedekah sebagai kebiasaan, tidak hanya di bulan Syawal, tetapi sepanjang hidup. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah SWT dan mendapatkan keberkahan di dunia maupun akhirat. Yuk, Maksimalkan Sedekah di Bulan Syawal! Mari lanjutkan semangat kebaikan dengan bersedekah di bulan penuh berkah ini. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman agar lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. - Sedekah Anda akan membantu mereka yang membutuhkan - Menjadi ladang pahala yang terus mengalir - Menguatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat Yuk, bersedekah sekarang dan raih keberkahan di bulan Syawal!
ARTIKEL31/03/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Waktu Terbaik Menjaga Semangat Berbagi
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Waktu Terbaik Menjaga Semangat Berbagi
Sedekah di bulan Syawal merupakan amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Syawal tidak hanya menjadi penutup rangkaian puasa, tetapi juga momentum penting untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadah, termasuk dalam hal berbagi kepada sesama. Setelah sebulan penuh melatih diri menahan hawa nafsu dan memperbanyak amal kebaikan, Syawal menjadi ujian konsistensi. Apakah semangat ibadah tetap terjaga? Salah satu cara terbaik untuk menjawabnya adalah dengan terus bersedekah. Amalan ini bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga mencerminkan keimanan serta kepedulian sosial. Pengertian Sedekah dalam Islam Secara sederhana, sedekah berarti memberikan sesuatu dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Dalam ajaran Islam, sedekah tidak terbatas pada harta saja, tetapi mencakup berbagai bentuk kebaikan seperti tenaga, ilmu, bahkan senyuman. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa setiap sedekah akan dilipatgandakan pahalanya. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah merupakan investasi akhirat yang sangat bernilai dan tidak akan merugikan. Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal 1. Menjaga Semangat Ibadah Pasca Ramadhan Ramadhan mengajarkan kebiasaan berbagi dan peduli terhadap sesama. Ketika bulan tersebut berakhir, kebiasaan baik itu seharusnya tetap dilanjutkan. Sedekah di bulan Syawal menjadi bukti bahwa ibadah tidak bersifat musiman, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 2. Menyempurnakan Ibadah Puasa Amalan tambahan setelah ibadah utama dapat menjadi penyempurna. Sedekah berperan melengkapi kekurangan yang mungkin terjadi selama menjalankan puasa Ramadhan. 3. Peluang Pahala Berlipat Meskipun tidak seutama Ramadhan, Syawal tetap termasuk waktu yang penuh keberkahan. Sedekah yang dilakukan di bulan ini tetap berpeluang mendapatkan pahala besar, terutama jika manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang. 4. Membantu Kondisi Ekonomi Pasca Lebaran Setelah Idul Fitri, banyak orang mengalami penurunan kondisi finansial akibat tingginya pengeluaran. Sedekah di bulan Syawal menjadi solusi nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan. 5. Membersihkan Harta dan Hati Sedekah tidak hanya menyucikan harta, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Dengan rutin bersedekah, keikhlasan dan ketakwaan akan semakin terjaga. Ragam Bentuk Sedekah di Bulan Syawal Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tidak selalu harus berupa uang. Berikut beberapa contohnya: Sedekah Materi: Memberikan uang, makanan, pakaian, atau kebutuhan pokok Sedekah Tenaga: Membantu orang lain, ikut kegiatan sosial, atau menjadi relawan Sedekah Ilmu: Mengajarkan pengetahuan yang bermanfaat Sedekah Senyuman: Sikap ramah dan menyenangkan kepada orang lain Sedekah Digital: Berdonasi secara online melalui lembaga terpercaya Tips Konsisten Bersedekah di Bulan Syawal Agar tetap istiqamah dalam bersedekah, beberapa langkah berikut bisa diterapkan: Niatkan sedekah semata-mata karena Allah Mulai dari nominal kecil tetapi rutin Tentukan jadwal sedekah secara berkala Sisihkan sebagian penghasilan khusus untuk berbagi Pilih lembaga penyalur yang amanah dan terpercaya Manfaat Sedekah bagi Kehidupan Sedekah memberikan dampak positif yang luas, baik secara spiritual maupun sosial, antara lain: Mendatangkan keberkahan rezeki Menjauhkan dari musibah Memberikan ketenangan batin Mempererat hubungan antar sesama Menjadi amal jariyah yang terus mengalir Dengan rutin bersedekah di bulan Syawal, seseorang tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga meningkatkan kualitas hidupnya sendiri. Sedekah sebagai Cerminan Keimanan Sedekah adalah salah satu tanda keimanan seseorang. Orang yang yakin kepada Allah tidak akan ragu untuk berbagi, karena percaya bahwa setiap kebaikan akan diganti dengan yang lebih baik. Keyakinan ini menjadi dasar bahwa sedekah bukanlah pengurangan harta, melainkan investasi yang menguntungkan di dunia dan akhirat. Kesimpulan Sedekah di bulan Syawal adalah amalan penting untuk menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial, meningkatkan keimanan, dan menanam kebiasaan berbagi. Dengan memahami keutamaan dan manfaatnya, diharapkan sedekah tidak hanya dilakukan di bulan Syawal, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Mari jadikan Syawal sebagai awal baru untuk menjadi pribadi yang lebih dermawan, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Jangan lewatkan kesempatan untuk berbagi dan memberikan manfaat bagi sesama. Yuk, mulai berbagi sekarang.
ARTIKEL30/03/2026 | Humas
Cara Bayar Zakat Kurangi Pajak Penghasilan: Syarat dan Panduan Lengkap
Cara Bayar Zakat Kurangi Pajak Penghasilan: Syarat dan Panduan Lengkap
Apakah Anda tahu bahwa zakat yang Anda tunaikan setiap tahun bukan hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga bisa meringankan beban pajak penghasilan Anda? Pemerintah Indonesia telah mengatur mekanisme di mana Zakat dapat menjadi pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP). Namun, tidak semua pembayaran zakat bisa langsung memotong pajak. Ada aturan main dan syarat administratif yang harus dipenuhi agar laporan SPT Tahunan Anda valid. Simak panduan lengkapnya di bawah ini. Bagaimana Zakat Bisa Mengurangi Pajak? Banyak orang salah kaprah menganggap zakat adalah tax credit (potongan langsung pada nominal pajak). Faktanya, di Indonesia, zakat berfungsi sebagai tax deduction (pengurang penghasilan bruto). Artinya, jumlah zakat yang Anda bayarkan akan dikurangkan dari total penghasilan kotor Anda dalam setahun. Dengan penghasilan neto yang lebih kecil, maka dasar pengenaan pajak (DPP) Anda pun mengecil, sehingga nominal pajak yang harus dibayar ke kas negara menjadi lebih rendah. Dasar Hukum Zakat sebagai Pengurang Pajak Kebijakan ini legal dan dilindungi oleh payung hukum yang kuat di Indonesia: 1. Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). 2. Peraturan Pemerintah (PP) No. 60 Tahun 2010 tentang Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib. 3. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 114 Tahun 2025 yang mengatur tata cara dan daftar lembaga amil zakat yang diakui. Syarat Agar Zakat Diakui oleh Kantor Pajak (DJP) Agar zakat Anda bisa diklaim dalam SPT Tahunan, pastikan Anda memenuhi tiga kriteria berikut: 1. Dibayar Melalui Lembaga Resmi (BAZNAS/LAZ) Anda tidak bisa memotong pajak jika zakat diberikan langsung kepada individu atau masjid yang belum terdaftar secara resmi. Zakat harus disalurkan melalui: · BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) di tingkat Pusat, Provinsi, maupun Kota/Kabupaten. · LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang telah mendapatkan izin operasional resmi dari Kementerian Agama dan terdaftar di Direktorat Jenderal Pajak. Berikut Mekanismenya Berdasarkan BAZNAS RI (Zakat Pengurang Penghasilan Kena Pajak) (Pengisian SPT Tahunan bagi Wajib Pajak Badan) 2. Memiliki Bukti Setor Zakat (BSZ) yang Sah Setelah membayar, Anda wajib mendapatkan Bukti Setor Zakat (BSZ). Bukti ini harus mencantumkan: · Nama Lengkap dan NPWP pembayar pajak (Muzakki). · Jumlah nominal pembayaran dalam Rupiah. · Tanggal pembayaran yang jelas. · Nama dan stempel/validasi dari lembaga amil zakat. (Bukti Setor Zakat dari Sistem BAZNAS (SIMBA)) 3. Bersifat Wajib Hanya sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib (seperti Zakat Mal, Zakat Fitrah, atau Zakat Penghasilan bagi Muslim) yang dapat dikurangkan. Infak dan sedekah sukarela umumnya tidak termasuk dalam kategori ini. Bayar zakat online di BAZNAS Kabupaten Sleman aman, mudah dan sesuai Syariah, bisa langsung via kantor digital: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat atau transfer via bank (daftar rekening bank BAZNAS Kabupaten Sleman) Setelah berhasil setor zakat, pihak BAZNAS Kabupaten Sleman akan membuatkan Bukti Setor Zakat (BSZ). Namun, sebelumnya pastikan Anda sudah berhasil setor zakat dan konfirmasi ke nomor WhatsApp Admin BAZNAS Kabupaten Sleman: Admin 1: 0811.3220.8000 https://wa.me/6281132208000 Admin 2: 0889.8954.6000 https://wa.me/6288989546000 Contoh Simulasi Perhitungan Misalkan penghasilan bruto Anda setahun adalah Rp200.000.000. Jika Anda membayar zakat sebesar Rp5.000.000 (2,5% dari total), maka perhitungannya: · Penghasilan Bruto: Rp200.000.000 · Zakat (Pengurang): (Rp5.000.000) · Penghasilan Neto setelah Zakat: Rp195.000.000 Pajak Anda akan dihitung berdasarkan angka Rp195 juta tersebut, bukan Rp200 juta. Hal ini memberikan penghematan pajak yang signifikan bagi wajib pajak. Cara Melaporkan Zakat di SPT Tahunan Berikut langkah praktis saat Anda melakukan e-Filing: 1. Siapkan Bukti Setor Zakat (BSZ) dari lembaga resmi. 2. Masuk ke akun DJP Online dan pilih formulir SPT yang sesuai (1770 S atau 1770). 3. Cari kolom bertuliskan "Zakat / Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib". 4. Masukkan total nominal zakat yang dibayarkan selama satu tahun pajak tersebut. 5. Simpan bukti setor sebagai lampiran jika sewaktu-waktu diperlukan pemeriksaan. Kesimpulan Membayar zakat melalui lembaga resmi bukan hanya membantu sesama secara tepat sasaran, tetapi juga memberikan keuntungan finansial melalui keringanan pajak. Pastikan Anda selalu meminta bukti setor resmi untuk melengkapi administrasi perpajakan Anda. Ingin tahu daftar LAZ resmi terbaru agar zakat Anda bisa memotong pajak? Saya bisa membantu merangkumkan daftar lembaga amil zakat yang sudah mendapatkan izin resmi dari pemerintah untuk Anda.*** Sumber: Direktorat Jenderal Pajak – Artikel Zakat Bisa Jadi Pengurang Pajak UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Penjelasan Ditjen Pajak tentang zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak
ARTIKEL16/03/2026 | Humas
Keistimewaan Yogyakarta dan Ikhtiar Mengentaskan Kemiskinan melalui Zakat
Keistimewaan Yogyakarta dan Ikhtiar Mengentaskan Kemiskinan melalui Zakat
Pada peringatan hari jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakat kembali diingatkan bahwa keistimewaan daerah ini bukan hanya terletak pada sejarah panjang kerajaan, budaya yang adiluhung, atau tata kelola pemerintahan yang khas. Keistimewaan Yogyakarta juga tercermin dari nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakatnya: gotong royong, kepedulian sosial, dan semangat berbagi. Sejak berdirinya pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, Yogyakarta dibangun bukan sekadar sebagai pusat kekuasaan, tetapi juga sebagai ruang kehidupan yang menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat. Spirit ini terus diwariskan hingga kini dalam berbagai bentuk kebijakan dan gerakan sosial masyarakat. Namun di balik berbagai kemajuan, persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan nyata. Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan dan budaya, tetapi tidak sedikit warga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup dasar. Karena itu, peringatan hari jadi ini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni sejarah, tetapi juga momentum refleksi bersama: sejauh mana pembangunan telah menyentuh masyarakat paling rentan. Di sinilah nilai-nilai Islam tentang zakat menemukan relevansinya. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga instrumen sosial yang memiliki kekuatan besar dalam mengurangi kesenjangan ekonomi. Melalui zakat, kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu, tetapi mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Jika dikelola secara baik dan profesional, zakat mampu menjadi bagian penting dari strategi pengentasan kemiskinan. Dana zakat dapat diarahkan untuk program pemberdayaan ekonomi, penguatan UMKM, bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, hingga pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Dengan pendekatan ini, zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga membuka jalan bagi kemandirian mustahik. Semangat inilah yang sebenarnya sejalan dengan filosofi kehidupan masyarakat Yogyakarta yang menjunjung tinggi harmoni sosial. Dalam budaya Jawa dikenal nilai tepa selira dan guyub rukun—dua prinsip yang mengajarkan empati serta kepedulian terhadap sesama. Zakat adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai tersebut dalam ajaran Islam. Peringatan hari jadi ke-271 Yogyakarta hendaknya menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga zakat, dunia usaha, dan masyarakat. Upaya pengentasan kemiskinan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan sinergi yang kuat, terutama dalam mengoptimalkan potensi zakat, infak, dan sedekah yang dimiliki umat. Keistimewaan Yogyakarta pada akhirnya tidak hanya diukur dari warisan sejarahnya, tetapi dari kemampuannya menjaga martabat setiap warganya. Ketika tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam kemiskinan, ketika solidaritas sosial tumbuh kuat melalui zakat dan kepedulian bersama, saat itulah keistimewaan Yogyakarta benar-benar terasa nyata. Dirgahayu ke-271 Yogyakarta. Semoga keistimewaan daerah ini terus menjadi inspirasi bagi lahirnya masyarakat yang adil, sejahtera, dan penuh kepedulian.*** oleh : Muhaimin, S.Ag., M.Pd. (Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL13/03/2026 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →