WhatsApp Icon
International Zakat Leader Summit, BAZNAS RI Dorong ZIS Perkuat Ekonomi Syariah dan Kemandirian Umat

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menegaskan peran strategis zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, serta meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian umat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., saat membuka International Zakat Leader Summit bertema “The Future of Zakat: Advancing Innovation, Strengthening Collaboration, and Building Sustainable Impact” di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Sodik mengatakan, pengelolaan ZIS perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem ekonomi syariah. Menurutnya, zakat tidak hanya berfungsi sebagai instrumen ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan.

“Jadi, kita harus menempatkan diskusi-diskusi kita tentang zakat, infak, sedekah itu dalam konteks, dalam tempat sistem ekonomi Islam atau sistem ekonomi syariah yang Alquran menjamin itu akan memberikan tumbuh berkeadilan,” ujar Sodik.

Ia menjelaskan, kontribusi BAZNAS dalam pengembangan ekonomi syariah juga diwujudkan melalui dukungan terhadap pelaku usaha kecil, termasuk fasilitasi legalitas halal, penguatan penghimpunan ZIS, serta peningkatan literasi masyarakat mengenai zakat, infak, dan sedekah.

“BAZNAS juga mendorong tentang industri halal. Beberapa pengusaha kecil kita dukung untuk mendapatkan legalitas industri halal. BAZNAS tentu mobilisasi zakat, infak, sedekah. BAZNAS juga adalah memberikan literasi tentang zakat, infak, sedekah,” ungkapnya.

Profesionalisme Amil dan Dampak Zakat Jadi Kunci

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA., menekankan bahwa masa depan pengelolaan zakat tidak cukup diukur dari besarnya dana yang berhasil dihimpun. Kualitas tata kelola, profesionalisme amil, regulasi yang mendukung, ketepatan penyaluran, serta dampak nyata bagi masyarakat juga menjadi faktor penentu.

“Masa depan zakat tidak cukup ditentukan oleh besarnya dana yang dihimpun. Keberhasilan juga sangat tergantung pada kualitas dan profesionalisme para amil, kualitas regulasi, ketepatan sasaran, kemampuan membuktikan dan menunjukkan dampak bagi masyarakat,” ujar Kamaruddin.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan zakat yang akuntabel dan berorientasi pada hasil. Dengan tata kelola yang baik, dana ZIS diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahik maupun mendukung pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan.

Kolaborasi Internasional dan Inovasi untuk Masa Depan Zakat

Sekretaris Jenderal World Zakat and Waqf Forum (WZWF), H.E. Datuk Dr. Mohd Ghazali Md Noor, menilai BAZNAS memiliki peran strategis dalam pengembangan keuangan sosial Islam di tingkat global. Peran tersebut antara lain melalui program zakat produktif, penguatan tata kelola kelembagaan, pemanfaatan teknologi, serta perluasan kerja sama internasional.

Ia mengajak para pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan negara guna membangun ekosistem zakat global yang profesional dan berkelanjutan.

“Marilah kita memperkuat tata kelola, merangkul inovasi yang bertanggung jawab, serta memperluas kolaborasi antarlembaga dan antarnegara untuk membangun ekosistem zakat global yang berlandaskan prinsip-prinsip bersama, keunggulan profesional, dan rasa saling percaya,” ujar Datuk Ghazali.

Dukungan terhadap penyelenggaraan forum tersebut juga disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dr. Dadang Muljawan. Ia berharap pertemuan para pengelola zakat, pembuat kebijakan, praktisi, dan pakar internasional tersebut menghasilkan rekomendasi yang konkret untuk meningkatkan kualitas pengelolaan zakat.

“Kegiatan ini mempertemukan para pengelola zakat, pembuat kebijakan, praktisi, dan pakar internasional dalam sesi dialog yang penting. Kami berharap diskusi ini dapat menghasilkan rekomendasi yang praktis dan dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan pengelolaan zakat ke depan,” ujarnya.

Hadirkan Pemangku Kepentingan Zakat dari Berbagai Negara

International Zakat Leader Summit menghadirkan sejumlah narasumber dan panelis dari lembaga nasional maupun internasional. Di antaranya Kuasa Usaha ad interim Negara Qatar, Saad M. El-Amadi; Pimpinan Bidang Keuangan, Digitalisasi, dan Operasional BAZNAS RI, Dr. H. Mokhamad Mahdum; serta Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengendalian dan Pengawasan, Hj. Neyla Saida Anwar, M.H., M.Hum.

Forum ini juga dihadiri Wakil Direktur Utama Pusat Pungutan Zakat, MAIWP, Tuan Haji Azrin Dato' Haji Abdul Manan; perwakilan Ummet Vakfi, Abdulrahman Farwana; Wakil Sekretaris World Zakat and Waqf Forum, Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik; Direktur Utama IBF Net Group, Dr. Mohammed Obaidullah; Ekonom Negara di Islamic Development Bank, Dr. Ali Fallahi; serta Kepala Pembiayaan untuk Pembangunan dan Pertumbuhan Inklusif United Nations Development Programme (UNDP), Nila Murti.

Melalui forum internasional ini, penguatan tata kelola, inovasi yang bertanggung jawab, profesionalisme amil, dan kolaborasi lintas negara menjadi agenda penting dalam pengembangan zakat ke depan. Upaya tersebut diharapkan memperluas manfaat ZIS, memperkuat pemberdayaan ekonomi umat, dan menjadikan zakat sebagai instrumen strategis untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.***

20/10/2026 | Kontributor: Humas
Rakornas BAZNAS 2026 di Jakarta, Target Pengumpulan ZIS Nasional Rp70 Triliun pada 2027

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menargetkan pengumpulan zakat, infak, sedekah (ZIS), dan dana sosial keagamaan lainnya mencapai Rp70 triliun pada 2027, dengan sasaran 48 juta jiwa penerima manfaat. Target tersebut menjadi bagian dari Rencana Strategis BAZNAS 2026–2031 yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS Tahun 2026 di Jakarta, 13–15 Oktober 2026.

Mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”, Rakornas BAZNAS 2026 menjadi forum untuk menyelaraskan strategi pengelolaan zakat nasional, memperkuat koordinasi antara BAZNAS pusat dan daerah, serta meningkatkan kontribusi zakat terhadap agenda pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menyampaikan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan kerja bersama seluruh jajaran BAZNAS, dukungan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, serta lembaga amil zakat mitra.

Menurutnya, pengelolaan zakat tidak hanya berorientasi pada penghimpunan dana, tetapi juga memastikan dana yang terkumpul disalurkan secara amanah dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Setiap rupiah adalah amanah. Setiap penerima manfaat adalah saudara kita yang sedang kita bantu bangkit, dari mustahik menjadi muzaki,” demikian pesan Ketua BAZNAS RI dalam sambutannya pada Rakornas BAZNAS 2026.

Rakornas BAZNAS 2026 Diikuti 974 Peserta

Rakornas BAZNAS 2026 berlangsung selama tiga hari dan diikuti 974 peserta dari 34 BAZNAS provinsi serta 308 BAZNAS kabupaten/kota. Peserta terdiri atas 285 ketua, 651 wakil ketua, serta 38 unsur Satuan Audit Internal dan pelaksana, belum termasuk asisten pimpinan.

Forum ini bertujuan menyelaraskan pelaksanaan Rencana Strategis BAZNAS 2026–2031 sekaligus merumuskan strategi bersama dalam tiga bidang utama, yaitu pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan, serta pengendalian.

Rangkaian kegiatan mencakup taklimat Presiden Republik Indonesia, Zakat Strategic Talks bersama sejumlah menteri dan pemangku kepentingan nasional, laporan BAZNAS provinsi, serta sidang panel dan sidang komisi.

Rakornas juga dijadwalkan menghasilkan nota kesepahaman dengan KADIN Indonesia untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat. Pada Kamis, 15 Oktober 2026, kegiatan ditutup dengan pembacaan Resolusi Jihad Zakat untuk Kesejahteraan Bangsa dan dilanjutkan dengan Grand BAZNAS Awards 2026.

Hasil pembahasan komisi dan resolusi tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi BAZNAS di seluruh Indonesia dalam memperkuat tata kelola zakat serta memperluas manfaatnya bagi masyarakat.

Perkuat Respons Kemanusiaan bagi Korban Bencana

Selain membahas strategi pengelolaan zakat nasional, BAZNAS menegaskan komitmennya dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS RI menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat terdampak dan menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan setelah masa tanggap darurat berakhir.

BAZNAS bersama jajaran BAZNAS daerah di NTT berkomitmen mendampingi masyarakat dalam proses pemulihan. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan dasar dan memulihkan kehidupan setelah bencana.

Rakornas BAZNAS 2026 juga menjadi momentum penyerahan simbolis bantuan bagi masyarakat NTT sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap korban bencana.

Di sisi lain, BAZNAS menyampaikan keprihatinan atas empat insan pers yang disebut dalam sambutan masih belum ditemukan setelah menjalankan tugas peliputan di Gunung Anak Krakatau. BAZNAS mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para jurnalis serta memberikan apresiasi kepada tim SAR gabungan yang terus melakukan pencarian.

BAZNAS Tegaskan Dukungan untuk Rakyat Palestina

Komitmen kemanusiaan BAZNAS juga mencakup dukungan bagi masyarakat Palestina, khususnya warga Gaza yang masih membutuhkan bantuan.

Melalui Program Bantuan Bangsa Indonesia untuk Rakyat Palestina, BAZNAS berupaya menghimpun dan menyalurkan kepedulian masyarakat Indonesia secara amanah. Penyerahan bantuan secara simbolis dalam rangkaian Rakornas menjadi salah satu wujud dukungan tersebut.

BAZNAS menegaskan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak terbatas oleh wilayah negara. Penghimpunan dan penyaluran bantuan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak krisis kemanusiaan.

Siapkan Dukungan bagi Masyarakat Terdampak Karhutla

Persoalan lain yang menjadi perhatian BAZNAS adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Bencana tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lanjut usia, serta memengaruhi mata pencaharian warga terdampak.

BAZNAS berkomitmen menggalang donasi kemanusiaan untuk mendukung penanganan karhutla melalui sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga terkait.

Dukungan direncanakan mencakup layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, bantuan bagi relawan, serta pemulihan ekonomi warga. Adapun dana zakat akan disalurkan kepada masyarakat terdampak yang memenuhi kriteria sebagai mustahik sesuai ketentuan syariah.

BAZNAS juga mengajak jajaran BAZNAS di daerah rawan karhutla untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Konsolidasi Zakat untuk Kesejahteraan Bangsa

Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan koordinasi antara BAZNAS pusat dan daerah diharapkan mampu mendorong pengelolaan zakat yang semakin terarah, transparan, dan berdampak.

Target pengumpulan ZIS sebesar Rp70 triliun pada 2027 menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas jangkauan program pemberdayaan dan bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dengan dukungan pemerintah, dunia usaha, mitra pengelola zakat, serta partisipasi masyarakat, BAZNAS berupaya menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen strategis dalam mendukung kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.***

15/10/2026 | Kontributor: Humas
Rakornas BAZNAS 2026: Perkuat Strategi Pengumpulan Zakat dan Loyalitas Muzaki untuk Sejahterakan Mustahik

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat strategi pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) melalui peningkatan mobilisasi dana, perluasan segmen muzaki, serta pengelolaan hubungan dengan muzaki secara berkelanjutan. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi zakat nasional sekaligus memperluas manfaatnya bagi kesejahteraan mustahik.

Strategi tersebut disampaikan Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta. Rakornas tahun ini mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”.

Rizaludin menegaskan bahwa penguatan pengumpulan zakat perlu dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni mempertahankan kepercayaan dan loyalitas muzaki yang telah menunaikan zakat serta memperluas jangkauan kepada calon muzaki baru.

“Kita perlu meningkatkan angka perolehan, mobilisasi, dan pengumpulan zakat, infak, sedekah, serta DSKL secara signifikan setiap tahun dengan memelihara engagement muzaki lama sekaligus membuka segmen muzaki baru melalui strategi yang unggul,” ujar Rizaludin, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, keberhasilan pengumpulan tidak hanya diukur dari peningkatan jumlah dana yang dihimpun, tetapi juga dari kemampuan lembaga dalam membangun hubungan jangka panjang dengan muzaki dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat.

Empat Fokus Strategi Pengumpulan Zakat BAZNAS

Dalam Rakornas BAZNAS 2026, Rizaludin memaparkan empat fokus utama strategi pengumpulan, yaitu meningkatkan perolehan dan mobilisasi dana, memelihara muzaki yang sudah ada, menjangkau segmen muzaki baru, serta menerapkan strategi pengelolaan muzaki yang unggul.

Keempat fokus tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kinerja pengumpulan ZIS-DSKL di tengah besarnya potensi zakat yang belum sepenuhnya tergarap.

Rizaludin menilai jaringan masjid, masyarakat, komunitas, dan desa merupakan potensi strategis yang perlu dioptimalkan. Dengan memperluas kolaborasi dan memperkuat peran BAZNAS di berbagai sektor, penghimpunan zakat diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Di luar neraca, potensi kita masih banyak karena memang ada jaringan masjid-masjid, masyarakat, komunitas, dan desa yang kita miliki. Tapi tentu ke depan BAZNAS harus bisa leading di semua sektor,” jelasnya.

Kepercayaan Muzaki Menjadi Kunci Pengumpulan

BAZNAS juga menempatkan kepercayaan muzaki sebagai salah satu indikator penting dalam rencana strategis pengumpulan. Indikator kinerja yang disiapkan mencakup target mobilisasi pengumpulan, peningkatan jumlah muzaki, munfik, dan donatur, baik perorangan maupun badan, serta pengumpulan dana kurban dan dana sosial keagamaan lainnya.

Kepercayaan masyarakat menjadi fondasi bagi keberlanjutan pengumpulan zakat. Karena itu, pengelolaan hubungan dengan muzaki perlu dilakukan secara konsisten melalui komunikasi, pelayanan, dan pelibatan mereka dalam berbagai kegiatan lembaga.

“Kepercayaan muzaki ini juga menjadi kunci dari keberhasilan pengumpulan,” ujar Rizaludin.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan penghimpunan dana, tetapi juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam mendukung program pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang tepat sasaran.

Optimalkan Pengumpulan dari 10 Jenis Zakat

Selain memperluas jaringan muzaki, BAZNAS mendorong optimalisasi pengumpulan zakat dari berbagai sektor. Rizaludin menyebut terdapat 10 jenis zakat yang perlu menjadi perhatian, meliputi zakat fitrah, emas, uang, perniagaan, pertanian, peternakan, pertambangan, perindustrian, pendapatan, dan rikaz.

Menurutnya, cakupan pengumpulan yang luas diperlukan agar potensi zakat dari berbagai sumber dapat dikelola secara lebih optimal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan pendekatan tersebut, pengumpulan zakat diharapkan tidak hanya bertumpu pada satu kelompok masyarakat atau sumber pendapatan, tetapi dapat berkembang melalui berbagai sektor yang memiliki potensi zakat.

Strategi LIA untuk Menjangkau Muzaki Baru

Untuk memperluas basis muzaki, Rizaludin memperkenalkan konsep LIA, singkatan dari linkage, interest, dan ability. Konsep ini menekankan tiga aspek dalam pendekatan kepada calon muzaki, yaitu membangun jaringan atau akses, memahami minat dan perhatian calon muzaki, serta mempertimbangkan kemampuan mereka dalam menunaikan zakat.

Aspek linkage berkaitan dengan pemetaan jaringan dan pihak yang dapat membantu membangun komunikasi dengan calon muzaki. Pendekatan ini memungkinkan BAZNAS menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terhubung dengan layanan pengumpulan zakat.

Sementara itu, aspek interest membantu pengelola memahami perhatian dan kebutuhan calon muzaki, sedangkan ability menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan pendekatan dengan kemampuan mereka.

Melalui konsep LIA, strategi pengumpulan diharapkan menjadi lebih terarah, efektif, dan sesuai dengan karakteristik calon muzaki.

Pertahankan Loyalitas Muzaki melalui Strategi LAI

Untuk menjaga hubungan dengan muzaki yang sudah ada, Rizaludin menjelaskan konsep LAI, yaitu linkage, advocacy, dan enforcement. Strategi ini menitikberatkan pada pemeliharaan hubungan, penanganan masukan dan keluhan, serta pelibatan muzaki dalam berbagai kegiatan BAZNAS.

Melalui linkage, BAZNAS menjaga komunikasi dan hubungan dengan muzaki. Aspek advocacy menekankan pentingnya mendengarkan aspirasi, masukan, dan keluhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Adapun enforcement merupakan bagian dari konsep yang dipaparkan untuk memperkuat pengelolaan hubungan dan keberlanjutan keterlibatan muzaki.

Penguatan hubungan tersebut diharapkan mampu membangun pengalaman layanan yang lebih baik sehingga muzaki tetap percaya dan konsisten menunaikan zakat melalui lembaga pengelola zakat.

Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan strategi pengumpulan dan pengelolaan muzaki menjadi bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan zakat nasional yang produktif dan berdampak. Dengan penghimpunan yang semakin optimal, BAZNAS diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan dan pemberdayaan bagi mustahik serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.***

15/10/2026 | Kontributor: Humas
Danantara Dorong BAZNAS Perkuat Kepercayaan Publik dan Digitalisasi Pengumpulan Zakat

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat komunikasi publik, pemanfaatan teknologi digital, dan kolaborasi sektor keuangan syariah untuk mengoptimalkan potensi zakat nasional.

Kepercayaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan penghimpunan zakat dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dorongan tersebut disampaikan Managing Director Danantara, Rohan Hafas, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta. Rakornas tahun ini mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”.

Rohan menyebutkan, potensi zakat nasional diperkirakan mencapai Rp327 triliun. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui strategi pengumpulan yang lebih efektif, termasuk pemanfaatan kanal digital dan komunikasi yang mampu membangun keyakinan masyarakat terhadap pengelolaan zakat oleh BAZNAS.

Menurutnya, pengenalan masyarakat terhadap BAZNAS perlu diikuti dengan kepercayaan yang kuat agar masyarakat semakin yakin menunaikan zakat melalui lembaga resmi.

“Jadi, mungkin idenya adalah berkomunikasi dengan masyarakat dalam hal zakat ini, terutama untuk menumbuhkan kepercayaan, bukan sekadar pengetahuan. Masyarakat mungkin sudah mengenal BAZNAS, tetapi kita juga perlu membangun kepercayaan mereka agar yakin menyalurkan zakat melalui BAZNAS,” ujar Rohan, Rabu (14/10/2026).

Digitalisasi dan Komunikasi Publik untuk Tingkatkan Pengumpulan Zakat

Penguatan strategi digital menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk memperluas jangkauan layanan zakat. Melalui pemanfaatan teknologi dan komunikasi publik yang tepat, BAZNAS dapat menjangkau lebih banyak calon muzaki sekaligus menyampaikan informasi mengenai pengelolaan serta penyaluran dana zakat.

Komunikasi yang efektif juga berperan dalam membangun transparansi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat zakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan BAZNAS, tetapi juga memahami peran lembaga tersebut dalam mengelola dana umat dan membantu kelompok yang membutuhkan.

Kepercayaan publik menjadi modal penting bagi keberlanjutan penghimpunan zakat. Karena itu, penguatan komunikasi perlu berjalan seiring dengan tata kelola yang akuntabel dan penyampaian informasi mengenai dampak program secara konsisten.

Perkuat Kolaborasi BAZNAS dengan Sektor Keuangan Syariah

Selain digitalisasi, Rohan menyoroti pentingnya kolaborasi antara BAZNAS dan sektor keuangan syariah, termasuk Bank Syariah Indonesia (BSI). Sinergi antarlembaga dinilai dapat memperkuat peran keuangan sosial Islam dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.

Kolaborasi tersebut berpotensi memperluas jangkauan penghimpunan dan pemanfaatan dana sosial keagamaan, sekaligus membuka peluang pengembangan program yang lebih terintegrasi bagi masyarakat penerima manfaat.

Penguatan kerja sama juga menjadi bagian dari upaya mendorong agar potensi zakat nasional dapat dikelola secara optimal dan memberikan dampak yang lebih luas.

Zakat Produktif Dorong Kemandirian UMKM

Rohan juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi melalui dukungan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, pengelolaan zakat perlu diarahkan tidak hanya untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi mereka.

Pendekatan zakat produktif dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu mustahik mengembangkan usaha, meningkatkan kapasitas ekonomi, dan memperkuat sumber penghidupan keluarga.

Melalui program pemberdayaan yang tepat sasaran, zakat diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan. Mustahik tidak hanya menerima bantuan untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan membangun kemandirian.

Danantara Dukung Promosi BAZNAS untuk Bangun Kepercayaan Masyarakat

Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pengelolaan zakat nasional, Rohan menyatakan kesediaannya membantu upaya promosi BAZNAS agar semakin dipercaya masyarakat sebagai lembaga penyalur zakat.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat komunikasi BAZNAS kepada publik sekaligus meningkatkan keyakinan masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi.

“Tidak ingin menggurui, tapi mungkin nanti saya juga bantu untuk sisi bagaimana kita mempromosikan BAZNAS ini dalam arti supaya lebih dipercayai untuk menjadi satu-satunya penyalur zakat umat,” ujar Rohan.

Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan kepercayaan publik, digitalisasi, kolaborasi keuangan syariah, dan pengembangan zakat produktif menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi zakat terhadap kesejahteraan masyarakat.

Dengan strategi penghimpunan yang semakin efektif dan program pendayagunaan yang berorientasi pada kemandirian, BAZNAS diharapkan dapat mengoptimalkan potensi zakat nasional sekaligus memperluas manfaatnya bagi mustahik di berbagai daerah.***

15/10/2026 | Kontributor: Humas
Menko Yusril Dorong Penguatan UU Zakat, BAZNAS Sleman Hadiri Rakornas 2026

Penguatan regulasi pengelolaan zakat menjadi salah satu isu penting dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., mendorong penyempurnaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat untuk memperkuat posisi dan peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam pengelolaan zakat di Indonesia.

Rakornas BAZNAS 2026 mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak” dan berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta.

Kegiatan ini menjadi forum koordinasi nasional untuk membahas arah pengelolaan zakat serta penguatan kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat.

BAZNAS Kabupaten Sleman turut berpartisipasi dalam Rakornas tersebut, dengan kehadiran Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhyi Darmaji, S.Ag., M.Pd.I., bersama Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Muhaimin, S.Ag., M.Pd.

Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya mengikuti perkembangan kebijakan pengelolaan zakat nasional serta memperkuat koordinasi dan sinergi antara BAZNAS di tingkat pusat dan daerah.

Menko Yusril Dorong Penyempurnaan Regulasi Zakat

Dalam pembukaan Rakornas pada Selasa (13/10/2026), Yusril menyampaikan harapannya agar forum tersebut menghasilkan gagasan baru untuk menyempurnakan regulasi zakat, khususnya dalam memperjelas dan memperkuat kedudukan BAZNAS.

“Mudah-mudahan dari pertemuan ini ada gagasan-gagasan baru menyempurnakan Undang-Undang Zakat No. 23 Tahun 2011 ini untuk kita perkuat posisi BAZNAS itu menjadi seperti apa,” ujar Yusril.

Menurutnya, penyempurnaan regulasi diperlukan agar posisi dan peran BAZNAS dalam menjalankan tugas pengelolaan zakat nasional semakin jelas dan kuat. Pembahasan mengenai regulasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyesuaikan tata kelola zakat dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.

Yusril turut menyinggung ruang bagi pengembangan ekonomi syariah dalam sistem hukum Indonesia. Ia menilai, karakter Indonesia sebagai negara Pancasila yang pluralistik tetap memberikan tempat yang sewajarnya bagi umat Islam untuk menjalankan peran dan kontribusinya, termasuk melalui berbagai instrumen ekonomi syariah.

“Zaman kita ini tidak ada lagi persoalan Undang-Undang Ekonomi Syariah, Perbankan Islam, Asuransi segala macam. Negara kita ini adalah negara Pancasila yang pluralistik, tapi memberikan tempat sewajarnya bagi umat Islam sebagai kekuatan mayoritas di negara kita ini,” katanya.

Rakornas Jadi Momentum Penguatan Pengelolaan Zakat

Pembukaan Rakornas BAZNAS 2026 dihadiri sejumlah pejabat nasional, antara lain Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc.; Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI H. Ahmad Muzani, S.Sos., M.Si.; Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.; Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf; Menteri Koperasi RI Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si.; serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Abdalfatah Ahmed Khalil Alsattar.

Bagi BAZNAS Kabupaten Sleman, partisipasi dalam forum nasional ini menjadi kesempatan untuk mengikuti pembahasan strategis mengenai kebijakan zakat sekaligus memperkuat perspektif kelembagaan dalam menjalankan pengelolaan zakat di daerah.

Penguatan regulasi, koordinasi antarlembaga, dan peningkatan kualitas tata kelola merupakan aspek penting dalam mendorong pengelolaan zakat yang semakin terarah.

Dengan tata kelola yang baik, zakat diharapkan tidak hanya tersalurkan secara tepat sasaran, tetapi juga mampu mendukung program pemberdayaan mustahik dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan sinergi antara BAZNAS pusat dan daerah diharapkan dapat terus berkembang, sehingga pengelolaan zakat nasional semakin produktif, akuntabel, dan berdampak bagi kesejahteraan umat.***

14/10/2026 | Kontributor: Humas

Press Release Terbaru

International Zakat Leader Summit, BAZNAS RI Dorong ZIS Perkuat Ekonomi Syariah dan Kemandirian Umat
International Zakat Leader Summit, BAZNAS RI Dorong ZIS Perkuat Ekonomi Syariah dan Kemandirian Umat
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menegaskan peran strategis zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, serta meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian umat. Pesan tersebut disampaikan Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., saat membuka International Zakat Leader Summit bertema “The Future of Zakat: Advancing Innovation, Strengthening Collaboration, and Building Sustainable Impact” di Jakarta, Sabtu (17/10/2026). Sodik mengatakan, pengelolaan ZIS perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem ekonomi syariah. Menurutnya, zakat tidak hanya berfungsi sebagai instrumen ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan. “Jadi, kita harus menempatkan diskusi-diskusi kita tentang zakat, infak, sedekah itu dalam konteks, dalam tempat sistem ekonomi Islam atau sistem ekonomi syariah yang Alquran menjamin itu akan memberikan tumbuh berkeadilan,” ujar Sodik. Ia menjelaskan, kontribusi BAZNAS dalam pengembangan ekonomi syariah juga diwujudkan melalui dukungan terhadap pelaku usaha kecil, termasuk fasilitasi legalitas halal, penguatan penghimpunan ZIS, serta peningkatan literasi masyarakat mengenai zakat, infak, dan sedekah. “BAZNAS juga mendorong tentang industri halal. Beberapa pengusaha kecil kita dukung untuk mendapatkan legalitas industri halal. BAZNAS tentu mobilisasi zakat, infak, sedekah. BAZNAS juga adalah memberikan literasi tentang zakat, infak, sedekah,” ungkapnya. Profesionalisme Amil dan Dampak Zakat Jadi Kunci Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA., menekankan bahwa masa depan pengelolaan zakat tidak cukup diukur dari besarnya dana yang berhasil dihimpun. Kualitas tata kelola, profesionalisme amil, regulasi yang mendukung, ketepatan penyaluran, serta dampak nyata bagi masyarakat juga menjadi faktor penentu. “Masa depan zakat tidak cukup ditentukan oleh besarnya dana yang dihimpun. Keberhasilan juga sangat tergantung pada kualitas dan profesionalisme para amil, kualitas regulasi, ketepatan sasaran, kemampuan membuktikan dan menunjukkan dampak bagi masyarakat,” ujar Kamaruddin. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan zakat yang akuntabel dan berorientasi pada hasil. Dengan tata kelola yang baik, dana ZIS diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahik maupun mendukung pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan. Kolaborasi Internasional dan Inovasi untuk Masa Depan Zakat Sekretaris Jenderal World Zakat and Waqf Forum (WZWF), H.E. Datuk Dr. Mohd Ghazali Md Noor, menilai BAZNAS memiliki peran strategis dalam pengembangan keuangan sosial Islam di tingkat global. Peran tersebut antara lain melalui program zakat produktif, penguatan tata kelola kelembagaan, pemanfaatan teknologi, serta perluasan kerja sama internasional. Ia mengajak para pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan negara guna membangun ekosistem zakat global yang profesional dan berkelanjutan. “Marilah kita memperkuat tata kelola, merangkul inovasi yang bertanggung jawab, serta memperluas kolaborasi antarlembaga dan antarnegara untuk membangun ekosistem zakat global yang berlandaskan prinsip-prinsip bersama, keunggulan profesional, dan rasa saling percaya,” ujar Datuk Ghazali. Dukungan terhadap penyelenggaraan forum tersebut juga disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dr. Dadang Muljawan. Ia berharap pertemuan para pengelola zakat, pembuat kebijakan, praktisi, dan pakar internasional tersebut menghasilkan rekomendasi yang konkret untuk meningkatkan kualitas pengelolaan zakat. “Kegiatan ini mempertemukan para pengelola zakat, pembuat kebijakan, praktisi, dan pakar internasional dalam sesi dialog yang penting. Kami berharap diskusi ini dapat menghasilkan rekomendasi yang praktis dan dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan pengelolaan zakat ke depan,” ujarnya. Hadirkan Pemangku Kepentingan Zakat dari Berbagai Negara International Zakat Leader Summit menghadirkan sejumlah narasumber dan panelis dari lembaga nasional maupun internasional. Di antaranya Kuasa Usaha ad interim Negara Qatar, Saad M. El-Amadi; Pimpinan Bidang Keuangan, Digitalisasi, dan Operasional BAZNAS RI, Dr. H. Mokhamad Mahdum; serta Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengendalian dan Pengawasan, Hj. Neyla Saida Anwar, M.H., M.Hum. Forum ini juga dihadiri Wakil Direktur Utama Pusat Pungutan Zakat, MAIWP, Tuan Haji Azrin Dato' Haji Abdul Manan; perwakilan Ummet Vakfi, Abdulrahman Farwana; Wakil Sekretaris World Zakat and Waqf Forum, Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik; Direktur Utama IBF Net Group, Dr. Mohammed Obaidullah; Ekonom Negara di Islamic Development Bank, Dr. Ali Fallahi; serta Kepala Pembiayaan untuk Pembangunan dan Pertumbuhan Inklusif United Nations Development Programme (UNDP), Nila Murti. Melalui forum internasional ini, penguatan tata kelola, inovasi yang bertanggung jawab, profesionalisme amil, dan kolaborasi lintas negara menjadi agenda penting dalam pengembangan zakat ke depan. Upaya tersebut diharapkan memperluas manfaat ZIS, memperkuat pemberdayaan ekonomi umat, dan menjadikan zakat sebagai instrumen strategis untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.***
PRESS_RELEASE20/10/2026 | Humas
Rakornas BAZNAS 2026 di Jakarta, Target Pengumpulan ZIS Nasional Rp70 Triliun pada 2027
Rakornas BAZNAS 2026 di Jakarta, Target Pengumpulan ZIS Nasional Rp70 Triliun pada 2027
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menargetkan pengumpulan zakat, infak, sedekah (ZIS), dan dana sosial keagamaan lainnya mencapai Rp70 triliun pada 2027, dengan sasaran 48 juta jiwa penerima manfaat. Target tersebut menjadi bagian dari Rencana Strategis BAZNAS 2026–2031 yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS Tahun 2026 di Jakarta, 13–15 Oktober 2026. Mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”, Rakornas BAZNAS 2026 menjadi forum untuk menyelaraskan strategi pengelolaan zakat nasional, memperkuat koordinasi antara BAZNAS pusat dan daerah, serta meningkatkan kontribusi zakat terhadap agenda pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menyampaikan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan kerja bersama seluruh jajaran BAZNAS, dukungan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, serta lembaga amil zakat mitra. Menurutnya, pengelolaan zakat tidak hanya berorientasi pada penghimpunan dana, tetapi juga memastikan dana yang terkumpul disalurkan secara amanah dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. “Setiap rupiah adalah amanah. Setiap penerima manfaat adalah saudara kita yang sedang kita bantu bangkit, dari mustahik menjadi muzaki,” demikian pesan Ketua BAZNAS RI dalam sambutannya pada Rakornas BAZNAS 2026. Rakornas BAZNAS 2026 Diikuti 974 Peserta Rakornas BAZNAS 2026 berlangsung selama tiga hari dan diikuti 974 peserta dari 34 BAZNAS provinsi serta 308 BAZNAS kabupaten/kota. Peserta terdiri atas 285 ketua, 651 wakil ketua, serta 38 unsur Satuan Audit Internal dan pelaksana, belum termasuk asisten pimpinan. Forum ini bertujuan menyelaraskan pelaksanaan Rencana Strategis BAZNAS 2026–2031 sekaligus merumuskan strategi bersama dalam tiga bidang utama, yaitu pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan, serta pengendalian. Rangkaian kegiatan mencakup taklimat Presiden Republik Indonesia, Zakat Strategic Talks bersama sejumlah menteri dan pemangku kepentingan nasional, laporan BAZNAS provinsi, serta sidang panel dan sidang komisi. Rakornas juga dijadwalkan menghasilkan nota kesepahaman dengan KADIN Indonesia untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat. Pada Kamis, 15 Oktober 2026, kegiatan ditutup dengan pembacaan Resolusi Jihad Zakat untuk Kesejahteraan Bangsa dan dilanjutkan dengan Grand BAZNAS Awards 2026. Hasil pembahasan komisi dan resolusi tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi BAZNAS di seluruh Indonesia dalam memperkuat tata kelola zakat serta memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Perkuat Respons Kemanusiaan bagi Korban Bencana Selain membahas strategi pengelolaan zakat nasional, BAZNAS menegaskan komitmennya dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS RI menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat terdampak dan menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan setelah masa tanggap darurat berakhir. BAZNAS bersama jajaran BAZNAS daerah di NTT berkomitmen mendampingi masyarakat dalam proses pemulihan. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan dasar dan memulihkan kehidupan setelah bencana. Rakornas BAZNAS 2026 juga menjadi momentum penyerahan simbolis bantuan bagi masyarakat NTT sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap korban bencana. Di sisi lain, BAZNAS menyampaikan keprihatinan atas empat insan pers yang disebut dalam sambutan masih belum ditemukan setelah menjalankan tugas peliputan di Gunung Anak Krakatau. BAZNAS mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para jurnalis serta memberikan apresiasi kepada tim SAR gabungan yang terus melakukan pencarian. BAZNAS Tegaskan Dukungan untuk Rakyat Palestina Komitmen kemanusiaan BAZNAS juga mencakup dukungan bagi masyarakat Palestina, khususnya warga Gaza yang masih membutuhkan bantuan. Melalui Program Bantuan Bangsa Indonesia untuk Rakyat Palestina, BAZNAS berupaya menghimpun dan menyalurkan kepedulian masyarakat Indonesia secara amanah. Penyerahan bantuan secara simbolis dalam rangkaian Rakornas menjadi salah satu wujud dukungan tersebut. BAZNAS menegaskan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak terbatas oleh wilayah negara. Penghimpunan dan penyaluran bantuan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak krisis kemanusiaan. Siapkan Dukungan bagi Masyarakat Terdampak Karhutla Persoalan lain yang menjadi perhatian BAZNAS adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Bencana tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lanjut usia, serta memengaruhi mata pencaharian warga terdampak. BAZNAS berkomitmen menggalang donasi kemanusiaan untuk mendukung penanganan karhutla melalui sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Dukungan direncanakan mencakup layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, bantuan bagi relawan, serta pemulihan ekonomi warga. Adapun dana zakat akan disalurkan kepada masyarakat terdampak yang memenuhi kriteria sebagai mustahik sesuai ketentuan syariah. BAZNAS juga mengajak jajaran BAZNAS di daerah rawan karhutla untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Konsolidasi Zakat untuk Kesejahteraan Bangsa Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan koordinasi antara BAZNAS pusat dan daerah diharapkan mampu mendorong pengelolaan zakat yang semakin terarah, transparan, dan berdampak. Target pengumpulan ZIS sebesar Rp70 triliun pada 2027 menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas jangkauan program pemberdayaan dan bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan dukungan pemerintah, dunia usaha, mitra pengelola zakat, serta partisipasi masyarakat, BAZNAS berupaya menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen strategis dalam mendukung kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.***
PRESS_RELEASE15/10/2026 | Humas
Rakornas BAZNAS 2026: Perkuat Strategi Pengumpulan Zakat dan Loyalitas Muzaki untuk Sejahterakan Mustahik
Rakornas BAZNAS 2026: Perkuat Strategi Pengumpulan Zakat dan Loyalitas Muzaki untuk Sejahterakan Mustahik
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat strategi pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) melalui peningkatan mobilisasi dana, perluasan segmen muzaki, serta pengelolaan hubungan dengan muzaki secara berkelanjutan. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi zakat nasional sekaligus memperluas manfaatnya bagi kesejahteraan mustahik. Strategi tersebut disampaikan Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta. Rakornas tahun ini mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”. Rizaludin menegaskan bahwa penguatan pengumpulan zakat perlu dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni mempertahankan kepercayaan dan loyalitas muzaki yang telah menunaikan zakat serta memperluas jangkauan kepada calon muzaki baru. “Kita perlu meningkatkan angka perolehan, mobilisasi, dan pengumpulan zakat, infak, sedekah, serta DSKL secara signifikan setiap tahun dengan memelihara engagement muzaki lama sekaligus membuka segmen muzaki baru melalui strategi yang unggul,” ujar Rizaludin, Rabu (14/10/2026). Menurutnya, keberhasilan pengumpulan tidak hanya diukur dari peningkatan jumlah dana yang dihimpun, tetapi juga dari kemampuan lembaga dalam membangun hubungan jangka panjang dengan muzaki dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat. Empat Fokus Strategi Pengumpulan Zakat BAZNAS Dalam Rakornas BAZNAS 2026, Rizaludin memaparkan empat fokus utama strategi pengumpulan, yaitu meningkatkan perolehan dan mobilisasi dana, memelihara muzaki yang sudah ada, menjangkau segmen muzaki baru, serta menerapkan strategi pengelolaan muzaki yang unggul. Keempat fokus tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kinerja pengumpulan ZIS-DSKL di tengah besarnya potensi zakat yang belum sepenuhnya tergarap. Rizaludin menilai jaringan masjid, masyarakat, komunitas, dan desa merupakan potensi strategis yang perlu dioptimalkan. Dengan memperluas kolaborasi dan memperkuat peran BAZNAS di berbagai sektor, penghimpunan zakat diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. “Di luar neraca, potensi kita masih banyak karena memang ada jaringan masjid-masjid, masyarakat, komunitas, dan desa yang kita miliki. Tapi tentu ke depan BAZNAS harus bisa leading di semua sektor,” jelasnya. Kepercayaan Muzaki Menjadi Kunci Pengumpulan BAZNAS juga menempatkan kepercayaan muzaki sebagai salah satu indikator penting dalam rencana strategis pengumpulan. Indikator kinerja yang disiapkan mencakup target mobilisasi pengumpulan, peningkatan jumlah muzaki, munfik, dan donatur, baik perorangan maupun badan, serta pengumpulan dana kurban dan dana sosial keagamaan lainnya. Kepercayaan masyarakat menjadi fondasi bagi keberlanjutan pengumpulan zakat. Karena itu, pengelolaan hubungan dengan muzaki perlu dilakukan secara konsisten melalui komunikasi, pelayanan, dan pelibatan mereka dalam berbagai kegiatan lembaga. “Kepercayaan muzaki ini juga menjadi kunci dari keberhasilan pengumpulan,” ujar Rizaludin. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan penghimpunan dana, tetapi juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam mendukung program pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang tepat sasaran. Optimalkan Pengumpulan dari 10 Jenis Zakat Selain memperluas jaringan muzaki, BAZNAS mendorong optimalisasi pengumpulan zakat dari berbagai sektor. Rizaludin menyebut terdapat 10 jenis zakat yang perlu menjadi perhatian, meliputi zakat fitrah, emas, uang, perniagaan, pertanian, peternakan, pertambangan, perindustrian, pendapatan, dan rikaz. Menurutnya, cakupan pengumpulan yang luas diperlukan agar potensi zakat dari berbagai sumber dapat dikelola secara lebih optimal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan pendekatan tersebut, pengumpulan zakat diharapkan tidak hanya bertumpu pada satu kelompok masyarakat atau sumber pendapatan, tetapi dapat berkembang melalui berbagai sektor yang memiliki potensi zakat. Strategi LIA untuk Menjangkau Muzaki Baru Untuk memperluas basis muzaki, Rizaludin memperkenalkan konsep LIA, singkatan dari linkage, interest, dan ability. Konsep ini menekankan tiga aspek dalam pendekatan kepada calon muzaki, yaitu membangun jaringan atau akses, memahami minat dan perhatian calon muzaki, serta mempertimbangkan kemampuan mereka dalam menunaikan zakat. Aspek linkage berkaitan dengan pemetaan jaringan dan pihak yang dapat membantu membangun komunikasi dengan calon muzaki. Pendekatan ini memungkinkan BAZNAS menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terhubung dengan layanan pengumpulan zakat. Sementara itu, aspek interest membantu pengelola memahami perhatian dan kebutuhan calon muzaki, sedangkan ability menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan pendekatan dengan kemampuan mereka. Melalui konsep LIA, strategi pengumpulan diharapkan menjadi lebih terarah, efektif, dan sesuai dengan karakteristik calon muzaki. Pertahankan Loyalitas Muzaki melalui Strategi LAI Untuk menjaga hubungan dengan muzaki yang sudah ada, Rizaludin menjelaskan konsep LAI, yaitu linkage, advocacy, dan enforcement. Strategi ini menitikberatkan pada pemeliharaan hubungan, penanganan masukan dan keluhan, serta pelibatan muzaki dalam berbagai kegiatan BAZNAS. Melalui linkage, BAZNAS menjaga komunikasi dan hubungan dengan muzaki. Aspek advocacy menekankan pentingnya mendengarkan aspirasi, masukan, dan keluhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Adapun enforcement merupakan bagian dari konsep yang dipaparkan untuk memperkuat pengelolaan hubungan dan keberlanjutan keterlibatan muzaki. Penguatan hubungan tersebut diharapkan mampu membangun pengalaman layanan yang lebih baik sehingga muzaki tetap percaya dan konsisten menunaikan zakat melalui lembaga pengelola zakat. Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan strategi pengumpulan dan pengelolaan muzaki menjadi bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan zakat nasional yang produktif dan berdampak. Dengan penghimpunan yang semakin optimal, BAZNAS diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan dan pemberdayaan bagi mustahik serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.***
PRESS_RELEASE15/10/2026 | Humas
Danantara Dorong BAZNAS Perkuat Kepercayaan Publik dan Digitalisasi Pengumpulan Zakat
Danantara Dorong BAZNAS Perkuat Kepercayaan Publik dan Digitalisasi Pengumpulan Zakat
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat komunikasi publik, pemanfaatan teknologi digital, dan kolaborasi sektor keuangan syariah untuk mengoptimalkan potensi zakat nasional. Kepercayaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan penghimpunan zakat dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat yang membutuhkan. Dorongan tersebut disampaikan Managing Director Danantara, Rohan Hafas, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta. Rakornas tahun ini mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”. Rohan menyebutkan, potensi zakat nasional diperkirakan mencapai Rp327 triliun. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui strategi pengumpulan yang lebih efektif, termasuk pemanfaatan kanal digital dan komunikasi yang mampu membangun keyakinan masyarakat terhadap pengelolaan zakat oleh BAZNAS. Menurutnya, pengenalan masyarakat terhadap BAZNAS perlu diikuti dengan kepercayaan yang kuat agar masyarakat semakin yakin menunaikan zakat melalui lembaga resmi. “Jadi, mungkin idenya adalah berkomunikasi dengan masyarakat dalam hal zakat ini, terutama untuk menumbuhkan kepercayaan, bukan sekadar pengetahuan. Masyarakat mungkin sudah mengenal BAZNAS, tetapi kita juga perlu membangun kepercayaan mereka agar yakin menyalurkan zakat melalui BAZNAS,” ujar Rohan, Rabu (14/10/2026). Digitalisasi dan Komunikasi Publik untuk Tingkatkan Pengumpulan Zakat Penguatan strategi digital menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk memperluas jangkauan layanan zakat. Melalui pemanfaatan teknologi dan komunikasi publik yang tepat, BAZNAS dapat menjangkau lebih banyak calon muzaki sekaligus menyampaikan informasi mengenai pengelolaan serta penyaluran dana zakat. Komunikasi yang efektif juga berperan dalam membangun transparansi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat zakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan BAZNAS, tetapi juga memahami peran lembaga tersebut dalam mengelola dana umat dan membantu kelompok yang membutuhkan. Kepercayaan publik menjadi modal penting bagi keberlanjutan penghimpunan zakat. Karena itu, penguatan komunikasi perlu berjalan seiring dengan tata kelola yang akuntabel dan penyampaian informasi mengenai dampak program secara konsisten. Perkuat Kolaborasi BAZNAS dengan Sektor Keuangan Syariah Selain digitalisasi, Rohan menyoroti pentingnya kolaborasi antara BAZNAS dan sektor keuangan syariah, termasuk Bank Syariah Indonesia (BSI). Sinergi antarlembaga dinilai dapat memperkuat peran keuangan sosial Islam dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi tersebut berpotensi memperluas jangkauan penghimpunan dan pemanfaatan dana sosial keagamaan, sekaligus membuka peluang pengembangan program yang lebih terintegrasi bagi masyarakat penerima manfaat. Penguatan kerja sama juga menjadi bagian dari upaya mendorong agar potensi zakat nasional dapat dikelola secara optimal dan memberikan dampak yang lebih luas. Zakat Produktif Dorong Kemandirian UMKM Rohan juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi melalui dukungan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, pengelolaan zakat perlu diarahkan tidak hanya untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi mereka. Pendekatan zakat produktif dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu mustahik mengembangkan usaha, meningkatkan kapasitas ekonomi, dan memperkuat sumber penghidupan keluarga. Melalui program pemberdayaan yang tepat sasaran, zakat diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan. Mustahik tidak hanya menerima bantuan untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan membangun kemandirian. Danantara Dukung Promosi BAZNAS untuk Bangun Kepercayaan Masyarakat Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pengelolaan zakat nasional, Rohan menyatakan kesediaannya membantu upaya promosi BAZNAS agar semakin dipercaya masyarakat sebagai lembaga penyalur zakat. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat komunikasi BAZNAS kepada publik sekaligus meningkatkan keyakinan masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi. “Tidak ingin menggurui, tapi mungkin nanti saya juga bantu untuk sisi bagaimana kita mempromosikan BAZNAS ini dalam arti supaya lebih dipercayai untuk menjadi satu-satunya penyalur zakat umat,” ujar Rohan. Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan kepercayaan publik, digitalisasi, kolaborasi keuangan syariah, dan pengembangan zakat produktif menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi zakat terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan strategi penghimpunan yang semakin efektif dan program pendayagunaan yang berorientasi pada kemandirian, BAZNAS diharapkan dapat mengoptimalkan potensi zakat nasional sekaligus memperluas manfaatnya bagi mustahik di berbagai daerah.***
PRESS_RELEASE15/10/2026 | Humas
Menko Yusril Dorong Penguatan UU Zakat, BAZNAS Sleman Hadiri Rakornas 2026
Menko Yusril Dorong Penguatan UU Zakat, BAZNAS Sleman Hadiri Rakornas 2026
Penguatan regulasi pengelolaan zakat menjadi salah satu isu penting dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., mendorong penyempurnaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat untuk memperkuat posisi dan peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam pengelolaan zakat di Indonesia. Rakornas BAZNAS 2026 mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak” dan berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta. Kegiatan ini menjadi forum koordinasi nasional untuk membahas arah pengelolaan zakat serta penguatan kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat. BAZNAS Kabupaten Sleman turut berpartisipasi dalam Rakornas tersebut, dengan kehadiran Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhyi Darmaji, S.Ag., M.Pd.I., bersama Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Muhaimin, S.Ag., M.Pd. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya mengikuti perkembangan kebijakan pengelolaan zakat nasional serta memperkuat koordinasi dan sinergi antara BAZNAS di tingkat pusat dan daerah. Menko Yusril Dorong Penyempurnaan Regulasi Zakat Dalam pembukaan Rakornas pada Selasa (13/10/2026), Yusril menyampaikan harapannya agar forum tersebut menghasilkan gagasan baru untuk menyempurnakan regulasi zakat, khususnya dalam memperjelas dan memperkuat kedudukan BAZNAS. “Mudah-mudahan dari pertemuan ini ada gagasan-gagasan baru menyempurnakan Undang-Undang Zakat No. 23 Tahun 2011 ini untuk kita perkuat posisi BAZNAS itu menjadi seperti apa,” ujar Yusril. Menurutnya, penyempurnaan regulasi diperlukan agar posisi dan peran BAZNAS dalam menjalankan tugas pengelolaan zakat nasional semakin jelas dan kuat. Pembahasan mengenai regulasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyesuaikan tata kelola zakat dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Yusril turut menyinggung ruang bagi pengembangan ekonomi syariah dalam sistem hukum Indonesia. Ia menilai, karakter Indonesia sebagai negara Pancasila yang pluralistik tetap memberikan tempat yang sewajarnya bagi umat Islam untuk menjalankan peran dan kontribusinya, termasuk melalui berbagai instrumen ekonomi syariah. “Zaman kita ini tidak ada lagi persoalan Undang-Undang Ekonomi Syariah, Perbankan Islam, Asuransi segala macam. Negara kita ini adalah negara Pancasila yang pluralistik, tapi memberikan tempat sewajarnya bagi umat Islam sebagai kekuatan mayoritas di negara kita ini,” katanya. Rakornas Jadi Momentum Penguatan Pengelolaan Zakat Pembukaan Rakornas BAZNAS 2026 dihadiri sejumlah pejabat nasional, antara lain Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc.; Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI H. Ahmad Muzani, S.Sos., M.Si.; Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.; Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf; Menteri Koperasi RI Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si.; serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Abdalfatah Ahmed Khalil Alsattar. Bagi BAZNAS Kabupaten Sleman, partisipasi dalam forum nasional ini menjadi kesempatan untuk mengikuti pembahasan strategis mengenai kebijakan zakat sekaligus memperkuat perspektif kelembagaan dalam menjalankan pengelolaan zakat di daerah. Penguatan regulasi, koordinasi antarlembaga, dan peningkatan kualitas tata kelola merupakan aspek penting dalam mendorong pengelolaan zakat yang semakin terarah. Dengan tata kelola yang baik, zakat diharapkan tidak hanya tersalurkan secara tepat sasaran, tetapi juga mampu mendukung program pemberdayaan mustahik dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat. Melalui Rakornas BAZNAS 2026, penguatan sinergi antara BAZNAS pusat dan daerah diharapkan dapat terus berkembang, sehingga pengelolaan zakat nasional semakin produktif, akuntabel, dan berdampak bagi kesejahteraan umat.***
PRESS_RELEASE14/10/2026 | Humas
BAZNAS RI Dorong Kolaborasi Keuangan Sosial Islam Global untuk Perkuat Ketahanan Iklim
BAZNAS RI Dorong Kolaborasi Keuangan Sosial Islam Global untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mendorong penguatan kerja sama internasional dalam pemanfaatan instrumen keuangan sosial Islam untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana dan perubahan iklim. Kolaborasi lintas negara dinilai penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga keberlanjutan mata pencaharian. Gagasan tersebut disampaikan Deputi I Pengumpulan BAZNAS RI, H. M. Arifin Purwakananta, S.IKom., M.I.Kom., CWC., CFRM., bersama Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP) Malaysia dan Lembaga Zakat Negara Maladewa dalam workshop internasional COMCEC di INCEIF University, Malaysia, pada 5–8 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau Organisation of Islamic Cooperation (OIC). Forum ini menjadi ruang untuk membahas peluang kerja sama pemanfaatan keuangan sosial Islam dalam merespons tantangan perubahan iklim dan risiko bencana yang dihadapi masyarakat di berbagai negara. Arifin menjelaskan, dampak bencana dan perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat. Persoalan ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, hingga keberlangsungan mata pencaharian menjadi tantangan yang membutuhkan penanganan bersama. “Bencana iklim terjadi di banyak negara dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari kebutuhan air bersih dan pangan hingga keberlanjutan mata pencaharian. Karena itu, ketahanan iklim perlu menjadi agenda kerja sama lintas negara dan lintas lembaga,” jelas Arifin dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10/2026). Usulkan Kerangka Keuangan Sosial Islam untuk Ketahanan Iklim Dalam pembahasan workshop, para peserta mengusulkan penyusunan Kerangka Keuangan Sosial Islam untuk Ketahanan Iklim. Kerangka ini diharapkan dapat menjadi acuan bersama untuk memetakan kebutuhan masyarakat, menyelaraskan sumber daya, serta merancang proyek percontohan yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi antarlembaga dan antarnegara. Keuangan sosial Islam dinilai memiliki potensi untuk mendukung upaya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Namun, pemanfaatannya perlu dilakukan dengan memperhatikan karakteristik, prinsip, dan ketentuan setiap instrumen, termasuk zakat dan wakaf. Menurut Arifin, kolaborasi internasional perlu dibangun dengan kerangka yang jelas agar setiap instrumen dapat dimanfaatkan secara tepat, transparan, dan bertanggung jawab. “Keuangan sosial Islam memiliki potensi untuk ikut mendukung upaya tersebut, namun setiap instrumen termasuk zakat dan wakaf harus dikelola sesuai prinsip, mandat, dan tata kelolanya. Kita perlu membangun kerangka bersama agar kolaborasi berlangsung dengan jelas dan bertanggung jawab,” ujar Arifin. Penyusunan kerangka bersama tersebut diharapkan dapat membantu lembaga pengelola zakat, wakaf, serta mitra terkait dalam mengidentifikasi kebutuhan, menyelaraskan dukungan, dan merancang program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak risiko iklim. Pembahasan Dilanjutkan di Jakarta pada Desember 2026 Sebagai tindak lanjut workshop internasional di Malaysia, pertemuan antarlembaga direncanakan berlanjut di Jakarta pada Desember 2026. Pertemuan tersebut akan menjadi kesempatan untuk mematangkan konsep kerangka kerja sama keuangan sosial Islam bagi ketahanan iklim. Penyempurnaan konsep direncanakan berlanjut pada Januari 2027 dengan melibatkan negara anggota OKI, lembaga zakat dan wakaf, serta mitra terkait. Masukan dari berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat rancangan kerja sama agar dapat dikembangkan menjadi langkah konkret. “Kami berharap pembahasan dapat berlanjut di Jakarta pada Desember 2026 dan konsepnya disempurnakan pada Januari 2027. Kami mengundang negara anggota OIC, lembaga zakat dan wakaf, serta mitra terkait untuk memberi masukan dan bersama-sama mengembangkan gagasan ini menjadi kerja nyata bagi masyarakat,” tuturnya. Melalui inisiatif ini, BAZNAS RI mendorong agar potensi keuangan sosial Islam dapat dimanfaatkan secara lebih terarah melalui kerja sama global. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas dukungan bagi masyarakat dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim, sekaligus memperkuat peran zakat dan wakaf dalam menjawab tantangan kemanusiaan.***
PRESS_RELEASE13/10/2026 | Humas
Pra-Rakornas UPZ 2026, BAZNAS RI Perkuat Jaringan Pengumpulan Zakat Nasional
Pra-Rakornas UPZ 2026, BAZNAS RI Perkuat Jaringan Pengumpulan Zakat Nasional
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus memperkuat tata kelola Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sebagai bagian dari upaya meningkatkan penghimpunan dan memperluas manfaat zakat bagi masyarakat. Penguatan tersebut menjadi salah satu agenda dalam Pra-Rakornas UPZ 2026 yang digelar secara daring, Selasa (6/10/2026). Mengusung tema “Tata Kelola UPZ: Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”, kegiatan tersebut diikuti pimpinan dan amil BAZNAS Provinsi serta Kabupaten/Kota dari seluruh Indonesia. Dalam agenda tersebut, Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. menekankan pentingnya penguatan tata kelola UPZ mulai dari tingkat provinsi hingga desa. Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang perlu diperkuat, yakni sistem perencanaan dan standardisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta manajemen, dan perluasan kolaborasi. “Perencanaan harus akurat, eksekusi harus tepat, dan monitoring harus kuat. Pra-Rakornas menjadi momentum konsolidasi untuk memastikan seluruh jajaran BAZNAS dan UPZ memiliki arah yang sama dalam meningkatkan mobilisasi ZIS sekaligus memperkuat dampak pendistribusian dan pemberdayaan,” ujar Sodik. 164.736 UPZ Jadi Kekuatan Pengelolaan Zakat Nasional BAZNAS RI mencatat terdapat 164.736 UPZ secara nasional berdasarkan data tahun 2025. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya jaringan UPZ dalam mendukung penghimpunan dan pelayanan zakat di berbagai wilayah Indonesia. Sodik menilai UPZ memiliki posisi strategis sebagai salah satu organ utama BAZNAS dalam menjalankan amanah pengumpulan zakat. Karena itu, besarnya jaringan UPZ perlu diikuti dengan pengelolaan yang semakin profesional dan terukur. Menurutnya, legitimasi UPZ secara regulasi dan syariat perlu diperkuat dengan kemampuan manajemen, riset, sosialisasi, serta strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter masyarakat. “Tidak cukup dengan legitimasi saja, tetapi harus dengan kemampuan manajemen yang lainnya. Hal ini juga perlu didukung riset mengenai perilaku masyarakat, termasuk Generasi Z yang disebut lebih banyak bersedekah tetapi belum banyak berzakat sehingga membutuhkan pendekatan perilaku khusus,” jelasnya. UPZ Didorong Berkontribusi pada Pengentasan Kemiskinan Penguatan tata kelola UPZ juga diarahkan untuk meningkatkan dampak zakat terhadap kesejahteraan masyarakat. BAZNAS RI mendorong agar pengelolaan zakat tidak berhenti pada aspek penghimpunan, tetapi terintegrasi dengan program pendistribusian dan pemberdayaan yang mampu memberikan dampak nyata. Sodik menyampaikan sejumlah amanat Presiden perlu diterjemahkan melalui peningkatan kinerja BAZNAS, penguatan UPZ di tingkat desa, integrasi program pengentasan kemiskinan, serta penguatan integritas dalam pengelolaan zakat. “164.736 UPZ tidak hanya menjadi angka kelembagaan, tetapi menjadi kekuatan nyata untuk meningkatkan pengumpulan, memperluas manfaat, dan mendukung pengentasan kemiskinan melalui pengelolaan zakat yang aman syar’i, aman regulasi, dan aman NKRI,” tegasnya. Pra-Rakornas UPZ 2026 menjadi bagian dari konsolidasi nasional BAZNAS untuk menyamakan arah dan memperkuat peran UPZ. Melalui tata kelola yang profesional, perencanaan yang terukur, sumber daya manusia yang kompeten, serta kolaborasi yang lebih luas, jaringan UPZ diharapkan mampu semakin optimal dalam menghimpun dan mendayagunakan zakat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.***
PRESS_RELEASE07/10/2026 | Humas
BAZNAS Awards 2026 Libatkan 8 Tokoh Lintas Sektor sebagai Dewan Juri Eksternal
BAZNAS Awards 2026 Libatkan 8 Tokoh Lintas Sektor sebagai Dewan Juri Eksternal
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melibatkan delapan tokoh dari berbagai bidang sebagai Dewan Juri Eksternal dalam proses penilaian BAZNAS Awards 2026. Keterlibatan tokoh lintas sektor ini ditujukan untuk memastikan proses penjurian berlangsung objektif dan mempertimbangkan beragam perspektif. Delapan tokoh yang terlibat sebagai Dewan Juri Eksternal BAZNAS Awards 2026 yakni Prof. Dr. Purn. Jenderal TNI Dudung Abdurachman, S.E., M.M. (KSP); Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. (Gubernur Lemhannas); Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. (Ketua Umum ICMI/Kepala BRIN); Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, S.Ag., M.Ag. (Kementerian Agama); Dr. Drs. Agus Fatoni, M.Si. (Kemendagri); Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, S.Ag., Lc., M.A. (Komisi Fatwa MUI); Indra Sjafri, S.E., AFC Pro (profesional olahraga); serta Dr. Hj. Arzeti Bilbina Setyawan, S.E., M.A.P. (DPR RI). Para dewan juri tersebut mengikuti Rapat Pleno BAZNAS untuk Penjurian BAZNAS Awards 2026 yang digelar pada Rabu (30/9/2026). Dalam rapat tersebut, jajaran BAZNAS bersama dewan juri membahas kriteria penilaian serta institusi dan tokoh yang dinilai memenuhi kriteria untuk menerima penghargaan. Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. mengatakan, BAZNAS Awards merupakan bentuk apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi terhadap pengelolaan dan pengembangan zakat di Indonesia. “BAZNAS Awards ini menjadi bagian dari apresiasi kepada lembaga, pemerintah daerah, organisasi, maupun tokoh yang selama ini memberikan kontribusi terhadap pengelolaan zakat. Kami ingin memberikan penghargaan kepada mereka yang memiliki komitmen dan kontribusi nyata dalam memajukan zakat,” ujar Sodik. Menurut Sodik, proses penjurian menjadi bagian penting dalam menentukan penerima penghargaan. Penilaian dilakukan berdasarkan kriteria dan kontribusi yang jelas agar penghargaan yang diberikan dapat mencerminkan peran nyata dalam memperkuat ekosistem zakat nasional. “Karena itu, proses penjurian menjadi sangat penting. Kita ingin penghargaan ini diberikan secara objektif berdasarkan kriteria dan kontribusi yang jelas, sehingga BAZNAS Awards dapat terus menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan zakat yang semakin baik,” katanya. Salah satu Dewan Juri Eksternal, Ace Hasan Syadzily, mengatakan dirinya turut terlibat dalam Rapat Pleno BAZNAS untuk membahas proses penjurian BAZNAS Awards 2026. Ia bersama jajaran pimpinan BAZNAS membahas kriteria serta institusi dan figur yang dinilai layak mendapatkan penghargaan dalam ajang tersebut. “Saya menghadiri Rapat Pleno BAZNAS untuk Penjurian BAZNAS Award 2026. Saya didaulat menjadi salah satu Dewan Juri Eksternal untuk menentukan penerima BAZNAS Award 2026,” ujar Ace dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026). Ace menambahkan, pembahasan dalam rapat tersebut mencakup penentuan kriteria serta institusi dan figur yang berhak mendapatkan penghargaan BAZNAS Awards 2026. BAZNAS RI akan memberikan ratusan penghargaan dalam BAZNAS Awards 2026. Dari keseluruhan penghargaan tersebut, terdapat 20 kategori Grand Awards yang proses penilaiannya melibatkan Dewan Juri Eksternal. Keterlibatan delapan tokoh dari sektor pemerintahan, akademisi, keagamaan, olahraga, hingga legislatif menjadi bagian dari upaya BAZNAS menjaga keberagaman perspektif dalam proses penjurian. Melalui proses penilaian berbasis kriteria dan kontribusi, BAZNAS Awards 2026 diharapkan dapat memberikan apresiasi kepada lembaga, pemerintah daerah, organisasi, maupun individu yang berperan dalam penguatan pengelolaan zakat sekaligus mendorong semakin berkembangnya ekosistem zakat di Indonesia.***
PRESS_RELEASE05/10/2026 | Humas
BAZNAS RI Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian Palestina, BAZNAS Sleman Dorong Warga Salurkan Donasi melalui Kanal Resmi
BAZNAS RI Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian Palestina, BAZNAS Sleman Dorong Warga Salurkan Donasi melalui Kanal Resmi
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mengajak masyarakat Indonesia memperkuat kepedulian kemanusiaan bagi masyarakat Palestina yang masih membutuhkan dukungan. Ajakan tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama kemanusiaan antara BAZNAS RI dan Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina. Ajakan itu disampaikan Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kerja Sama Penyediaan Bantuan Kemanusiaan dan Sosial untuk Negara Palestina di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina H.E. Mahmoud Sidqi Al-Habbash, Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Al-Quds, H.E. Sheikh Mohammad A.M. Hussein, serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Abdulfattah A.K. Al-Sattiri. Menurut Sodik, penandatanganan MoU menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi sekaligus memperoleh informasi yang lebih aktual mengenai kondisi masyarakat Palestina. “Tanpa MoU pun, BAZNAS akan tetap memberikan bantuan kepada rakyat Palestina. Namun, kerja sama ini penting karena kami dapat memperoleh informasi yang lebih aktual mengenai situasi dan kondisi yang sesungguhnya terjadi di Palestina,” ujar Sodik. Informasi Terkini Perlu Diketahui Masyarakat Sodik menilai informasi mengenai kondisi terkini di Palestina perlu disampaikan kepada masyarakat Indonesia. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami kebutuhan kemanusiaan di lapangan sekaligus menjaga kepedulian publik. Ia menyebut adanya kecenderungan penurunan bantuan dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah belum banyaknya informasi mengenai perkembangan kondisi masyarakat Palestina yang diketahui masyarakat Indonesia. “Setelah MoU ini, kami akan menyampaikan informasi yang lebih lengkap mengenai situasi di Palestina kepada masyarakat Indonesia. Dengan informasi yang lebih aktual, kami berharap kepedulian masyarakat terhadap saudara-saudara kita di Palestina dapat kembali menguat,” katanya. BAZNAS Sleman Ajak Warga Salurkan Kepedulian Semangat tersebut juga menjadi bagian dari upaya BAZNAS Kabupaten Sleman dalam mengajak masyarakat untuk menjaga kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Bagi masyarakat Sleman yang ingin mengambil bagian dalam membantu Palestina, donasi dapat disalurkan melalui kanal resmi BAZNAS Kabupaten Sleman sesuai mekanisme yang berlaku. Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan melalui lembaga resmi dikelola sesuai ketentuan dan diperuntukkan bagi program yang telah ditetapkan. Mari warga Sleman, salurkan kepedulian untuk Palestina melalui kanal resmi BAZNAS Kabupaten Sleman. Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Donasi Palestina melalui BAZNAS Kabupaten Sleman:https://kabsleman.baznas.go.id/sedekah Masyarakat diimbau memastikan informasi rekening, tautan, dan kanal pembayaran donasi merupakan kanal resmi BAZNAS Kabupaten Sleman untuk menghindari penyaluran kepada pihak yang tidak bertanggung jawab. Kerja Sama BAZNAS RI dan Palestina Melalui MoU tersebut, BAZNAS RI dan Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina memperkuat kerja sama dalam penyediaan dan pengelolaan bantuan pada bidang kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan. Kesepakatan juga mencakup pertukaran informasi, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan sebagai bagian dari upaya menjaga transparansi serta akuntabilitas pelaksanaan program. “BAZNAS berkomitmen untuk tetap hadir membantu masyarakat Palestina. Ini merupakan amanah dari rakyat dan negara. Karena itu, informasi mengenai kondisi Palestina perlu terus kita sampaikan agar kepedulian masyarakat tidak berhenti,” tutur Sodik. Bagi masyarakat Sleman, kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui kontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Penyaluran melalui kanal resmi BAZNAS menjadi salah satu cara agar dana masyarakat dapat dikelola melalui mekanisme kelembagaan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Penguatan Solidaritas Kemanusiaan Penandatanganan MoU turut dihadiri sejumlah delegasi dari Indonesia dan Palestina. Dari BAZNAS RI, hadir Pimpinan Organisasi, Lembaga, dan Pembinaan Daerah Hj. Saidah Sakwan, MA., Sekretaris Utama H. Subhan Cholid, Lc., MA., Deputi II Dr. H. M. Imdadun Rahmat, M.Si., Direktur Pendistribusian Ahmad Fikri, Direktur Pendayagunaan Eka Budhi Sulistyo, serta Kepala BMKP dan Plh. Kabiro Kerja Sama dan Protokoler Ndari Rumi Widyawati. Penguatan kerja sama ini menjadi bagian dari ikhtiar kemanusiaan yang melibatkan berbagai pihak. Dari Sleman, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian dan kedermawanan masyarakat yang disalurkan melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Mari bersama BAZNAS Kabupaten Sleman, jaga kepedulian dan hadirkan manfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.***Sumber: BAZNAS RI
PRESS_RELEASE29/09/2026 | ayw/HumasBAZNASSleman
Komite Kepresidenan Palestina Ungkap Kondisi Gaza dan Tepi Barat, BAZNAS RI Perkuat Kerja Sama Bantuan Kemanusiaan
Komite Kepresidenan Palestina Ungkap Kondisi Gaza dan Tepi Barat, BAZNAS RI Perkuat Kerja Sama Bantuan Kemanusiaan
Kondisi kemanusiaan masyarakat Palestina masih menjadi perhatian serius. Ketua Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina, H.E. Mahmoud Sidqi Al-Habbash, menyampaikan bahwa masyarakat di Gaza dan Tepi Barat masih menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, mulai dari keterbatasan kebutuhan dasar hingga persoalan pengungsian dan akses ibadah. Hal tersebut disampaikan Mahmoud dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kerja Sama Penyediaan Bantuan Kemanusiaan dan Sosial untuk Negara Palestina bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI di Kantor BAZNAS RI, Jakarta, Jumat (25/6/2026). MoU tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama sebelumnya antara BAZNAS dan pihak Palestina dalam mendukung penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Al-Quds H.E. Sheikh Mohammad A.M. Hussein, serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Abdulfattah A.K. Al-Sattiri. Dalam kesempatan tersebut, Mahmoud menggambarkan kondisi kemanusiaan yang menurut pihaknya masih sangat berat akibat konflik yang berlangsung. "Rakyat Palestina saat ini sedang menghadapi perang genosida dan mengalami kondisi kemanusiaan yang sangat berat akibat perang ini," ujar Mahmoud. Ia menyebut, eskalasi krisis telah berdampak pada akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar. Menurut keterangan yang disampaikannya dalam pertemuan tersebut, lebih dari dua juta warga di Jalur Gaza menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan, air minum, pengobatan, listrik, dan layanan dasar lainnya. "Saat ini lebih dari dua juta jiwa di Jalur Gaza hidup tanpa makanan yang cukup, tanpa air minum yang layak, tanpa pengobatan, tanpa listrik, dan tanpa layanan dasar," tuturnya. Kondisi Kemanusiaan Tidak Hanya di Gaza Mahmoud juga menyampaikan bahwa persoalan kemanusiaan tidak hanya terjadi di Jalur Gaza. Menurutnya, masyarakat di Tepi Barat turut menghadapi dampak krisis, termasuk persoalan pengungsian serta hambatan terhadap akses ibadah di kawasan Masjid Al-Aqsa. Atas kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya keberlanjutan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina. Bantuan yang dibutuhkan mencakup berbagai kebutuhan, antara lain pangan, air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, serta fasilitas hunian darurat. Kerja sama dengan BAZNAS RI diharapkan dapat memperkuat mekanisme penyaluran bantuan dari masyarakat Indonesia kepada masyarakat Palestina. Melalui kerja sama tersebut, proses penghimpunan dan penyaluran bantuan diharapkan berlangsung secara transparan, cepat, dan tepat sasaran. Pihak Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina juga menyatakan akan turut mengawasi pelaksanaan bantuan agar dapat diterima oleh masyarakat yang membutuhkan. "Kami berharap dukungan Indonesia dan kerja sama kemanusiaan melalui BAZNAS dapat terus berlanjut hingga terwujudnya kemerdekaan Palestina," kata Mahmoud. BAZNAS Perkuat Komitmen Kemanusiaan untuk Palestina Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya BAZNAS dalam mendukung penanganan persoalan kemanusiaan melalui penghimpunan dan penyaluran bantuan dari masyarakat Indonesia. Bagi BAZNAS, dukungan masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah menjadi salah satu bentuk solidaritas kemanusiaan yang dapat disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak krisis, termasuk masyarakat Palestina sesuai dengan ketentuan dan mekanisme pengelolaan dana yang berlaku. Dalam pertemuan tersebut, Mahmoud juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Pemerintah Indonesia kepada Palestina. Ia secara khusus menyampaikan salam dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan masyarakat Palestina kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto serta masyarakat Indonesia. "Salam dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan juga dari rakyat Palestina kepada Presiden Indonesia Bapak Prabowo Subianto dan juga kepada rakyat Indonesia," ujar Mahmoud. Kerja sama BAZNAS dan pihak Palestina diharapkan dapat terus memperkuat ikhtiar kemanusiaan serta memastikan dukungan masyarakat Indonesia dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Palestina yang membutuhkan.***
PRESS_RELEASE28/09/2026 | Humas
Kerja Sama BAZNAS RI dan Palestina Diperkuat, Bantuan Pangan hingga Obat-obatan Jadi Prioritas
Kerja Sama BAZNAS RI dan Palestina Diperkuat, Bantuan Pangan hingga Obat-obatan Jadi Prioritas
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat kerja sama kemanusiaan dengan Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). Kerja sama ini menjadi langkah untuk memperkuat penggalangan dan penyaluran bantuan bagi masyarakat Palestina, khususnya di bidang kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan. Penandatanganan MoU berlangsung di Jakarta, Jumat (25/9/2026), dan dihadiri sejumlah pejabat serta delegasi dari Indonesia dan Palestina. Melalui kesepakatan tersebut, BAZNAS RI dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina berkomitmen memperkuat koordinasi agar bantuan yang dihimpun dari masyarakat Indonesia dapat disalurkan secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., mengatakan penandatanganan MoU akan segera ditindaklanjuti melalui berbagai program bantuan kemanusiaan. "Jadi setelah MoU ini, dan insya Allah kita akan segera tindak lanjuti MoU ini dengan program-program bantuan, tetapi yang lebih penting lagi adalah kita nanti akan expose secara maksimal dan masif informasi tentang situasi di Palestina saat ini," ujar Sodik. Menurut Sodik, kerja sama tersebut juga menjadi momentum untuk memperbarui informasi mengenai kondisi masyarakat Palestina. Informasi yang lebih aktual dinilai penting agar masyarakat Indonesia dapat mengetahui situasi kemanusiaan di Palestina serta dukungan yang dibutuhkan. Selain pelaksanaan program bantuan, nota kesepahaman tersebut mencakup pertukaran informasi, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan secara berkala. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pelaksanaan kerja sama berjalan secara akuntabel. "Kami terus akan komitmen membantu rakyat Palestina karena ini adalah amanah dari rakyat dan amanah dari negara," tutur Sodik. Bantuan Pangan dan Obat-obatan Menjadi Kebutuhan Mendesak Ketua Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina, H.E. Mahmoud Sidqi Al-Habbash, menyampaikan bahwa kerja sama dengan BAZNAS RI menjadi pijakan untuk memperkuat penyaluran bantuan dari Indonesia kepada masyarakat Palestina. Menurut Mahmoud, koordinasi antara kedua pihak diharapkan dapat membantu memastikan dukungan kemanusiaan tersalurkan dengan cepat dan akuntabel kepada masyarakat yang membutuhkan. "Kami berkomitmen untuk memastikan bantuan ini sampai secara transparan, jelas, dan cepat kepada warga yang berhak menerima. Oleh karena itu, hari ini kita menandatangani MoU dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Indonesia," ujarnya. Ia menyebut kebutuhan mendesak di lapangan antara lain bantuan logistik pangan dan obat-obatan. Karena itu, kerja sama kemanusiaan diharapkan dapat segera diterjemahkan ke dalam program yang memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak. Melalui kerja sama tersebut, BAZNAS RI dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina akan terus melakukan koordinasi terkait kebutuhan bantuan, mekanisme penyaluran, serta pemantauan pelaksanaan program di lapangan. Dihadiri Delegasi Indonesia dan Palestina Penandatanganan MoU turut dihadiri Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Al-Quds, H.E. Sheikh Mohammad A.M. Hussein, serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Abdulfattah A.K. Al-Sattiri bersama delegasi lainnya. Dari BAZNAS RI, kegiatan tersebut dihadiri Pimpinan Organisasi, Lembaga, dan Pembinaan Daerah Hj. Saidah Sakwan, MA., Sekretaris Utama H. Subhan Cholid, Lc., MA., Deputi II Dr. H. M. Imdadun Rahmat, M.Si., Direktur Pendistribusian Ahmad Fikri, Direktur Pendayagunaan Eka Budhi Sulistyo, serta Kepala BMKP dan Plh. Kabiro Kerja Sama dan Protokoler Ndari Rumi Widyawati. Penguatan kerja sama ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung masyarakat Palestina melalui pengelolaan bantuan kemanusiaan yang terkoordinasi, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.***
PRESS_RELEASE28/09/2026 | Humas
Imam Besar Masjid Al-Aqsa Apresiasi BAZNAS RI dan Dukungan Masyarakat Indonesia untuk Palestina
Imam Besar Masjid Al-Aqsa Apresiasi BAZNAS RI dan Dukungan Masyarakat Indonesia untuk Palestina
Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Sheikh Mohammad A.M. Hussein, menyampaikan apresiasi kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dan masyarakat Indonesia atas kepedulian yang diberikan kepada rakyat Palestina. Apresiasi tersebut disampaikan Sheikh Mohammad setelah menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kerja Sama Penyediaan Bantuan Kemanusiaan dan Sosial untuk Negara Palestina di Aula Achmad Subianto, Kantor BAZNAS RI, Jakarta, Jumat (25/6/2026). Sheikh Mohammad menilai kepedulian masyarakat Indonesia memiliki arti penting bagi rakyat Palestina yang menghadapi berbagai tantangan, termasuk dalam menjaga tempat-tempat suci di Palestina. "Atas nama rakyat Palestina, kami menyampaikan terima kasih kepada BAZNAS RI dan seluruh masyarakat Indonesia yang senantiasa hadir dengan kepedulian dan kemurahan hati. Perhatian ini menjadi penguat bagi saudara-saudara kami yang tetap bertahan di tanah air dan menjaga tempat-tempat suci," ujar Sheikh Mohammad. Atas nama Imam Masjid Al-Aqsa serta Mufti Agung Yerusalem dan wilayah Palestina, ia juga mengajak berbagai pihak yang selama ini peduli terhadap Palestina untuk tidak berhenti memberikan perhatian kepada masyarakat di sana. "Semoga kepedulian yang selama ini diberikan dapat terus terjaga, terutama bagi saudara-saudara kita yang berada di sekitar Masjid Al-Aqsa dan tempat-tempat suci Palestina," tuturnya. Berharap Kerja Sama Membawa Manfaat Lebih Luas Sheikh Mohammad berharap kesepakatan antara BAZNAS RI dan Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina dapat memperkuat hubungan kemanusiaan antara masyarakat Indonesia dan Palestina. Menurutnya, semangat berbagi yang ditunjukkan masyarakat Indonesia diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Palestina sekaligus menjadi penguat bagi mereka dalam menghadapi situasi yang sulit. "Kami berharap kerja sama ini menjadi jalan bagi semakin luasnya manfaat yang dirasakan saudara-saudara kami di Palestina. Semoga suatu hari nanti kita dapat kembali berkumpul dengan penuh kedamaian di pelataran Masjid Al-Aqsa yang diberkahi," kata Sheikh Mohammad. Ia pun menyampaikan doa dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam membantu masyarakat Palestina. BAZNAS RI Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian Sejalan dengan pesan tersebut, BAZNAS RI mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga kepedulian terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina. Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menyampaikan ajakan tersebut seusai penandatanganan MoU antara BAZNAS RI dan Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina. Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi antara kedua pihak dalam penyediaan dan penyaluran bantuan kemanusiaan. Kerja sama juga mencakup pertukaran informasi, pemantauan, serta evaluasi agar pelaksanaan program dapat berjalan secara transparan dan akuntabel. Penandatanganan MoU turut dihadiri Ketua Komite Bantuan Kepresidenan Negara Palestina H.E. Mahmoud Sidqi Al-Habbash, Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Abdulfattah A.K. Al-Sattiri, serta delegasi lainnya. Dari BAZNAS RI, hadir Pimpinan Organisasi, Lembaga, dan Pembinaan Daerah Hj. Saidah Sakwan, MA., Sekretaris Utama H. Subhan Cholid, Lc., MA., Deputi II Dr. H. M. Imdadun Rahmat, M.Si., Direktur Pendistribusian Ahmad Fikri, Direktur Pendayagunaan Eka Budhi Sulistyo, serta Plh. Kabiro Kerja Sama dan Protokoler Ndari Rumi Widyawati. Melalui kerja sama tersebut, BAZNAS RI dan pihak Palestina berupaya membangun mekanisme kemanusiaan yang terkoordinasi sehingga kontribusi masyarakat Indonesia dapat dikelola dan disalurkan secara tepat kepada pihak yang membutuhkan.***
PRESS_RELEASE28/09/2026 | Humas
BAZNAS RI Perkuat Pengelolaan Zakat ASN melalui UPZ di 48 Kementerian dan Lembaga
BAZNAS RI Perkuat Pengelolaan Zakat ASN melalui UPZ di 48 Kementerian dan Lembaga
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memperkuat pengelolaan zakat di lingkungan kementerian dan lembaga pemerintah melalui evaluasi pengelolaan zakat yang melibatkan 48 kementerian dan lembaga. Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga tahap pada 3, 10, dan 17 September 2026. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya BAZNAS untuk meningkatkan kualitas layanan zakat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), sekaligus memastikan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di lingkungan kementerian dan lembaga siap menjalankan fungsi penghimpunan, pelayanan, serta edukasi zakat. Kegiatan evaluasi melibatkan sejumlah unsur yang berkaitan dengan pengelolaan zakat di masing-masing instansi, antara lain pengurus UPZ BAZNAS, Biro Keuangan, Biro Sumber Daya Manusia (SDM), dan Biro Umum. Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM, mengatakan penguatan UPZ membutuhkan dukungan dari berbagai unsur di lingkungan kementerian dan lembaga. Menurutnya, keberadaan UPZ memiliki peran penting dalam memfasilitasi ASN yang ingin menunaikan zakat melalui lembaga resmi. “Kami berharap dapat terus memfasilitasi ASN untuk menunaikan ibadah hartanya, yakni zakat, melalui lembaga BAZNAS,” ujar Rizaludin dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026). Sementara itu, Deputi I Pengumpulan BAZNAS RI, H. M. Arifin Purwakananta, S.I.Kom., M.I.Kom., CWC., CFRM, menekankan pentingnya kesiapan organisasi dan sistem pelayanan dalam pengelolaan zakat. Menurut Arifin, pengelolaan zakat merupakan amanah yang berkaitan dengan ibadah dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, setiap unsur yang terlibat perlu memiliki kesiapan dalam menjalankan tugas dan memberikan layanan kepada muzaki. “Kesiapsiagaan tersebut menjadi semakin penting karena pengelolaan zakat menyangkut ibadah dan amanah umat, sehingga seluruh unsur yang terlibat perlu memiliki kesiapan dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya. Penguatan peran UPZ juga menjadi perhatian Direktur Pengumpulan Badan Negara BAZNAS RI, H. Faisal Qosim, Lc., CFRM., CWC. Ia mendorong UPZ untuk menjadi ujung tombak pelayanan sekaligus literasi zakat bagi ASN. Faisal menjelaskan, layanan yang siap dan mudah diakses diperlukan agar ASN yang telah memiliki kesadaran dan kemauan untuk menunaikan zakat dapat memperoleh pelayanan secara optimal. “Kesiapan tersebut diperlukan agar ketika ASN telah memiliki kesadaran dan kemauan untuk menunaikan zakat, lembaga dan UPZ dapat memberikan pelayanan secara optimal,” jelasnya. Selain pelayanan, edukasi mengenai kewajiban zakat juga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Kepala Divisi Pengumpulan Kementerian dan Lembaga Nonkementerian BAZNAS RI, Dr. Mohan, S.E., M.E.I., mengatakan edukasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan pemahaman ASN mengenai kewajiban zakat. Menurutnya, edukasi zakat diperlukan untuk mengingatkan kewajiban menunaikan zakat bagi umat Islam yang telah memenuhi ketentuan nisab, yaitu batas minimal harta yang menyebabkan seseorang wajib mengeluarkan zakat. “Ini merupakan bagian dari cara mengingatkan kewajiban ibadah harta bagi orang-orang yang telah mencapai nisab zakat, yaitu standar harta yang menyebabkan seseorang wajib mengeluarkan zakat,” katanya. Melalui evaluasi pengelolaan zakat di 48 kementerian dan lembaga tersebut, BAZNAS RI mendorong penguatan koordinasi antara UPZ dan unsur terkait di masing-masing instansi. Penguatan tersebut mencakup aspek penghimpunan, pelayanan, kesiapan organisasi, serta edukasi zakat bagi ASN. Upaya ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan zakat yang semakin terarah dan memberikan kemudahan bagi ASN dalam menunaikan zakat melalui lembaga resmi.***
PRESS_RELEASE21/09/2026 | Humas
BAZNAS Sleman Ikuti Pra-RAKORNAS 2026, Perkuat Strategi Pengelolaan Muzaki dan Penghimpunan Zakat
BAZNAS Sleman Ikuti Pra-RAKORNAS 2026, Perkuat Strategi Pengelolaan Muzaki dan Penghimpunan Zakat
BAZNAS Kabupaten Sleman turut mengikuti Pra-Rapat Koordinasi Nasional (Pra-RAKORNAS) BAZNAS 2026 yang diselenggarakan oleh BAZNAS Republik Indonesia secara daring pada Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut membahas target dan strategi pengumpulan pada BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota, khususnya dalam memperkuat pengelolaan muzaki secara profesional dan berkelanjutan. Pra-RAKORNAS diikuti secara bersama-sama oleh jajaran pimpinan BAZNAS Kabupaten Sleman dari ruang meeting Kantor BAZNAS Kabupaten Sleman. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman Muhyi Darmaji, S.Ag., M.Pd.I., Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan dr. Andung Prihadi Santosa, M.Kes., serta Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Muhaimin, S.Ag., M.Pd. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju RAKORNAS BAZNAS 2026 sekaligus menjadi momentum bagi BAZNAS Kabupaten Sleman untuk memperoleh penguatan arah dan strategi pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL). Dalam Pra-RAKORNAS tersebut, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., menekankan pentingnya pengelolaan muzaki secara lebih profesional sebagai salah satu strategi meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mengoptimalkan penghimpunan ZIS-DSKL secara nasional. Rizaludin menjelaskan, muzaki saat ini tidak hanya membutuhkan kemudahan dalam menunaikan zakat, tetapi juga ingin mengetahui manfaat dan dampak dari zakat yang telah mereka tunaikan. Karena itu, hubungan antara lembaga zakat dan muzaki perlu dibangun secara berkelanjutan. “Karena itu, kita perlu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Hubungan dengan muzaki harus kita bangun secara berkelanjutan, melalui pelayanan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta menunjukkan dampak nyata dari zakat yang mereka tunaikan,” ujarnya. Menurut Rizaludin, salah satu tantangan yang masih dihadapi dalam pengelolaan zakat adalah masih adanya masyarakat yang menyalurkan zakat melalui lembaga nonformal. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi BAZNAS untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan membangun kepercayaan publik. “Ini PR kita. Kita harus mampu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Bagaimana ke depan supaya BAZNAS menjadi pilihan bagi para muzaki dan membayar zakat lebih utama melalui lembaga formal seperti BAZNAS daripada membayar langsung, melalui ustaz, atau masjid ataupun lembaga nonformal lainnya,” katanya. Perkuat Value-Driven Fundraising Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS RI juga mendorong penguatan konsep value-driven fundraising atau penghimpunan dana yang berorientasi pada nilai dan dampak. Strategi tersebut dilakukan dengan memperkuat dakwah zakat, menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata, serta menunjukkan perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Rizaludin menyampaikan terdapat empat pilar utama dalam value-driven fundraising, yaitu transparansi dan laporan dampak nyata, pembinaan relasi yang personal dan inklusif, penguatan branding serta reputasi lembaga yang profesional dan taat audit, serta pelibatan aktif muzaki dalam berbagai program kemanusiaan. Penerapan empat pilar tersebut kemudian diperkuat melalui konsep 5D BAZNAS, yakni Diingat, Dipercaya, Dijangkau, Dicintai, dan Dibanggakan. Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan pengalaman berzakat yang lebih bermakna sekaligus memperluas dampak zakat bagi kesejahteraan masyarakat. Bagi BAZNAS Kabupaten Sleman, penguatan pengelolaan muzaki menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas penghimpunan ZIS. Hal tersebut juga sejalan dengan kebutuhan untuk menghadirkan pelayanan zakat yang semakin dekat, transparan, dan mampu menunjukkan manfaat nyata kepada para muzaki. Selain aspek penghimpunan, materi Pra-RAKORNAS juga menekankan pentingnya perspektif muzaki dalam merancang program. Program yang dibuat BAZNAS diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan mustahik, tetapi juga mampu membangun keterhubungan antara muzaki dengan dampak kebaikan dari zakat yang ditunaikan. “Karena program itu harus diingat dan dicintai muzaki, harus terasa dekat dengan muzaki, dan perubahannya terlihat oleh muzaki, dan manfaatnya juga terasa. Maka, kalau membuat program, perspektifnya harus dari muzaki,” jelas Rizaludin. Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Pimpinan BAZNAS RI Bidang Organisasi, Kelembagaan, dan Pembinaan Daerah Hj. Saidah Sakwan, M.A., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan H. Syarifuddin, S.Ag., M.E., Direktur Pengumpulan Perorangan BAZNAS RI H. Fitriansyah Agus Setiawan, S.Sos., M.I.Kom., CFRM., serta jajaran pimpinan BAZNAS daerah tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia. Keikutsertaan jajaran pimpinan BAZNAS Kabupaten Sleman dalam Pra-RAKORNAS ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan BAZNAS Sleman dalam menyusun strategi pengumpulan ZIS yang lebih terarah, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan serta kepercayaan muzaki. Dengan pengelolaan muzaki yang semakin baik, BAZNAS Kabupaten Sleman diharapkan mampu memperkuat ekosistem zakat sekaligus meningkatkan manfaat penghimpunan ZIS bagi masyarakat yang membutuhkan.***
PRESS_RELEASE09/09/2026 | ayw/HumasBAZNASSleman
Gelar Rakernis IT 2025, BAZNAS RI Optimalkan Modernisasi dan Digitalisasi Pengelolaan Zakat Nasional
Gelar Rakernis IT 2025, BAZNAS RI Optimalkan Modernisasi dan Digitalisasi Pengelolaan Zakat Nasional
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mengoptimalkan modernisasi dan digitalisasi pengelolaan zakat nasional melalui penguatan sistem manajemen berbasis data yang kokoh dan terukur, sebagai upaya menciptakan tata kelola zakat yang lebih transparan, akuntabel, dan berdampak luas. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Transformasi Digital & Zakat Tech Mini Expo 2025 dengan tema “Pemanfaatan dan Penguatan Digital Fundraising” untuk memperkuat ekosistem digital zakat di seluruh Indonesia. Kegiatan ini juga mempertemukan BAZNAS Daerah dan mahasiswa dalam ruang kolaborasi inovatif untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan zakat. Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., menyampaikan bahwa modernisasi sistem digital menjadi keharusan bagi BAZNAS RI dalam merespons perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan publik terhadap layanan zakat yang lebih cepat dan efisien. “InsyaAllah BAZNAS RI akan menjadi BAZNAS yang terbaik, khususnya dalam keterbukaan informasi publik. Ini merupakan komitmen yang telah dibangun sejak lama, komitmen untuk mengembangkan digitalisasi di seluruh Indonesia, bukan hanya di pusat,” ujar Kiai Noor di Jakarta, Rabu (26/11/2025). Kiai Noor menyampaikan bahwa digitalisasi tidak hanya menjadi instrumen efisiensi, tetapi juga bagian dari penguatan kelembagaan dan tata kelola manajemen yang terus diperbarui. “Kami mengapresiasi upaya digitalisasi ini karena alhamdulillah BAZNAS juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan lembaga publik yang transformal dan informatif. Penguatan kelembagaan dan manajemen, termasuk pelaporan melalui SIMBA, telah kita jalankan. Meski belum semua daerah siap, insyaAllah ke depan seluruh Indonesia akan memiliki transformasi digital yang sama dari pusat sampai daerah,” ucap Kiai Noor. Menurut Kiai Noor, transformasi digital BAZNAS tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama menghadapi tantangan teknologi yang berkembang cepat. “Kita memasuki era digital sehingga tidak mungkin SDM BAZNAS tidak memahami atau mengoperasikan sistem digital. Dalam lingkungan Prof. Nadratuzzaman sendiri ada transformasi digital termasuk bidang keamanan. AI juga menjadi tantangan; kita memperkuat bagaimana memanfaatkannya sekaligus mewaspadainya,” tuturnya. Kiai Noor menambahkan bahwa lima tahun terakhir menunjukkan percepatan signifikan dalam transformasi digital BAZNAS dan dampaknya telah diakui di tingkat internasional. “Terbukti, jaringan BAZNAS kini bersifat internasional bahkan menjadi rujukan zakat dunia. Karena itu, kami berterima kasih, melalui Rakernis ini kita dapat memastikan digitalisasi tidak pernah berhenti. Percepatannya begitu besar dan apa yang dilakukan di sini akan kita sampaikan kepada semua BAZNAS di seluruh Indonesia,” tambahnya. Sementara itu, Direktur Inovasi dan Teknologi Informasi BAZNAS RI, Achmad Setio Adinugroho, menambahkan, penguatan basis data menjadi pilar utama dalam transformasi digital yang dicanangkan BAZNAS. “Digitalisasi yang terukur memungkinkan peningkatan akurasi pendataan mustahik serta mempercepat proses distribusi zakat,” katanya. Ia menjelaskan, tujuan dari kegiatan ini mencakup peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan zakat, peningkatan literasi digital bagi amil zakat dan pemangku kepentingan, serta evaluasi atas pelaksanaan program digitalisasi yang telah berjalan. “Selain itu, kegiatan ini juga memperkenalkan aplikasi-aplikasi digital yang dikembangkan BAZNAS RI agar dapat dimanfaatkan oleh BAZNAS Daerah, serta menampilkan berbagai inovasi melalui Mini Expo untuk menghasilkan rekomendasi penguatan sistem digital ke depan,” ujarnya. Turut hadir Pimpinan BAZNAS RI Bidang Transformasi Digital Nasional, Prof. Ir. Nadratuzzaman Hosen, MS., M.Ec., Ph.D., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan ZIS-DSKL Nasional, Amb. Prof. (HC) Dr. Zainulbahar Noor, S.E., M.Ec., Pimpinan BAZNAS RI Bidang SDM, Keuangan, dan Umum, Kol. CAJ (Purn.) Drs. Nur Chamdani, serta perwakilan dari BAZNAS Provinsi/Kabupaten/Kota, para praktisi dan akademisi.***
PRESS_RELEASE27/11/2025 | ayw./
BAZNAS RI Kuatkan Fikih Zakat Kontemporer Melalui Transformasi Digital 2025
BAZNAS RI Kuatkan Fikih Zakat Kontemporer Melalui Transformasi Digital 2025
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia (RI) terus mengadopsi teknologi dalam pengelolaan zakat dan tetap berada pada jalur yang tepat, sekaligus memacu semangat untuk terus berinovasi. Transformasi digital telah menjadi keharusan dalam berbagai lini kehidupan, termasuk dalam tata kelola zakat nasional. Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi, BAZNAS RI terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pengelolaan zakat yang adaptif, visioner, dan relevan dengan perkembangan zaman. Momentum tersebut kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Transformasi Digital & Zakat Tech Mini Expo 2025 yang berlangsung pada 26–27 November 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Mengusung tema “Pemanfaatan AI dan Penguatan Digital Fundraising”, kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan ijtihad teknologi untuk penguatan fikih zakat kontemporer. Langkah digitalisasi zakat yang dilakukan BAZNAS bukanlah upaya sesaat. Pada tahun 2023, BAZNAS RI meraih penghargaan Indonesia Digital Innovation Award untuk kategori Best Digital Innovation in Zakat Collection. Penghargaan ini menjadi penanda bahwa strategi digital bukan lagi pilihan pelengkap, tetapi kebutuhan strategis dalam pengelolaan zakat nasional. Komitmen tersebut semakin dipertegas pada tahun 2024 melalui penyelenggaraan Rakernis Transformasi Digital Nasional dan Zakathon 2024 dengan fokus utama pada pengembangan Kantor Digital BAZNAS. Berbagai inovasi disiapkan untuk memperkuat seluruh rantai nilai zakat mulai dari pendataan mustahik berbasis big data, kanal penghimpunan yang serba digital, hingga mekanisme penyaluran berbasis analitik untuk memastikan ketepatan sasaran. Memasuki tahun 2025, BAZNAS kembali melangkah lebih jauh. Dalam Rakernis 2025, teknologi kecerdasan artifisial (AI), machine learning, dan integrasi big data tidak hanya diposisikan sebagai alat bantu administratif, tetapi sebagai mitra strategis dalam pengambilan keputusan. Teknologi ini memungkinkan BAZNAS untuk memetakan kebutuhan mustahik secara lebih presisi, memperluas jangkauan penghimpunan, sekaligus meningkatkan transparansi serta akuntabilitas publik. Namun, perkembangan teknologi juga menuntut adanya aktualisasi fikih zakat yang adaptif. Pemikiran progresif dari almarhum Prof. KH. Ibrahim Hosen kembali menjadi landasan filosofis penting. Mengacu pada pendapat beliau, fikih zakat harus mampu membaca dinamika sosial-ekonomi, termasuk munculnya jenis-jenis harta baru dalam ekosistem digital. Kerangka klasifikasi zakat yang dikemukakan Ibrahim Hosen—meliputi logam berharga, hasil bumi, ternak dan hasil laut, serta keuntungan usaha—memberikan ruang metodologis yang kuat untuk mengakomodasi aset-aset kontemporer seperti token digital, NFT, royalti konten, hingga pendapatan dari sharing economy. Melalui pendekatan qiyas dan penguatan ‘illat hukum, fikih zakat dapat diperluas untuk menjangkau fenomena baru tanpa kehilangan pijakan tekstualnya. Dengan demikian, zakat dapat terus relevan sebagai instrumen keadilan ekonomi di era digital. Lebih jauh lagi, pemikiran Ibrahim Hosen mengenai penyaluran zakat secara produktif sangat selaras dengan peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital. Dengan memanfaatkan sistem rekomendasi berbasis AI, BAZNAS dapat mengidentifikasi kebutuhan mustahik sesuai potensi ekonomi mereka. Zakat produktif dapat diarahkan dalam bentuk pembiayaan usaha, pelatihan digital, hingga akses pasar melalui platform koperasi atau marketplace yang inklusif. Dengan cara ini, zakat bukan hanya meringankan beban sementara, tetapi menjadi investasi sosial jangka panjang. Perluasan makna sabilillah dalam konteks digital juga menjadi momentum penting. Dana zakat dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan digital pesantren, mendanai penelitian teknologi tepat guna, serta mendorong inovasi melalui startup sosial yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi umat. Karena itu, Rakernis 2025 bukan semata agenda rutin, tetapi wujud nyata sinergi antara ijtihad fikih dan inovasi teknologi. Transformasi yang dimulai sejak 2023 telah membangun fondasi kuat bagi lahirnya sistem zakat nasional yang modern, transparan, dan berdampak luas. Pada akhirnya, pesan abadi dari Prof. KH. Ibrahim Hosen kembali menggema: zakat harus menjadi instrumen perubahan sosial yang nyata, bukan sekadar ritual administrasi. Dengan dukungan teknologi digital dan semangat pembaruan fikih, BAZNAS RI terus berupaya menghadirkan tata kelola zakat yang lebih relevan, inklusif, dan mampu memajukan kesejahteraan umat di era modern.***
PRESS_RELEASE27/11/2025 | ayw./
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →