WhatsApp Icon
Memahami Nisfu Syakban: Makna, Keutamaan, dan Amalan yang Dianjurkan

Nisfu Syakban merupakan salah satu momentum penting dalam kalender Hijriah yang mendapat perhatian besar dari umat Islam. Istilah Nisfu Syakban merujuk pada pertengahan bulan Syakban, tepatnya malam ke-15, yang diyakini memiliki nilai spiritual dan keutamaan tersendiri.

 

Dalam tradisi Islam, Nisfu Syakban kerap dimanfaatkan sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, melakukan introspeksi diri, serta menyiapkan hati dan jiwa menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Momentum ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus dengan sesama manusia.

 

Lebih dari sekadar penanda waktu, Nisfu Syakban dipandang sebagai kesempatan memperkuat iman dan ketakwaan. Sejumlah ulama menjelaskan bahwa pada bulan ini catatan amal manusia diangkat dan ketentuan tahunan ditetapkan atas izin Allah SWT. Oleh karena itu, Nisfu Syakban menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh.

 

Dalam praktiknya, Nisfu Syakban sering diisi dengan kegiatan keagamaan seperti doa bersama, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak istighfar. Tradisi tersebut berkembang di berbagai daerah sebagai wujud kecintaan umat Islam terhadap bulan Syakban. Meski terdapat perbedaan pandangan terkait tata cara pelaksanaannya, esensi Nisfu Syakban tetap berfokus pada penguatan spiritual dan perbaikan diri.

 

Pemahaman yang benar tentang Nisfu Syakban sangat penting agar umat Islam tidak terjebak pada amalan yang tidak memiliki landasan kuat. Dengan pemahaman yang tepat, Nisfu Syakban dapat dimaknai sebagai sarana evaluasi diri dan peningkatan kualitas ibadah secara menyeluruh. Inilah yang menjadikan Nisfu Syakban memiliki kedudukan istimewa dalam pandangan kaum muslimin.

 

Pengertian dan Makna Nisfu Syakban dalam Islam

 

Secara bahasa, kata “nisfu” berarti pertengahan. Dengan demikian, Nisfu Syakban merujuk pada pertengahan bulan Syakban. Dalam perspektif Islam, Nisfu Syakban memiliki makna spiritual yang mendalam karena diyakini sebagai waktu turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT.

 

Para ulama memandang Nisfu Syakban sebagai fase penting sebelum memasuki bulan Ramadan. Oleh sebab itu, Nisfu Syakban sering dimaknai sebagai masa persiapan ruhani agar seorang muslim dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan niat yang lurus. Kesadaran inilah yang menjadikan Nisfu Syakban tidak layak dilewatkan begitu saja.

 

Dalam sejarah Islam, bulan Syakban juga dikaitkan dengan peristiwa pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Peristiwa besar tersebut menunjukkan bahwa bulan Syakban, termasuk Nisfu Syakban di dalamnya, memiliki posisi penting dalam perjalanan syariat Islam.

 

Makna Nisfu Syakban juga tercermin dalam anjuran untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa pada malam Nisfu Syakban, Allah SWT membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. Hal ini menegaskan bahwa Nisfu Syakban merupakan waktu yang penuh harapan bagi umat Islam.

 

Dengan memahami makna Nisfu Syakban secara menyeluruh, umat Islam diharapkan mampu menjadikannya sebagai sarana introspeksi diri. Nisfu Syakban mengajarkan pentingnya membersihkan hati dan memperbaiki amal sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

 

Keutamaan Nisfu Syakban Menurut Hadis dan Pandangan Ulama

 

Keutamaan Nisfu Syaban banyak dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, meskipun sebagian riwayat memiliki perbedaan tingkat kesahihan. Namun demikian, para ulama sepakat bahwa Nisfu Syakban merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa.

 

Salah satu keutamaan Nisfu Syakban adalah turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa pada malam Nisfu Syakban, Allah SWT mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, kecuali bagi mereka yang menyekutukan Allah dan yang masih menyimpan permusuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid dan memperbaiki hubungan sosial.

 

Selain itu, Nisfu Syakban juga diyakini sebagai waktu pengangkatan catatan amal tahunan. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa di bulan Syakban. Praktik tersebut menunjukkan bahwa bulan Syaban, termasuk Nisfu Syakban, memiliki keutamaan khusus dalam ibadah.

 

Keutamaan lainnya adalah anjuran untuk memperbanyak doa. Banyak ulama menganjurkan agar umat Islam memohon kebaikan dunia dan akhirat pada Nisfu Syakban, karena waktu tersebut dianggap memiliki nilai kemustajaban dalam berdoa.

 

Dengan memahami keutamaan Nisfu Syakban, umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya. Nisfu Syakban menjadi pengingat bahwa pintu rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar.

 

Amalan yang Dianjurkan pada Nisfu Syakban

 

Nisfu Syakban merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan utama yang dapat dilakukan adalah memperbanyak istighfar dan taubat atas dosa-dosa yang telah lalu.

 

Membaca Al-Qur’an juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan pada Nisfu Syakban. Dengan memperbanyak tilawah, umat Islam diharapkan dapat menenangkan jiwa serta membersihkan hati. Momentum Nisfu Syakban menjadi kesempatan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

 

Puasa sunah di bulan Syakban, termasuk menjelang Nisfu Syakban, juga merupakan amalan yang dianjurkan. Rasulullah SAW dikenal sering berpuasa di bulan ini, sebagai bentuk persiapan spiritual menuju Ramadan. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk menahan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan.

 

Selain itu, memperbanyak doa menjadi amalan penting pada Nisfu Syakban. Doa dapat dipanjatkan untuk diri sendiri, keluarga, maupun umat Islam secara keseluruhan, sebagai bentuk pengharapan akan perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.

 

Tidak kalah penting, Nisfu Syakban juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan sosial. Memaafkan kesalahan orang lain dan menjauhi permusuhan merupakan bagian dari makna Nisfu Syaban agar rahmat Allah SWT dapat diraih secara sempurna.

 

Hikmah dan Pelajaran dari Nisfu Syaban

 

Nisfu Syakban mengandung banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi umat Islam. Salah satu hikmah utamanya adalah pentingnya evaluasi diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Melalui introspeksi, seorang muslim dapat mengenali kekurangan dalam ibadahnya dan berupaya memperbaikinya.

 

Nisfu Syakban juga mengingatkan umat Islam akan keterbatasan manusia. Hidup dan mati sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT, sehingga manusia diajak untuk senantiasa berserah diri dan memperbanyak amal saleh.

 

Pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Ampunan Allah SWT pada Nisfu Syakban tidak diberikan kepada mereka yang masih menyimpan permusuhan, sehingga ukhuwah Islamiyah menjadi nilai yang harus dijaga.

 

Selain itu, Nisfu Syakban mengajarkan konsistensi dalam beribadah. Ibadah tidak hanya ditingkatkan saat Ramadan, tetapi juga dipersiapkan sejak Nisfu Syakban agar lebih berkualitas dan berkelanjutan.

 

Memaknai Nisfu Syakban secara Bijak

 

Nisfu Syakban merupakan anugerah besar dari Allah SWT sebagai kesempatan memperbaiki diri sebelum datangnya bulan Ramadan. Dengan memahami makna dan keutamaannya, Nisfu Syakban dapat dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT secara lebih mendalam.

 

Melalui ibadah, doa, dan taubat yang dilakukan pada Nisfu Syakban, seorang muslim diharapkan mampu membersihkan hati dari dosa dan kesalahan. Momentum ini mengajarkan bahwa rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

 

Umat Islam dianjurkan untuk memaknai Nisfu Syakban secara proporsional, tidak berlebihan namun juga tidak mengabaikannya. Dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, Nisfu Syakban dapat dijalani dengan penuh keberkahan.

 

Semoga Nisfu Syakban menjadi titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Dengan persiapan spiritual yang matang sejak Nisfu Syakban, umat Islam dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan semangat ibadah yang lebih kuat.

 

 

Sumber: baznas.go.id

03/02/2026 | Kontributor: Humas
Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Jadwal, Keutamaan, dan Amalan Sunnahnya

Nisfu Syaban adalah istilah yang merujuk pada pertengahan bulan Syaban dalam kalender Hijriah, tepatnya pada tanggal 15 Syaban 1447 H. Bagi umat Islam, malam Nisfu Syaban dikenal sebagai salah satu malam yang penuh keberkahan, di mana Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba yang bersungguh-sungguh bertaubat dan memperbanyak ibadah.

 

Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah yang diselaraskan dengan kalender Masehi tahun 2026, Nisfu Syaban jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Sementara itu, malam Nisfu Syaban dimulai sejak terbenam matahari atau waktu Maghrib pada Senin malam, 2 Februari 2026, hingga terbit fajar keesokan harinya.

 

Penetapan waktu Nisfu Syaban ini mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia serta metode hisab dan rukyatul hilal yang digunakan oleh lembaga-lembaga keagamaan di Indonesia. Meski demikian, terdapat kemungkinan perbedaan penetapan tanggal di beberapa wilayah, tergantung hasil pengamatan hilal setempat.

 

Bulan Syaban sendiri merupakan bulan kedelapan dalam kalender Islam dan menjadi penghubung menuju bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, Nisfu Syaban sering dipandang sebagai momentum penting untuk mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan penuh ibadah tersebut. Dengan mengetahui jadwal Nisfu Syaban lebih awal, umat Islam dapat mempersiapkan ibadah dengan lebih optimal.

 

Keutamaan Nisfu Syaban

 

Nisfu Syaban memiliki keutamaan yang besar dalam tradisi Islam. Banyak ulama menjelaskan bahwa malam pertengahan bulan Syaban merupakan waktu dibukanya pintu ampunan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang memohon ampun dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesadaran.

 

Malam Nisfu Syaban juga diyakini sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Pada malam ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu, serta berdoa agar diberikan kebaikan di dunia dan akhirat.

 

Selain itu, Nisfu Syaban menjadi momentum refleksi diri. Umat Islam diajak untuk mengevaluasi perjalanan ibadah selama setahun terakhir, memperbaiki kekurangan, serta meneguhkan niat untuk meningkatkan kualitas ibadah menjelang Ramadan.

 

Banyak umat Muslim meyakini bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam penuh rahmat, di mana Allah SWT menurunkan keberkahan dan meninggikan derajat orang-orang yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah. Karena itulah, malam Nisfu Syaban sering diisi dengan doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Doa yang Dianjurkan pada Nisfu Syaban

 

Pada malam Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa. Salah satu doa yang sering dipanjatkan adalah doa memohon ampunan dan rahmat Allah SWT, sebagaimana doa yang diriwayatkan dari para nabi dan orang-orang saleh.

 

Selain doa-doa tertentu, umat Islam juga dianjurkan berdoa dengan bahasa sendiri, mengungkapkan harapan dan permohonan secara tulus dari hati. Nisfu Syaban menjadi waktu yang tepat untuk memohon ampunan, kesehatan, kelapangan rezeki yang halal, serta keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

 

Para ulama juga menganjurkan membaca doa-doa pendek yang diajarkan Rasulullah SAW, seperti istighfar, doa syukur, dan doa memohon petunjuk. Doa-doa ini diharapkan dapat menghadirkan ketenangan batin dan memperkuat kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

 

Amalan yang Dianjurkan pada Nisfu Syaban

 

Selain doa, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada Nisfu Syaban sebagai bentuk ikhtiar meraih keberkahan dan mempersiapkan diri menuju Ramadan.

 

1. Memperbanyak Dzikir dan Shalawat

Dzikir dan shalawat menjadi amalan utama untuk mengingat Allah SWT dan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

 

2. Shalat Sunnah dan Qiyamul Lail

Melaksanakan shalat sunnah atau qiyamul lail di malam Nisfu Syaban merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dan sarana muhasabah diri.

 

3. Membaca Surat Yasin

Membaca surat Yasin, yang sering dilakukan sebanyak tiga kali, menjadi tradisi baik untuk memohon keberkahan hidup, kelapangan rezeki, dan ampunan dosa.

 

4. Puasa Sunnah Syaban

Puasa sunnah pada bulan Syaban, termasuk puasa Nisfu Syaban pada tanggal 15 Syaban atau 3 Februari 2026, dianjurkan sebagai bentuk persiapan fisik dan spiritual menuju Ramadan.

 

5. Istighfar dan Taubat

Memperbanyak istighfar dan bertaubat menjadi inti dari ibadah Nisfu Syaban, agar hati dan jiwa bersih dalam menyambut bulan suci Ramadan.

 

Kesimpulan

 

Nisfu Syaban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui doa, dzikir, shalat malam, dan puasa sunnah. Nisfu Syaban 2026 yang jatuh pada 3 Februari menjadi kesempatan berharga untuk menata kembali niat dan meningkatkan kualitas ibadah.

 

Dengan memahami jadwal, keutamaan, serta amalan yang dianjurkan, umat Islam diharapkan dapat menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah yang bermakna. Jadikan Nisfu Syaban sebagai titik awal perubahan diri menuju pribadi yang lebih baik dan sebagai bekal spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadan.

02/02/2026 | Kontributor: Humas
Sedekah, Jalan Sunyi Menuju Kesehatan Jiwa Seorang Muslim

Dalam Islam, sedekah tidak hanya dipahami sebagai bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sebagai ibadah yang memiliki dampak mendalam bagi kesehatan jiwa. Para ulama sejak dahulu menjelaskan bahwa memberi baik harta, tenaga, maupun perhatian adalah amalan yang mampu menenangkan hati dan membersihkan batin dari berbagai penyakit rohani.

 

Dalam keseharian, kita sering mendapati bahwa orang-orang yang gemar berbagi tampak lebih lapang dan bahagia. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa sedekah membawa pengaruh positif bagi kondisi batin seseorang. Dengan bersedekah, seorang Muslim merasa lebih dekat kepada Allah, lebih kuat menghadapi ujian hidup, dan lebih mampu mengelola emosi negatif.

 

Artikel ini mengulas bagaimana sedekah dapat menjadi sarana pemulihan kesehatan jiwa, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, sunnah Nabi, serta didukung oleh kajian psikologis modern. Pembahasan ini diharapkan membuka wawasan bahwa sedekah bukan sekadar amalan sosial, melainkan juga terapi spiritual yang menyentuh relung jiwa.

 

Lebih dari itu, manfaat sedekah dirasakan oleh semua pihak baik yang memberi maupun yang menerima. Sedekah menghadirkan ketenangan, kebahagiaan, dan harapan hidup, sehingga berkontribusi besar dalam menjaga kesehatan mental seorang Muslim.

 

Pada akhirnya, sedekah mampu menyembuhkan luka batin yang tak terlihat, membentuk pribadi yang lebih sabar, bersyukur, dan merasa cukup dengan karunia Allah. Inilah mengapa sedekah layak disebut sebagai penawar jiwa dalam Islam.

 

Memberi yang Menenangkan Hati

 

Islam mengajarkan bahwa sedekah adalah salah satu amalan yang paling efektif untuk meredakan kegelisahan hati. Saat seseorang memberi, muncul rasa lega dan damai karena telah melakukan kebaikan yang diridhai Allah. Ketenangan ini adalah respons alami jiwa yang mencintai kebaikan.

 

Sedekah juga membantu membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan dua hal yang kerap menjadi sumber kecemasan. Dengan berbagi, hati menjadi lebih lapang dan pikiran lebih jernih.

 

Ketika fokus dialihkan dari diri sendiri kepada kebutuhan orang lain, pikiran tidak lagi terjebak pada masalah pribadi. Inilah salah satu alasan mengapa sedekah begitu berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Selain itu, sedekah menumbuhkan rasa bermakna karena seseorang merasa menjadi bagian dari solusi sosial, yang pada akhirnya melahirkan kepuasan batin.

 

Cara Islam Mengurangi Stres Melalui Sedekah

 

Stres sering muncul akibat tekanan hidup dan kekhawatiran berlebihan. Islam menawarkan sedekah sebagai salah satu jalan untuk meredakannya. Sedekah menghadirkan energi positif karena seorang Muslim meyakini bahwa setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah.

 

Dengan bersedekah, seseorang belajar melepaskan keterikatan berlebihan pada harta. Sikap ini membuat mental lebih kuat saat menghadapi kesulitan ekonomi maupun ujian hidup lainnya.

 

Secara psikologis, aktivitas memberi memicu rasa bahagia yang membantu menurunkan tingkat stres. Keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Membalas kebaikan juga mengurangi rasa takut serta kecemasan terhadap masa depan. Lingkungan sosial yang terbentuk dari budaya sedekah pun menjadi lebih harmonis dan menenangkan.

 

Membersihkan Batin dari Penyakit Hati

 

Islam mengingatkan bahwa hati dapat ternodai oleh sifat sombong, iri, dan tamak. Sedekah menjadi sarana efektif untuk membersihkan penyakit-penyakit tersebut. Dengan memberi, seseorang merendahkan ego dan menyadari bahwa harta hanyalah titipan Allah.

 

Sedekah melatih keikhlasan memberi bukan untuk pujian, melainkan karena Allah. Keikhlasan inilah yang melahirkan kedamaian batin. Selain itu, sedekah mengikis rasa iri dan dengki, karena hati justru dipenuhi kebahagiaan saat melihat orang lain terbantu.

 

Kebiasaan berbagi juga mengurangi kecintaan berlebihan pada dunia, sehingga jiwa menjadi lebih ringan. Bahkan, sedekah menumbuhkan empati dan kasih sayang yang membantu seseorang memaafkan dan melepaskan dendam.

 

Menumbuhkan Kebahagiaan yang Lebih Tahan Lama

 

Kebahagiaan sejati dalam Islam bersumber dari rasa syukur. Sedekah membantu menumbuhkan rasa cukup terhadap apa yang Allah berikan. Dari sinilah ketenangan dan kesehatan jiwa bermula.

 

Melalui sedekah, hubungan sosial menjadi lebih hangat dan penuh kepedulian. Hubungan yang sehat ini berkontribusi pada kebahagiaan jangka panjang. Selain itu, sedekah memberi makna dalam hidup sebuah kebutuhan psikologis yang penting bagi setiap manusia.

 

Jika dilakukan secara konsisten, sedekah membentuk pola pikir yang lebih positif. Hidup tidak lagi terasa berat karena hati terbiasa melihat kebaikan di sekitar. Sedekah pun menjadi investasi kebahagiaan yang terus tumbuh.

 

Sedekah sebagai Penguat Iman dan Jiwa

 

Sedekah adalah ibadah yang mempererat hubungan seorang Muslim dengan Allah. Salah satu dampaknya adalah tumbuhnya rasa kedekatan kepada-Nya, yang membawa ketenangan batin.

 

Keyakinan bahwa Allah akan mengganti setiap sedekah dengan kebaikan menumbuhkan optimisme dan kekuatan mental. Hadis-hadis Nabi juga menyebutkan bahwa sedekah dapat menolak bala dan mendatangkan keberkahan, sehingga hati menjadi lebih tenang menghadapi masa depan.

 

Dengan sedekah, hidup terasa lebih terarah karena memiliki tujuan mulia: memberi manfaat bagi sesama. Tujuan ini membuat jiwa lebih stabil dan iman semakin kuat. Sedekah mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada memberi, bukan sekadar menerima.

 

Sedekah, Penawar Jiwa dalam Islam

 

Sedekah dalam Islam adalah ibadah yang sarat manfaat. Ia tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menyembuhkan diri sendiri. Dari menenangkan hati, meredakan stres, membersihkan jiwa, menumbuhkan kebahagiaan, hingga menjadi terapi spiritual semua menjadikan sedekah sebagai penawar jiwa yang Allah anugerahkan.

 

Manfaat sedekah akan dirasakan oleh siapa pun yang mengamalkannya dengan ikhlas. Dengan memberi, kita merawat kesehatan jiwa, memperkuat iman, dan menemukan ketenangan yang hakiki.

Mari salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat

15/01/2026 | Kontributor: Humas
Renungan: Kebahagiaan yang Datang dari Memberi

Di tengah dinamika kehidupan yang kerap menguji kesabaran dan keikhlasan, manusia sering mencari makna kebahagiaan dari berbagai arah. Melalui tulisan ini, Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhaimin, S.Ag., M.Pd., mengajak kita untuk sejenak berhenti dan merenungi satu hakikat sederhana namun mendalam: bahwa ketenangan hati dan kebahagiaan sejati kerap hadir bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari apa yang dengan ikhlas kita berikan.

 

Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga jalan spiritual yang menuntun hati kembali dekat kepada Allah dan sesama.


Dalam perjalanan hidup yang tak pernah sepi dari ujian, setiap kita sedang mencari sesuatu yang sama: ketenangan hati. Ada yang mencarinya dari harta, jabatan, atau penghargaan manusia. Namun, sering kali hati kita tetap merasa gelisah, meski genggaman kita penuh.

 

Padahal, Allah telah membukakan pintu kebahagiaan itu dengan cara yang begitu sederhana, namun sering kita lupa: memberi.

 

Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban syariat. Ia adalah jalan pulang bagi hati yang lelah, jembatan bagi jiwa yang ingin kembali merasakan indahnya kedekatan dengan Allah.

 

Memberi bukan hanya tentang mengurangi harta, tetapi tentang menambahkan keberkahan dalam hidup. Kita melepaskan sesuatu dari tangan, namun pada saat yang sama Allah memasukkan ketenangan ke dalam dada kita.

 

Kita mungkin kehilangan angka dalam tabungan, tetapi Allah menggantinya dengan luasnya rizki, kelapangan hidup, dan doa-doa dari hamba-hamba yang terangkat berkat pemberian kita.

 

Setiap rupiah zakat yang kita keluarkan, setiap infak yang kita sisihkan, setiap sedekah yang kita hulurkan—semuanya tidak pernah benar-benar hilang. Ia berubah rupa menjadi:

 

senyum anak yatim yang kembali percaya bahwa dunia masih penuh kebaikan,

 

napas lega orang tua yang akhirnya mampu membeli beras untuk keluarganya,

 

kekuatan bagi para mustahik untuk bangkit dan menjadi mandiri.

 

Dan seluruh kebaikan itu kembali kepada kita dengan cara yang tidak selalu terlihat oleh mata, tapi selalu dirasakan oleh hati.

 

Allah berfirman:

 

“Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya.”

(QS. Saba: 39)

 

Saat kita memberi, sebenarnya kita sedang menyalakan cahaya—di hidup orang lain, dan juga di dalam diri kita sendiri.

 

Hari ini, marilah kita membuka hati:

Bukan sekadar untuk menunaikan kewajiban, tetapi untuk menyempurnakan rasa syukur. Harta yang kita keluarkan mungkin sedikit, tetapi dampaknya bisa mengubah hidup seseorang.

 

Dan di hadapan Allah, tak ada kebaikan yang sia-sia. Setiap pemberian adalah saksi bahwa kita pernah peduli, pernah membantu, pernah berkontribusi bagi ummat Rasulullah ?.

 

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ringan tangan, luas hatinya, dan besar cintanya kepada sesama.

 

Mari bersama BAZNAS, kita bangun bumi dengan kebaikan, dan kita siapkan akhirat dengan kebahagiaan yang tak terhingga.

 

Karena memberi bukan membuat kita berkurang—memberi justru menjadikan kita tumbuh.

 

Mari kita wujudkan nilai-nilai kebaikan itu dalam langkah nyata. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Sleman sebagai lembaga resmi yang amanah dan profesional. Setiap harta yang kita titipkan bukan hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga menjadi investasi akhirat yang terus mengalir pahalanya.

 

Bersama BAZNAS Sleman, mari ringankan beban saudara kita, tumbuhkan harapan, dan raih keberkahan hidup—karena dengan memberi, kita sesungguhnya sedang menumbuhkan kebahagiaan yang hakiki.***

07/01/2026 | Kontributor: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Renungan : Hanya Memberi Tak Harap Kembali

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita memberi, bukan karena kita memiliki lebih, melainkan karena kita memahami bahwa kebaikan adalah napas yang menjaga hati tetap hidup.

 

Dalam sunyi yang hanya Allah tahu, tangan yang memberi tanpa pamrih sejatinya sedang mengukir jejak iman. Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi dirasakan oleh langit.

 

Ketika seseorang mampu memberi tanpa berharap kembali, maka pada saat itu ia telah naik ke derajat tertinggi: memberi sebagai bentuk cinta, bukan pamer; sebagai ibadah, bukan transaksi dunia.

 

Berikut renungan yang disampaikan dari Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhaimin, S.Ag., M.Pd., tentang “Hanya Memberi Tak Harap Kembali”.

 

Memberi tanpa pamrih adalah puncak kematangan jiwa. Ia bukan sekadar tindakan sosial, tapi wujud tertinggi dari iman dan cinta kepada Allah. Orang yang memberi tanpa mengharap balasan dari manusia sejatinya sedang bertransaksi langsung dengan Rabb yang Maha Kaya.

 

Allah berfirman:

 

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharap keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."

(QS. Al-Ins?n [76]: 8–9)

 

Ayat ini menggambarkan hati para pemberi sejati. Mereka menafkahkan hartanya bukan untuk dipuji, bukan untuk dilihat, dan bukan pula agar disanjung sebagai dermawan. Mereka memberi karena yakin bahwa setiap butir kebaikan akan kembali — bukan dari manusia, tapi dari Allah dalam bentuk yang jauh lebih indah.

 

Memberi adalah tanda kehidupan

 

Lihatlah pohon yang hidup — ia berbuah, menaungi, meneduhkan, dan tak pernah menagih apa pun dari siapa pun. Tapi lihatlah pohon yang kering, ia tak lagi bisa memberi apa pun. Maka, memberi adalah tanda bahwa hati kita masih hidup.

 

Rasulullah ? bersabda:

 

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Memberi berarti menempatkan diri di atas: di atas keserakahan, di atas ego, dan di atas rasa takut kehilangan. Karena sejatinya, bukan kita yang menjaga harta kita — tapi Allah yang menjaga apa yang kita beri di jalan-Nya.

 

Kisah: Sedekah yang Tak Pernah Hilang

 

Diriwayatkan, suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu membawa separuh hartanya untuk disedekahkan. Ia berharap bisa mengungguli Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, Abu Bakar datang dengan seluruh hartanya. Umar bertanya,

 

Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar menjawab dengan tenang,

Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

 

Kisah itu bukan sekadar tentang jumlah, tapi tentang keyakinan. Keyakinan bahwa Allah takkan membiarkan hamba yang memberi demi-Nya dalam kekurangan. Dan benar, sejarah mencatat, tak pernah ada orang yang rugi karena memberi.

 

Ketika Memberi Menjadi Jalan Menuju Damai

 

Para muzaki adalah pejuang dalam senyap. Mereka tidak hanya menunaikan kewajiban, tapi juga menyalakan harapan. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang mereka titipkan, mereka membantu membangun kemandirian mustahik, menghapus kesedihan, dan membuka pintu rezeki bagi banyak orang.

 

Bayangkan senyum seorang ibu yang bisa menyekolahkan anaknya karena bantuan zakat Anda. Bayangkan napas lega seorang ayah yang bisa kembali berdagang setelah mendapat modal dari BAZNAS. Setiap sen yang Anda beri bukan hanya angka di laporan keuangan, tapi doa-doa yang naik ke langit.

 

Hanya Memberi, Tak Harap Kembali

 

Mari kita hidupkan semangat ini — semangat memberi tanpa harap kembali. Sebab balasan terbaik bukanlah ucapan terima kasih, melainkan ketenangan hati yang Allah tanamkan kepada mereka yang ikhlas.

 

Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”

(QS. Saba’ [34]: 39)

 

Ketika tangan kita memberi, sebenarnya Allah sedang menyiapkan tangan-Nya untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih besar. Mungkin bukan dalam bentuk harta, tapi dalam bentuk keberkahan, ketenangan, dan kebaikan yang tak ternilai.

 

Maka, teruslah memberi, wahai para muzaki — dengan hati yang lapang dan niat yang tulus. Karena memberi sejatinya bukan tentang kehilangan, tetapi tentang mempercayai janji Allah yang tak pernah ingkar.

Akhirnya, marilah kita terus merawat ketulusan itu. Memberi tanpa pamrih bukan hanya tentang melepas harta, tetapi melepas ego dan rasa memiliki. Sebab apa pun yang kita genggam akan hilang, tetapi apa yang kita lepaskan di jalan Allah akan kekal kembali kepada kita dalam bentuk yang tak terduga.

 

Jadilah di antara mereka yang memberi dalam senyap namun dibalas Allah dengan cahaya yang terang. Karena bagi hati yang ikhlas, memberi bukan lagi kewajiban—melainkan jalan menuju ketenangan, keberkahan, dan cinta Tuhan yang tak pernah berakhir.***

 

Oleh:

Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman,

Muhaimin, S.Ag., M.Pd.

19/11/2025 | Kontributor: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.

Artikel Terbaru

Memahami Nisfu Syakban: Makna, Keutamaan, dan Amalan yang Dianjurkan
Memahami Nisfu Syakban: Makna, Keutamaan, dan Amalan yang Dianjurkan
Nisfu Syakban merupakan salah satu momentum penting dalam kalender Hijriah yang mendapat perhatian besar dari umat Islam. Istilah Nisfu Syakban merujuk pada pertengahan bulan Syakban, tepatnya malam ke-15, yang diyakini memiliki nilai spiritual dan keutamaan tersendiri. Dalam tradisi Islam, Nisfu Syakban kerap dimanfaatkan sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, melakukan introspeksi diri, serta menyiapkan hati dan jiwa menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Momentum ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus dengan sesama manusia. Lebih dari sekadar penanda waktu, Nisfu Syakban dipandang sebagai kesempatan memperkuat iman dan ketakwaan. Sejumlah ulama menjelaskan bahwa pada bulan ini catatan amal manusia diangkat dan ketentuan tahunan ditetapkan atas izin Allah SWT. Oleh karena itu, Nisfu Syakban menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh. Dalam praktiknya, Nisfu Syakban sering diisi dengan kegiatan keagamaan seperti doa bersama, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak istighfar. Tradisi tersebut berkembang di berbagai daerah sebagai wujud kecintaan umat Islam terhadap bulan Syakban. Meski terdapat perbedaan pandangan terkait tata cara pelaksanaannya, esensi Nisfu Syakban tetap berfokus pada penguatan spiritual dan perbaikan diri. Pemahaman yang benar tentang Nisfu Syakban sangat penting agar umat Islam tidak terjebak pada amalan yang tidak memiliki landasan kuat. Dengan pemahaman yang tepat, Nisfu Syakban dapat dimaknai sebagai sarana evaluasi diri dan peningkatan kualitas ibadah secara menyeluruh. Inilah yang menjadikan Nisfu Syakban memiliki kedudukan istimewa dalam pandangan kaum muslimin. Pengertian dan Makna Nisfu Syakban dalam Islam Secara bahasa, kata “nisfu” berarti pertengahan. Dengan demikian, Nisfu Syakban merujuk pada pertengahan bulan Syakban. Dalam perspektif Islam, Nisfu Syakban memiliki makna spiritual yang mendalam karena diyakini sebagai waktu turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT. Para ulama memandang Nisfu Syakban sebagai fase penting sebelum memasuki bulan Ramadan. Oleh sebab itu, Nisfu Syakban sering dimaknai sebagai masa persiapan ruhani agar seorang muslim dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan niat yang lurus. Kesadaran inilah yang menjadikan Nisfu Syakban tidak layak dilewatkan begitu saja. Dalam sejarah Islam, bulan Syakban juga dikaitkan dengan peristiwa pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Peristiwa besar tersebut menunjukkan bahwa bulan Syakban, termasuk Nisfu Syakban di dalamnya, memiliki posisi penting dalam perjalanan syariat Islam. Makna Nisfu Syakban juga tercermin dalam anjuran untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa pada malam Nisfu Syakban, Allah SWT membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. Hal ini menegaskan bahwa Nisfu Syakban merupakan waktu yang penuh harapan bagi umat Islam. Dengan memahami makna Nisfu Syakban secara menyeluruh, umat Islam diharapkan mampu menjadikannya sebagai sarana introspeksi diri. Nisfu Syakban mengajarkan pentingnya membersihkan hati dan memperbaiki amal sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Keutamaan Nisfu Syakban Menurut Hadis dan Pandangan Ulama Keutamaan Nisfu Syaban banyak dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, meskipun sebagian riwayat memiliki perbedaan tingkat kesahihan. Namun demikian, para ulama sepakat bahwa Nisfu Syakban merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa. Salah satu keutamaan Nisfu Syakban adalah turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa pada malam Nisfu Syakban, Allah SWT mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, kecuali bagi mereka yang menyekutukan Allah dan yang masih menyimpan permusuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid dan memperbaiki hubungan sosial. Selain itu, Nisfu Syakban juga diyakini sebagai waktu pengangkatan catatan amal tahunan. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa di bulan Syakban. Praktik tersebut menunjukkan bahwa bulan Syaban, termasuk Nisfu Syakban, memiliki keutamaan khusus dalam ibadah. Keutamaan lainnya adalah anjuran untuk memperbanyak doa. Banyak ulama menganjurkan agar umat Islam memohon kebaikan dunia dan akhirat pada Nisfu Syakban, karena waktu tersebut dianggap memiliki nilai kemustajaban dalam berdoa. Dengan memahami keutamaan Nisfu Syakban, umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya. Nisfu Syakban menjadi pengingat bahwa pintu rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar. Amalan yang Dianjurkan pada Nisfu Syakban Nisfu Syakban merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan utama yang dapat dilakukan adalah memperbanyak istighfar dan taubat atas dosa-dosa yang telah lalu. Membaca Al-Qur’an juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan pada Nisfu Syakban. Dengan memperbanyak tilawah, umat Islam diharapkan dapat menenangkan jiwa serta membersihkan hati. Momentum Nisfu Syakban menjadi kesempatan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Puasa sunah di bulan Syakban, termasuk menjelang Nisfu Syakban, juga merupakan amalan yang dianjurkan. Rasulullah SAW dikenal sering berpuasa di bulan ini, sebagai bentuk persiapan spiritual menuju Ramadan. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk menahan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan. Selain itu, memperbanyak doa menjadi amalan penting pada Nisfu Syakban. Doa dapat dipanjatkan untuk diri sendiri, keluarga, maupun umat Islam secara keseluruhan, sebagai bentuk pengharapan akan perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT. Tidak kalah penting, Nisfu Syakban juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan sosial. Memaafkan kesalahan orang lain dan menjauhi permusuhan merupakan bagian dari makna Nisfu Syaban agar rahmat Allah SWT dapat diraih secara sempurna. Hikmah dan Pelajaran dari Nisfu Syaban Nisfu Syakban mengandung banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi umat Islam. Salah satu hikmah utamanya adalah pentingnya evaluasi diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Melalui introspeksi, seorang muslim dapat mengenali kekurangan dalam ibadahnya dan berupaya memperbaikinya. Nisfu Syakban juga mengingatkan umat Islam akan keterbatasan manusia. Hidup dan mati sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT, sehingga manusia diajak untuk senantiasa berserah diri dan memperbanyak amal saleh. Pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Ampunan Allah SWT pada Nisfu Syakban tidak diberikan kepada mereka yang masih menyimpan permusuhan, sehingga ukhuwah Islamiyah menjadi nilai yang harus dijaga. Selain itu, Nisfu Syakban mengajarkan konsistensi dalam beribadah. Ibadah tidak hanya ditingkatkan saat Ramadan, tetapi juga dipersiapkan sejak Nisfu Syakban agar lebih berkualitas dan berkelanjutan. Memaknai Nisfu Syakban secara Bijak Nisfu Syakban merupakan anugerah besar dari Allah SWT sebagai kesempatan memperbaiki diri sebelum datangnya bulan Ramadan. Dengan memahami makna dan keutamaannya, Nisfu Syakban dapat dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT secara lebih mendalam. Melalui ibadah, doa, dan taubat yang dilakukan pada Nisfu Syakban, seorang muslim diharapkan mampu membersihkan hati dari dosa dan kesalahan. Momentum ini mengajarkan bahwa rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Umat Islam dianjurkan untuk memaknai Nisfu Syakban secara proporsional, tidak berlebihan namun juga tidak mengabaikannya. Dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, Nisfu Syakban dapat dijalani dengan penuh keberkahan. Semoga Nisfu Syakban menjadi titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Dengan persiapan spiritual yang matang sejak Nisfu Syakban, umat Islam dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan semangat ibadah yang lebih kuat. Sumber: baznas.go.id
ARTIKEL03/02/2026 | Humas
Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Jadwal, Keutamaan, dan Amalan Sunnahnya
Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Jadwal, Keutamaan, dan Amalan Sunnahnya
Nisfu Syaban adalah istilah yang merujuk pada pertengahan bulan Syaban dalam kalender Hijriah, tepatnya pada tanggal 15 Syaban 1447 H. Bagi umat Islam, malam Nisfu Syaban dikenal sebagai salah satu malam yang penuh keberkahan, di mana Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba yang bersungguh-sungguh bertaubat dan memperbanyak ibadah. Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah yang diselaraskan dengan kalender Masehi tahun 2026, Nisfu Syaban jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Sementara itu, malam Nisfu Syaban dimulai sejak terbenam matahari atau waktu Maghrib pada Senin malam, 2 Februari 2026, hingga terbit fajar keesokan harinya. Penetapan waktu Nisfu Syaban ini mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia serta metode hisab dan rukyatul hilal yang digunakan oleh lembaga-lembaga keagamaan di Indonesia. Meski demikian, terdapat kemungkinan perbedaan penetapan tanggal di beberapa wilayah, tergantung hasil pengamatan hilal setempat. Bulan Syaban sendiri merupakan bulan kedelapan dalam kalender Islam dan menjadi penghubung menuju bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, Nisfu Syaban sering dipandang sebagai momentum penting untuk mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan penuh ibadah tersebut. Dengan mengetahui jadwal Nisfu Syaban lebih awal, umat Islam dapat mempersiapkan ibadah dengan lebih optimal. Keutamaan Nisfu Syaban Nisfu Syaban memiliki keutamaan yang besar dalam tradisi Islam. Banyak ulama menjelaskan bahwa malam pertengahan bulan Syaban merupakan waktu dibukanya pintu ampunan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang memohon ampun dan kembali kepada-Nya dengan penuh kesadaran. Malam Nisfu Syaban juga diyakini sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Pada malam ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu, serta berdoa agar diberikan kebaikan di dunia dan akhirat. Selain itu, Nisfu Syaban menjadi momentum refleksi diri. Umat Islam diajak untuk mengevaluasi perjalanan ibadah selama setahun terakhir, memperbaiki kekurangan, serta meneguhkan niat untuk meningkatkan kualitas ibadah menjelang Ramadan. Banyak umat Muslim meyakini bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam penuh rahmat, di mana Allah SWT menurunkan keberkahan dan meninggikan derajat orang-orang yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah. Karena itulah, malam Nisfu Syaban sering diisi dengan doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Doa yang Dianjurkan pada Nisfu Syaban Pada malam Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa. Salah satu doa yang sering dipanjatkan adalah doa memohon ampunan dan rahmat Allah SWT, sebagaimana doa yang diriwayatkan dari para nabi dan orang-orang saleh. Selain doa-doa tertentu, umat Islam juga dianjurkan berdoa dengan bahasa sendiri, mengungkapkan harapan dan permohonan secara tulus dari hati. Nisfu Syaban menjadi waktu yang tepat untuk memohon ampunan, kesehatan, kelapangan rezeki yang halal, serta keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Para ulama juga menganjurkan membaca doa-doa pendek yang diajarkan Rasulullah SAW, seperti istighfar, doa syukur, dan doa memohon petunjuk. Doa-doa ini diharapkan dapat menghadirkan ketenangan batin dan memperkuat kedekatan spiritual dengan Allah SWT. Amalan yang Dianjurkan pada Nisfu Syaban Selain doa, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada Nisfu Syaban sebagai bentuk ikhtiar meraih keberkahan dan mempersiapkan diri menuju Ramadan. 1. Memperbanyak Dzikir dan Shalawat Dzikir dan shalawat menjadi amalan utama untuk mengingat Allah SWT dan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. 2. Shalat Sunnah dan Qiyamul Lail Melaksanakan shalat sunnah atau qiyamul lail di malam Nisfu Syaban merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dan sarana muhasabah diri. 3. Membaca Surat Yasin Membaca surat Yasin, yang sering dilakukan sebanyak tiga kali, menjadi tradisi baik untuk memohon keberkahan hidup, kelapangan rezeki, dan ampunan dosa. 4. Puasa Sunnah Syaban Puasa sunnah pada bulan Syaban, termasuk puasa Nisfu Syaban pada tanggal 15 Syaban atau 3 Februari 2026, dianjurkan sebagai bentuk persiapan fisik dan spiritual menuju Ramadan. 5. Istighfar dan Taubat Memperbanyak istighfar dan bertaubat menjadi inti dari ibadah Nisfu Syaban, agar hati dan jiwa bersih dalam menyambut bulan suci Ramadan. Kesimpulan Nisfu Syaban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui doa, dzikir, shalat malam, dan puasa sunnah. Nisfu Syaban 2026 yang jatuh pada 3 Februari menjadi kesempatan berharga untuk menata kembali niat dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan memahami jadwal, keutamaan, serta amalan yang dianjurkan, umat Islam diharapkan dapat menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah yang bermakna. Jadikan Nisfu Syaban sebagai titik awal perubahan diri menuju pribadi yang lebih baik dan sebagai bekal spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadan.
ARTIKEL02/02/2026 | Humas
Sedekah, Jalan Sunyi Menuju Kesehatan Jiwa Seorang Muslim
Sedekah, Jalan Sunyi Menuju Kesehatan Jiwa Seorang Muslim
Dalam Islam, sedekah tidak hanya dipahami sebagai bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sebagai ibadah yang memiliki dampak mendalam bagi kesehatan jiwa. Para ulama sejak dahulu menjelaskan bahwa memberi baik harta, tenaga, maupun perhatian adalah amalan yang mampu menenangkan hati dan membersihkan batin dari berbagai penyakit rohani. Dalam keseharian, kita sering mendapati bahwa orang-orang yang gemar berbagi tampak lebih lapang dan bahagia. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa sedekah membawa pengaruh positif bagi kondisi batin seseorang. Dengan bersedekah, seorang Muslim merasa lebih dekat kepada Allah, lebih kuat menghadapi ujian hidup, dan lebih mampu mengelola emosi negatif. Artikel ini mengulas bagaimana sedekah dapat menjadi sarana pemulihan kesehatan jiwa, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, sunnah Nabi, serta didukung oleh kajian psikologis modern. Pembahasan ini diharapkan membuka wawasan bahwa sedekah bukan sekadar amalan sosial, melainkan juga terapi spiritual yang menyentuh relung jiwa. Lebih dari itu, manfaat sedekah dirasakan oleh semua pihak baik yang memberi maupun yang menerima. Sedekah menghadirkan ketenangan, kebahagiaan, dan harapan hidup, sehingga berkontribusi besar dalam menjaga kesehatan mental seorang Muslim. Pada akhirnya, sedekah mampu menyembuhkan luka batin yang tak terlihat, membentuk pribadi yang lebih sabar, bersyukur, dan merasa cukup dengan karunia Allah. Inilah mengapa sedekah layak disebut sebagai penawar jiwa dalam Islam. Memberi yang Menenangkan Hati Islam mengajarkan bahwa sedekah adalah salah satu amalan yang paling efektif untuk meredakan kegelisahan hati. Saat seseorang memberi, muncul rasa lega dan damai karena telah melakukan kebaikan yang diridhai Allah. Ketenangan ini adalah respons alami jiwa yang mencintai kebaikan. Sedekah juga membantu membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan dua hal yang kerap menjadi sumber kecemasan. Dengan berbagi, hati menjadi lebih lapang dan pikiran lebih jernih. Ketika fokus dialihkan dari diri sendiri kepada kebutuhan orang lain, pikiran tidak lagi terjebak pada masalah pribadi. Inilah salah satu alasan mengapa sedekah begitu berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Selain itu, sedekah menumbuhkan rasa bermakna karena seseorang merasa menjadi bagian dari solusi sosial, yang pada akhirnya melahirkan kepuasan batin. Cara Islam Mengurangi Stres Melalui Sedekah Stres sering muncul akibat tekanan hidup dan kekhawatiran berlebihan. Islam menawarkan sedekah sebagai salah satu jalan untuk meredakannya. Sedekah menghadirkan energi positif karena seorang Muslim meyakini bahwa setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah. Dengan bersedekah, seseorang belajar melepaskan keterikatan berlebihan pada harta. Sikap ini membuat mental lebih kuat saat menghadapi kesulitan ekonomi maupun ujian hidup lainnya. Secara psikologis, aktivitas memberi memicu rasa bahagia yang membantu menurunkan tingkat stres. Keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Membalas kebaikan juga mengurangi rasa takut serta kecemasan terhadap masa depan. Lingkungan sosial yang terbentuk dari budaya sedekah pun menjadi lebih harmonis dan menenangkan. Membersihkan Batin dari Penyakit Hati Islam mengingatkan bahwa hati dapat ternodai oleh sifat sombong, iri, dan tamak. Sedekah menjadi sarana efektif untuk membersihkan penyakit-penyakit tersebut. Dengan memberi, seseorang merendahkan ego dan menyadari bahwa harta hanyalah titipan Allah. Sedekah melatih keikhlasan memberi bukan untuk pujian, melainkan karena Allah. Keikhlasan inilah yang melahirkan kedamaian batin. Selain itu, sedekah mengikis rasa iri dan dengki, karena hati justru dipenuhi kebahagiaan saat melihat orang lain terbantu. Kebiasaan berbagi juga mengurangi kecintaan berlebihan pada dunia, sehingga jiwa menjadi lebih ringan. Bahkan, sedekah menumbuhkan empati dan kasih sayang yang membantu seseorang memaafkan dan melepaskan dendam. Menumbuhkan Kebahagiaan yang Lebih Tahan Lama Kebahagiaan sejati dalam Islam bersumber dari rasa syukur. Sedekah membantu menumbuhkan rasa cukup terhadap apa yang Allah berikan. Dari sinilah ketenangan dan kesehatan jiwa bermula. Melalui sedekah, hubungan sosial menjadi lebih hangat dan penuh kepedulian. Hubungan yang sehat ini berkontribusi pada kebahagiaan jangka panjang. Selain itu, sedekah memberi makna dalam hidup sebuah kebutuhan psikologis yang penting bagi setiap manusia. Jika dilakukan secara konsisten, sedekah membentuk pola pikir yang lebih positif. Hidup tidak lagi terasa berat karena hati terbiasa melihat kebaikan di sekitar. Sedekah pun menjadi investasi kebahagiaan yang terus tumbuh. Sedekah sebagai Penguat Iman dan Jiwa Sedekah adalah ibadah yang mempererat hubungan seorang Muslim dengan Allah. Salah satu dampaknya adalah tumbuhnya rasa kedekatan kepada-Nya, yang membawa ketenangan batin. Keyakinan bahwa Allah akan mengganti setiap sedekah dengan kebaikan menumbuhkan optimisme dan kekuatan mental. Hadis-hadis Nabi juga menyebutkan bahwa sedekah dapat menolak bala dan mendatangkan keberkahan, sehingga hati menjadi lebih tenang menghadapi masa depan. Dengan sedekah, hidup terasa lebih terarah karena memiliki tujuan mulia: memberi manfaat bagi sesama. Tujuan ini membuat jiwa lebih stabil dan iman semakin kuat. Sedekah mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada memberi, bukan sekadar menerima. Sedekah, Penawar Jiwa dalam Islam Sedekah dalam Islam adalah ibadah yang sarat manfaat. Ia tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menyembuhkan diri sendiri. Dari menenangkan hati, meredakan stres, membersihkan jiwa, menumbuhkan kebahagiaan, hingga menjadi terapi spiritual semua menjadikan sedekah sebagai penawar jiwa yang Allah anugerahkan. Manfaat sedekah akan dirasakan oleh siapa pun yang mengamalkannya dengan ikhlas. Dengan memberi, kita merawat kesehatan jiwa, memperkuat iman, dan menemukan ketenangan yang hakiki. Mari salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat
ARTIKEL15/01/2026 | Humas
Renungan: Kebahagiaan yang Datang dari Memberi
Renungan: Kebahagiaan yang Datang dari Memberi
Di tengah dinamika kehidupan yang kerap menguji kesabaran dan keikhlasan, manusia sering mencari makna kebahagiaan dari berbagai arah. Melalui tulisan ini, Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhaimin, S.Ag., M.Pd., mengajak kita untuk sejenak berhenti dan merenungi satu hakikat sederhana namun mendalam: bahwa ketenangan hati dan kebahagiaan sejati kerap hadir bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari apa yang dengan ikhlas kita berikan. Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga jalan spiritual yang menuntun hati kembali dekat kepada Allah dan sesama. Dalam perjalanan hidup yang tak pernah sepi dari ujian, setiap kita sedang mencari sesuatu yang sama: ketenangan hati. Ada yang mencarinya dari harta, jabatan, atau penghargaan manusia. Namun, sering kali hati kita tetap merasa gelisah, meski genggaman kita penuh. Padahal, Allah telah membukakan pintu kebahagiaan itu dengan cara yang begitu sederhana, namun sering kita lupa: memberi. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban syariat. Ia adalah jalan pulang bagi hati yang lelah, jembatan bagi jiwa yang ingin kembali merasakan indahnya kedekatan dengan Allah. Memberi bukan hanya tentang mengurangi harta, tetapi tentang menambahkan keberkahan dalam hidup. Kita melepaskan sesuatu dari tangan, namun pada saat yang sama Allah memasukkan ketenangan ke dalam dada kita. Kita mungkin kehilangan angka dalam tabungan, tetapi Allah menggantinya dengan luasnya rizki, kelapangan hidup, dan doa-doa dari hamba-hamba yang terangkat berkat pemberian kita. Setiap rupiah zakat yang kita keluarkan, setiap infak yang kita sisihkan, setiap sedekah yang kita hulurkan—semuanya tidak pernah benar-benar hilang. Ia berubah rupa menjadi: senyum anak yatim yang kembali percaya bahwa dunia masih penuh kebaikan, napas lega orang tua yang akhirnya mampu membeli beras untuk keluarganya, kekuatan bagi para mustahik untuk bangkit dan menjadi mandiri. Dan seluruh kebaikan itu kembali kepada kita dengan cara yang tidak selalu terlihat oleh mata, tapi selalu dirasakan oleh hati. Allah berfirman: “Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39) Saat kita memberi, sebenarnya kita sedang menyalakan cahaya—di hidup orang lain, dan juga di dalam diri kita sendiri. Hari ini, marilah kita membuka hati: Bukan sekadar untuk menunaikan kewajiban, tetapi untuk menyempurnakan rasa syukur. Harta yang kita keluarkan mungkin sedikit, tetapi dampaknya bisa mengubah hidup seseorang. Dan di hadapan Allah, tak ada kebaikan yang sia-sia. Setiap pemberian adalah saksi bahwa kita pernah peduli, pernah membantu, pernah berkontribusi bagi ummat Rasulullah ?. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ringan tangan, luas hatinya, dan besar cintanya kepada sesama. Mari bersama BAZNAS, kita bangun bumi dengan kebaikan, dan kita siapkan akhirat dengan kebahagiaan yang tak terhingga. Karena memberi bukan membuat kita berkurang—memberi justru menjadikan kita tumbuh. Mari kita wujudkan nilai-nilai kebaikan itu dalam langkah nyata. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Sleman sebagai lembaga resmi yang amanah dan profesional. Setiap harta yang kita titipkan bukan hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga menjadi investasi akhirat yang terus mengalir pahalanya. Bersama BAZNAS Sleman, mari ringankan beban saudara kita, tumbuhkan harapan, dan raih keberkahan hidup—karena dengan memberi, kita sesungguhnya sedang menumbuhkan kebahagiaan yang hakiki.***
ARTIKEL07/01/2026 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Renungan : Hanya Memberi Tak Harap Kembali
Renungan : Hanya Memberi Tak Harap Kembali
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita memberi, bukan karena kita memiliki lebih, melainkan karena kita memahami bahwa kebaikan adalah napas yang menjaga hati tetap hidup. Dalam sunyi yang hanya Allah tahu, tangan yang memberi tanpa pamrih sejatinya sedang mengukir jejak iman. Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi dirasakan oleh langit. Ketika seseorang mampu memberi tanpa berharap kembali, maka pada saat itu ia telah naik ke derajat tertinggi: memberi sebagai bentuk cinta, bukan pamer; sebagai ibadah, bukan transaksi dunia. Berikut renungan yang disampaikan dari Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhaimin, S.Ag., M.Pd., tentang “Hanya Memberi Tak Harap Kembali”. Memberi tanpa pamrih adalah puncak kematangan jiwa. Ia bukan sekadar tindakan sosial, tapi wujud tertinggi dari iman dan cinta kepada Allah. Orang yang memberi tanpa mengharap balasan dari manusia sejatinya sedang bertransaksi langsung dengan Rabb yang Maha Kaya. Allah berfirman: "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharap keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Al-Ins?n [76]: 8–9) Ayat ini menggambarkan hati para pemberi sejati. Mereka menafkahkan hartanya bukan untuk dipuji, bukan untuk dilihat, dan bukan pula agar disanjung sebagai dermawan. Mereka memberi karena yakin bahwa setiap butir kebaikan akan kembali — bukan dari manusia, tapi dari Allah dalam bentuk yang jauh lebih indah. Memberi adalah tanda kehidupan Lihatlah pohon yang hidup — ia berbuah, menaungi, meneduhkan, dan tak pernah menagih apa pun dari siapa pun. Tapi lihatlah pohon yang kering, ia tak lagi bisa memberi apa pun. Maka, memberi adalah tanda bahwa hati kita masih hidup. Rasulullah ? bersabda: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim) Memberi berarti menempatkan diri di atas: di atas keserakahan, di atas ego, dan di atas rasa takut kehilangan. Karena sejatinya, bukan kita yang menjaga harta kita — tapi Allah yang menjaga apa yang kita beri di jalan-Nya. Kisah: Sedekah yang Tak Pernah Hilang Diriwayatkan, suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu membawa separuh hartanya untuk disedekahkan. Ia berharap bisa mengungguli Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, Abu Bakar datang dengan seluruh hartanya. Umar bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab dengan tenang, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Kisah itu bukan sekadar tentang jumlah, tapi tentang keyakinan. Keyakinan bahwa Allah takkan membiarkan hamba yang memberi demi-Nya dalam kekurangan. Dan benar, sejarah mencatat, tak pernah ada orang yang rugi karena memberi. Ketika Memberi Menjadi Jalan Menuju Damai Para muzaki adalah pejuang dalam senyap. Mereka tidak hanya menunaikan kewajiban, tapi juga menyalakan harapan. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang mereka titipkan, mereka membantu membangun kemandirian mustahik, menghapus kesedihan, dan membuka pintu rezeki bagi banyak orang. Bayangkan senyum seorang ibu yang bisa menyekolahkan anaknya karena bantuan zakat Anda. Bayangkan napas lega seorang ayah yang bisa kembali berdagang setelah mendapat modal dari BAZNAS. Setiap sen yang Anda beri bukan hanya angka di laporan keuangan, tapi doa-doa yang naik ke langit. Hanya Memberi, Tak Harap Kembali Mari kita hidupkan semangat ini — semangat memberi tanpa harap kembali. Sebab balasan terbaik bukanlah ucapan terima kasih, melainkan ketenangan hati yang Allah tanamkan kepada mereka yang ikhlas. “Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’ [34]: 39) Ketika tangan kita memberi, sebenarnya Allah sedang menyiapkan tangan-Nya untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih besar. Mungkin bukan dalam bentuk harta, tapi dalam bentuk keberkahan, ketenangan, dan kebaikan yang tak ternilai. Maka, teruslah memberi, wahai para muzaki — dengan hati yang lapang dan niat yang tulus. Karena memberi sejatinya bukan tentang kehilangan, tetapi tentang mempercayai janji Allah yang tak pernah ingkar. Akhirnya, marilah kita terus merawat ketulusan itu. Memberi tanpa pamrih bukan hanya tentang melepas harta, tetapi melepas ego dan rasa memiliki. Sebab apa pun yang kita genggam akan hilang, tetapi apa yang kita lepaskan di jalan Allah akan kekal kembali kepada kita dalam bentuk yang tak terduga. Jadilah di antara mereka yang memberi dalam senyap namun dibalas Allah dengan cahaya yang terang. Karena bagi hati yang ikhlas, memberi bukan lagi kewajiban—melainkan jalan menuju ketenangan, keberkahan, dan cinta Tuhan yang tak pernah berakhir.*** Oleh: Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
ARTIKEL19/11/2025 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Kalau Saya Berzakat, Saya Dapat Apa?
Kalau Saya Berzakat, Saya Dapat Apa?
Dalam keseharian kita mencari rezeki, sering kali ada momen ketika hati bertanya, untuk apa sebenarnya kita memberi? Di tengah sibuknya rutinitas dan tuntutan hidup, pertanyaan sederhana namun dalam seperti “Kalau saya berzakat, saya dapat apa?” kerap muncul tanpa disadari. Renungan berikut ditulis oleh Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhaimin, S.Ag., M.Pd., sebagai ajakan untuk kembali memaknai zakat bukan sekadar kewajiban, tapi sebagai jalan membersihkan hati, menumbuhkan empati, dan menguatkan hubungan kita dengan Sang Pemberi Rezeki. Kalau Saya Berzakat, Saya Dapat Apa? Pertanyaan ini sering terdengar ketika kami mengetuk hati para wajib zakat. “Kalau saya berzakat, saya dapat apa?” Sebuah pertanyaan yang jujur, tapi juga menggugah nurani kita. Sebab sesungguhnya, zakat bukanlah transaksi bisnis, melainkan ikatan spiritual antara kita dan Allah. Zakat bukan tentang apa yang kita lepaskan, tapi tentang apa yang kita bersihkan dan tumbuhkan dalam diri. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103) Zakat bukan sekadar angka di slip gaji, tapi tanda syukur atas nikmat rezeki dan amanah jabatan yang kita emban. Kita mungkin merasa gaji ini hasil kerja keras kita, padahal di dalamnya ada bagian orang lain — anak yatim yang belum makan, janda yang berjuang sendiri, santri yang belajar dengan semangat walau tanpa biaya. Maka saat seorang berzakat, sejatinya ia sedang berkata: “Ya Allah, aku ingin bersih. Aku ingin menjadi bagian dari keadilan-Mu di bumi.” Dan balasannya? Allah berjanji, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’: 39) Jadi, kalau Anda bertanya, “Kalau saya berzakat, saya dapat apa?” Jawabannya: Anda akan mendapat ketenangan hati yang tak bisa dibeli, rezeki yang tumbuh tanpa terasa, dan pahala yang tak pernah habis, bahkan setelah kita tiada. Karena zakat bukan sekadar memberi, tapi menegaskan siapa diri kita: Bahwa kita peduli, kita bersyukur, dan kita beriman.Semoga renungan ini mengingatkan kita bahwa setiap zakat yang ditunaikan bukan sekadar angka atau kewajiban tahunan, tetapi wujud nyata dari rasa syukur dan cinta kepada sesama. Mari bersama menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Sleman, agar setiap kebaikan yang kita tanam bisa tumbuh menjadi manfaat yang luas dan keberkahan yang abadi.*** Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd. (Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL27/10/2025 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Kenapa Zakat Harus Dikelola Lembaga Resmi? Ini Alasan Pilih BAZNAS Sleman
Kenapa Zakat Harus Dikelola Lembaga Resmi? Ini Alasan Pilih BAZNAS Sleman
Sleman – Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Melalui zakat, umat Islam tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membantu sesama agar terwujud keadilan sosial. Namun, pengelolaan zakat tidak boleh dilakukan sembarangan. Agar manfaatnya optimal, zakat sebaiknya dikelola oleh lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sleman. Mengapa harus lewat lembaga resmi? Ada tiga alasan utama: keamanan, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran. Alasan Zakat Harus Dikelola Lembaga Resmi 1. Keamanan dalam Pengelolaan Zakat Salah satu kekhawatiran masyarakat ketika menyalurkan zakat adalah apakah zakat tersebut benar-benar sampai kepada yang berhak. Dengan menyalurkan melalui BAZNAS Kabupaten Sleman, muzakki tidak perlu ragu karena lembaga ini memiliki payung hukum yang jelas, yaitu berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Selain itu, BAZNAS Sleman memiliki sistem pencatatan yang rapi, petugas yang terlatih, serta mekanisme distribusi zakat yang diawasi. Hal ini menjamin bahwa dana zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan masyarakat tersimpan dengan aman, tanpa risiko disalahgunakan. Dengan demikian, muzakki dapat lebih tenang dalam berzakat karena berada dalam jalur resmi yang terjamin keamanannya. 2. Akuntabilitas dan Transparansi BAZNAS Kabupaten Sleman berkomitmen memberikan laporan keuangan dan kegiatan secara berkala. Transparansi ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada publik, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat. Seluruh dana yang masuk dicatat secara detail, mulai dari penghimpunan hingga pendistribusian. BAZNAS Sleman juga rutin diaudit, baik oleh auditor internal maupun eksternal, untuk memastikan tidak ada penyimpangan dalam pengelolaan dana umat. Dengan sistem ini, muzakki bisa mengetahui ke mana zakatnya disalurkan, siapa penerima manfaatnya, dan program apa saja yang terbantu oleh dana zakat. Akuntabilitas yang tinggi inilah yang membuat zakat di BAZNAS Sleman memiliki nilai lebih, bukan hanya dari sisi ibadah, tetapi juga dari sisi profesionalitas pengelolaan. 3. Ketepatan Sasaran Penerima Zakat Sering kali muncul pertanyaan, apakah zakat yang kita keluarkan benar-benar sampai kepada orang yang tepat? Inilah pentingnya menyalurkan melalui lembaga resmi. BAZNAS Kabupaten Sleman melakukan pendataan mustahik secara menyeluruh, sehingga distribusi zakat tepat sasaran. Program-program seperti Sleman Sehat, Sleman Cerdas, dan pemberdayaan ekonomi mustahik menjadi bukti nyata bahwa zakat benar-benar disalurkan kepada yang berhak. Contohnya, melalui Sleman Sehat, zakat membantu masyarakat kurang mampu yang sakit parah tetapi tidak tercover BPJS. Sementara lewat Sleman Cerdas, zakat digunakan untuk membantu biaya pendidikan siswa kurang mampu dan memberi insentif bagi guru honorer. Ada pula program pemberdayaan ekonomi yang memberi modal usaha agar mustahik bisa berdaya dan mandiri. Dengan pola ini, zakat tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga transformatif: mengubah penerima manfaat dari mustahik menjadi muzakki di masa depan. Pentingnya Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS Sleman BAZNAS Sleman bukan sekadar lembaga penyalur zakat, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial. Setiap rupiah zakat yang disalurkan melalui lembaga ini dikelola secara aman, profesional, dan sesuai syariat. Dengan menyalurkan zakat ke BAZNAS Sleman, masyarakat tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga ikut membangun Sleman yang lebih sejahtera, sehat, dan cerdas. Semakin banyak masyarakat yang menyalurkan zakat melalui jalur resmi, semakin besar pula dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Pada akhirnya, zakat adalah amanah besar dari Allah SWT. Menitipkan zakat ke lembaga resmi seperti BAZNAS Kabupaten Sleman berarti ikut menjaga amanah tersebut dengan baik. Mari kita tingkatkan kesadaran untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Sleman. Dengan begitu, kita tidak hanya menolong sesama, tetapi juga memastikan zakat dikelola dengan aman, akuntabel, dan tepat sasaran.*** ? Zakat Anda, Kekuatan Umat! ?
ARTIKEL02/10/2025 | AYW./
Tolonglah Agama Allah, Maka Allah Menolong Kita
Tolonglah Agama Allah, Maka Allah Menolong Kita
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari ujian, baik berupa kesulitan maupun kelapangan. Islam mengajarkan bahwa salah satu cara mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan menolong agama-Nya. Menolong agama Allah dapat diwujudkan dengan berbagai cara, salah satunya melalui zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita keluarkan dengan ikhlas tidak akan berkurang, melainkan menjadi sumber keberkahan dan pintu datangnya rezeki. Banyak kisah inspiratif yang menunjukkan bagaimana keikhlasan dalam bersedekah mendatangkan pertolongan Allah, bahkan di saat manusia merasa tidak memiliki apa-apa lagi untuk diandalkan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7) Ayat ini adalah janji Allah yang tidak pernah meleset. Menolong agama Allah bukan berarti Allah membutuhkan kita. Allah Maha Kuasa, tanpa kita pun agama-Nya tetap tegak. Namun, dengan menolong agama Allah, sesungguhnya kita sedang menolong diri kita sendiri: membuka pintu rezeki, keberkahan, dan pertolongan dari-Nya. Salah satu cara menolong agama Allah adalah dengan zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita keluarkan akan menjadi cahaya, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Kisah Inspiratif: Pedagang Sayur dan Sedekahnya Di sebuah kampung, ada seorang pedagang sayur keliling yang penghasilannya pas-pasan. Setiap pagi ia mendorong gerobak berisi sayur, berharap dagangannya laku. Meski hidup sederhana, ia memiliki kebiasaan: setiap hari menyisihkan sebagian kecil hasil jualannya untuk sedekah, bahkan hanya sekedar seribu atau dua ribu rupiah. Suatu hari, ketika hujan deras disertai angin kencang, gerobaknya terguling dan banyak sayur yang rusak. Ia hanya bisa pasrah karena kerugiannya cukup besar. Namun, anehnya, keesokan harinya banyak tetangga yang datang membeli sayurnya, bahkan ada yang memborong sekaligus. Sejak hari itu, dagangannya semakin laris, dan ia bisa memperbaiki hidupnya sedikit demi sedikit. Ketika ditanya apa rahasianya, ia hanya menjawab: "Saya tidak punya apa-apa untuk menolong agama Allah. Saya hanya bisa sedekah seikhlas saya, semoga itu cukup menjadi alasan Allah menolong saya." Benar saja, janji Allah terbukti. Orang yang menolong agama-Nya, akan ditolong dalam urusan hidupnya. Pelajaran untuk Kita Menolong agama Allah tidak selalu dengan hal-hal besar. Kadang, dengan zakat yang kita tunaikan, dengan infak kecil yang kita sisihkan, dengan sedekah tulus yang kita berikan—itu sudah menjadi bukti cinta kita pada agama Allah. Dan ingatlah: kebaikan yang kita keluarkan tidak pernah sia-sia. Bisa jadi ia kembali dalam bentuk rezeki, kesehatan, kebahagiaan keluarga, atau pertolongan di saat kita sangat membutuhkannya. Mari kita istiqamah menolong agama Allah dengan zakat, infak, dan sedekah. Karena ketika kita menolong agama Allah, sesungguhnya Allah sedang menolong kita.***Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd. (Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL30/09/2025 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Seandainya Aku Bisa Kembali, Hanya untuk Bersedekah
Seandainya Aku Bisa Kembali, Hanya untuk Bersedekah
Setiap orang yang meninggal dunia telah menutup pintu amalnya. Semua kesempatan yang dahulu terbentang kini hilang. Tidak ada lagi shalat, tidak ada lagi puasa, tidak ada lagi sedekah. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan penantian akan hasil dari amal yang telah ia tabung semasa hidup. Allah menggambarkan penyesalan itu dalam Al-Qur’an: “Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku bisa berbuat amal shalih yang telah aku tinggalkan…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100). Menariknya, dalam sebuah ayat lain Allah menyebutkan bahwa ketika seseorang sudah menghadapi kematian, ia tidak meminta kembali untuk shalat, tidak meminta kembali untuk haji, tidak meminta kembali untuk berdzikir. Yang pertama kali disebut adalah sedekah. “…dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku barang sebentar saja, maka aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang shalih’.” (QS. Al-Munafiqun: 10). Mengapa sedekah? Karena sedekah adalah amal yang cepat dirasakan manfaatnya oleh orang lain, pahalanya terus mengalir walaupun kita sudah tiada, dan ia menjadi penolong di alam kubur. Kisah yang Menggetarkan Kisah Utsman bin Affan r.a. Dahulu di Madinah terjadi krisis air. Sebuah sumur milik seorang Yahudi dijual dengan harga sangat tinggi. Kaum muslimin kesulitan. Utsman bin Affan r.a. lalu membelinya dengan harga yang mahal, lalu menghibahkannya untuk kaum muslimin. Sampai hari ini, sumur itu masih mengalir di Madinah, dan pahala Utsman terus mengalir meskipun beliau sudah wafat lebih dari 14 abad lalu. Kisah Tiga Orang yang Terjebak dalam Gua Dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim, tiga orang terperangkap di dalam gua karena tertutup batu besar. Mereka berdoa dengan menyebut amal terbaik masing-masing. Salah satunya menyebut tentang sedekah yang ia berikan kepada seorang pekerja miskin. Doa itu menjadi wasilah keselamatan mereka. Ini menunjukkan betapa sedekah mampu menolong, bahkan di saat yang paling sulit. Kisah Nyata Masa Kini Tidak sedikit kisah orang yang hidupnya berubah karena sedekah. Seorang pedagang kecil yang rajin menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu fakir miskin, tiba-tiba diberi kelapangan rezeki yang tidak ia sangka. Bahkan ada orang sakit yang sembuh setelah dengan ikhlas bersedekah untuk anak yatim. Semua itu adalah bukti nyata janji Allah: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” Renungan untuk Kita di Sleman Betapa banyak saudara kita di Sleman yang membutuhkan bantuan: anak-anak yatim yang butuh sekolah, dhuafa yang kesulitan makan, pedagang kecil yang ingin bangkit, dan keluarga miskin yang terlilit utang. Bisa jadi, satu sedekah dari kita menjadi jawaban doa mereka. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Namun kita tahu, kesempatan itu masih ada sekarang. Mari jangan menunggu sampai ajal tiba lalu menyesal dan berkata: “Ya Allah, kembalikan aku ke dunia, agar aku bisa bersedekah…” Saat ini, tangan kita masih bisa memberi. Harta kita masih ada di genggaman. Maka mari kita gunakan untuk bersedekah di jalan Allah, agar kelak ketika kita dipanggil, kita bisa tersenyum karena pahala sedekah terus mengalir.*** Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd. (Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan)
ARTIKEL22/09/2025 | AYW./
Kenapa Harus Zakat Lewat BAZNAS Sleman? Ini 7 Alasannya
Kenapa Harus Zakat Lewat BAZNAS Sleman? Ini 7 Alasannya
Zakat tidak cukup hanya ditunaikan, melainkan juga harus disalurkan melalui lembaga yang terpercaya, amanah, dan profesional agar manfaatnya benar-benar sampai kepada yang berhak. Menunaikan zakat merupakan kewajiban setiap Muslim yang mampu, sebagai bentuk penyucian harta dan kepedulian sosial terhadap sesama. Salah satu lembaga resmi yang direkomendasikan pemerintah adalah BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), termasuk di daerah seperti BAZNAS Sleman. Berdasarkan data dari Kementerian Agama RI dan BAZNAS RI, zakat melalui lembaga resmi memiliki dampak yang lebih luas dan terorganisir. Berikut ini 7 alasan kenapa kamu sebaiknya menunaikan zakat melalui BAZNAS Sleman: 7 Alasan Kenapa Harus Berzakat di BAZNAS Sleman 1. Lembaga Resmi yang Diakui Negara BAZNAS adalah satu-satunya lembaga pengelola zakat yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. BAZNAS Sleman merupakan perpanjangan tangan BAZNAS RI di tingkat kabupaten, yang legal dan diawasi langsung oleh negara. Artinya, zakat yang kamu salurkan benar-benar sesuai syariat dan aturan hukum yang berlaku. 2. Amanah dan Terpercaya BAZNAS Sleman dikelola oleh para amil yang profesional dan memiliki integritas tinggi. Setiap rupiah yang disalurkan akan dikelola secara amanah dan tepat sasaran. Tidak hanya itu, lembaga ini juga melakukan verifikasi langsung kepada para mustahik (penerima zakat) untuk memastikan penyaluran yang benar-benar berdampak. 3. Transparan dan Akuntabel Salah satu kekuatan BAZNAS adalah keterbukaan dalam pengelolaan dana zakat. Laporan keuangan dan kegiatan disampaikan secara berkala dan dapat diakses publik. BAZNAS Sleman juga diaudit oleh akuntan independen serta diawasi oleh BAZNAS RI dan Kementerian Agama, sehingga kamu bisa menunaikan zakat tanpa ragu. 4. Tepat Sasaran dan Berdampak Nyata Dana zakat yang dihimpun BAZNAS Sleman digunakan untuk berbagai program pemberdayaan mustahik, seperti bantuan pendidikan, kesehatan, ekonomi produktif, hingga tanggap bencana. Tidak hanya memberi bantuan sesaat, tapi juga menciptakan kemandirian dan keberlanjutan. 5. Mudah dan Aksesibel BAZNAS Sleman menyediakan berbagai kanal pembayaran zakat secara offline dan online. Kamu bisa datang langsung ke kantor, melalui layanan jemput zakat, atau menggunakan transfer bank dan QRIS. Semua dibuat praktis untuk memudahkan muzakki (pemberi zakat). 6. Mendapat Bukti Setor Zakat Resmi Setiap zakat yang disetorkan ke BAZNAS Sleman akan mendapatkan bukti setor resmi yang sah. Ini penting, terutama bagi muzakki yang membutuhkan bukti administrasi untuk kepentingan perpajakan atau laporan keuangan. 7. Mendukung Pengentasan Kemiskinan Secara Sistematis Zakat bukan sekadar amal pribadi, tetapi bagian dari sistem pembangunan sosial. Melalui BAZNAS, zakat menjadi alat yang strategis untuk mengurangi ketimpangan ekonomi, menurunkan angka kemiskinan, dan mewujudkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan. Kesimpulan Menunaikan zakat melalui BAZNAS Sleman bukan hanya soal kewajiban, tapi juga tentang efisiensi, kebermanfaatan, dan keberkahan. Zakat yang kamu salurkan tidak hanya sampai kepada yang berhak, tetapi juga menjadi bagian dari solusi sosial di Kabupaten Sleman dan sekitarnya. Yuk, tunaikan zakatmu melalui BAZNAS Sleman, karena zakatmu bukan sekadar amal, tapi perubahan nyata.*** Salurkan zakat Anda melalui link berikut: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat
ARTIKEL30/07/2025 | AYW./
Wajib Tahu! Syarat dan Waktu Membayar Zakat Mal dan Fitrah
Wajib Tahu! Syarat dan Waktu Membayar Zakat Mal dan Fitrah
Sleman – Masih banyak umat Muslim yang masih bingung soal siapa saja yang wajib zakat, bagaimana cara menghitungnya, dan kapan harus menunaikannya. Berikut panduan praktis zakat dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan dan keadilan sosial. Apakah Anda pernah bertanya, “Siapa sih yang wajib zakat, berapa yang harus dikeluarkan, dan kapan waktu tepatnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menghantui kaum muslimin, apalagi bagi yang baru awal belajar kewajiban zakat. Di artikel ini, kami akan kupas tuntas zakat secara ringkas, jelas, dan sistematis. Mulai dari zakat fitrah yang wajib dikeluarkan sebelum Idul Fitri, hingga zakat mal yang harus dibayar saat harta sudah cukup dan mencapai syarat akan diulas pada artikel ini. Siapa yang Wajib Membayar Zakat? Zakat wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang: Beragama Islam Baligh dan berakal Merdeka (bukan hamba sahaya) Memiliki harta yang telah mencapai nisab dan haul (untuk zakat mal) Kepemilikan penuh Bebas hutang Sudah mencapai nisab Sudah melewati haul (siklus kepemilikan satu tahun) Zakat mal (harta): wajib jika total harta; uang, emas, aset perdagangan, pertanian, peternakan, investasi, dan sebagainya telah mencapai nisab dan haul. Zakat fitrah: wajib bagi setiap jiwa muslim yang mampu, tanpa melihat kepemilikan harta. Untuk zakat fitrah, syarat wajibnya lebih sederhana: setiap Muslim yang hidup pada malam Idul Fitri dan memiliki kelebihan makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya sehari semalam. Jenis-Jenis Zakat 1. Zakat Fitrah Zakat ini wajib dibayarkan pada bulan Ramadan hingga sebelum salat Idul Fitri. Besarannya setara dengan 1 sha’ (sekitar 2,5–3 kg) bahan makanan pokok seperti beras. Di Indonesia, nilainya biasanya disesuaikan dengan harga beras di wilayah masing-masing, rata-rata sekitar Rp 47.000 – Rp 60.000 per jiwa. 2. Zakat Mal (Harta) Zakat ini mencakup berbagai jenis harta seperti: Zakat penghasilan/gaji (2,5%) Zakat emas/perak (nisab emas 85 g, perak 595 g, zakat 2,5%) Zakat perdagangan, pertanian, peternakan, pertambangan, jasa, saham, reksa dana, property sewaan, dan rikaz (harta temuan) semuanya juga diwajibkan zakat mal di haulnya, umumnya 2,5%. Zakat hasil investasi dan tabungan atau uang kontan (2,5%) Cara Menghitung Zakat Zakat Fitrah Jumlah jiwa x 2,5 kg beras (atau ekuivalen uang). Contoh: keluarga 4 jiwa x 2,5 kg = 10 kg beras atau setara uang Rp52.000 x 4 = Rp208.000 Zakat Mal 1. Investasi semua harta (uang, emas, saham, aset dagang, dan sebagainya) setelah dikurangi utang. 2. Cek apakah total mencapai nisab: nisab asuan 85 g emas (sekitar Rp85-123 juta tergantung harga emas). 3. Jika sudah haul satu tahun, hitung: total harta x 2,5%. Contoh emas: 100 g emas x harga Rp800.000/g = Rp80 juta; Zakat = 2,5% x Rp80 juta = Rp2 juta. Contoh penghasilan: jika penghasilan rutin bulanan melebihi nisab bulanan (85 g emas/tahun dibagi 12), zakat tiap bulan 2,5% dari penghasilan bersih. Contoh perhitungan zakat penghasilan: Gaji per bulan: Rp 10.000.000 Nisab: Setara 522 kg beras x Rp 12.000 = Rp 6.264.000 Karena gaji > nisab, maka zakat wajib: Zakat = 2,5% x Rp 10.000.000 = Rp 250.000 per bulan Untuk kemudahan, Anda bisa menggunakan kalkulator zakat online yang tersedia di https://kabsleman.baznas.go.id/kalkulator-zakat. Kapan Waktu Membayar Zakat? Zakat Fitrah Ditunaikan mulai awal Ramadan dan paling lambat sebelum salat Idul Fitri. Zakat Mal Ditunaikan saat harta mencapai nisab dan sudah dimiliki satu tahun (haul). Untuk pertanian, hewan, dan rikaz haul tidak diperlukan, biasanya pada saat panen atau ditemukan. Zakat harta bisa juga secara bulanan, seperti zakat penghasilan yang dikeluarkan tiap bulan. Penyaluran Zakat Pastikan Anda menyalurkan zakat ditempat yang terpercaya, gunakan kanal resmi BAZNAS Kabupaten Sleman, dengan langkah berikut: - Transfer ke rekening resmi atau melalui aplikasi atau situs https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat - Bisa juga membayar langsung ke kantor BAZNAS Kabupaten Sleman. BAZNAS Sleman menjamin penyaluran kepada 8 golongan mustahik: fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil. Menunaikan zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga cara kita membersihkan harta, menumbuhkan solidaritas sosial, dan menghadirkan keberkahan dalam hidup. Dengan memahami siapa yang wajib, berapa yang harus dikeluarkan, dan kapan waktunya, semoga kita semua dapat lebih ringan dan ikhlas dalam berbagi. Mari tunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Sleman, agar dana zakat Anda tersalurkan tepat sasaran dan berdampak nyata bagi sesama.***
ARTIKEL23/07/2025 | AYW./
Zakat, Infak, Sedekah Apa Bedanya? Berikut Penjelasannya
Zakat, Infak, Sedekah Apa Bedanya? Berikut Penjelasannya
Sleman – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah zakat, infak, dan sedekah atau disingkat ZIS. Lantas apa perbedaan dari ketiganya? Berikut penjelasannya. Ketiganya merupakan bentuk ibadah sosial dalam Islam yang sangat dianjurkan untuk membantu sesama, khususnya yang membutuhkan. Namun, masih banyak umat Islam yang belum memahami secara tepat perbedaan antara ketiga istilah tersebut. Berikut penjelasan lengkap tentang perbedaan zakat, infak, dan sedekah agar tidak lagi keliru dalam penerapannya. Zakat: Kewajiban bagi yang Memenuhi Syarat Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu (nishab dan haul), untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik). Zakat memiliki aturan yang sangat rinci, baik dari segi jumlah, jenis harta, maupun waktu pengeluarannya. Ada dua jenis zakat, yaitu: Zakat Fitrah: Dikeluarkan menjelang Idulfitri, sebagai bentuk pensucian jiwa. Besarnya setara dengan 1 sha’ (sekitar 2,5–3 kg makanan pokok). Zakat Mal: Zakat atas harta seperti penghasilan, emas, perdagangan, hasil pertanian, dan lain-lain. Zakat bersifat wajib, dan tidak menunaikannya dianggap dosa. Perintah zakat tertulis jelas dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. At-Taubah ayat 103 dan QS. Al-Baqarah ayat 267. Infak: Memberi dari Harta tanpa Batas Waktu dan Jumlah Infak berarti mengeluarkan sebagian harta untuk tujuan kebaikan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Berbeda dari zakat, infak tidak wajib, tidak ada batas minimal, dan tidak ditentukan jenis hartanya. Infak bisa diberikan kepada siapa saja, bukan hanya kepada 8 golongan mustahik. Misalnya, membantu pembangunan masjid, biaya pendidikan, menolong korban bencana, atau mendukung dakwah. Infak dapat diberikan kapan saja dan kepada siapa saja yang membutuhkan, bahkan kepada orang tua, kerabat, atau teman. Sedekah: Tak Selalu Soal Uang Sedekah memiliki makna yang lebih luas dibanding zakat dan infak. Tidak hanya berupa harta, sedekah bisa dalam bentuk amal perbuatan baik, seperti senyum, menyingkirkan batu dari jalan, memberi nasihat baik, atau menolong orang lain. Sedekah adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki pahala besar. Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi) Dalam Islam, sedekah adalah cerminan kepekaan sosial dan keikhlasan hati dalam berbagi. Kesimpulan: Mana yang Harus Didahulukan? Zakat wajib, dikeluarkan jika memenuhi syarat tertentu. Infak sunnah, tidak terbatas jumlah maupun waktu. Sedekah lebih umum, bisa berupa harta atau non-materi. Semua bentuk ZIS memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang berkeadilan, sejahtera, dan penuh kasih sayang. Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih bijak dan tepat dalam menunaikan kewajiban dan memperluas kebaikan. Tunaikan Zakat dan Infak Anda melalui BAZNAS Sleman. Amanah, transparan, dan berdampak. “Karena zakatmu, harapan mereka tumbuh”. Tunaikan zakat sekarang: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat Sumber: baznas.go.id , kemenag.go.id
ARTIKEL22/07/2025 | AYW./
Program Kurban Berkah BAZNAS Sleman 2025: Cahaya bagi Mudohi dan Mustahik
Program Kurban Berkah BAZNAS Sleman 2025: Cahaya bagi Mudohi dan Mustahik
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sleman kembali menghadirkan **Program Kurban Berkah 2025**, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk memperluas manfaat ibadah kurban bagi masyarakat yang membutuhkan. Program ini merupakan bagian dari upaya BAZNAS dalam mendistribusikan hewan kurban secara lebih merata, termasuk ke daerah-daerah yang sulit dijangkau dan kantong-kantong kemiskinan di wilayah Sleman. Kemudahan Akses dan Layanan BAZNAS Sleman menyediakan berbagai kanal pembayaran dan layanan untuk memudahkan masyarakat dalam berkurban. Dengan integrasi kanal digital dan kerja sama dengan berbagai mitra ritel, masyarakat dapat menunaikan ibadah kurban dengan lebih mudah dan terpercaya. Kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan wujud ketakwaan kepada Allah SWT, kurban menjadi bagian dari ajaran Islam yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga sosial. BAZNAS Kabupaten Sleman hadir sebagai lembaga yang siap mengelola dan menyalurkan kurban dari para donatur kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dengan sistem yang transparan, amanah, dan profesional, kami berkomitmen untuk memastikan bahwa ibadah kurban yang dilakukan para donatur dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat di Sleman. Kurban yang disalurkan melalui BAZNAS Kabupaten Sleman akan diberikan kepada kaum dhuafa, fakir miskin, yatim piatu, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah yang jarang mendapatkan distribusi daging kurban. Dengan program ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati kebahagiaan hari raya Idul Adha dan memperoleh gizi yang cukup dari daging kurban yang disalurkan.
ARTIKEL16/05/2025 | AS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat