WhatsApp Icon
Jejak Kebaikan Seorang Muzaki: Memberi dalam Diam, Menguatkan Banyak Kehidupan

Di tengah kehidupan yang semakin ramai oleh pencitraan dan pengakuan, masih ada orang-orang yang memilih berjalan sunyi dalam kebaikan. Mereka tidak sibuk memperlihatkan apa yang telah diberikan. Tidak mencari pujian. Tidak pula berharap dikenal banyak orang. Namun manfaat dari kehadirannya terasa luas dan panjang.

Di BAZNAS Kabupaten Sleman, kami belajar banyak dari sosok-sosok seperti ini. Salah satunya adalah seorang muzaki yang dengan istiqamah menunaikan zakatnya melalui lembaga kami. Bukan hanya sekali, bukan pula sekadar formalitas tahunan. Zakat telah menjadi bagian dari cara beliau menjalani hidup.

Yang paling mengagumkan bukan semata tentang besarnya nominal yang ditunaikan. Lebih dari itu, adalah cara beliau memandang harta.

Bagi sebagian orang, harta sering dipahami sebagai sesuatu yang harus terus dikumpulkan dan dijaga untuk diri sendiri. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut kehilangan. Namun beliau memandang berbeda. Harta, menurut beliau, hanyalah titipan Allah yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Karena itulah, ketika Allah memberikan keluasan rezeki, beliau merasa bahwa tanggung jawab untuk membantu sesama juga semakin besar. Beliau memahami bahwa keberhasilan hidup bukan hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil dimiliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang dapat dibagikan.

Dari Zakat Yang Beliau Tunaikan, Banyak Pintu Harapan Perlahan Terbuka

Ada anak-anak yang kembali bisa melanjutkan sekolahnya. Ada pedagang kecil yang bangkit setelah usahanya hampir berhenti. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan hidup di tengah kesulitan ekonomi. Ada pula mereka yang terbantu biaya pengobatannya ketika sakit datang tanpa diduga.

Mungkin beliau tidak pernah bertemu langsung dengan para penerima manfaat itu. Tidak melihat wajah mereka satu per satu. Tidak mendengar sendiri ucapan terima kasih mereka. Namun dari tangan yang memberi dengan ikhlas, Allah menghadirkan begitu banyak senyum dan harapan baru.

Inilah Indahnya Menjadi Seorang Muzaki

Sering kali kita berpikir bahwa untuk bisa memberi, seseorang harus menunggu kaya raya terlebih dahulu. Padahal kenyataannya, hati yang dermawan tidak selalu menunggu kelimpahan. Justru banyak keberkahan hadir karena seseorang mau berbagi dalam keadaan apa pun.

Sosok Muzaki Ini Mengajarkan Satu Hal Penting Kepada Kita:

Bahwa kesuksesan sejati adalah ketika kehadiran kita mampu menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi banyak orang.

Beliau tidak hanya membangun kehidupan keluarganya sendiri, tetapi juga ikut menguatkan kehidupan orang lain. Dan itulah warisan terbaik yang akan terus hidup, bahkan ketika nama seseorang tidak lagi disebut.

Tulisan ini bukan sekadar tentang seseorang yang gemar bersedekah. Ini adalah refleksi bagi kita semua. Tentang bagaimana harta seharusnya tidak hanya berhenti menjadi angka di rekening, tetapi juga menjadi jalan hadirnya manfaat dan keberkahan.

Hari ini mungkin kita belum mampu berzakat dalam jumlah besar. Namun kita selalu bisa memulai dari niat yang besar. Sebab setiap kebaikan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tulus dan terus-menerus.

Jangan Takut Berkurang Karena Memberi

Jangan ragu berbagi karena zakat tidak pernah membuat seseorang miskin.

Apa yang keluar dari tangan kita, sesungguhnya sedang Allah simpan menjadi keberkahan hidup yang mungkin tidak selalu terlihat hari ini, tetapi akan terasa pada waktunya.

Semoga semakin banyak orang yang meneladani semangat para muzaki yang ikhlas: bekerja keras, hidup sederhana, dan menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi sesama.

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan tentang berapa banyak kehidupan yang pernah kita kuatkan melalui titipan rezeki dari Allah.

Oleh:

Muhaimin, S.Ag., M.Pd.

(Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)

08/05/2026 | Kontributor: Humas
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama

Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyrik. Lebih dari sekadar penyembelihan hewan, kurban mengandung nilai keikhlasan, ketaatan, serta kepedulian sosial terhadap sesama.

Namun, masih banyak umat Islam yang bertanya: apakah hukum kurban bagi yang mampu itu wajib atau hanya sunnah? Pertanyaan ini penting, terutama bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki namun masih ragu untuk melaksanakannya.

Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian kurban, dalilnya, hingga perbedaan pendapat ulama terkait hukum kurban bagi yang mampu.

Pengertian Kurban dalam Islam

Secara bahasa, kata kurban berasal dari “qaruba” yang berarti dekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan.

Allah SWT berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)

Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam.

Dalil Keutamaan Ibadah Kurban

Selain Al-Qur’an, terdapat hadis yang menjelaskan keutamaan kurban. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT.

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Kurban bagi yang Mampu

1. Pendapat yang Mewajibkan

Sebagian ulama berpendapat bahwa kurban wajib bagi muslim yang mampu. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi dan beberapa ulama salaf.

Mereka berdalil dengan hadis:

“Barang siapa memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Menurut pendapat ini, adanya peringatan keras menunjukkan bahwa kurban bersifat wajib bagi yang memiliki kemampuan.

2. Pendapat Sunnah Muakkad

Mayoritas ulama, seperti mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa kurban hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).

Dalil yang digunakan salah satunya adalah hadis:

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban…” (HR. Muslim)

Kata “ingin” dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban tidak bersifat wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi yang mampu.

Mengapa Terjadi Perbedaan Pendapat?

Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari kekayaan khazanah fiqih Islam. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam memahami dalil:

  • Sebagian ulama menekankan adanya perintah dan ancaman

  • Sebagian lainnya melihat konteks pilihan serta praktik para sahabat

Meski berbeda, para ulama sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan meninggalkannya bagi yang mampu bukanlah hal yang baik.

Siapa yang Termasuk Orang Mampu?

Dalam konteks hukum kurban bagi yang mampu, seseorang dianggap mampu jika:

  1. Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi

  2. Tidak sedang dalam beban utang yang memberatkan

  3. Mampu membeli hewan kurban tanpa mengganggu kebutuhan keluarga

Dengan demikian, kurban tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan sebagai ibadah bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki.

Hikmah dan Keutamaan Ibadah Kurban

Memahami hukum kurban tidak cukup dari sisi fiqih saja, tetapi juga dari hikmahnya:

1. Wujud Ketaatan kepada Allah

Kurban meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah.

2. Meningkatkan Kepedulian Sosial

Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan.

3. Menyucikan Harta

Kurban menjadi salah satu cara membersihkan dan mensyukuri rezeki.

4. Mendekatkan Diri kepada Allah

Ibadah ini menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan.

Konsekuensi Meninggalkan Kurban

Bagi yang mampu, meninggalkan kurban memiliki konsekuensi:

  • Menurut pendapat wajib: berdosa jika tidak dilaksanakan

  • Menurut pendapat sunnah: kehilangan pahala besar

Walaupun terdapat perbedaan, meninggalkan kurban tanpa alasan tetap dianggap kurang baik oleh para ulama.

Tips Melaksanakan Kurban dengan Benar

Agar ibadah kurban lebih optimal, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Niat yang ikhlas karena Allah SWT

  • Memilih hewan yang sehat dan sesuai syariat

  • Menyembelih pada waktu yang ditentukan

  • Membagikan daging secara adil

  • Menghindari sikap riya

Kesimpulan

Hukum kurban bagi yang mampu memiliki dua pendapat utama:

  • Wajib menurut mazhab Hanafi

  • Sunnah muakkad menurut mayoritas ulama

Meski berbeda pandangan, keduanya sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan.

 

Sebagai bentuk kehati-hatian dan upaya meraih keutamaan, seorang muslim sebaiknya berusaha melaksanakan kurban ketika memiliki kelapangan rezeki. Sebab, kurban bukan hanya soal hukum, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.***

 

 

Sumber:  baznas.go.id

04/05/2026 | Kontributor: Humas
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?

Perkembangan teknologi memudahkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah. Salah satu yang kini banyak diminati masyarakat adalah kurban online.

Melalui layanan ini, seseorang dapat membeli hewan kurban, membayar, hingga proses penyembelihan dilakukan oleh lembaga terpercaya tanpa harus hadir langsung.

Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana hukum kurban online dalam Islam? Apakah sah dan sesuai syariat?

Artikel ini akan membahas secara lengkap hukum kurban online berdasarkan pandangan ulama serta penjelasan dari lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama.

Apa Itu Kurban Online?

Kurban online adalah layanan pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan secara tidak langsung (daring). Shohibul kurban (orang yang berkurban) mempercayakan proses pembelian, penyembelihan, hingga distribusi daging kepada lembaga atau panitia kurban.

Biasanya, prosesnya meliputi:

  • Pemilihan jenis hewan kurban melalui platform digital

  • Pembayaran secara online

  • Penyerahan pelaksanaan kurban kepada pihak penyelenggara

  • Dokumentasi dan laporan kepada pekurban

Hukum Kurban Online dalam Islam

Secara umum, hukum kurban online adalah sah dan diperbolehkan dalam Islam, selama memenuhi syarat dan rukun kurban.

Hal ini karena dalam praktiknya, kurban online menggunakan akad wakalah (perwakilan). Artinya, orang yang berkurban mewakilkan proses penyembelihan kepada pihak lain.

Dalam fiqih Islam, wakalah adalah akad yang dibolehkan. Seseorang boleh mewakilkan ibadah tertentu yang bersifat amaliyah (perbuatan), termasuk penyembelihan hewan kurban.

Dalil Kebolehan Kurban dengan Wakalah

Konsep perwakilan dalam ibadah memiliki dasar dalam praktik Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah pernah mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada sahabat.

Selain itu, para ulama juga sepakat bahwa penyembelihan hewan kurban tidak harus dilakukan sendiri oleh shohibul kurban. Yang terpenting adalah:

  • Niat tetap dari orang yang berkurban

  • Proses penyembelihan sesuai syariat

Dengan demikian, kurban online yang menggunakan sistem perwakilan hukumnya diperbolehkan.

Syarat Sah Kurban Online

Agar kurban online sah menurut syariat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Niat dari Shohibul Kurban

Niat berkurban tetap harus dilakukan oleh orang yang berkurban, bukan oleh perwakilan.

2. Hewan Memenuhi Syarat

Hewan kurban harus sesuai ketentuan syariat, seperti:

  • Sehat dan tidak cacat

  • Cukup umur (misalnya kambing minimal 1 tahun)

3. Penyembelihan Sesuai Syariat

Proses penyembelihan harus dilakukan:

  • Pada waktu yang ditentukan (10–13 Dzulhijjah)

  • Oleh penyembelih yang memahami tata cara syar’i

4. Penyaluran Daging Kurban

Daging kurban harus didistribusikan kepada yang berhak, terutama fakir miskin.

5. Lembaga Terpercaya

Pastikan memilih lembaga resmi dan amanah, seperti BAZNAS atau lembaga yang memiliki izin dan pengawasan.

Keunggulan Kurban Online

Kurban online hadir sebagai solusi praktis, terutama bagi masyarakat modern. Beberapa keunggulannya antara lain:

  • Mudah dan praktis, tanpa harus datang ke lokasi penyembelihan

  • Lebih tepat sasaran, karena distribusi bisa menjangkau daerah pelosok

  • Transparan, biasanya disertai laporan dan dokumentasi

  • Efisien waktu, cocok untuk masyarakat dengan mobilitas tinggi

Hal yang Perlu Diwaspadai

Meskipun diperbolehkan, kurban online tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Hindari lembaga yang tidak jelas kredibilitasnya

  • Pastikan ada laporan pelaksanaan kurban

  • Pilih lembaga yang memiliki legalitas resmi

  • Periksa harga yang wajar dan transparan

Kurban Online Menurut BAZNAS dan Kemenag

Lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama pada prinsipnya membolehkan kurban online selama memenuhi syariat.

BAZNAS bahkan menyediakan layanan kurban yang terkelola secara profesional, mulai dari pemilihan hewan hingga pendistribusian kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kementerian Agama juga menegaskan bahwa praktik kurban dengan sistem perwakilan diperbolehkan, selama tidak menghilangkan rukun dan ketentuan ibadah kurban.

Hukum kurban online dalam Islam adalah sah dan diperbolehkan, karena menggunakan akad wakalah (perwakilan) yang dibenarkan dalam syariat.

Namun, keabsahan tersebut bergantung pada terpenuhinya syarat dan rukun kurban, serta amanah dari pihak penyelenggara.

Sebagai umat Islam, penting untuk tetap berhati-hati dalam memilih lembaga kurban online agar ibadah yang dilakukan tidak hanya sah, tetapi juga membawa keberkahan.

 

Di era digital ini, kurban online bisa menjadi solusi untuk tetap beribadah dengan mudah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.*** 

04/05/2026 | Kontributor: Humas
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan

Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah momen untuk merenung: sudahkah pendidikan benar-benar menjadi milik semua anak bangsa? Ataukah ia masih menjadi “kemewahan” bagi sebagian, sementara yang lain hanya bisa memandang dari kejauhan?

 

Di sudut-sudut negeri ini, masih banyak anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan. Mereka ingin belajar, ingin membaca dunia, ingin mengubah nasib. Namun, kemiskinan seringkali memaksa mereka berhenti. Buku diganti beban, sekolah diganti pekerjaan, cita-cita pun perlahan memudar.

 

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya yang paling dalam.

 

Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi jalan nyata untuk memutus rantai kemiskinan—terutama melalui pendidikan. Ketika zakat diarahkan untuk beasiswa, perlengkapan sekolah, atau pemberdayaan pendidikan bagi kaum dhuafa, ia tidak hanya membantu satu individu, tetapi mengubah masa depan sebuah generasi.

 

Bayangkan seorang anak dari keluarga fakir yang bisa melanjutkan sekolah karena uluran tangan kita. Hari ini ia menerima, esok ia bisa memberi. Hari ini ia ditolong, esok ia menjadi penolong. Inilah siklus keberkahan yang Allah janjikan.

 

Infak dan sedekah pun demikian. Ia mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama, dampaknya luar biasa. Seribu rupiah yang kita anggap ringan, bisa menjadi bagian dari seragam sekolah, buku pelajaran, atau bahkan membuka jalan bagi seorang anak untuk tetap bertahan di bangku pendidikan.

 

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi gerakan. Gerakan kepedulian. Gerakan berbagi. Gerakan memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal hanya karena alasan ekonomi.

 

Mari kita ubah cara pandang kita. Zakat bukan sekadar membersihkan harta, tetapi juga menumbuhkan harapan. Infak dan sedekah bukan sekadar memberi, tetapi menghidupkan masa depan.

 

Jika hari ini kita belum bisa membangun sekolah, setidaknya kita bisa membantu satu anak tetap bersekolah. Jika kita belum mampu mengubah sistem, kita bisa menjadi bagian dari solusi.

 

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga—tetapi tanggung jawab kita semua.

 

Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:

sudahkah kita menjadi bagian dari harapan itu?.***

 

Oleh:

Muhaimin, S.Ag., M.Pd.I

(Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)

02/05/2026 | Kontributor: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini

Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10–13 Dzulhijjah. Bagi umat Muslim yang mampu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki tujuan mulia yang sarat makna spiritual dan sosial.

Ibadah kurban selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, khususnya saat Hari Raya Iduladha tiba. Di balik prosesi penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai-nilai mendalam yang tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak yang memaknai qurban sebatas tradisi tahunan tanpa memahami tujuan utamanya.

Padahal, memahami tujuan ibadah qurban sangat penting agar pelaksanaannya tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menjadi bentuk ibadah yang penuh kesadaran dan keikhlasan. Qurban mengajarkan umat Islam tentang arti ketaatan kepada Allah SWT, pengorbanan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan.

Melalui artikel ini, Anda akan diajak mengenal lebih dalam makna dan tujuan ibadah kurban berdasarkan ajaran Islam yang sahih. Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan kurban dengan lebih optimal, sekaligus menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Lalu, apa tujuan ibadah kurban? Artikel ini akan mengulas secara lengkap agar Anda semakin mantap menunaikan kurban di tahun 1447 H/2026.

Pengertian Ibadah Kurban

Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti “dekat”. Artinya, qurban atau kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta pada waktu tertentu.

Ibadah ini meneladani kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang menjadi simbol kepatuhan total kepada perintah Allah SWT.

Tujuan Ibadah Kurban dalam Islam

Berikut beberapa tujuan utama ibadah kurban yang perlu dipahami:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Tujuan utama kurban adalah sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini menunjukkan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya.

Allah SWT berfirman bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban.

2. Meneladani Keteladanan Nabi Ibrahim AS

Kurban mengajarkan nilai pengorbanan dan kepatuhan tanpa syarat. Nabi Ibrahim AS bersedia mengorbankan putranya atas perintah Allah, yang kemudian digantikan dengan hewan sembelihan.

Nilai ini menjadi pelajaran penting tentang keimanan, kesabaran, dan keikhlasan.

3. Meningkatkan Kepedulian Sosial

Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin. Hal ini menjadikan kurban sebagai sarana berbagi dan mempererat solidaritas sosial.

Melalui kurban, kebahagiaan Iduladha dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

4. Mensucikan Harta

Berqurban juga menjadi bentuk penyucian harta. Dengan mengeluarkan sebagian rezeki untuk kepentingan ibadah, seorang Muslim membersihkan hartanya dari sifat kikir dan cinta dunia berlebihan.

5. Menghidupkan Syiar Islam

Pelaksanaan kurban secara bersama-sama di masyarakat menjadi simbol syiar Islam yang kuat. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan ketaatan umat kepada Allah SWT.

Hikmah dan Keutamaan Berkurban

Selain memiliki tujuan yang jelas, kurban juga menyimpan berbagai hikmah, di antaranya:

·         Menumbuhkan rasa empati terhadap sesama

·         Melatih keikhlasan dan pengorbanan

·         Memperkuat ukhuwah Islamiyah

·         Mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT

Siapa yang Dianjurkan Berkurban?

Ibadah kurban dianjurkan bagi Muslim yang mampu secara finansial. Kemampuan ini diukur setelah terpenuhinya kebutuhan pokok diri dan keluarga.

Ayo Tunaikan Kurban Terbaik Anda di Sleman!

Menunaikan kurban kini semakin mudah dan terpercaya. Anda dapat berpartisipasi dalam program kurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman, yang dikelola oleh peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman.

Mengapa memilih di sini?

·         Dikelola secara profesional

·         Didampingi peternak berpengalaman

·         Hewan sehat, sesuai syariat

·         Memberdayakan ekonomi mustahik

·         Distribusi tepat sasaran

Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya beribadah, tetapi juga turut membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak lokal.

Tujuan ibadah kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki makna mendalam: mendekatkan diri kepada Allah, meneladani Nabi Ibrahim, serta membangun kepedulian sosial.

Mari jadikan momen Iduladha 1447 H/2026 sebagai kesempatan untuk berkurban terbaik dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi sesama.

Sumber Referensi

1.       BAZNAS RI – https://baznas.go.id

 

2.      Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id

28/04/2026 | Kontributor: Humas

Artikel Terbaru

Jejak Kebaikan Seorang Muzaki: Memberi dalam Diam, Menguatkan Banyak Kehidupan
Jejak Kebaikan Seorang Muzaki: Memberi dalam Diam, Menguatkan Banyak Kehidupan
Di tengah kehidupan yang semakin ramai oleh pencitraan dan pengakuan, masih ada orang-orang yang memilih berjalan sunyi dalam kebaikan. Mereka tidak sibuk memperlihatkan apa yang telah diberikan. Tidak mencari pujian. Tidak pula berharap dikenal banyak orang. Namun manfaat dari kehadirannya terasa luas dan panjang. Di BAZNAS Kabupaten Sleman, kami belajar banyak dari sosok-sosok seperti ini. Salah satunya adalah seorang muzaki yang dengan istiqamah menunaikan zakatnya melalui lembaga kami. Bukan hanya sekali, bukan pula sekadar formalitas tahunan. Zakat telah menjadi bagian dari cara beliau menjalani hidup. Yang paling mengagumkan bukan semata tentang besarnya nominal yang ditunaikan. Lebih dari itu, adalah cara beliau memandang harta. Bagi sebagian orang, harta sering dipahami sebagai sesuatu yang harus terus dikumpulkan dan dijaga untuk diri sendiri. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut kehilangan. Namun beliau memandang berbeda. Harta, menurut beliau, hanyalah titipan Allah yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Karena itulah, ketika Allah memberikan keluasan rezeki, beliau merasa bahwa tanggung jawab untuk membantu sesama juga semakin besar. Beliau memahami bahwa keberhasilan hidup bukan hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil dimiliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang dapat dibagikan. Dari Zakat Yang Beliau Tunaikan, Banyak Pintu Harapan Perlahan Terbuka Ada anak-anak yang kembali bisa melanjutkan sekolahnya. Ada pedagang kecil yang bangkit setelah usahanya hampir berhenti. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan hidup di tengah kesulitan ekonomi. Ada pula mereka yang terbantu biaya pengobatannya ketika sakit datang tanpa diduga. Mungkin beliau tidak pernah bertemu langsung dengan para penerima manfaat itu. Tidak melihat wajah mereka satu per satu. Tidak mendengar sendiri ucapan terima kasih mereka. Namun dari tangan yang memberi dengan ikhlas, Allah menghadirkan begitu banyak senyum dan harapan baru. Inilah Indahnya Menjadi Seorang Muzaki Sering kali kita berpikir bahwa untuk bisa memberi, seseorang harus menunggu kaya raya terlebih dahulu. Padahal kenyataannya, hati yang dermawan tidak selalu menunggu kelimpahan. Justru banyak keberkahan hadir karena seseorang mau berbagi dalam keadaan apa pun. Sosok Muzaki Ini Mengajarkan Satu Hal Penting Kepada Kita: Bahwa kesuksesan sejati adalah ketika kehadiran kita mampu menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi banyak orang. Beliau tidak hanya membangun kehidupan keluarganya sendiri, tetapi juga ikut menguatkan kehidupan orang lain. Dan itulah warisan terbaik yang akan terus hidup, bahkan ketika nama seseorang tidak lagi disebut. Tulisan ini bukan sekadar tentang seseorang yang gemar bersedekah. Ini adalah refleksi bagi kita semua. Tentang bagaimana harta seharusnya tidak hanya berhenti menjadi angka di rekening, tetapi juga menjadi jalan hadirnya manfaat dan keberkahan. Hari ini mungkin kita belum mampu berzakat dalam jumlah besar. Namun kita selalu bisa memulai dari niat yang besar. Sebab setiap kebaikan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tulus dan terus-menerus. Jangan Takut Berkurang Karena Memberi Jangan ragu berbagi karena zakat tidak pernah membuat seseorang miskin. Apa yang keluar dari tangan kita, sesungguhnya sedang Allah simpan menjadi keberkahan hidup yang mungkin tidak selalu terlihat hari ini, tetapi akan terasa pada waktunya. Semoga semakin banyak orang yang meneladani semangat para muzaki yang ikhlas: bekerja keras, hidup sederhana, dan menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi sesama. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan tentang berapa banyak kehidupan yang pernah kita kuatkan melalui titipan rezeki dari Allah. Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd. (Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL08/05/2026 | Humas
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyrik. Lebih dari sekadar penyembelihan hewan, kurban mengandung nilai keikhlasan, ketaatan, serta kepedulian sosial terhadap sesama. Namun, masih banyak umat Islam yang bertanya: apakah hukum kurban bagi yang mampu itu wajib atau hanya sunnah? Pertanyaan ini penting, terutama bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki namun masih ragu untuk melaksanakannya. Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian kurban, dalilnya, hingga perbedaan pendapat ulama terkait hukum kurban bagi yang mampu. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kata kurban berasal dari “qaruba” yang berarti dekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan. Allah SWT berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Dalil Keutamaan Ibadah Kurban Selain Al-Qur’an, terdapat hadis yang menjelaskan keutamaan kurban. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Kurban bagi yang Mampu 1. Pendapat yang Mewajibkan Sebagian ulama berpendapat bahwa kurban wajib bagi muslim yang mampu. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi dan beberapa ulama salaf. Mereka berdalil dengan hadis: “Barang siapa memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Menurut pendapat ini, adanya peringatan keras menunjukkan bahwa kurban bersifat wajib bagi yang memiliki kemampuan. 2. Pendapat Sunnah Muakkad Mayoritas ulama, seperti mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa kurban hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Dalil yang digunakan salah satunya adalah hadis: “Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban…” (HR. Muslim) Kata “ingin” dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban tidak bersifat wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi yang mampu. Mengapa Terjadi Perbedaan Pendapat? Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari kekayaan khazanah fiqih Islam. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam memahami dalil: Sebagian ulama menekankan adanya perintah dan ancaman Sebagian lainnya melihat konteks pilihan serta praktik para sahabat Meski berbeda, para ulama sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan meninggalkannya bagi yang mampu bukanlah hal yang baik. Siapa yang Termasuk Orang Mampu? Dalam konteks hukum kurban bagi yang mampu, seseorang dianggap mampu jika: Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi Tidak sedang dalam beban utang yang memberatkan Mampu membeli hewan kurban tanpa mengganggu kebutuhan keluarga Dengan demikian, kurban tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan sebagai ibadah bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki. Hikmah dan Keutamaan Ibadah Kurban Memahami hukum kurban tidak cukup dari sisi fiqih saja, tetapi juga dari hikmahnya: 1. Wujud Ketaatan kepada Allah Kurban meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah. 2. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan. 3. Menyucikan Harta Kurban menjadi salah satu cara membersihkan dan mensyukuri rezeki. 4. Mendekatkan Diri kepada Allah Ibadah ini menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Konsekuensi Meninggalkan Kurban Bagi yang mampu, meninggalkan kurban memiliki konsekuensi: Menurut pendapat wajib: berdosa jika tidak dilaksanakan Menurut pendapat sunnah: kehilangan pahala besar Walaupun terdapat perbedaan, meninggalkan kurban tanpa alasan tetap dianggap kurang baik oleh para ulama. Tips Melaksanakan Kurban dengan Benar Agar ibadah kurban lebih optimal, perhatikan beberapa hal berikut: Niat yang ikhlas karena Allah SWT Memilih hewan yang sehat dan sesuai syariat Menyembelih pada waktu yang ditentukan Membagikan daging secara adil Menghindari sikap riya Kesimpulan Hukum kurban bagi yang mampu memiliki dua pendapat utama: Wajib menurut mazhab Hanafi Sunnah muakkad menurut mayoritas ulama Meski berbeda pandangan, keduanya sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Sebagai bentuk kehati-hatian dan upaya meraih keutamaan, seorang muslim sebaiknya berusaha melaksanakan kurban ketika memiliki kelapangan rezeki. Sebab, kurban bukan hanya soal hukum, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.*** Sumber: baznas.go.id
ARTIKEL04/05/2026 | Humas
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?
Perkembangan teknologi memudahkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah. Salah satu yang kini banyak diminati masyarakat adalah kurban online. Melalui layanan ini, seseorang dapat membeli hewan kurban, membayar, hingga proses penyembelihan dilakukan oleh lembaga terpercaya tanpa harus hadir langsung. Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana hukum kurban online dalam Islam? Apakah sah dan sesuai syariat? Artikel ini akan membahas secara lengkap hukum kurban online berdasarkan pandangan ulama serta penjelasan dari lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama. Apa Itu Kurban Online? Kurban online adalah layanan pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan secara tidak langsung (daring). Shohibul kurban (orang yang berkurban) mempercayakan proses pembelian, penyembelihan, hingga distribusi daging kepada lembaga atau panitia kurban. Biasanya, prosesnya meliputi: Pemilihan jenis hewan kurban melalui platform digital Pembayaran secara online Penyerahan pelaksanaan kurban kepada pihak penyelenggara Dokumentasi dan laporan kepada pekurban Hukum Kurban Online dalam Islam Secara umum, hukum kurban online adalah sah dan diperbolehkan dalam Islam, selama memenuhi syarat dan rukun kurban. Hal ini karena dalam praktiknya, kurban online menggunakan akad wakalah (perwakilan). Artinya, orang yang berkurban mewakilkan proses penyembelihan kepada pihak lain. Dalam fiqih Islam, wakalah adalah akad yang dibolehkan. Seseorang boleh mewakilkan ibadah tertentu yang bersifat amaliyah (perbuatan), termasuk penyembelihan hewan kurban. Dalil Kebolehan Kurban dengan Wakalah Konsep perwakilan dalam ibadah memiliki dasar dalam praktik Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah pernah mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada sahabat. Selain itu, para ulama juga sepakat bahwa penyembelihan hewan kurban tidak harus dilakukan sendiri oleh shohibul kurban. Yang terpenting adalah: Niat tetap dari orang yang berkurban Proses penyembelihan sesuai syariat Dengan demikian, kurban online yang menggunakan sistem perwakilan hukumnya diperbolehkan. Syarat Sah Kurban Online Agar kurban online sah menurut syariat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Niat dari Shohibul Kurban Niat berkurban tetap harus dilakukan oleh orang yang berkurban, bukan oleh perwakilan. 2. Hewan Memenuhi Syarat Hewan kurban harus sesuai ketentuan syariat, seperti: Sehat dan tidak cacat Cukup umur (misalnya kambing minimal 1 tahun) 3. Penyembelihan Sesuai Syariat Proses penyembelihan harus dilakukan: Pada waktu yang ditentukan (10–13 Dzulhijjah) Oleh penyembelih yang memahami tata cara syar’i 4. Penyaluran Daging Kurban Daging kurban harus didistribusikan kepada yang berhak, terutama fakir miskin. 5. Lembaga Terpercaya Pastikan memilih lembaga resmi dan amanah, seperti BAZNAS atau lembaga yang memiliki izin dan pengawasan. Keunggulan Kurban Online Kurban online hadir sebagai solusi praktis, terutama bagi masyarakat modern. Beberapa keunggulannya antara lain: Mudah dan praktis, tanpa harus datang ke lokasi penyembelihan Lebih tepat sasaran, karena distribusi bisa menjangkau daerah pelosok Transparan, biasanya disertai laporan dan dokumentasi Efisien waktu, cocok untuk masyarakat dengan mobilitas tinggi Hal yang Perlu Diwaspadai Meskipun diperbolehkan, kurban online tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: Hindari lembaga yang tidak jelas kredibilitasnya Pastikan ada laporan pelaksanaan kurban Pilih lembaga yang memiliki legalitas resmi Periksa harga yang wajar dan transparan Kurban Online Menurut BAZNAS dan Kemenag Lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama pada prinsipnya membolehkan kurban online selama memenuhi syariat. BAZNAS bahkan menyediakan layanan kurban yang terkelola secara profesional, mulai dari pemilihan hewan hingga pendistribusian kepada masyarakat yang membutuhkan. Kementerian Agama juga menegaskan bahwa praktik kurban dengan sistem perwakilan diperbolehkan, selama tidak menghilangkan rukun dan ketentuan ibadah kurban. Hukum kurban online dalam Islam adalah sah dan diperbolehkan, karena menggunakan akad wakalah (perwakilan) yang dibenarkan dalam syariat. Namun, keabsahan tersebut bergantung pada terpenuhinya syarat dan rukun kurban, serta amanah dari pihak penyelenggara. Sebagai umat Islam, penting untuk tetap berhati-hati dalam memilih lembaga kurban online agar ibadah yang dilakukan tidak hanya sah, tetapi juga membawa keberkahan. Di era digital ini, kurban online bisa menjadi solusi untuk tetap beribadah dengan mudah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.***
ARTIKEL04/05/2026 | Humas
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah momen untuk merenung: sudahkah pendidikan benar-benar menjadi milik semua anak bangsa? Ataukah ia masih menjadi “kemewahan” bagi sebagian, sementara yang lain hanya bisa memandang dari kejauhan? Di sudut-sudut negeri ini, masih banyak anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan. Mereka ingin belajar, ingin membaca dunia, ingin mengubah nasib. Namun, kemiskinan seringkali memaksa mereka berhenti. Buku diganti beban, sekolah diganti pekerjaan, cita-cita pun perlahan memudar. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya yang paling dalam. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi jalan nyata untuk memutus rantai kemiskinan—terutama melalui pendidikan. Ketika zakat diarahkan untuk beasiswa, perlengkapan sekolah, atau pemberdayaan pendidikan bagi kaum dhuafa, ia tidak hanya membantu satu individu, tetapi mengubah masa depan sebuah generasi. Bayangkan seorang anak dari keluarga fakir yang bisa melanjutkan sekolah karena uluran tangan kita. Hari ini ia menerima, esok ia bisa memberi. Hari ini ia ditolong, esok ia menjadi penolong. Inilah siklus keberkahan yang Allah janjikan. Infak dan sedekah pun demikian. Ia mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama, dampaknya luar biasa. Seribu rupiah yang kita anggap ringan, bisa menjadi bagian dari seragam sekolah, buku pelajaran, atau bahkan membuka jalan bagi seorang anak untuk tetap bertahan di bangku pendidikan. Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi gerakan. Gerakan kepedulian. Gerakan berbagi. Gerakan memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal hanya karena alasan ekonomi. Mari kita ubah cara pandang kita. Zakat bukan sekadar membersihkan harta, tetapi juga menumbuhkan harapan. Infak dan sedekah bukan sekadar memberi, tetapi menghidupkan masa depan. Jika hari ini kita belum bisa membangun sekolah, setidaknya kita bisa membantu satu anak tetap bersekolah. Jika kita belum mampu mengubah sistem, kita bisa menjadi bagian dari solusi. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga—tetapi tanggung jawab kita semua. Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menjadi bagian dari harapan itu?.*** Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.I (Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL02/05/2026 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10–13 Dzulhijjah. Bagi umat Muslim yang mampu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki tujuan mulia yang sarat makna spiritual dan sosial. Ibadah kurban selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, khususnya saat Hari Raya Iduladha tiba. Di balik prosesi penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai-nilai mendalam yang tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak yang memaknai qurban sebatas tradisi tahunan tanpa memahami tujuan utamanya. Padahal, memahami tujuan ibadah qurban sangat penting agar pelaksanaannya tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menjadi bentuk ibadah yang penuh kesadaran dan keikhlasan. Qurban mengajarkan umat Islam tentang arti ketaatan kepada Allah SWT, pengorbanan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Melalui artikel ini, Anda akan diajak mengenal lebih dalam makna dan tujuan ibadah kurban berdasarkan ajaran Islam yang sahih. Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan kurban dengan lebih optimal, sekaligus menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Lalu, apa tujuan ibadah kurban? Artikel ini akan mengulas secara lengkap agar Anda semakin mantap menunaikan kurban di tahun 1447 H/2026. Pengertian Ibadah Kurban Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti “dekat”. Artinya, qurban atau kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta pada waktu tertentu. Ibadah ini meneladani kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang menjadi simbol kepatuhan total kepada perintah Allah SWT. Tujuan Ibadah Kurban dalam Islam Berikut beberapa tujuan utama ibadah kurban yang perlu dipahami: 1. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT Tujuan utama kurban adalah sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini menunjukkan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya. Allah SWT berfirman bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban. 2. Meneladani Keteladanan Nabi Ibrahim AS Kurban mengajarkan nilai pengorbanan dan kepatuhan tanpa syarat. Nabi Ibrahim AS bersedia mengorbankan putranya atas perintah Allah, yang kemudian digantikan dengan hewan sembelihan. Nilai ini menjadi pelajaran penting tentang keimanan, kesabaran, dan keikhlasan. 3. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin. Hal ini menjadikan kurban sebagai sarana berbagi dan mempererat solidaritas sosial. Melalui kurban, kebahagiaan Iduladha dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. 4. Mensucikan Harta Berqurban juga menjadi bentuk penyucian harta. Dengan mengeluarkan sebagian rezeki untuk kepentingan ibadah, seorang Muslim membersihkan hartanya dari sifat kikir dan cinta dunia berlebihan. 5. Menghidupkan Syiar Islam Pelaksanaan kurban secara bersama-sama di masyarakat menjadi simbol syiar Islam yang kuat. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan ketaatan umat kepada Allah SWT. Hikmah dan Keutamaan Berkurban Selain memiliki tujuan yang jelas, kurban juga menyimpan berbagai hikmah, di antaranya: · Menumbuhkan rasa empati terhadap sesama · Melatih keikhlasan dan pengorbanan · Memperkuat ukhuwah Islamiyah · Mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT Siapa yang Dianjurkan Berkurban? Ibadah kurban dianjurkan bagi Muslim yang mampu secara finansial. Kemampuan ini diukur setelah terpenuhinya kebutuhan pokok diri dan keluarga. Ayo Tunaikan Kurban Terbaik Anda di Sleman! Menunaikan kurban kini semakin mudah dan terpercaya. Anda dapat berpartisipasi dalam program kurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman, yang dikelola oleh peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman. Mengapa memilih di sini? · Dikelola secara profesional · Didampingi peternak berpengalaman · Hewan sehat, sesuai syariat · Memberdayakan ekonomi mustahik · Distribusi tepat sasaran Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya beribadah, tetapi juga turut membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak lokal. Tujuan ibadah kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki makna mendalam: mendekatkan diri kepada Allah, meneladani Nabi Ibrahim, serta membangun kepedulian sosial. Mari jadikan momen Iduladha 1447 H/2026 sebagai kesempatan untuk berkurban terbaik dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi sesama. Sumber Referensi 1. BAZNAS RI – https://baznas.go.id 2. Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id
ARTIKEL28/04/2026 | Humas
Apa Larangan Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat
Apa Larangan Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H/2026, umat Islam yang berniat menunaikan ibadah kurban perlu memahami tidak hanya syarat dan tata caranya, tetapi juga larangan yang harus diperhatikan. Hal ini penting agar ibadah kurban yang dilakukan benar-benar sesuai dengan tuntunan syariat dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Lalu, apa larangan orang yang berkurban? Artikel ini akan mengulasnya secara lengkap agar Anda dapat mempersiapkan kurban dengan lebih optimal. Larangan bagi Orang yang Berkurban Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa larangan yang dianjurkan untuk dipatuhi oleh orang yang hendak berkurban, khususnya sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. 1. Tidak Memotong Rambut dan Kuku Salah satu larangan yang paling utama adalah tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang berniat berkurban. Larangan ini berlaku sejak awal bulan Dzulhijjah hingga pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan agar orang yang berqurban menahan diri dari memotong rambut dan kuku sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. 2. Tidak Mengambil Bagian Tubuh Lainnya Selain rambut dan kuku, dianjurkan juga untuk tidak mengambil bagian tubuh lain seperti kulit (misalnya kulit mati yang sengaja dihilangkan) selama periode tersebut, kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan mendesak. 3. Menjaga Niat dan Keikhlasan Meskipun bukan larangan fisik, menjaga niat dari riya (pamer) juga menjadi hal penting. Ibadah qurban harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. 4. Tidak Menjual Bagian dari Hewan Qurban Setelah penyembelihan, bagian dari hewan qurban tidak boleh diperjualbelikan, baik daging, kulit, maupun bagian lainnya. Semua hasil qurban sebaiknya didistribusikan sesuai ketentuan syariat. 5. Tidak Memberikan Upah Jagal dari Daging Kurban Memberikan upah kepada penyembelih (jagal) tidak diperbolehkan berasal dari bagian hewan qurban. Upah harus diberikan dalam bentuk lain di luar daging qurban. Hikmah dari Larangan Berkurban Larangan-larangan ini bukan tanpa tujuan. Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain: Melatih ketaatan terhadap syariat Menumbuhkan kesadaran spiritual Menyerupai sebagian amalan jamaah haji Menjaga kesempurnaan ibadah kurban Siapkan Kurban Terbaik Anda di Sleman Menjalankan ibadah kurban sesuai syariat tentu harus diiringi dengan pemilihan hewan kurban yang sehat dan layak. Untuk itu, Anda dapat mempercayakan kebutuhan qurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman. Hewan kurban di sini berasal dari peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman yang telah mendapatkan pendampingan secara profesional. Proses pemeliharaan dilakukan dengan standar yang baik, didampingi oleh peternak berpengalaman, sehingga kualitas hewan terjaga dan sesuai syariat. Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi para peternak lokal. Kesimpulan Memahami larangan orang yang berkurban merupakan bagian penting dalam menyempurnakan ibadah kurban. Mulai dari tidak memotong rambut dan kuku hingga menjaga keikhlasan, semua bertujuan agar ibadah diterima oleh Allah SWT. Mari sambut Iduladha 1447 H/2026 dengan kurban terbaik, sesuai syariat, dan penuh keberkahan.*** Sumber Referensi BAZNAS RI – https://baznas.go.id Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id
ARTIKEL28/04/2026 | Humas
Syarat Orang yang Berkurban: Panduan Lengkap Sesuai Syariat
Syarat Orang yang Berkurban: Panduan Lengkap Sesuai Syariat
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya pada Hari Raya Iduladha dan hari tasyrik. Namun, tidak semua orang memiliki kewajiban yang sama dalam melaksanakannya. Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar seseorang termasuk kategori yang dianjurkan untuk berkurban. Berikut adalah syarat orang yang berkurban sesuai dengan ketentuan syariat Islam. 1. Beragama Islam Syarat utama orang yang berkurban adalah beragama Islam. Ibadah kurban merupakan bagian dari ibadah dalam syariat Islam, sehingga hanya sah jika dilakukan oleh seorang Muslim. 2. Baligh dan Berakal Orang yang berkurban harus sudah baligh (dewasa) dan memiliki akal sehat. Artinya, ia memahami makna ibadah yang dilakukan serta mampu berniat secara sadar. Meski demikian, dalam praktiknya, orang tua juga diperbolehkan berkurban atas nama anaknya sebagai bentuk pendidikan dan pembiasaan ibadah. 3. Mampu Secara Finansial Kemampuan menjadi syarat penting dalam pelaksanaan kurban. Seseorang dianjurkan berkurban apabila memiliki kelebihan harta setelah mencukupi kebutuhan pokok diri dan keluarganya, seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Dalam hal ini, kurban tidak boleh memberatkan atau memaksakan kondisi keuangan. Jika seseorang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, maka ia tidak termasuk yang dianjurkan berkurban. 4. Bukan Termasuk Orang yang Memiliki Tanggungan Utang Mendesak Dalam penjelasan fikih yang dirujuk oleh Kementerian Agama, seseorang yang memiliki utang dan harus segera dilunasi sebaiknya mendahulukan kewajiban tersebut dibandingkan berkurban. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prioritas dalam pengelolaan keuangan, di mana kewajiban harus didahulukan daripada amalan sunnah. 5. Merdeka (Menurut Sebagian Pendapat Ulama) Dalam literatur fikih klasik, disebutkan bahwa syarat berkurban adalah merdeka (bukan hamba sahaya). Meskipun konteks ini sudah tidak relevan dalam kehidupan modern, poin ini tetap menjadi bagian dari pembahasan hukum dalam kitab-kitab fikih. 6. Tidak Sedang dalam Kondisi yang Menghalangi (Uzur) Meskipun tidak menjadi syarat mutlak, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang sedang dalam kondisi tertentu seperti sakit berat atau tidak mampu secara fisik dapat menunda atau tidak melaksanakan kurban. Namun, jika secara finansial mampu, pelaksanaan kurban tetap bisa diwakilkan kepada orang lain atau melalui lembaga resmi seperti BAZNAS. Hukum Berkurban bagi yang Memenuhi Syarat Bagi orang yang telah memenuhi syarat di atas, hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan, dalam beberapa pendapat ulama, kurban bisa menjadi wajib bagi yang benar-benar mampu. Hal ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan penting dalam Islam, baik sebagai ibadah individual maupun sosial. Hikmah Memenuhi Syarat dalam Berkurban Memahami syarat orang yang berkurban memiliki beberapa manfaat, antara lain: - Membantu umat Islam melaksanakan ibadah secara tepat sesuai syariat - Menghindari pemaksaan diri dalam beribadah - Menanamkan kesadaran bahwa Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan - Mendorong pengelolaan keuangan yang bijak Syarat orang yang berkurban dalam Islam meliputi beragama Islam, baligh dan berakal, serta mampu secara finansial tanpa mengabaikan kebutuhan pokok dan kewajiban lainnya. Dengan memahami syarat ini, umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban secara tepat, penuh kesadaran, dan sesuai tuntunan syariat. Diharapkan masyarakat semakin paham bahwa kurban bukan hanya tentang kemampuan membeli hewan, tetapi juga tentang kesiapan secara spiritual dan tanggung jawab dalam beribadah.***
ARTIKEL27/04/2026 | Humas
Apa Itu Kurban? Ini Pengertian, Dasar Hukum, dan Syarat Sahnya
Apa Itu Kurban? Ini Pengertian, Dasar Hukum, dan Syarat Sahnya
Apa yang Dimaksud dengan Kurban? Kurban adalah ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak tertentu pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pada Hari Raya Iduladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Ibadah ini merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian sosial dengan berbagi kepada sesama. Kurban tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai simbol pengorbanan, keikhlasan, serta ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya kemudian diganti oleh Allah dengan seekor hewan sembelihan, yang menjadi dasar disyariatkannya kurban hingga saat ini. Dasar Hukum Kurban Hukum kurban dalam Islam adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh BAZNAS RI dan Kementerian Agama RI berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis. 1. Dalil dari Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat ini menjadi landasan utama perintah berkurban sebagai bentuk ibadah kepada Allah. 2. Dalil dari Hadist Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah kurban bagi umat Islam yang mampu secara finansial. Syarat Orang yang Berkurban Agar ibadah kurban sah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang melaksanakannya: 1. Beragama Islam Kurban hanya sah dilakukan oleh seorang Muslim. 2. Baligh dan berakal Orang yang berkurban harus sudah dewasa dan memiliki akal sehat. 3. Mampu secara finansial T Tidak sedang dalam kondisi kekurangan, serta memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi. 4. Bukan musafir (menurut sebagian ulama) Dianjurkan bagi yang menetap, meskipun sebagian pendapat membolehkan bagi musafir. Syarat Hewan Kurban Selain syarat bagi pelaku, hewan kurban juga harus memenuhi ketentuan tertentu agar sah: 1. Jenis hewan ternak Hewan yang diperbolehkan adalah kambing, domba, sapi, atau unta. 2. Cukup umur - Kambing/domba: minimal 1 tahun (atau domba 6 bulan yang sudah tampak dewasa) - Sapi: minimal 2 tahun - Unta: minimal 5 tahun 3. Sehat dan tidak cacat Hewan tidak boleh buta, pincang, kurus ekstrem, atau memiliki penyakit serius. 4. Disembelih pada waktu yang ditentukan Yaitu setelah salat Iduladha hingga akhir hari tasyrik. Hikmah dan Keutamaan Kurban Ibadah kurban memiliki banyak hikmah yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga masyarakat luas: - Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT - Menumbuhkan rasa empati dan solidaritas social - Membantu masyarakat yang membutuhkan - Menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat Bahwa kurban merupakan salah satu cara efektif dalam mendistribusikan manfaat kepada masyarakat luas, terutama bagi mereka yang jarang mengonsumsi daging. Kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ibadah yang sarat makna spiritual dan sosial. Dengan memahami pengertian, dasar hukum, serta syarat-syaratnya, diharapkan umat Islam dapat melaksanakan ibadah kurban dengan benar dan penuh kesadaran. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya kurban sebagai bentuk ketaatan sekaligus kepedulian terhadap sesama.***
ARTIKEL24/04/2026 | Humas
5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah yang Wajib Dipahami Umat Muslim
5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah yang Wajib Dipahami Umat Muslim
Masih bingung perbedaan zakat, infak, dan sedekah? Simak penjelasan lengkap mulai dari pengertian, hukum, hingga contoh penerapannya di sini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah zakat, infak, dan sedekah sering digunakan secara bergantian. Padahal, ketiganya memiliki makna, hukum, dan ketentuan yang berbeda dalam Islam. Memahami perbedaan zakat infak sedekah sangat penting agar ibadah yang kita lakukan sesuai dengan syariat dan memberikan manfaat maksimal bagi sesama. Pengertian Zakat, Infak, dan Sedekah 1. Pengertian Zakat Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim apabila telah memenuhi syarat tertentu, seperti mencapai nisab dan haul. Zakat termasuk rukun Islam dan memiliki ketentuan yang jelas terkait jumlah serta siapa saja yang berhak menerimanya. 2. Pengertian Infak Infak adalah pengeluaran harta yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan yang dianjurkan dalam Islam, tanpa batasan jumlah tertentu. Infak bisa dilakukan kapan saja, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. 3. Pengertian Sedekah Sedekah memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya berupa harta, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan, seperti senyum, tenaga, hingga bantuan non-materi lainnya. 5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah Berikut adalah perbedaan utama yang perlu dipahami: 1. Hukum Pelaksanaan Zakat: Wajib bagi yang memenuhi syarat Infak: Sunnah (dianjurkan) Sedekah: Sunnah (lebih luas bentuknya) 2. Ketentuan dan Batasan Zakat: Memiliki nisab dan haul Infak: Tidak memiliki batasan tertentu Sedekah: Tidak dibatasi, bahkan bisa non-materi 3. Penerima Manfaat Zakat: Hanya untuk 8 golongan (asnaf) Infak: Lebih fleksibel Sedekah: Bisa diberikan kepada siapa saja 4. Waktu Pelaksanaan Zakat: Pada waktu tertentu (misalnya zakat fitrah saat Ramadan) Infak: Kapan saja Sedekah: Kapan saja dan dalam kondisi apa pun 5. Bentuk Pemberian Zakat: Harus berupa harta tertentu Infak: Umumnya berupa harta Sedekah: Bisa berupa harta maupun non-harta Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapannya: Zakat: Membayar zakat mal atau zakat fitrah melalui lembaga resmi Infak: Menyumbang untuk pembangunan masjid atau kegiatan sosial Sedekah: Memberikan makanan kepada tetangga atau membantu orang lain Peran BAZNAS dalam Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah Sebagai lembaga resmi pemerintah, BAZNAS Kabupaten Sleman memiliki peran penting dalam mengelola dana zakat, infak, dan sedekah secara profesional dan amanah. Beberapa peran utama BAZNAS antara lain: Menghimpun dana dari masyarakat (muzaki) Menyalurkan kepada yang berhak (mustahik) Menjalankan program pemberdayaan ekonomi Menjamin transparansi dan akuntabilitas Dengan menyalurkan melalui BAZNAS, dana yang Anda berikan dapat lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan umat. Memahami pengertian zakat serta perbedaan zakat, infak, dan sedekah membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih tepat dan maksimal. Zakat bersifat wajib dengan aturan khusus, sementara infak dan sedekah bersifat sunnah dengan cakupan yang lebih luas. Ketiganya memiliki peran penting dalam membangun kepedulian sosial dan kesejahteraan masyarakat. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Salurkan kebaikan Anda hari ini dan jadilah bagian dari perubahan untuk umat yang lebih sejahtera.***
ARTIKEL14/04/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Amalan Ringan dengan Pahala Berlipat
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Amalan Ringan dengan Pahala Berlipat
Sedekah Syawal memiliki keutamaan besar sebagai amalan setelah Ramadan. Simak dalil, manfaat, dan inspirasi sedekah agar pahala terus mengalir. Setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan, banyak umat Muslim mengalami penurunan semangat dalam beribadah. Padahal, bulan Syawal justru menjadi momentum penting untuk menjaga konsistensi amal kebaikan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah sedekah Syawal. Meski terkesan sederhana, sedekah memiliki keutamaan besar, bahkan mampu mendatangkan pahala berlipat dan keberkahan dalam kehidupan. Dalil Keutamaan Sedekah dalam Islam Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji…” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menjelaskan bahwa pahala sedekah akan dilipatgandakan berkali-kali lipat. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa sedekah bukanlah kerugian, melainkan investasi kebaikan yang akan diganti dengan keberkahan oleh Allah SWT. Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal Berdasarkan rujukan dari BAZNAS RI, sedekah di bulan Syawal memiliki nilai istimewa, di antaranya: 1. Tanda Konsistensi Ibadah Melanjutkan kebiasaan baik setelah Ramadan adalah tanda diterimanya amal ibadah. Sedekah Syawal menjadi bukti bahwa semangat berbagi tetap terjaga. 2. Pahala Tetap Berlipat Meskipun Ramadan telah berakhir, pahala sedekah tetap besar dan terus mengalir, terlebih jika dilakukan dengan ikhlas. 3. Menghapus Dosa Sedekah dapat menjadi sarana penghapus dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadis bahwa sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api. 4. Membuka Pintu Rezeki Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi sebab datangnya rezeki yang lebih luas dan berkah. Manfaat Sedekah: Sosial dan Spiritual 1. Manfaat Spiritual Mendekatkan diri kepada Allah SWT Menumbuhkan rasa syukur Membersihkan hati dari sifat kikir Sedekah juga melatih keikhlasan dan menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. 2. Manfaat Sosial Membantu masyarakat yang membutuhkan Mengurangi kesenjangan sosial Memperkuat ukhuwah Islamiyah Dalam konteks pasca Idulfitri, sedekah sangat relevan untuk membantu mereka yang masih mengalami kesulitan ekonomi setelah Ramadan. Kisah Inspiratif: Sedekah Membawa Keberkahan Banyak kisah nyata menunjukkan bahwa orang yang gemar bersedekah mendapatkan kemudahan dalam hidupnya. BAZNAS menyebutkan bahwa sedekah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga membawa keberkahan bagi pemberinya, bahkan bisa menjadi sebab datangnya rezeki yang tidak terduga. Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun sedekah yang diberikan, tetap memiliki dampak besar jika dilakukan dengan ikhlas. Sedekah Syawal sebagai Amalan Setelah Ramadan Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk menjaga ritme ibadah. Jangan sampai semangat berbagi hanya berhenti di bulan Ramadan. Melalui sedekah Syawal, kita bisa: - Menjaga konsistensi ibadah - Melanjutkan kebiasaan baik - Menguatkan kepedulian sosial BAZNAS juga mengajak masyarakat untuk menjadikan sedekah sebagai amalan rutin, bukan hanya musiman. Memahami keutamaan sedekah di bulan Syawal membantu kita untuk tetap istiqamah dalam berbuat kebaikan setelah Ramadan. Sedekah bukan hanya amalan ringan, tetapi juga memiliki dampak besar, baik secara spiritual maupun sosial. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membuka pintu keberkahan dalam hidup. Mari lanjutkan semangat Ramadan dengan sedekah Syawal melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. ???? Salurkan sedekah terbaik Anda hari ini ???? Jadikan berbagi sebagai kebiasaan ???? Bersama, kita wujudkan kesejahteraan umat
ARTIKEL14/04/2026 | Humas
Tunaikan Zakat Mal dan Sedekah Jariyah, Ikhtiar Menjaga Rezeki Tetap Berkah
Tunaikan Zakat Mal dan Sedekah Jariyah, Ikhtiar Menjaga Rezeki Tetap Berkah
Zakat mal dan sedekah jariyah bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga ikhtiar spiritual untuk menjaga keberkahan harta. Dalam Islam, harta yang dimiliki manusia sejatinya adalah titipan yang harus dikelola dengan amanah dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Memasuki kuartal kedua tahun 2026, banyak umat Islam mulai menata kembali kondisi keuangan setelah Ramadan dan Idulfitri. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat komitmen menunaikan zakat mal dan memperbanyak sedekah jariyah sebagai langkah menjaga kestabilan rezeki. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka...” (QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana membersihkan harta dan jiwa. Sementara itu, sedekah jariyah menjadi amalan yang pahalanya terus mengalir meski seseorang telah wafat. Memahami Zakat Mal dan Sedekah Jariyah 1. Pengertian Zakat Mal Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta tertentu yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Kewajiban ini berlaku atas berbagai jenis harta, seperti: · Emas dan perak · Tabungan serta investasi · Hasil usaha atau perdagangan · Properti yang menghasilkan Secara umum, zakat mal ditunaikan sebesar 2,5 persen dari total harta yang telah memenuhi ketentuan. 2. Pengertian Sedekah Jariyah Sedekah jariyah adalah amalan yang manfaat dan pahalanya terus mengalir dalam jangka panjang. Bentuknya bisa berupa: · Pembangunan masjid · Wakaf sumur atau sarana air bersih · Bantuan pendidikan · Penanaman pohon Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) Karena itu, zakat mal dan sedekah jariyah menjadi kombinasi ibadah yang saling melengkapi: memberi manfaat langsung hari ini sekaligus menjadi bekal pahala jangka panjang. Manfaat Zakat Mal dan Sedekah Jariyah untuk Keberkahan Rezeki 1. Membersihkan Harta dan Menambah Keberkahan Zakat mal membantu membersihkan harta dari hak orang lain, sekaligus menyucikan jiwa dari sifat kikir. Sedekah jariyah pun menjadi jalan memperluas manfaat harta agar lebih bernilai di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim) Secara lahiriah mungkin terlihat berkurang, namun secara spiritual justru mendatangkan keberkahan. 2. Membuka Pintu Rezeki dari Arah Tak Terduga Banyak orang merasakan bahwa kebiasaan berzakat dan bersedekah justru menghadirkan ketenangan hati serta jalan kemudahan dalam hidup. Allah SWT berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3) Ayat ini menjadi penguat bahwa ketaatan dapat menjadi sebab datangnya pertolongan dan kelapangan rezeki. 3. Menjadi Investasi Akhirat yang Tidak Pernah Rugi Berbeda dengan investasi dunia yang penuh risiko, zakat mal dan sedekah jariyah adalah investasi akhirat yang nilainya kekal. Setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan dibalas dengan pahala berlipat. Strategi Mengoptimalkan Zakat Mal dan Sedekah Jariyah di Kuartal Kedua 2026 1. Evaluasi Keuangan Pasca Lebaran Setelah Idulfitri, luangkan waktu untuk meninjau kembali kondisi keuangan dengan cara: · Menghitung total aset yang dimiliki · Mengidentifikasi harta yang wajib dizakati · Menyusun ulang anggaran bulanan Langkah ini membantu agar zakat mal dan sedekah jariyah dapat direncanakan secara tepat. 2. Tetapkan Target Sedekah Jariyah Selain menunaikan zakat, penting juga membuat target amal jariyah secara rutin, misalnya: · Menjadi donatur tetap masjid · Mengikuti program wakaf produktif · Membantu biaya pendidikan anak yatim dan dhuafa Konsistensi dalam berbagi akan memperkuat kepedulian sosial dan keimanan. 3. Salurkan Melalui Lembaga Terpercaya Agar dana yang disalurkan tepat sasaran, pastikan zakat dan sedekah diberikan melalui lembaga resmi dan amanah, seperti: · BAZNAS · LAZ terpercaya · Program sosial masjid Penyaluran melalui lembaga terpercaya membantu memastikan manfaatnya dirasakan oleh yang berhak. 4. Jaga Keikhlasan dan Konsistensi Kunci utama keberhasilan zakat mal dan sedekah jariyah adalah niat yang ikhlas karena Allah SWT. Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena justru berbagi adalah jalan menuju keberkahan. Dampak Sosial Zakat Mal dan Sedekah Jariyah Selain bermanfaat bagi pribadi, zakat mal dan sedekah jariyah juga memberi dampak luas bagi masyarakat. 1. Membantu Mengurangi Kemiskinan Zakat membantu mustahik memenuhi kebutuhan pokok dan meningkatkan kualitas hidup. 2. Mendorong Kesejahteraan Umat Sedekah jariyah dalam bentuk fasilitas umum, pendidikan, dan layanan sosial akan terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 3. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Budaya berbagi menumbuhkan rasa peduli, memperkuat persaudaraan, dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung. Kesalahan yang Perlu Dihindari Agar manfaat zakat mal dan sedekah jariyah lebih optimal, hindari hal berikut: · Menunda pembayaran zakat · Salah menghitung nisab dan haul · Bersedekah karena riya · Tidak konsisten dalam berbagi Kesalahan tersebut dapat mengurangi keberkahan bahkan mengurangi nilai pahala. Penutup: Jadikan Zakat dan Sedekah sebagai Investasi Langit Zakat mal dan sedekah jariyah bukan hanya kewajiban dan amalan sunnah, tetapi juga bagian dari strategi hidup seorang muslim untuk menjaga ketenangan hati, keberkahan harta, dan masa depan akhirat. Di tengah tantangan ekonomi pada kuartal kedua 2026, menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah jariyah adalah langkah nyata untuk menjaga rezeki tetap bersih, berkah, dan bermanfaat. Mari tunaikan zakat mal dan salurkan sedekah jariyah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Dengan zakat dan sedekah yang Anda titipkan, kita bisa membantu lebih banyak saudara yang membutuhkan dan menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi umat. Tunaikan zakat dan sedekah terbaik Anda sekarang melalui layanan resmi BAZNAS Kabupaten Sleman.***
ARTIKEL10/04/2026 | Humas
Cara Membayar Fidyah atau Qadha Puasa di Bulan Syawal: Panduan Lengkap & Hukumnya
Cara Membayar Fidyah atau Qadha Puasa di Bulan Syawal: Panduan Lengkap & Hukumnya
Setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan dan merayakan Idul Fitri, masih ada sebagian umat Muslim yang memiliki tanggungan puasa. Kewajiban ini bisa berupa qadha puasa maupun pembayaran fidyah, tergantung pada kondisi masing-masing. Lalu, bagaimana cara membayar fidyah atau mengganti puasa (qadha) yang benar sesuai syariat? Memahami hal ini penting agar ibadah tetap sempurna dan diterima oleh Allah SWT. Islam sendiri memberikan kemudahan bagi umatnya dalam menyelesaikan kewajiban tersebut. Melalui qadha atau fidyah, setiap Muslim tetap memiliki kesempatan untuk menunaikan tanggungan puasanya dengan cara yang sesuai. Perbedaan Fidyah dan Qadha Puasa Sebelum melaksanakan kewajiban, penting untuk memahami perbedaan antara fidyah dan qadha puasa. Pertama, qadha puasa diwajibkan bagi mereka yang masih mampu berpuasa, seperti orang yang sakit sementara atau wanita yang sedang haid. Penggantiannya dilakukan dengan berpuasa di hari lain sesuai jumlah hari yang ditinggalkan. Sementara itu, fidyah diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia atau penderita penyakit kronis. Bentuknya adalah memberi makan fakir miskin. Kedua, qadha dilakukan dengan mengganti puasa hari per hari, sedangkan fidyah dibayarkan dalam bentuk makanan, umumnya satu porsi untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Ketiga, tidak semua orang dapat memilih antara fidyah atau qadha. Penentuan kewajiban harus disesuaikan dengan kondisi dan ketentuan syariat. Keempat, dalam kasus ibu hamil atau menyusui, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu, dianjurkan untuk mengikuti pendapat yang diyakini atau berkonsultasi dengan ahli agama. Memahami perbedaan ini membantu memastikan ibadah yang dilakukan sudah tepat dan sah. Cara Membayar Fidyah dan Qadha Puasa di Bulan Syawal Bulan Syawal menjadi waktu yang tepat untuk mulai melunasi kewajiban puasa yang tertunda. Untuk qadha puasa, Anda dapat mulai berpuasa setelah Idul Fitri. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan hingga jumlah hari yang ditinggalkan terpenuhi. Sedangkan fidyah dapat dibayarkan dengan memberikan makanan pokok atau makanan siap saji kepada fakir miskin. Umumnya, jumlahnya setara satu porsi makanan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Selain itu, fidyah juga dapat disalurkan melalui lembaga amil zakat terpercaya. Cara ini lebih praktis dan memastikan bantuan sampai kepada yang berhak. Agar tidak menumpuk, sebaiknya kewajiban ini segera ditunaikan tanpa menunda terlalu lama. Jangan lupa untuk meluruskan niat, karena niat menjadi bagian penting dalam setiap ibadah. Hukum Menunda Qadha dan Fidyah Menunda qadha atau fidyah hingga melewati Ramadan berikutnya menjadi pertanyaan yang sering muncul. Dalam Islam, menunda tanpa alasan yang dibenarkan tidak dianjurkan. Bahkan, sebagian ulama berpendapat hal tersebut dapat menjadi dosa. Jika penundaan dilakukan tanpa uzur hingga masuk Ramadan berikutnya, maka selain wajib mengqadha puasa, sebagian ulama juga mewajibkan pembayaran fidyah sebagai denda. Namun, bagi yang memiliki alasan syar’i seperti sakit berkepanjangan, penundaan masih dapat dimaklumi sesuai kondisi. Agar tidak terlupa, penting untuk mencatat jumlah hari puasa yang belum ditunaikan. Keutamaan Menyegerakan Qadha dan Fidyah Menyegerakan kewajiban ibadah memiliki banyak keutamaan. Melaksanakan qadha atau fidyah lebih awal menunjukkan ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Selain itu, hati menjadi lebih tenang karena tidak lagi memiliki tanggungan ibadah. Bulan Syawal juga merupakan waktu yang penuh keberkahan, sehingga menjadi momentum yang tepat untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Di sisi lain, menyegerakan ibadah juga mencerminkan sikap disiplin dan tanggung jawab sebagai seorang Muslim, serta menghindarkan dari risiko lupa. Tips Agar Tidak Menunda Qadha dan Fidyah Agar lebih konsisten dalam menunaikan kewajiban ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Mulailah dengan membuat jadwal khusus untuk qadha puasa, misalnya menentukan hari-hari tertentu. Kemudian, tanamkan niat bahwa ini adalah kewajiban yang harus diselesaikan. Melibatkan keluarga atau teman juga dapat membantu saling mengingatkan. Selain itu, manfaatkan layanan digital atau lembaga zakat untuk mempermudah pembayaran fidyah. Terakhir, jangan lupa berdoa agar diberikan kemudahan dalam menunaikan kewajiban hingga tuntas. Melunasi fidyah atau qadha puasa merupakan bagian penting dalam menyempurnakan ibadah setelah Ramadan. Jangan sampai kewajiban ini terus tertunda hingga menjadi beban di kemudian hari. Dengan memahami cara, hukum, dan keutamaannya, kita dapat menjalankannya dengan lebih ringan dan penuh kesadaran. Jadikan bulan Syawal sebagai momentum untuk menyelesaikan tanggungan ibadah dengan segera. Semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah kita dalam menunaikan kewajiban ini dan menerima seluruh amal ibadah yang dilakukan. Jangan tunda lagi pembayaran fidyah Anda. Di bulan Syawal yang penuh berkah ini, tunaikan fidyah dengan mudah dan aman melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Selain menyempurnakan ibadah, fidyah yang Anda bayarkan akan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Yuk, segera tunaikan fidyah serta sempurnakan amal dengan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sekarang juga!
ARTIKEL08/04/2026 | Humas
Siapa Itu Mustahik? Pengertian dan 8 Golongan Penerima Zakat dalam Islam
Siapa Itu Mustahik? Pengertian dan 8 Golongan Penerima Zakat dalam Islam
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. Melalui zakat, harta yang dimiliki seorang muslim tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga sarana membantu sesama yang membutuhkan. Namun, zakat tidak boleh disalurkan secara sembarangan. Islam telah mengatur dengan jelas siapa saja yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami siapa itu mustahik agar zakat tersalurkan secara tepat dan sesuai syariat. Pengertian Mustahik dalam Islam Secara bahasa, mustahik berasal dari kata istahaqqa yang berarti berhak atau layak menerima sesuatu. Dalam konteks zakat, mustahik adalah individu atau kelompok yang berhak menerima zakat sesuai ketentuan dalam Islam. Memahami mustahik menjadi hal penting karena zakat adalah amanah. Penyaluran yang tidak tepat dapat mengurangi nilai ibadah itu sendiri. Dengan pemahaman yang benar, zakat dapat memberikan manfaat maksimal bagi penerima dan keberkahan bagi pemberi. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan…” (QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menjadi dasar utama dalam menentukan golongan mustahik penerima zakat. Pentingnya Memahami Mustahik Mengetahui siapa itu mustahik tidak hanya penting secara agama, tetapi juga berdampak luas dalam kehidupan sosial. Zakat yang disalurkan kepada pihak yang tepat dapat: · Mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial · Membantu masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi · Meningkatkan kesejahteraan umat · Memperkuat ukhuwah Islamiyah · Mendorong pemerataan ekonomi Dengan demikian, zakat menjadi instrumen nyata dalam membangun keadilan sosial sesuai ajaran Islam. 8 Golongan Mustahik Penerima Zakat Islam telah menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat. Berikut penjelasan lengkapnya: 1. Fakir Fakir adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mereka menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat. 2. Miskin Miskin adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara layak. 3. Amil Zakat Amil zakat adalah pihak yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan hingga pendistribusian. Mereka berhak menerima bagian sebagai imbalan atas tugas tersebut. 4. Muallaf Muallaf adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang perlu dikuatkan keimanannya. Zakat diberikan untuk membantu mereka beradaptasi dan memperkuat keyakinan. 5. Riqab (Memerdekakan Budak) Riqab merujuk pada budak yang ingin memerdekakan diri. Dalam konteks modern, golongan ini juga mencakup upaya membebaskan individu dari penindasan, seperti korban perdagangan manusia. 6. Gharimin (Orang Berutang) Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan mendesak dan tidak mampu melunasinya, selama utang tersebut bukan untuk hal yang dilarang. 7. Fi Sabilillah Fi sabilillah mencakup segala aktivitas di jalan Allah yang bertujuan untuk kemaslahatan umat, seperti dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan. 8. Ibnu Sabil Ibnu sabil adalah musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan, sehingga membutuhkan bantuan untuk melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat asal. Penutup Memahami siapa itu mustahik merupakan bagian penting dalam menunaikan zakat secara benar dan sempurna. Delapan golongan penerima zakat yang telah ditetapkan dalam Islam mencerminkan nilai keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Ketika zakat disalurkan kepada pihak yang tepat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mustahik, tetapi juga oleh muzaki. Harta menjadi lebih berkah, hati menjadi lebih tenang, dan kehidupan sosial menjadi lebih harmonis. Oleh karena itu, pemahaman tentang mustahik bukan sekadar pengetahuan, tetapi langkah nyata dalam mewujudkan kesejahteraan dan solidaritas umat.***
ARTIKEL07/04/2026 | Humas
Siapa Itu Muzaki? Mengenal Kriteria Orang yang Wajib Berzakat
Siapa Itu Muzaki? Mengenal Kriteria Orang yang Wajib Berzakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang krusial dalam menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. Lebih dari sekadar ibadah ritual kepada Allah SWT, zakat adalah wujud nyata kepedulian sosial terhadap sesama. Seseorang yang memiliki kewajiban menunaikan zakat disebut dengan muzaki. Memahami kriteria seorang muzaki sangatlah penting bagi setiap Muslim. Dengan mengenali status ini, Anda dapat menjalankan kewajiban agama dengan tepat, sekaligus memastikan harta yang dimiliki menjadi lebih bersih dan berkah. Apa Itu Muzaki? Secara bahasa, muzaki berasal dari akar kata “Zakat” yang berarti suci, tumbuh, dan berkah. Dalam perspektif syariat, muzaki adalah seorang Muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga wajib mengeluarkan zakat atas harta yang dimilikinya. Peran muzaki sangat vital dalam sistem ekonomi Islam. Melalui zakat yang disalurkan, kesenjangan ekonomi dapat diminimalisir dan kesejahteraan umat dapat terjaga. Oleh karena itu, status sebagai muzaki bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga cerminan kesadaran spiritual dan sosial seseorang. Dasar Hukum Kewajiban Zakat Kewajiban zakat telah ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat…” (QS. Al-Baqarah: 43) Ayat ini menempatkan zakat sejajar dengan salat sebagai pilar utama umat Islam. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima perkara, dan menunaikan zakat adalah salah satunya. Hal ini menjadi pengingat bagi setiap muzaki untuk tidak menunda atau mengabaikan kewajiban ini. 5 Kriteria Utama Seseorang Menjadi Muzaki Tidak semua Muslim otomatis berstatus sebagai muzaki. Terdapat syarat-syarat syar'i yang harus terpenuhi agar seseorang diwajibkan berzakat. Berikut adalah kriteria utamanya: 1. Beragama Islam: Zakat adalah ibadah wajib khusus bagi pemeluk agama Islam. 2. Merdeka & Kepemilikan Penuh: Harta harus berada di bawah kendali penuh pemiliknya. Harta yang masih dalam sengketa atau bukan milik pribadi tidak dihitung dalam zakat. 3. Mencapai Nisab: Harta telah mencapai batas minimal yang diwajibkan zakat (seperti 85 gram emas atau 653 kg gabah kering untuk pertanian). 4. Mencapai Haul: Kepemilikan harta telah berlangsung selama satu tahun Hijriyah (berlaku untuk emas, tabungan, dan perdagangan). Namun, zakat pertanian, hasil tambang, dan harta temuan tidak mensyaratkan haul. 5. Harta Produktif: Harta tersebut berkembang atau memiliki potensi untuk berkembang, seperti tabungan, investasi, emas, dan hasil tani. Ragam Jenis Harta yang Dikenai Zakat Dalam kehidupan modern, bentuk harta muzaki semakin beragam. Beberapa jenis harta yang mewajibkan seseorang membayar zakat antara lain: · Zakat Penghasilan: Berlaku untuk gaji atau honorarium yang mencapai nisab 85 gram emas per tahun. · Zakat Perdagangan: Dihitung dari modal usaha dan keuntungan bersih. · Zakat Pertanian: Dikeluarkan saat panen dengan kadar 5% atau 10% sesuai sistem pengairan. · Zakat Emas & Tabungan: Dikenakan zakat sebesar 2,5% jika telah memenuhi nisab dan haul. · Zakat Investasi: Mencakup keuntungan dari properti, saham, atau aset produktif lainnya. Perbedaan Muzaki dan Mustahik Agar zakat tepat sasaran, Anda wajib membedakan dua istilah ini: · Muzaki: Orang yang wajib mengeluarkan zakat karena hartanya memenuhi syarat. · Mustahik: Delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana diatur dalam QS. At-Taubah ayat 60, seperti fakir, miskin, dan amil zakat. Kesimpulan Menjadi muzaki adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Memahami kriteria muzaki bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif, melainkan bentuk ketaatan penuh kepada Allah SWT. Dengan menunaikan zakat, harta Anda akan lebih bersih, berkah, dan memberikan manfaat bagi keadilan sosial. Mari kenali peran Anda sebagai muzaki dan tunaikan zakat secara tepat waktu serta tepat sasaran untuk menebar kemaslahatan bagi sesama. Apakah Anda merasa sudah memenuhi kriteria sebagai muzaki dan membutuhkan panduan lebih lanjut mengenai cara menghitung zakat harta Anda? Jadikan Harta Lebih Berkah dengan ZIS di BAZNAS Sleman Tunaikan kewajiban zakat dan salurkan infak maupun sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Bersama kita wujudkan kesejahteraan umat dan meringankan beban sesama di wilayah Sleman. Klik di sini untuk menunaikan zakat sekarang: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat
ARTIKEL06/04/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah Subuh: Dalil, Manfaat, dan Hikmah yang Perlu Diketahui
Keutamaan Sedekah Subuh: Dalil, Manfaat, dan Hikmah yang Perlu Diketahui
Sedekah Subuh adalah amalan berbagi yang dilakukan pada waktu pagi, khususnya setelah salat Subuh. Dalam Islam, sedekah tidak hanya terbatas pada pemberian harta, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan seperti tenaga, pikiran, hingga senyuman. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menegaskan bahwa sedekah memiliki balasan yang berlipat ganda, terlebih jika dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan seperti Subuh. Dalil Keutamaan Sedekah Subuh Keutamaan sedekah Subuh memiliki landasan kuat dalam hadis Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda: “Setiap pagi hari dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.’” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa waktu pagi adalah momen istimewa, di mana malaikat mendoakan kebaikan bagi orang yang gemar bersedekah. Mengapa Waktu Subuh Istimewa? Waktu Subuh dikenal sebagai awal aktivitas manusia dan termasuk waktu yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Melakukan sedekah di waktu ini diharapkan membawa keberkahan dalam rezeki, aktivitas, dan kehidupan sepanjang hari. Keutamaan Sedekah Subuh dalam Kehidupan Berikut beberapa manfaat dan keutamaan sedekah Subuh yang dapat dirasakan: 1. Mendapat Doa Malaikat Orang yang bersedekah di pagi hari akan didoakan langsung oleh malaikat. Doa ini sangat istimewa karena berasal dari makhluk yang selalu taat kepada Allah. 2. Membuka Pintu Rezeki Allah SWT berjanji akan mengganti setiap harta yang disedekahkan: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39) Penggantian ini bisa berupa materi, kesehatan, kemudahan urusan, maupun perlindungan dari kesulitan. 3. Membersihkan Hati Sedekah membantu menghilangkan sifat kikir dan cinta berlebihan terhadap dunia, serta menumbuhkan empati kepada sesama. 4. Mengawali Hari dengan Amal Kebaikan Memulai hari dengan sedekah memberikan energi positif dan ketenangan batin dalam menjalani aktivitas. 5. Menolak Musibah Para ulama menjelaskan bahwa sedekah dapat menjadi sebab tertolaknya bala atau musibah yang tidak terlihat. Sedekah Subuh di Era Digital Saat ini, sedekah Subuh semakin mudah dilakukan. Berbagai platform digital dan lembaga amil zakat menyediakan layanan donasi online, bahkan fitur sedekah otomatis setiap pagi. Salah satunya adalah BAZNAS Kabupaten Sleman yang menghadirkan berbagai program penyaluran di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat. Dengan bersedekah melalui lembaga terpercaya, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Pentingnya Niat dan Keikhlasan Keutamaan sedekah Subuh akan lebih sempurna jika dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Sedekah sebaiknya tidak dilakukan untuk pamer atau mencari pujian. Namun, berbagi kebaikan di ruang publik tetap diperbolehkan selama bertujuan untuk menginspirasi orang lain dan tetap menjaga keikhlasan. Kunci Utama: Konsistensi dalam Bersedekah Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu kaya untuk memulai sedekah Subuh. Mulailah dari nominal ringan, tetapi dilakukan secara istiqamah. Kebiasaan kecil ini akan membentuk karakter dermawan dan memperkuat kepedulian sosial. Keutamaan sedekah Subuh bukan sekadar tren, tetapi amalan yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Doa malaikat, keberkahan waktu pagi, serta janji Allah tentang balasan berlipat menjadi alasan kuat untuk mengamalkannya. Mari jadikan sedekah Subuh sebagai bagian dari rutinitas harian. Dengan niat yang ikhlas dan langkah sederhana, kita bisa meraih keberkahan hidup sekaligus membantu sesama. Yuk, mulai hari dengan kebaikan! Tunaikan sedekah Subuh melalui BAZNAS Kabupaten Sleman dan jadilah bagian dari kebaikan yang terus mengalir.***
ARTIKEL02/04/2026 | Humas
Sudah Wajib Zakat? Simak Cara Menghitungnya Agar Tidak Salah
Sudah Wajib Zakat? Simak Cara Menghitungnya Agar Tidak Salah
Dalam ajaran Islam, zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah ini bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana menyucikan harta sekaligus membantu sesama yang membutuhkan. Sayangnya, masih banyak umat Islam yang belum memahami cara menghitung zakat secara tepat. Hal ini kerap menimbulkan keraguan saat hendak menunaikannya. Padahal, memahami cara menghitung zakat sangat penting agar ibadah yang dilakukan sah secara syariat dan tepat sasaran. Melalui panduan ini, Anda akan mempelajari cara menghitung zakat secara lengkap dan mudah dipahami, mulai dari pengertian, jenis, hingga contoh perhitungannya. Apa Itu Zakat dan Siapa yang Wajib Membayarnya? Secara bahasa, zakat berarti suci, tumbuh, dan penuh berkah. Sementara secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan untuk diberikan kepada golongan yang berhak (mustahik) sesuai ketentuan syariat. Seseorang diwajibkan menunaikan zakat apabila memenuhi kriteria berikut: Beragama Islam Merdeka (bukan budak) Memiliki harta yang telah mencapai nisab (batas minimum) Harta tersebut dimiliki selama satu tahun (haul) untuk jenis zakat tertentu Dengan memahami syarat ini, Anda dapat menentukan apakah sudah wajib berzakat sebelum masuk ke tahap perhitungan. Jenis-Jenis Zakat yang Perlu Diketahui Sebelum membahas cara menghitung zakat, penting untuk memahami jenis-jenis zakat dalam Islam: 1. Zakat Fitrah Zakat yang wajib ditunaikan menjelang Idul Fitri, berupa makanan pokok (beras) sebanyak 2,5 kg atau setara. 2. Zakat Mal (Harta) Zakat yang dikenakan pada berbagai jenis harta, seperti: Penghasilan (gaji) Emas dan perak Tabungan Investasi Perdagangan Pembahasan cara menghitung zakat umumnya berfokus pada zakat mal karena membutuhkan perhitungan khusus. Nisab dan Haul dalam Zakat Dalam cara menghitung zakat, terdapat dua konsep penting yang harus dipahami: Nisab Nisab adalah batas minimum harta yang mewajibkan seseorang untuk berzakat. Contohnya: Emas: 85 gram Perak: 595 gram - Penghasilan: setara 85 gram emas per tahun Haul Haul adalah masa kepemilikan harta selama satu tahun hijriyah. Apabila harta telah mencapai nisab dan melewati haul, maka zakat wajib ditunaikan dengan perhitungan yang benar. Cara Menghitung Zakat Penghasilan (Zakat Profesi) Zakat penghasilan termasuk yang paling sering ditanyakan. Berikut cara menghitung zakat yang sederhana: Rumus: Zakat = 2,5 persen x total penghasilan bersih Contoh: Jika penghasilan per bulan Rp10.000.000, maka: · Penghasilan tahunan: Rp120.000.000 · Jika telah mencapai nisab (setara 85 gram emas), maka: Zakat = 2,5 persen x Rp120.000.000 = Rp3.000.000 per tahun Atau dapat dibayarkan setiap bulan: · Rp10.000.000 x 2,5 persen = Rp250.000 Dengan metode ini, zakat bisa ditunaikan tanpa harus menunggu satu tahun. Cara Menghitung Zakat Emas dan Tabungan Jika Anda memiliki emas atau tabungan, berikut cara menghitung zakatnya: Syarat: · Mencapai nisab (85 gram emas) · Disimpan selama 1 tahun Rumus: Zakat = 2,5 persen x total harta Contoh: Jika memiliki tabungan Rp100.000.000: · Zakat = 2,5 persen x Rp100.000.000 = Rp2.500.000 Perhitungan ini penting agar jumlah zakat yang dikeluarkan sesuai dengan ketentuan syariat. Cara Menghitung Zakat Perdagangan Bagi pelaku usaha, zakat juga dikenakan pada harta perdagangan. Yang diperhitungkan: Modal usaha Keuntungan Piutang yang bisa ditagih · Dikurangi utang jatuh tempo Rumus: Zakat = 2,5 persen x (aset lancar – kewajiban) Contoh: · Modal + keuntungan: Rp200.000.000 · Utang: Rp50.000.000 · Total harta: Rp150.000.000 · Zakat = 2,5 persen x Rp150.000.000 = Rp3.750.000 Dengan perhitungan ini, pelaku usaha dapat menunaikan zakat secara profesional dan sesuai syariat. Kesalahan Umum dalam Menghitung Zakat Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam perhitungan zakat antara lain: Tidak memperhitungkan nisab Menggunakan penghasilan kotor tanpa dikurangi kebutuhan pokok Tidak memasukkan seluruh aset Menunda pembayaran hingga terlupa Kesalahan ini dapat menyebabkan zakat tidak sah atau kurang sempurna. Oleh karena itu, penting untuk memahami perhitungan zakat dengan benar. Tips Praktis Agar Mudah Menghitung Zakat Agar lebih mudah dalam menghitung zakat, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran Gunakan harga emas terbaru sebagai acuan nisab Sisihkan zakat sejak awal menerima penghasilan Gunakan kalkulator zakat dari lembaga terpercaya Konsultasikan dengan amil zakat jika masih ragu Dengan kebiasaan ini, proses menghitung zakat akan terasa lebih mudah dan praktis. Hikmah dan Keutamaan Menunaikan Zakat Menunaikan zakat memiliki banyak keutamaan, di antaranya: Membersihkan harta dan jiwa Membantu fakir miskin Menghindarkan dari sifat kikir Mendatangkan keberkahan Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...” (QS. At-Taubah: 103) Dengan memahami cara menghitung zakat, kita tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga meraih keberkahan dalam kehidupan. Saatnya Menunaikan Zakat dengan Tepat Sebagai seorang Muslim, memahami cara menghitung zakat adalah bagian penting dari ibadah. Tidak cukup hanya mengetahui kewajibannya, tetapi juga harus mampu menghitungnya secara akurat agar zakat yang ditunaikan sah dan diterima oleh Allah SWT. Di era modern, berbagai kemudahan telah tersedia untuk membantu proses ini, mulai dari aplikasi hingga layanan lembaga zakat terpercaya seperti BAZNAS. Jangan jadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk menunda kewajiban. Biasakan menghitung zakat dengan benar, karena dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Yuk, tunaikan zakat Anda sekarang juga melalui BAZNAS Kabupaten Sleman agar lebih aman, transparan, dan sesuai syariat. Kunjungi layanan bayar zakat dan mulai berbagi kebaikan hari ini!.***
ARTIKEL01/04/2026 | Humas
Belum Bayar Fidyah atau Qadha Puasa? Ini Cara Melunasinya di Bulan Syawal
Belum Bayar Fidyah atau Qadha Puasa? Ini Cara Melunasinya di Bulan Syawal
Setelah melewati bulan suci Ramadan dan merayakan Idul Fitri, banyak umat Islam merasa lega karena telah menunaikan ibadah puasa. Namun, bagi sebagian orang, masih ada kewajiban yang belum terselesaikan, yaitu qadha puasa atau fidyah. Kondisi ini umum terjadi, terutama bagi mereka yang memiliki uzur syar’i seperti sakit, haid, hamil, atau menyusui. Lalu, bagaimana cara melunasi kewajiban tersebut di bulan Syawal? Artikel ini akan membantu Anda memahami perbedaan, cara membayar, hukum, hingga tips melunasi fidyah dan qadha puasa secara tepat sesuai syariat. Perbedaan Fidyah dan Qadha Puasa yang Perlu Dipahami Sebelum melunasi kewajiban, penting untuk memahami perbedaan antara qadha puasa dan fidyah. 1. Dari sisi kewajiban · Qadha puasa wajib bagi yang masih mampu berpuasa, seperti orang sakit sementara atau wanita haid · Fidyah diperuntukkan bagi yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia atau penderita sakit kronis 2. Dari cara pelaksanaan · Qadha dilakukan dengan mengganti puasa di hari lain sesuai jumlah yang ditinggalkan · Fidyah dilakukan dengan memberi makan fakir miskin, umumnya 1 porsi per hari puasa 3. Tidak bisa memilih sembarangan Tidak semua orang bebas memilih antara fidyah atau qadha. Keduanya memiliki ketentuan masing-masing sesuai kondisi. 4. Kasus khusus (hamil & menyusui) Dalam kondisi ini, terdapat perbedaan pendapat ulama. Sebagian mewajibkan qadha saja, sebagian lainnya qadha + fidyah. ???? Karena itu, penting untuk memahami kondisi pribadi atau berkonsultasi dengan ahli agar tidak keliru. Cara Membayar Fidyah atau Qadha Puasa di Bulan Syawal Bulan Syawal adalah momentum yang tepat untuk mulai melunasi kewajiban yang tertunda. 1. Qadha Puasa · Dilaksanakan setelah hari raya · Bisa dilakukan bertahap sesuai kemampuan · Jumlahnya harus sesuai dengan hari yang ditinggalkan 2. Membayar Fidyah · Dapat berupa makanan siap santap atau bahan pokok · Diberikan kepada fakir miskin · Takaran umum: 1 porsi per hari puasa 3. Melalui Lembaga Resmi Saat ini, fidyah dapat ditunaikan melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS Kabupaten Sleman agar lebih praktis dan tepat sasaran. 4. Jangan Ditunda Semakin cepat dilunasi, semakin baik agar tidak menumpuk hingga Ramadan berikutnya. 5. Niat yang Ikhlas Pastikan setiap ibadah dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Hukum Menunda Qadha atau Fidyah Puasa Menunda kewajiban ibadah perlu diperhatikan dengan serius. · Menunda tanpa alasan yang jelas tidak dianjurkan · Jika melewati Ramadan berikutnya, sebagian ulama mewajibkan qadha + fidyah · Jika ada uzur (misalnya sakit berkepanjangan), maka penundaan masih ditoleransi ???? Oleh karena itu, penting untuk mencatat jumlah hutang puasa agar tidak terlupakan. Keutamaan Menyegerakan Qadha dan Fidyah Melunasi kewajiban lebih awal memiliki banyak keutamaan: · Menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT · Memberikan ketenangan hati · Menghindarkan dari lupa atau lalai · Mendapat peluang pahala lebih besar, terutama di bulan Syawal · Mencerminkan sikap disiplin sebagai seorang Muslim Tips Agar Konsisten Melunasi Puasa Agar tidak kembali menunda, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan: · Buat jadwal khusus untuk qadha puasa · Tanamkan niat kuat sebagai kewajiban ibadah · Ajak keluarga atau teman untuk saling mengingatkan · Manfaatkan layanan digital untuk pembayaran fidyah · Perbanyak doa agar dimudahkan Segera Lunasi, Sempurnakan Ibadah Anda Melunasi fidyah atau qadha puasa adalah bagian penting dalam menyempurnakan ibadah setelah Ramadan. Jangan biarkan kewajiban ini tertunda hingga menjadi beban di kemudian hari. Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk memulai dan menyelesaikannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Tunaikan fidyah dengan mudah dan aman melalui BAZNAS Kabupaten Sleman Selain menyempurnakan ibadah, fidyah Anda akan disalurkan kepada yang benar-benar membutuhkan. Mari sempurnakan amal dengan zakat, infak, dan sedekah. Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita. Sebagai informasi, besaran fidyah di BAZNAS Kabupaten Sleman, sesuai SK Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman No. 05 Tahun 2026, yaitu dapat dibayarkan dalam bentuk paket makan senilai Rp15.000,. /jiwa/hari * (minimal).
ARTIKEL31/03/2026 | Humas
5 Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal yang Perlu Diketahui Umat Muslim
5 Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal yang Perlu Diketahui Umat Muslim
Sedekah di bulan Syawal menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan setelah menjalani ibadah Ramadan. Bulan Syawal tidak hanya identik dengan perayaan Idul Fitri, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga konsistensi ibadah dan memperkuat kepedulian sosial. Setelah sebulan penuh berpuasa, menunaikan zakat, dan memperbanyak amal, umat Islam dianjurkan untuk tetap melanjutkan kebaikan tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan rutin bersedekah. Lalu, apa saja keutamaan sedekah di bulan Syawal? Berikut penjelasannya. 1. Menyempurnakan Ibadah Ramadan Sedekah di bulan Syawal dapat menjadi penyempurna ibadah yang telah dilakukan selama Ramadan. Tidak ada ibadah manusia yang benar-benar sempurna, sehingga diperlukan amalan tambahan untuk menutup kekurangan. Sebagaimana amalan sunnah yang melengkapi ibadah wajib, sedekah menjadi bentuk ibadah lanjutan yang sangat dianjurkan. Dengan bersedekah setelah Ramadan, seorang Muslim menunjukkan bahwa kebaikan tidak berhenti di satu bulan saja. 2. Menjaga Konsistensi Amal Saleh Salah satu tanda diterimanya amal adalah kemampuan untuk tetap istiqamah dalam berbuat baik. Sedekah di bulan Syawal membantu menjaga konsistensi tersebut. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit. Oleh karena itu, membiasakan sedekah setelah Ramadan merupakan langkah nyata untuk mempertahankan semangat ibadah sepanjang tahun. 3. Membuka Pintu Rezeki dan Keberkahan Sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi sebab datangnya keberkahan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang bersedekah. Bulan Syawal menjadi waktu yang tepat untuk menanam kebaikan yang akan berbuah pada kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, maupun ketenangan hati. 4. Mempererat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial Setelah Idul Fitri, suasana silaturahmi masih terasa hangat. Sedekah dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar sesama. Dengan membantu mereka yang membutuhkan, kita turut menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial. Hal ini penting untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling peduli. Sedekah tidak selalu berupa uang. Memberikan makanan, pakaian, atau bantuan tenaga juga termasuk sedekah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT. 5. Mendatangkan Ketenangan dan Kebahagiaan Hati Sedekah memberikan dampak positif bagi kondisi batin seseorang. Banyak orang merasakan ketenangan dan kebahagiaan setelah berbagi dengan sesama. Dalam Islam, kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Sedekah menjadi salah satu jalan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Tips Agar Konsisten Bersedekah di Bulan Syawal Agar sedekah tidak hanya menjadi amalan sesaat, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: 1. Niatkan sedekah karena Allah SWT 2. Mulai dari nominal kecil namun rutin 3. Salurkan kepada yang benar-benar membutuhkan 4. Lakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan 5. Libatkan keluarga agar menjadi kebiasaan bersama Jadikan Sedekah sebagai Gaya Hidup Sedekah di bulan Syawal bukan sekadar amalan tambahan, tetapi wujud keberlanjutan ibadah setelah Ramadan. Melalui sedekah, kita belajar untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama. Keutamaan yang besar, baik dari sisi spiritual maupun sosial, menjadikan sedekah sebagai amalan yang layak untuk terus dijaga. Jangan biarkan semangat berbagi berhenti setelah Ramadan. Mari jadikan sedekah sebagai kebiasaan, tidak hanya di bulan Syawal, tetapi sepanjang hidup. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah SWT dan mendapatkan keberkahan di dunia maupun akhirat. Yuk, Maksimalkan Sedekah di Bulan Syawal! Mari lanjutkan semangat kebaikan dengan bersedekah di bulan penuh berkah ini. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman agar lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. - Sedekah Anda akan membantu mereka yang membutuhkan - Menjadi ladang pahala yang terus mengalir - Menguatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat Yuk, bersedekah sekarang dan raih keberkahan di bulan Syawal!
ARTIKEL31/03/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Waktu Terbaik Menjaga Semangat Berbagi
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Waktu Terbaik Menjaga Semangat Berbagi
Sedekah di bulan Syawal merupakan amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Syawal tidak hanya menjadi penutup rangkaian puasa, tetapi juga momentum penting untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadah, termasuk dalam hal berbagi kepada sesama. Setelah sebulan penuh melatih diri menahan hawa nafsu dan memperbanyak amal kebaikan, Syawal menjadi ujian konsistensi. Apakah semangat ibadah tetap terjaga? Salah satu cara terbaik untuk menjawabnya adalah dengan terus bersedekah. Amalan ini bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga mencerminkan keimanan serta kepedulian sosial. Pengertian Sedekah dalam Islam Secara sederhana, sedekah berarti memberikan sesuatu dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Dalam ajaran Islam, sedekah tidak terbatas pada harta saja, tetapi mencakup berbagai bentuk kebaikan seperti tenaga, ilmu, bahkan senyuman. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa setiap sedekah akan dilipatgandakan pahalanya. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah merupakan investasi akhirat yang sangat bernilai dan tidak akan merugikan. Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal 1. Menjaga Semangat Ibadah Pasca Ramadhan Ramadhan mengajarkan kebiasaan berbagi dan peduli terhadap sesama. Ketika bulan tersebut berakhir, kebiasaan baik itu seharusnya tetap dilanjutkan. Sedekah di bulan Syawal menjadi bukti bahwa ibadah tidak bersifat musiman, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 2. Menyempurnakan Ibadah Puasa Amalan tambahan setelah ibadah utama dapat menjadi penyempurna. Sedekah berperan melengkapi kekurangan yang mungkin terjadi selama menjalankan puasa Ramadhan. 3. Peluang Pahala Berlipat Meskipun tidak seutama Ramadhan, Syawal tetap termasuk waktu yang penuh keberkahan. Sedekah yang dilakukan di bulan ini tetap berpeluang mendapatkan pahala besar, terutama jika manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang. 4. Membantu Kondisi Ekonomi Pasca Lebaran Setelah Idul Fitri, banyak orang mengalami penurunan kondisi finansial akibat tingginya pengeluaran. Sedekah di bulan Syawal menjadi solusi nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan. 5. Membersihkan Harta dan Hati Sedekah tidak hanya menyucikan harta, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Dengan rutin bersedekah, keikhlasan dan ketakwaan akan semakin terjaga. Ragam Bentuk Sedekah di Bulan Syawal Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tidak selalu harus berupa uang. Berikut beberapa contohnya: Sedekah Materi: Memberikan uang, makanan, pakaian, atau kebutuhan pokok Sedekah Tenaga: Membantu orang lain, ikut kegiatan sosial, atau menjadi relawan Sedekah Ilmu: Mengajarkan pengetahuan yang bermanfaat Sedekah Senyuman: Sikap ramah dan menyenangkan kepada orang lain Sedekah Digital: Berdonasi secara online melalui lembaga terpercaya Tips Konsisten Bersedekah di Bulan Syawal Agar tetap istiqamah dalam bersedekah, beberapa langkah berikut bisa diterapkan: Niatkan sedekah semata-mata karena Allah Mulai dari nominal kecil tetapi rutin Tentukan jadwal sedekah secara berkala Sisihkan sebagian penghasilan khusus untuk berbagi Pilih lembaga penyalur yang amanah dan terpercaya Manfaat Sedekah bagi Kehidupan Sedekah memberikan dampak positif yang luas, baik secara spiritual maupun sosial, antara lain: Mendatangkan keberkahan rezeki Menjauhkan dari musibah Memberikan ketenangan batin Mempererat hubungan antar sesama Menjadi amal jariyah yang terus mengalir Dengan rutin bersedekah di bulan Syawal, seseorang tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga meningkatkan kualitas hidupnya sendiri. Sedekah sebagai Cerminan Keimanan Sedekah adalah salah satu tanda keimanan seseorang. Orang yang yakin kepada Allah tidak akan ragu untuk berbagi, karena percaya bahwa setiap kebaikan akan diganti dengan yang lebih baik. Keyakinan ini menjadi dasar bahwa sedekah bukanlah pengurangan harta, melainkan investasi yang menguntungkan di dunia dan akhirat. Kesimpulan Sedekah di bulan Syawal adalah amalan penting untuk menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial, meningkatkan keimanan, dan menanam kebiasaan berbagi. Dengan memahami keutamaan dan manfaatnya, diharapkan sedekah tidak hanya dilakukan di bulan Syawal, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Mari jadikan Syawal sebagai awal baru untuk menjadi pribadi yang lebih dermawan, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Jangan lewatkan kesempatan untuk berbagi dan memberikan manfaat bagi sesama. Yuk, mulai berbagi sekarang.
ARTIKEL30/03/2026 | Humas
Cara Bayar Zakat Kurangi Pajak Penghasilan: Syarat dan Panduan Lengkap
Cara Bayar Zakat Kurangi Pajak Penghasilan: Syarat dan Panduan Lengkap
Apakah Anda tahu bahwa zakat yang Anda tunaikan setiap tahun bukan hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga bisa meringankan beban pajak penghasilan Anda? Pemerintah Indonesia telah mengatur mekanisme di mana Zakat dapat menjadi pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP). Namun, tidak semua pembayaran zakat bisa langsung memotong pajak. Ada aturan main dan syarat administratif yang harus dipenuhi agar laporan SPT Tahunan Anda valid. Simak panduan lengkapnya di bawah ini. Bagaimana Zakat Bisa Mengurangi Pajak? Banyak orang salah kaprah menganggap zakat adalah tax credit (potongan langsung pada nominal pajak). Faktanya, di Indonesia, zakat berfungsi sebagai tax deduction (pengurang penghasilan bruto). Artinya, jumlah zakat yang Anda bayarkan akan dikurangkan dari total penghasilan kotor Anda dalam setahun. Dengan penghasilan neto yang lebih kecil, maka dasar pengenaan pajak (DPP) Anda pun mengecil, sehingga nominal pajak yang harus dibayar ke kas negara menjadi lebih rendah. Dasar Hukum Zakat sebagai Pengurang Pajak Kebijakan ini legal dan dilindungi oleh payung hukum yang kuat di Indonesia: 1. Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). 2. Peraturan Pemerintah (PP) No. 60 Tahun 2010 tentang Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib. 3. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 114 Tahun 2025 yang mengatur tata cara dan daftar lembaga amil zakat yang diakui. Syarat Agar Zakat Diakui oleh Kantor Pajak (DJP) Agar zakat Anda bisa diklaim dalam SPT Tahunan, pastikan Anda memenuhi tiga kriteria berikut: 1. Dibayar Melalui Lembaga Resmi (BAZNAS/LAZ) Anda tidak bisa memotong pajak jika zakat diberikan langsung kepada individu atau masjid yang belum terdaftar secara resmi. Zakat harus disalurkan melalui: · BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) di tingkat Pusat, Provinsi, maupun Kota/Kabupaten. · LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang telah mendapatkan izin operasional resmi dari Kementerian Agama dan terdaftar di Direktorat Jenderal Pajak. Berikut Mekanismenya Berdasarkan BAZNAS RI (Zakat Pengurang Penghasilan Kena Pajak) (Pengisian SPT Tahunan bagi Wajib Pajak Badan) 2. Memiliki Bukti Setor Zakat (BSZ) yang Sah Setelah membayar, Anda wajib mendapatkan Bukti Setor Zakat (BSZ). Bukti ini harus mencantumkan: · Nama Lengkap dan NPWP pembayar pajak (Muzakki). · Jumlah nominal pembayaran dalam Rupiah. · Tanggal pembayaran yang jelas. · Nama dan stempel/validasi dari lembaga amil zakat. (Bukti Setor Zakat dari Sistem BAZNAS (SIMBA)) 3. Bersifat Wajib Hanya sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib (seperti Zakat Mal, Zakat Fitrah, atau Zakat Penghasilan bagi Muslim) yang dapat dikurangkan. Infak dan sedekah sukarela umumnya tidak termasuk dalam kategori ini. Bayar zakat online di BAZNAS Kabupaten Sleman aman, mudah dan sesuai Syariah, bisa langsung via kantor digital: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat atau transfer via bank (daftar rekening bank BAZNAS Kabupaten Sleman) Setelah berhasil setor zakat, pihak BAZNAS Kabupaten Sleman akan membuatkan Bukti Setor Zakat (BSZ). Namun, sebelumnya pastikan Anda sudah berhasil setor zakat dan konfirmasi ke nomor WhatsApp Admin BAZNAS Kabupaten Sleman: Admin 1: 0811.3220.8000 https://wa.me/6281132208000 Admin 2: 0889.8954.6000 https://wa.me/6288989546000 Contoh Simulasi Perhitungan Misalkan penghasilan bruto Anda setahun adalah Rp200.000.000. Jika Anda membayar zakat sebesar Rp5.000.000 (2,5% dari total), maka perhitungannya: · Penghasilan Bruto: Rp200.000.000 · Zakat (Pengurang): (Rp5.000.000) · Penghasilan Neto setelah Zakat: Rp195.000.000 Pajak Anda akan dihitung berdasarkan angka Rp195 juta tersebut, bukan Rp200 juta. Hal ini memberikan penghematan pajak yang signifikan bagi wajib pajak. Cara Melaporkan Zakat di SPT Tahunan Berikut langkah praktis saat Anda melakukan e-Filing: 1. Siapkan Bukti Setor Zakat (BSZ) dari lembaga resmi. 2. Masuk ke akun DJP Online dan pilih formulir SPT yang sesuai (1770 S atau 1770). 3. Cari kolom bertuliskan "Zakat / Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib". 4. Masukkan total nominal zakat yang dibayarkan selama satu tahun pajak tersebut. 5. Simpan bukti setor sebagai lampiran jika sewaktu-waktu diperlukan pemeriksaan. Kesimpulan Membayar zakat melalui lembaga resmi bukan hanya membantu sesama secara tepat sasaran, tetapi juga memberikan keuntungan finansial melalui keringanan pajak. Pastikan Anda selalu meminta bukti setor resmi untuk melengkapi administrasi perpajakan Anda. Ingin tahu daftar LAZ resmi terbaru agar zakat Anda bisa memotong pajak? Saya bisa membantu merangkumkan daftar lembaga amil zakat yang sudah mendapatkan izin resmi dari pemerintah untuk Anda.*** Sumber: Direktorat Jenderal Pajak – Artikel Zakat Bisa Jadi Pengurang Pajak UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Penjelasan Ditjen Pajak tentang zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak
ARTIKEL16/03/2026 | Humas
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →