WhatsApp Icon
Ini Keutamaan 10 Muharram: Amalan Asyura, Hikmah, yang Jarang Diketahui Umat Muslim

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang paling dimuliakan dalam Islam. Sebagai bagian dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an, Muharram memiliki berbagai keutamaan yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan menjauhi perbuatan maksiat.

Di antara hari-hari istimewa pada bulan ini, tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat mulia. Meski banyak umat Islam mengenal puasa Asyura sebagai amalan sunnah, tidak sedikit yang belum memahami berbagai keutamaan dan hikmah besar di balik hari tersebut.

Memahami keutamaan 10 Muharram dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat keimanan kepada Allah SWT.

Apa Itu Hari Asyura?

Hari Asyura adalah sebutan untuk tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Kata "Asyura" berasal dari bahasa Arab yang berarti "sepuluh", merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharram.

Sejarah mencatat bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai ungkapan syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS, sehingga beliau menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa Asyura.

Puasa ini menjadi salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT.

Keutamaan 10 Muharram yang Perlu Diketahui

1. Puasa Asyura Menghapus Dosa-Dosa Kecil Setahun Sebelumnya

Salah satu keutamaan 10 Muharram yang paling dikenal adalah pahala puasa Asyura. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa pada hari tersebut diharapkan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.

Keutamaan ini menunjukkan besarnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri melalui ibadah. Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa keutamaan tersebut berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.

2. Momentum Mengenang Pertolongan Allah kepada Nabi Musa AS

Tanggal 10 Muharram juga menjadi pengingat atas peristiwa besar ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS beserta kaumnya dari kejaran Fir'aun.

Dengan izin Allah SWT, laut terbelah sehingga Nabi Musa AS dan Bani Israil dapat menyeberang dengan selamat, sementara Fir'aun beserta pasukannya ditenggelamkan. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi orang-orang yang beriman dan bersabar menghadapi ujian.

3. Waktu yang Tepat Memperbanyak Amal Saleh

Karena Muharram termasuk bulan yang dimuliakan, setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT.

Pada hari Asyura, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan, seperti:

Puasa sunnah

Membaca Al-Qur'an

Berdzikir

Memperbanyak doa

Bersedekah

Menjalin silaturahmi

Membantu sesama

Amalan-amalan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus mempererat hubungan dengan Allah SWT.

4. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW

Melaksanakan puasa Asyura merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dengan mengikuti sunnah beliau, seorang muslim tidak hanya memperoleh pahala puasa, tetapi juga pahala karena menghidupkan ajaran Nabi.

Inilah salah satu keutamaan 10 Muharram yang sering terlupakan, yakni kesempatan untuk mengamalkan sunnah yang memiliki nilai ibadah tinggi.

5. Menumbuhkan Rasa Syukur kepada Allah SWT

Hari Asyura mengajarkan pentingnya bersyukur atas nikmat dan pertolongan Allah SWT. Nabi Musa AS berpuasa sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan yang diberikan kepadanya beserta kaumnya.

Bagi umat Islam, rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui ketaatan, ibadah, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Amalan yang Dianjurkan pada 10 Muharram

Puasa Asyura

Puasa Asyura menjadi amalan utama pada tanggal 10 Muharram. Bahkan, banyak ulama menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi.

Sebagian ulama juga membolehkan puasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.

Memperbanyak Dzikir dan Doa

Selain berpuasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memohon ampunan, keberkahan, kesehatan, serta petunjuk dari Allah SWT.

Bersedekah kepada Sesama

Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Pada hari Asyura, memperbanyak sedekah menjadi salah satu bentuk syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan-Nya sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Muhasabah Diri

Muharram sebagai awal tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Umat Islam dapat menjadikan 10 Muharram sebagai momentum memperbaiki kekurangan, mengevaluasi amal ibadah, serta menyusun target spiritual yang lebih baik.

Hikmah Besar di Balik Keutamaan 10 Muharram

Keutamaan 10 Muharram tidak hanya berkaitan dengan pahala ibadah, tetapi juga mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan seorang muslim.

Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain:

Menguatkan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang beriman.

Menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Mempererat hubungan dengan Allah SWT melalui puasa, doa, dan ibadah lainnya.

Menumbuhkan kepedulian sosial melalui sedekah dan berbagai bentuk kebaikan kepada sesama.

Hal yang Perlu Dihindari Saat 10 Muharram

Dalam mengamalkan ibadah pada hari Asyura, umat Islam hendaknya tetap berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah yang sahih. Hindari berbagai amalan atau keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat.

Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain:

Meyakini hari Asyura memiliki kekuatan khusus tanpa dalil yang sahih.

Melakukan ritual yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW.

Berlebihan dalam merayakan atau memperingati hari Asyura.

Menyebarkan hadis-hadis lemah atau palsu mengenai keutamaan Muharram.

Keutamaan 10 Muharram menjadi salah satu anugerah yang Allah SWT berikan kepada umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan.

Hari Asyura bukan hanya identik dengan puasa sunnah, tetapi juga menjadi pengingat atas besarnya pertolongan Allah kepada para nabi dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Melalui momentum ini, umat Islam diajak memperbanyak amal saleh, memperkuat rasa syukur, meningkatkan kepedulian kepada sesama, serta meneladani kesabaran para nabi dalam menghadapi berbagai ujian.

Semoga kita semua termasuk hamba yang mampu memanfaatkan keutamaan 10 Muharram untuk meraih ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.***

22/06/2026 | Kontributor: Humas
Keistimewaan Bulan Muharram: Keutamaan, Amalan Sunnah, dan Hikmah Tahun Baru Islam

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang paling dimuliakan dalam Islam. Selain menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT.

Datangnya bulan Muharram menjadi momen yang dinantikan umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan melakukan refleksi diri.

Berbagai amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan ini menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ketakwaan serta meraih keberkahan.

Muharram Termasuk Empat Bulan Haram

Salah satu keutamaan bulan Muharram adalah statusnya sebagai bulan haram. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa terdapat empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan serta memperbanyak amal saleh. Para ulama menjelaskan bahwa pahala kebaikan pada bulan haram memiliki keutamaan yang besar, sementara dosa juga menjadi lebih berat akibatnya.

Karena itu, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah?

Keistimewaan lain dari bulan Muharram adalah penyebutannya sebagai Syahrullah atau "Bulan Allah". Penyandaran nama bulan kepada Allah SWT menunjukkan kemuliaan dan kedudukan istimewa yang dimiliki Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan tersebut merupakan bentuk penghormatan yang tinggi. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan Muharram dengan memperbanyak amal kebajikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Keutamaan Puasa di Bulan Muharram

Salah satu ibadah sunnah yang paling dianjurkan selama Muharram adalah berpuasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram.

Anjuran ini menunjukkan besarnya nilai ibadah puasa di bulan yang mulia tersebut. Selain memperoleh pahala, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, membersihkan hati, serta membentuk kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Keutamaan Puasa Asyura pada 10 Muharram

Saat membahas keistimewaan bulan Muharram, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram tidak dapat dipisahkan. Hari Asyura memiliki sejarah penting dalam Islam dan menjadi salah satu hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.

Karena keutamaan tersebut, banyak umat Islam memanfaatkan hari Asyura dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal saleh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah

Muharram juga menandai dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah. Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan.

Awal tahun Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk menyusun kembali target ibadah, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan keimanan agar menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram

Selain menjalankan puasa sunnah, terdapat berbagai amalan lain yang dapat dilakukan untuk mengisi bulan Muharram dengan kebaikan.

1. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Berbagi kepada sesama pada bulan Muharram menjadi salah satu cara meraih keberkahan sekaligus membantu mereka yang membutuhkan.

2. Membaca Al-Qur'an

Muharram menjadi waktu yang baik untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an. Membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an akan memperkuat keimanan sekaligus meningkatkan kualitas spiritual seorang Muslim.

3. Memperbanyak Zikir dan Doa

Memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan doa merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Zikir menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menenangkan hati.

4. Menjalin Silaturahmi

Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan sesama Muslim. Mempererat silaturahmi di bulan Muharram merupakan salah satu bentuk amal saleh yang membawa keberkahan.

Hikmah Bulan Muharram bagi Umat Islam

Bulan Muharram mengajarkan banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah pentingnya memulai sesuatu dengan niat yang baik dan semangat untuk terus memperbaiki diri.

Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim perlu melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidupnya. Kesalahan di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran untuk memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan dengan sesama.

Melalui berbagai amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram, seorang Muslim dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Mengapa Keistimewaan Bulan Muharram Penting Dipahami?

Memahami keistimewaan bulan Muharram membantu umat Islam agar tidak melewatkan kesempatan meraih pahala dan keberkahan yang Allah SWT sediakan. Tidak sedikit orang yang mengetahui Muharram sebagai awal tahun Hijriah, tetapi belum memahami berbagai keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Dengan mengenal kemuliaan bulan Muharram, setiap Muslim akan lebih termotivasi untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Keistimewaan bulan Muharram menjadikannya sebagai salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Statusnya sebagai bulan haram, anjuran memperbanyak puasa sunnah, keutamaan puasa Asyura, serta posisinya sebagai awal tahun Hijriah menjadi bukti besarnya kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada bulan ini.

Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memanfaatkan bulan Muharram dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, serta melakukan berbagai amal kebajikan lainnya.

Semoga setiap amal saleh yang dilakukan pada bulan yang penuh berkah ini diterima Allah SWT dan menjadi bekal menuju kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

19/06/2026 | Kontributor: Humas
Bulan Muharram 1448 H: Keutamaan, Amalan Sunnah, dan Hikmah Tahun Baru Islam

Bulan Muharram 1448 Hijriah menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk membuka lembaran baru dengan semangat ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.

Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram bukan hanya menandai pergantian tahun Islam, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki amal, dan meningkatkan kualitas keimanan.

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena kemuliaannya tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi berbagai perbuatan yang dapat mengurangi pahala maupun mendatangkan dosa.

Momentum Tahun Baru Islam juga mengingatkan umat Islam akan makna hijrah. Tidak hanya berpindah tempat sebagaimana hijrah Rasulullah SAW, tetapi juga berpindah dari kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih dekat dengan nilai-nilai Islam.

Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam

1. Termasuk Salah Satu Bulan yang Dimuliakan Allah SWT

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an, selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan menghindari segala bentuk kemaksiatan.

Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan mulia memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, Muharram menjadi kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.

2. Bulan Terbaik untuk Melaksanakan Puasa Sunnah Setelah Ramadan

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram. Keutamaan ini menjadikan Muharram sebagai waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah puasa sunnah.

Di antara puasa yang paling dianjurkan adalah:

·         Puasa Tasu'a pada 9 Muharram

·         Puasa Asyura pada 10 Muharram

·         Puasa 11 Muharram sebagai penyempurna dan pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi

·         Puasa sunnah Senin dan Kamis

Puasa Asyura memiliki keutamaan besar karena dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu dengan izin Allah SWT.

3. Momentum Hijrah dan Perbaikan Diri

Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup terus berjalan. Muharram dapat dijadikan titik awal untuk melakukan evaluasi diri dan menyusun langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan melalui berbagai perubahan positif, seperti memperbaiki kualitas salat, meningkatkan kedisiplinan beribadah, menjaga akhlak, memperbanyak membaca Al-Qur'an, serta memperkuat hubungan dengan keluarga dan masyarakat.

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram 1448 H

1. Memperbanyak Puasa Sunnah

Puasa merupakan salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram. Selain mendapatkan pahala yang besar, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Puasa Tasu'a dan Asyura menjadi amalan yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Islam pada bulan ini.

2. Meningkatkan Sedekah dan Kepedulian Sosial

Muharram juga menjadi momentum yang baik untuk memperbanyak sedekah. Membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, berbagi makanan, maupun menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga terpercaya merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Sedekah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga menjadi sarana membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.

3. Memperbanyak Dzikir dan Doa

Mengisi hari-hari di bulan Muharram dengan dzikir dan doa dapat membantu menenangkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Umat Islam dapat memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, serta membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, awal tahun Hijriah juga dapat dijadikan momentum untuk memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, dan keteguhan iman.

4. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur'an

Muharram merupakan waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur'an. Tidak hanya membaca, umat Islam juga dianjurkan untuk memahami makna dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Membiasakan membaca Al-Qur'an secara rutin dapat menjadi langkah awal menuju perubahan diri yang lebih baik sepanjang tahun.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan Sesama

Salah satu bentuk hijrah yang penting adalah memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Muharram menjadi waktu yang baik untuk mempererat tali persaudaraan, saling memaafkan, dan menghindari perselisihan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah dan membangun hubungan yang harmonis karena hal tersebut menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Hikmah yang Dapat Dipetik dari Bulan Muharram

Muharram mengajarkan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam. Pergantian tahun Hijriah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan setiap manusia memiliki kesempatan yang terbatas untuk beramal.

Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari bulan Muharram antara lain:

·         Menumbuhkan semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik.

·         Meningkatkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu dengan bijak.

·         Memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah.

·         Menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama.

·         Menjadikan amal saleh sebagai prioritas dalam kehidupan.

Apabila dimanfaatkan dengan baik, Muharram dapat menjadi awal perubahan positif yang membawa manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Hal yang Perlu Dihindari di Bulan Muharram

Sebagai bulan yang dimuliakan, Muharram hendaknya diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah dan mendatangkan kebaikan. Umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap berbagai keyakinan atau tradisi yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam syariat.

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari antara lain:

·         Menganggap Muharram sebagai bulan yang membawa kesialan.

·         Melakukan ritual atau amalan yang tidak memiliki landasan syariat.

·         Bermalas-malasan dalam beribadah.

·         Menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.

Sebaliknya, Muharram hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran Islam.

Bulan Muharram 1448 H merupakan salah satu bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Sebagai awal tahun Hijriah, Muharram menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Berbagai amalan seperti puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur'an, memperbanyak dzikir, dan menjaga silaturahmi dapat menjadi sarana meraih pahala dan keberkahan di bulan yang istimewa ini.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mengisi Bulan Muharram 1448 H dengan amal-amal terbaik serta menjadikannya sebagai awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih bertakwa, penuh keberkahan, dan diridhai-Nya.***

15/06/2026 | Kontributor: Humas
Makna Tahun Baru Islam 1448 H: Momentum Hijrah, Muhasabah, dan Perbaikan Diri

Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah.

Namun, bagi sebagian orang, pergantian tahun Islam sering kali dipahami hanya sebagai perubahan angka dalam kalender. Padahal, makna Tahun Baru Islam jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian waktu.

Tahun Baru Islam merupakan momentum berharga untuk melakukan evaluasi diri, memperkuat keimanan, serta memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim memiliki kesempatan untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, Muharram juga termasuk salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan ibadah, dan menjadikan momen ini sebagai awal perubahan positif dalam kehidupan.

Sejarah Tahun Baru Islam dan Awal Kalender Hijriah

Penanggalan Hijriah berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah menuju Madinah. Peristiwa bersejarah tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan dakwah Islam dan menjadi dasar penetapan kalender Islam yang digunakan hingga saat ini.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat bermusyawarah untuk menentukan awal perhitungan kalender Islam. Mereka kemudian sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah SAW sebagai permulaan kalender Hijriah karena memiliki nilai perjuangan, pengorbanan, dan perubahan yang sangat besar bagi perkembangan Islam.

Dari sejarah tersebut, umat Islam dapat memahami bahwa Tahun Baru Islam bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan simbol transformasi menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan agama.

Makna Tahun Baru Islam yang Perlu Dipahami Umat Muslim

1. Momentum Muhasabah dan Evaluasi Diri

Salah satu makna penting Tahun Baru Islam adalah sebagai waktu untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Pergantian tahun menjadi kesempatan untuk menilai kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.

Setiap Muslim dapat merenungkan berbagai hal, seperti:

·         Apakah kualitas ibadah semakin meningkat?

·         Apakah hubungan dengan keluarga dan sesama semakin baik?

·         Apakah kebiasaan buruk mulai ditinggalkan?

·         Apakah waktu yang dimiliki telah dimanfaatkan dengan baik?

Muhasabah menjadi langkah awal untuk melakukan perubahan yang lebih baik pada tahun berikutnya.

2. Menumbuhkan Semangat Hijrah ke Arah Kebaikan

Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW. Dalam kehidupan sehari-hari, hijrah dapat dimaknai sebagai perubahan dari perilaku yang kurang baik menuju perilaku yang lebih baik.

Contohnya antara lain:

·         Dari lalai salat menjadi lebih disiplin beribadah.

·         Dari ucapan yang menyakiti menjadi perkataan yang santun.

·         Dari sifat iri dan dengki menjadi pribadi yang ikhlas dan bersyukur.

·         Dari sikap acuh menjadi lebih peduli terhadap sesama.

Semangat hijrah inilah yang menjadi inti dari peringatan Tahun Baru Islam setiap tahunnya.

3. Mengingat Keteladanan dan Perjuangan Rasulullah SAW

Peristiwa hijrah mengajarkan banyak nilai kehidupan. Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai tantangan, tekanan, dan ancaman ketika memperjuangkan dakwah Islam.

Meski demikian, mereka tetap sabar, teguh, dan yakin akan pertolongan Allah SWT. Kisah tersebut memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran, keberanian, keteguhan iman, dan optimisme dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

4. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah

Saat hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan tersebut menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat Islam yang harmonis dan saling mendukung.

Oleh karena itu, Tahun Baru Islam juga menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat persatuan, serta menghilangkan permusuhan dan perpecahan di tengah masyarakat.

Amalan yang Dianjurkan Saat Memasuki Tahun Baru Islam

Menyambut Tahun Baru Islam sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dengan memperbanyak amal ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT.

Memperbanyak Doa dan Dzikir

Awal tahun Hijriah merupakan waktu yang baik untuk memperbanyak doa dan dzikir. Umat Islam dapat memohon keberkahan, kesehatan, kemudahan rezeki, serta keteguhan iman dalam menjalani kehidupan.

Melaksanakan Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Muharram merupakan salah satu bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah. Di antara yang paling utama adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, yang memiliki keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

Meningkatkan Sedekah dan Kepedulian Sosial

Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, serta berbagi kepada mereka yang membutuhkan merupakan bentuk nyata kepedulian sosial yang dapat dilakukan saat menyambut Tahun Baru Hijriah.

Memperbaiki Hubungan dengan Sesama

Pergantian tahun juga dapat dijadikan momentum untuk mempererat silaturahmi, meminta maaf, memperbaiki hubungan keluarga, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar.

Kesalahan dalam Memahami Tahun Baru Islam

Masih terdapat sebagian masyarakat yang memaknai Tahun Baru Islam sebatas tradisi atau kegiatan seremonial tanpa memahami nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Ada pula yang terlalu fokus pada perayaan, tetapi melupakan pesan utama hijrah dan perbaikan diri. Padahal, hakikat Tahun Baru Islam adalah mengingatkan umat agar semakin dekat kepada Allah SWT serta meningkatkan kualitas akhlak dan ibadah.

Islam tidak melarang umatnya bergembira, namun kegembiraan tersebut hendaknya tetap berada dalam koridor syariat dan tidak mengabaikan nilai-nilai keislaman.

Hikmah yang Dapat Dipetik dari Tahun Baru Islam

Pergantian tahun Hijriah menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan seorang Muslim, antara lain:

·         Mengingatkan bahwa usia terus bertambah dan waktu hidup semakin berkurang.

·         Menumbuhkan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

·         Mendorong kedisiplinan dalam menjalankan ibadah.

·         Mengingat perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

·         Memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian sosial.

·         Menjadikan setiap pergantian waktu sebagai sarana memperbaiki kualitas diri.

Dengan memahami hikmah tersebut, Tahun Baru Islam dapat menjadi momentum perubahan yang memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Menanamkan Nilai Tahun Baru Islam kepada Anak Sejak Dini

Peran orang tua sangat penting dalam mengenalkan makna Tahun Baru Islam kepada anak-anak. Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana, seperti:

·         Menceritakan kisah hijrah Nabi Muhammad SAW.

·         Mengajak anak berdoa bersama.

·         Menanamkan kebiasaan berbuat baik.

·         Memberikan teladan akhlak yang mulia.

·         Mengajak anak berbagi dan bersedekah.

Dengan cara tersebut, anak-anak tidak hanya mengenal Tahun Baru Islam sebagai pergantian kalender, tetapi juga memahami nilai-nilai keimanan dan akhlak yang terkandung di dalamnya.

Tahun Baru Islam sebagai Awal Perubahan Menuju Kebaikan

Pada hakikatnya, makna Tahun Baru Islam adalah ajakan untuk terus berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perubahan sikap, perilaku, dan pola hidup agar semakin sesuai dengan ajaran Islam.

Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu dan amal yang telah dilakukan. Karena itu, momen ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperkuat iman, meningkatkan ibadah, memperbaiki akhlak, dan memperluas manfaat bagi sesama.

Jangan biarkan Tahun Baru Islam berlalu tanpa makna. Jadikan Muharram sebagai awal langkah untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam menjalani tahun yang baru dengan penuh keberkahan, kemudahan, dan kebaikan.***

15/06/2026 | Kontributor: Humas
Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan yang Dianjurkan untuk Meraih Pahala Berlimpah

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat berbagai ibadah besar, seperti haji, puasa Arafah, Iduladha, dan ibadah kurban.

Selain itu, sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikenal sebagai hari-hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesempatan berharga ini hendaknya dimanfaatkan oleh setiap muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal kebajikan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Berbagai keutamaan yang terkandung dalam bulan Dzulhijjah menjadikannya momentum yang sangat tepat untuk meraih pahala dan keberkahan yang berlimpah.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

1. Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah Merupakan Hari-Hari Terbaik

Salah satu keistimewaan terbesar bulan Dzulhijjah adalah kemuliaan sepuluh hari pertamanya. Pada hari-hari tersebut, setiap amal saleh memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)."

(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa berbagai ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, dan berdoa sangat dianjurkan untuk diperbanyak selama periode tersebut.

2. Menjadi Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji

Bulan Dzulhijjah juga menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji, yaitu rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh umat Islam yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan.

Jutaan jamaah dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Momentum ini menjadi simbol persatuan umat Islam tanpa membedakan bangsa, suku, maupun status sosial.

Bagi umat Islam yang belum berkesempatan menunaikan haji, keberkahan bulan Dzulhijjah tetap dapat diraih dengan memperbanyak amal saleh sesuai kemampuan masing-masing.

3. Terdapat Hari Arafah yang Penuh Keutamaan

Tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah, salah satu hari yang sangat istimewa dalam Islam. Bagi jamaah haji, wukuf di Arafah merupakan puncak sekaligus rukun utama ibadah haji.

Sementara itu, bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."

(HR. Muslim)

Keutamaan tersebut menunjukkan besarnya rahmat dan ampunan yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya yang menjalankan puasa Arafah dengan penuh keikhlasan.

4. Momentum Hari Raya Iduladha

Keistimewaan bulan Dzulhijjah semakin lengkap dengan hadirnya Hari Raya Iduladha yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Hari raya ini mengingatkan umat Islam pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menaati perintah Allah SWT. Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar tentang nilai keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.

Pada hari Iduladha, umat Islam melaksanakan shalat Id, memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

5. Waktu Pelaksanaan Ibadah Kurban

Ibadah kurban menjadi salah satu syariat yang sangat dianjurkan bagi muslim yang memiliki kemampuan. Pelaksanaannya dilakukan mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Allah SWT berfirman:

"Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah."

(QS. Al-Kautsar: 2)

Kurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk memperkuat kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Dzulhijjah

Untuk meraih keutamaan bulan Dzulhijjah secara maksimal, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amal saleh berikut.

1. Memperbanyak Dzikir

Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak dzikir, terutama pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Dzikir yang dianjurkan antara lain:

Takbir (Allahu Akbar)

Tahmid (Alhamdulillah)

Tahlil (La ilaha illallah)

Tasbih (Subhanallah)

Melalui dzikir, hati menjadi lebih tenang dan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT semakin dekat.

2. Melaksanakan Puasa Sunnah

Puasa sunnah pada awal bulan Dzulhijjah, khususnya Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, memiliki keutamaan yang sangat besar.

Selain memperoleh pahala, puasa juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran, pengendalian diri, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

3. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang dianjurkan sepanjang waktu, terlebih pada bulan yang penuh keberkahan seperti Dzulhijjah.

Selain membaca, umat Islam juga dianjurkan untuk memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

4. Memperbanyak Sedekah

Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Pada bulan Dzulhijjah, pahala sedekah semakin besar karena dilakukan pada waktu yang mulia.

Sedekah tidak selalu berupa materi. Membantu sesama, berbagi makanan, memberikan tenaga, atau membantu orang yang membutuhkan juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai ibadah.

5. Menunaikan Ibadah Kurban

Bagi muslim yang memiliki kemampuan finansial, berkurban merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Selain menjadi wujud ketaatan kepada Allah SWT, kurban juga menghadirkan manfaat sosial yang besar karena membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang membutuhkan.

6. Memperbanyak Doa dan Istighfar

Bulan Dzulhijjah adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Setiap muslim dianjurkan untuk memanfaatkan momen ini sebagai sarana muhasabah diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta memohon keberkahan dan kebaikan dunia maupun akhirat.

Hikmah Menghidupkan Bulan Dzulhijjah dengan Amal Saleh

Berbagai amalan yang dilakukan selama bulan Dzulhijjah tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga memberikan banyak hikmah dalam kehidupan.

Di antaranya adalah meningkatnya keimanan dan ketakwaan, tumbuhnya rasa syukur, meningkatnya kepedulian sosial, serta semakin kuatnya hubungan dengan Allah SWT.

Selain itu, bulan Dzulhijjah juga mengajarkan nilai pengorbanan dan keikhlasan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat.

Penutup

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan paling istimewa dalam Islam yang dipenuhi berbagai keutamaan dan peluang untuk meraih pahala yang berlimpah. Keberadaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, Hari Arafah, Iduladha, serta ibadah kurban menjadikan bulan ini sebagai momentum yang sangat berharga bagi setiap muslim.

Karena itu, marilah memanfaatkan bulan Dzulhijjah dengan memperbanyak dzikir, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berdoa, beristighfar, dan menunaikan ibadah kurban bagi yang mampu. Semoga Allah SWT memberikan rahmat, ampunan, dan keberkahan kepada kita semua serta menjadikan kita hamba-hamba yang semakin bertakwa.***

09/06/2026 | Kontributor: Humas

Artikel Terbaru

Ini Keutamaan 10 Muharram: Amalan Asyura, Hikmah, yang Jarang Diketahui Umat Muslim
Ini Keutamaan 10 Muharram: Amalan Asyura, Hikmah, yang Jarang Diketahui Umat Muslim
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang paling dimuliakan dalam Islam. Sebagai bagian dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an, Muharram memiliki berbagai keutamaan yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan menjauhi perbuatan maksiat. Di antara hari-hari istimewa pada bulan ini, tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat mulia. Meski banyak umat Islam mengenal puasa Asyura sebagai amalan sunnah, tidak sedikit yang belum memahami berbagai keutamaan dan hikmah besar di balik hari tersebut. Memahami keutamaan 10 Muharram dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Apa Itu Hari Asyura? Hari Asyura adalah sebutan untuk tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Kata "Asyura" berasal dari bahasa Arab yang berarti "sepuluh", merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharram. Sejarah mencatat bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai ungkapan syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS, sehingga beliau menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa Asyura. Puasa ini menjadi salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT. Keutamaan 10 Muharram yang Perlu Diketahui 1. Puasa Asyura Menghapus Dosa-Dosa Kecil Setahun Sebelumnya Salah satu keutamaan 10 Muharram yang paling dikenal adalah pahala puasa Asyura. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa pada hari tersebut diharapkan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu. Keutamaan ini menunjukkan besarnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri melalui ibadah. Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa keutamaan tersebut berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh. 2. Momentum Mengenang Pertolongan Allah kepada Nabi Musa AS Tanggal 10 Muharram juga menjadi pengingat atas peristiwa besar ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS beserta kaumnya dari kejaran Fir'aun. Dengan izin Allah SWT, laut terbelah sehingga Nabi Musa AS dan Bani Israil dapat menyeberang dengan selamat, sementara Fir'aun beserta pasukannya ditenggelamkan. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi orang-orang yang beriman dan bersabar menghadapi ujian. 3. Waktu yang Tepat Memperbanyak Amal Saleh Karena Muharram termasuk bulan yang dimuliakan, setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Pada hari Asyura, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan, seperti: Puasa sunnah Membaca Al-Qur'an Berdzikir Memperbanyak doa Bersedekah Menjalin silaturahmi Membantu sesama Amalan-amalan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus mempererat hubungan dengan Allah SWT. 4. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW Melaksanakan puasa Asyura merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dengan mengikuti sunnah beliau, seorang muslim tidak hanya memperoleh pahala puasa, tetapi juga pahala karena menghidupkan ajaran Nabi. Inilah salah satu keutamaan 10 Muharram yang sering terlupakan, yakni kesempatan untuk mengamalkan sunnah yang memiliki nilai ibadah tinggi. 5. Menumbuhkan Rasa Syukur kepada Allah SWT Hari Asyura mengajarkan pentingnya bersyukur atas nikmat dan pertolongan Allah SWT. Nabi Musa AS berpuasa sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan yang diberikan kepadanya beserta kaumnya. Bagi umat Islam, rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui ketaatan, ibadah, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Amalan yang Dianjurkan pada 10 Muharram Puasa Asyura Puasa Asyura menjadi amalan utama pada tanggal 10 Muharram. Bahkan, banyak ulama menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi. Sebagian ulama juga membolehkan puasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram. Memperbanyak Dzikir dan Doa Selain berpuasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memohon ampunan, keberkahan, kesehatan, serta petunjuk dari Allah SWT. Bersedekah kepada Sesama Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Pada hari Asyura, memperbanyak sedekah menjadi salah satu bentuk syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan-Nya sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Muhasabah Diri Muharram sebagai awal tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Umat Islam dapat menjadikan 10 Muharram sebagai momentum memperbaiki kekurangan, mengevaluasi amal ibadah, serta menyusun target spiritual yang lebih baik. Hikmah Besar di Balik Keutamaan 10 Muharram Keutamaan 10 Muharram tidak hanya berkaitan dengan pahala ibadah, tetapi juga mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan seorang muslim. Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain: Menguatkan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang beriman. Menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Mempererat hubungan dengan Allah SWT melalui puasa, doa, dan ibadah lainnya. Menumbuhkan kepedulian sosial melalui sedekah dan berbagai bentuk kebaikan kepada sesama. Hal yang Perlu Dihindari Saat 10 Muharram Dalam mengamalkan ibadah pada hari Asyura, umat Islam hendaknya tetap berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah yang sahih. Hindari berbagai amalan atau keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat. Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain: Meyakini hari Asyura memiliki kekuatan khusus tanpa dalil yang sahih. Melakukan ritual yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW. Berlebihan dalam merayakan atau memperingati hari Asyura. Menyebarkan hadis-hadis lemah atau palsu mengenai keutamaan Muharram. Keutamaan 10 Muharram menjadi salah satu anugerah yang Allah SWT berikan kepada umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan. Hari Asyura bukan hanya identik dengan puasa sunnah, tetapi juga menjadi pengingat atas besarnya pertolongan Allah kepada para nabi dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Melalui momentum ini, umat Islam diajak memperbanyak amal saleh, memperkuat rasa syukur, meningkatkan kepedulian kepada sesama, serta meneladani kesabaran para nabi dalam menghadapi berbagai ujian. Semoga kita semua termasuk hamba yang mampu memanfaatkan keutamaan 10 Muharram untuk meraih ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.***
ARTIKEL22/06/2026 | Humas
Keistimewaan Bulan Muharram: Keutamaan, Amalan Sunnah, dan Hikmah Tahun Baru Islam
Keistimewaan Bulan Muharram: Keutamaan, Amalan Sunnah, dan Hikmah Tahun Baru Islam
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang paling dimuliakan dalam Islam. Selain menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT. Datangnya bulan Muharram menjadi momen yang dinantikan umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan melakukan refleksi diri. Berbagai amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan ini menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ketakwaan serta meraih keberkahan. Muharram Termasuk Empat Bulan Haram Salah satu keutamaan bulan Muharram adalah statusnya sebagai bulan haram. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa terdapat empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan serta memperbanyak amal saleh. Para ulama menjelaskan bahwa pahala kebaikan pada bulan haram memiliki keutamaan yang besar, sementara dosa juga menjadi lebih berat akibatnya. Karena itu, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah? Keistimewaan lain dari bulan Muharram adalah penyebutannya sebagai Syahrullah atau "Bulan Allah". Penyandaran nama bulan kepada Allah SWT menunjukkan kemuliaan dan kedudukan istimewa yang dimiliki Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya. Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan tersebut merupakan bentuk penghormatan yang tinggi. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan Muharram dengan memperbanyak amal kebajikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Keutamaan Puasa di Bulan Muharram Salah satu ibadah sunnah yang paling dianjurkan selama Muharram adalah berpuasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram. Anjuran ini menunjukkan besarnya nilai ibadah puasa di bulan yang mulia tersebut. Selain memperoleh pahala, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, membersihkan hati, serta membentuk kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Keutamaan Puasa Asyura pada 10 Muharram Saat membahas keistimewaan bulan Muharram, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram tidak dapat dipisahkan. Hari Asyura memiliki sejarah penting dalam Islam dan menjadi salah satu hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu. Karena keutamaan tersebut, banyak umat Islam memanfaatkan hari Asyura dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal saleh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah Muharram juga menandai dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah. Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan. Awal tahun Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk menyusun kembali target ibadah, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan keimanan agar menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram Selain menjalankan puasa sunnah, terdapat berbagai amalan lain yang dapat dilakukan untuk mengisi bulan Muharram dengan kebaikan. 1. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Berbagi kepada sesama pada bulan Muharram menjadi salah satu cara meraih keberkahan sekaligus membantu mereka yang membutuhkan. 2. Membaca Al-Qur'an Muharram menjadi waktu yang baik untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an. Membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an akan memperkuat keimanan sekaligus meningkatkan kualitas spiritual seorang Muslim. 3. Memperbanyak Zikir dan Doa Memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan doa merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Zikir menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menenangkan hati. 4. Menjalin Silaturahmi Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan sesama Muslim. Mempererat silaturahmi di bulan Muharram merupakan salah satu bentuk amal saleh yang membawa keberkahan. Hikmah Bulan Muharram bagi Umat Islam Bulan Muharram mengajarkan banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah pentingnya memulai sesuatu dengan niat yang baik dan semangat untuk terus memperbaiki diri. Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim perlu melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidupnya. Kesalahan di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran untuk memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan dengan sesama. Melalui berbagai amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram, seorang Muslim dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Mengapa Keistimewaan Bulan Muharram Penting Dipahami? Memahami keistimewaan bulan Muharram membantu umat Islam agar tidak melewatkan kesempatan meraih pahala dan keberkahan yang Allah SWT sediakan. Tidak sedikit orang yang mengetahui Muharram sebagai awal tahun Hijriah, tetapi belum memahami berbagai keutamaan yang terkandung di dalamnya. Dengan mengenal kemuliaan bulan Muharram, setiap Muslim akan lebih termotivasi untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama. Keistimewaan bulan Muharram menjadikannya sebagai salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Statusnya sebagai bulan haram, anjuran memperbanyak puasa sunnah, keutamaan puasa Asyura, serta posisinya sebagai awal tahun Hijriah menjadi bukti besarnya kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada bulan ini. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memanfaatkan bulan Muharram dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, serta melakukan berbagai amal kebajikan lainnya. Semoga setiap amal saleh yang dilakukan pada bulan yang penuh berkah ini diterima Allah SWT dan menjadi bekal menuju kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
ARTIKEL19/06/2026 | Humas
Bulan Muharram 1448 H: Keutamaan, Amalan Sunnah, dan Hikmah Tahun Baru Islam
Bulan Muharram 1448 H: Keutamaan, Amalan Sunnah, dan Hikmah Tahun Baru Islam
Bulan Muharram 1448 Hijriah menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk membuka lembaran baru dengan semangat ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram bukan hanya menandai pergantian tahun Islam, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki amal, dan meningkatkan kualitas keimanan. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena kemuliaannya tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi berbagai perbuatan yang dapat mengurangi pahala maupun mendatangkan dosa. Momentum Tahun Baru Islam juga mengingatkan umat Islam akan makna hijrah. Tidak hanya berpindah tempat sebagaimana hijrah Rasulullah SAW, tetapi juga berpindah dari kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih dekat dengan nilai-nilai Islam. Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam 1. Termasuk Salah Satu Bulan yang Dimuliakan Allah SWT Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an, selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan menghindari segala bentuk kemaksiatan. Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan mulia memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, Muharram menjadi kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. 2. Bulan Terbaik untuk Melaksanakan Puasa Sunnah Setelah Ramadan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram. Keutamaan ini menjadikan Muharram sebagai waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah puasa sunnah. Di antara puasa yang paling dianjurkan adalah: · Puasa Tasu'a pada 9 Muharram · Puasa Asyura pada 10 Muharram · Puasa 11 Muharram sebagai penyempurna dan pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi · Puasa sunnah Senin dan Kamis Puasa Asyura memiliki keutamaan besar karena dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu dengan izin Allah SWT. 3. Momentum Hijrah dan Perbaikan Diri Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup terus berjalan. Muharram dapat dijadikan titik awal untuk melakukan evaluasi diri dan menyusun langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan melalui berbagai perubahan positif, seperti memperbaiki kualitas salat, meningkatkan kedisiplinan beribadah, menjaga akhlak, memperbanyak membaca Al-Qur'an, serta memperkuat hubungan dengan keluarga dan masyarakat. Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram 1448 H 1. Memperbanyak Puasa Sunnah Puasa merupakan salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram. Selain mendapatkan pahala yang besar, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa Tasu'a dan Asyura menjadi amalan yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Islam pada bulan ini. 2. Meningkatkan Sedekah dan Kepedulian Sosial Muharram juga menjadi momentum yang baik untuk memperbanyak sedekah. Membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, berbagi makanan, maupun menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga terpercaya merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sedekah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga menjadi sarana membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. 3. Memperbanyak Dzikir dan Doa Mengisi hari-hari di bulan Muharram dengan dzikir dan doa dapat membantu menenangkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Umat Islam dapat memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, serta membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, awal tahun Hijriah juga dapat dijadikan momentum untuk memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, dan keteguhan iman. 4. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur'an Muharram merupakan waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur'an. Tidak hanya membaca, umat Islam juga dianjurkan untuk memahami makna dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan membaca Al-Qur'an secara rutin dapat menjadi langkah awal menuju perubahan diri yang lebih baik sepanjang tahun. 5. Menjaga Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan Sesama Salah satu bentuk hijrah yang penting adalah memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Muharram menjadi waktu yang baik untuk mempererat tali persaudaraan, saling memaafkan, dan menghindari perselisihan. Islam mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah dan membangun hubungan yang harmonis karena hal tersebut menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan. Hikmah yang Dapat Dipetik dari Bulan Muharram Muharram mengajarkan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam. Pergantian tahun Hijriah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan setiap manusia memiliki kesempatan yang terbatas untuk beramal. Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari bulan Muharram antara lain: · Menumbuhkan semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik. · Meningkatkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu dengan bijak. · Memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah. · Menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama. · Menjadikan amal saleh sebagai prioritas dalam kehidupan. Apabila dimanfaatkan dengan baik, Muharram dapat menjadi awal perubahan positif yang membawa manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Hal yang Perlu Dihindari di Bulan Muharram Sebagai bulan yang dimuliakan, Muharram hendaknya diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah dan mendatangkan kebaikan. Umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap berbagai keyakinan atau tradisi yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam syariat. Beberapa hal yang sebaiknya dihindari antara lain: · Menganggap Muharram sebagai bulan yang membawa kesialan. · Melakukan ritual atau amalan yang tidak memiliki landasan syariat. · Bermalas-malasan dalam beribadah. · Menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Sebaliknya, Muharram hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran Islam. Bulan Muharram 1448 H merupakan salah satu bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Sebagai awal tahun Hijriah, Muharram menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT. Berbagai amalan seperti puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur'an, memperbanyak dzikir, dan menjaga silaturahmi dapat menjadi sarana meraih pahala dan keberkahan di bulan yang istimewa ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mengisi Bulan Muharram 1448 H dengan amal-amal terbaik serta menjadikannya sebagai awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih bertakwa, penuh keberkahan, dan diridhai-Nya.***
ARTIKEL15/06/2026 | Humas
Makna Tahun Baru Islam 1448 H: Momentum Hijrah, Muhasabah, dan Perbaikan Diri
Makna Tahun Baru Islam 1448 H: Momentum Hijrah, Muhasabah, dan Perbaikan Diri
Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah. Namun, bagi sebagian orang, pergantian tahun Islam sering kali dipahami hanya sebagai perubahan angka dalam kalender. Padahal, makna Tahun Baru Islam jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian waktu. Tahun Baru Islam merupakan momentum berharga untuk melakukan evaluasi diri, memperkuat keimanan, serta memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim memiliki kesempatan untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, Muharram juga termasuk salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan ibadah, dan menjadikan momen ini sebagai awal perubahan positif dalam kehidupan. Sejarah Tahun Baru Islam dan Awal Kalender Hijriah Penanggalan Hijriah berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah menuju Madinah. Peristiwa bersejarah tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan dakwah Islam dan menjadi dasar penetapan kalender Islam yang digunakan hingga saat ini. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat bermusyawarah untuk menentukan awal perhitungan kalender Islam. Mereka kemudian sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah SAW sebagai permulaan kalender Hijriah karena memiliki nilai perjuangan, pengorbanan, dan perubahan yang sangat besar bagi perkembangan Islam. Dari sejarah tersebut, umat Islam dapat memahami bahwa Tahun Baru Islam bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan simbol transformasi menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan agama. Makna Tahun Baru Islam yang Perlu Dipahami Umat Muslim 1. Momentum Muhasabah dan Evaluasi Diri Salah satu makna penting Tahun Baru Islam adalah sebagai waktu untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Pergantian tahun menjadi kesempatan untuk menilai kembali perjalanan hidup yang telah dilalui. Setiap Muslim dapat merenungkan berbagai hal, seperti: · Apakah kualitas ibadah semakin meningkat? · Apakah hubungan dengan keluarga dan sesama semakin baik? · Apakah kebiasaan buruk mulai ditinggalkan? · Apakah waktu yang dimiliki telah dimanfaatkan dengan baik? Muhasabah menjadi langkah awal untuk melakukan perubahan yang lebih baik pada tahun berikutnya. 2. Menumbuhkan Semangat Hijrah ke Arah Kebaikan Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW. Dalam kehidupan sehari-hari, hijrah dapat dimaknai sebagai perubahan dari perilaku yang kurang baik menuju perilaku yang lebih baik. Contohnya antara lain: · Dari lalai salat menjadi lebih disiplin beribadah. · Dari ucapan yang menyakiti menjadi perkataan yang santun. · Dari sifat iri dan dengki menjadi pribadi yang ikhlas dan bersyukur. · Dari sikap acuh menjadi lebih peduli terhadap sesama. Semangat hijrah inilah yang menjadi inti dari peringatan Tahun Baru Islam setiap tahunnya. 3. Mengingat Keteladanan dan Perjuangan Rasulullah SAW Peristiwa hijrah mengajarkan banyak nilai kehidupan. Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai tantangan, tekanan, dan ancaman ketika memperjuangkan dakwah Islam. Meski demikian, mereka tetap sabar, teguh, dan yakin akan pertolongan Allah SWT. Kisah tersebut memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran, keberanian, keteguhan iman, dan optimisme dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. 4. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Saat hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan tersebut menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat Islam yang harmonis dan saling mendukung. Oleh karena itu, Tahun Baru Islam juga menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat persatuan, serta menghilangkan permusuhan dan perpecahan di tengah masyarakat. Amalan yang Dianjurkan Saat Memasuki Tahun Baru Islam Menyambut Tahun Baru Islam sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dengan memperbanyak amal ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT. Memperbanyak Doa dan Dzikir Awal tahun Hijriah merupakan waktu yang baik untuk memperbanyak doa dan dzikir. Umat Islam dapat memohon keberkahan, kesehatan, kemudahan rezeki, serta keteguhan iman dalam menjalani kehidupan. Melaksanakan Puasa Sunnah di Bulan Muharram Muharram merupakan salah satu bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah. Di antara yang paling utama adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, yang memiliki keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Meningkatkan Sedekah dan Kepedulian Sosial Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, serta berbagi kepada mereka yang membutuhkan merupakan bentuk nyata kepedulian sosial yang dapat dilakukan saat menyambut Tahun Baru Hijriah. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Pergantian tahun juga dapat dijadikan momentum untuk mempererat silaturahmi, meminta maaf, memperbaiki hubungan keluarga, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar. Kesalahan dalam Memahami Tahun Baru Islam Masih terdapat sebagian masyarakat yang memaknai Tahun Baru Islam sebatas tradisi atau kegiatan seremonial tanpa memahami nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Ada pula yang terlalu fokus pada perayaan, tetapi melupakan pesan utama hijrah dan perbaikan diri. Padahal, hakikat Tahun Baru Islam adalah mengingatkan umat agar semakin dekat kepada Allah SWT serta meningkatkan kualitas akhlak dan ibadah. Islam tidak melarang umatnya bergembira, namun kegembiraan tersebut hendaknya tetap berada dalam koridor syariat dan tidak mengabaikan nilai-nilai keislaman. Hikmah yang Dapat Dipetik dari Tahun Baru Islam Pergantian tahun Hijriah menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan seorang Muslim, antara lain: · Mengingatkan bahwa usia terus bertambah dan waktu hidup semakin berkurang. · Menumbuhkan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. · Mendorong kedisiplinan dalam menjalankan ibadah. · Mengingat perjuangan dakwah Rasulullah SAW. · Memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian sosial. · Menjadikan setiap pergantian waktu sebagai sarana memperbaiki kualitas diri. Dengan memahami hikmah tersebut, Tahun Baru Islam dapat menjadi momentum perubahan yang memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari. Menanamkan Nilai Tahun Baru Islam kepada Anak Sejak Dini Peran orang tua sangat penting dalam mengenalkan makna Tahun Baru Islam kepada anak-anak. Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana, seperti: · Menceritakan kisah hijrah Nabi Muhammad SAW. · Mengajak anak berdoa bersama. · Menanamkan kebiasaan berbuat baik. · Memberikan teladan akhlak yang mulia. · Mengajak anak berbagi dan bersedekah. Dengan cara tersebut, anak-anak tidak hanya mengenal Tahun Baru Islam sebagai pergantian kalender, tetapi juga memahami nilai-nilai keimanan dan akhlak yang terkandung di dalamnya. Tahun Baru Islam sebagai Awal Perubahan Menuju Kebaikan Pada hakikatnya, makna Tahun Baru Islam adalah ajakan untuk terus berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perubahan sikap, perilaku, dan pola hidup agar semakin sesuai dengan ajaran Islam. Pergantian tahun Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu dan amal yang telah dilakukan. Karena itu, momen ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperkuat iman, meningkatkan ibadah, memperbaiki akhlak, dan memperluas manfaat bagi sesama. Jangan biarkan Tahun Baru Islam berlalu tanpa makna. Jadikan Muharram sebagai awal langkah untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam menjalani tahun yang baru dengan penuh keberkahan, kemudahan, dan kebaikan.***
ARTIKEL15/06/2026 | Humas
Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan yang Dianjurkan untuk Meraih Pahala Berlimpah
Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan yang Dianjurkan untuk Meraih Pahala Berlimpah
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat berbagai ibadah besar, seperti haji, puasa Arafah, Iduladha, dan ibadah kurban. Selain itu, sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikenal sebagai hari-hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesempatan berharga ini hendaknya dimanfaatkan oleh setiap muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal kebajikan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Berbagai keutamaan yang terkandung dalam bulan Dzulhijjah menjadikannya momentum yang sangat tepat untuk meraih pahala dan keberkahan yang berlimpah. Keutamaan Bulan Dzulhijjah 1. Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah Merupakan Hari-Hari Terbaik Salah satu keistimewaan terbesar bulan Dzulhijjah adalah kemuliaan sepuluh hari pertamanya. Pada hari-hari tersebut, setiap amal saleh memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)." (HR. Bukhari) Hadis ini menunjukkan bahwa berbagai ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, dan berdoa sangat dianjurkan untuk diperbanyak selama periode tersebut. 2. Menjadi Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji Bulan Dzulhijjah juga menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji, yaitu rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh umat Islam yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan. Jutaan jamaah dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Momentum ini menjadi simbol persatuan umat Islam tanpa membedakan bangsa, suku, maupun status sosial. Bagi umat Islam yang belum berkesempatan menunaikan haji, keberkahan bulan Dzulhijjah tetap dapat diraih dengan memperbanyak amal saleh sesuai kemampuan masing-masing. 3. Terdapat Hari Arafah yang Penuh Keutamaan Tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah, salah satu hari yang sangat istimewa dalam Islam. Bagi jamaah haji, wukuf di Arafah merupakan puncak sekaligus rukun utama ibadah haji. Sementara itu, bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim) Keutamaan tersebut menunjukkan besarnya rahmat dan ampunan yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya yang menjalankan puasa Arafah dengan penuh keikhlasan. 4. Momentum Hari Raya Iduladha Keistimewaan bulan Dzulhijjah semakin lengkap dengan hadirnya Hari Raya Iduladha yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hari raya ini mengingatkan umat Islam pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menaati perintah Allah SWT. Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar tentang nilai keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah. Pada hari Iduladha, umat Islam melaksanakan shalat Id, memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. 5. Waktu Pelaksanaan Ibadah Kurban Ibadah kurban menjadi salah satu syariat yang sangat dianjurkan bagi muslim yang memiliki kemampuan. Pelaksanaannya dilakukan mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Allah SWT berfirman: "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2) Kurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk memperkuat kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Amalan yang Dianjurkan di Bulan Dzulhijjah Untuk meraih keutamaan bulan Dzulhijjah secara maksimal, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amal saleh berikut. 1. Memperbanyak Dzikir Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak dzikir, terutama pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dzikir yang dianjurkan antara lain: Takbir (Allahu Akbar) Tahmid (Alhamdulillah) Tahlil (La ilaha illallah) Tasbih (Subhanallah) Melalui dzikir, hati menjadi lebih tenang dan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT semakin dekat. 2. Melaksanakan Puasa Sunnah Puasa sunnah pada awal bulan Dzulhijjah, khususnya Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain memperoleh pahala, puasa juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran, pengendalian diri, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur'an Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang dianjurkan sepanjang waktu, terlebih pada bulan yang penuh keberkahan seperti Dzulhijjah. Selain membaca, umat Islam juga dianjurkan untuk memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. 4. Memperbanyak Sedekah Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Pada bulan Dzulhijjah, pahala sedekah semakin besar karena dilakukan pada waktu yang mulia. Sedekah tidak selalu berupa materi. Membantu sesama, berbagi makanan, memberikan tenaga, atau membantu orang yang membutuhkan juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai ibadah. 5. Menunaikan Ibadah Kurban Bagi muslim yang memiliki kemampuan finansial, berkurban merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Selain menjadi wujud ketaatan kepada Allah SWT, kurban juga menghadirkan manfaat sosial yang besar karena membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang membutuhkan. 6. Memperbanyak Doa dan Istighfar Bulan Dzulhijjah adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Setiap muslim dianjurkan untuk memanfaatkan momen ini sebagai sarana muhasabah diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta memohon keberkahan dan kebaikan dunia maupun akhirat. Hikmah Menghidupkan Bulan Dzulhijjah dengan Amal Saleh Berbagai amalan yang dilakukan selama bulan Dzulhijjah tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga memberikan banyak hikmah dalam kehidupan. Di antaranya adalah meningkatnya keimanan dan ketakwaan, tumbuhnya rasa syukur, meningkatnya kepedulian sosial, serta semakin kuatnya hubungan dengan Allah SWT. Selain itu, bulan Dzulhijjah juga mengajarkan nilai pengorbanan dan keikhlasan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat. Penutup Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan paling istimewa dalam Islam yang dipenuhi berbagai keutamaan dan peluang untuk meraih pahala yang berlimpah. Keberadaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, Hari Arafah, Iduladha, serta ibadah kurban menjadikan bulan ini sebagai momentum yang sangat berharga bagi setiap muslim. Karena itu, marilah memanfaatkan bulan Dzulhijjah dengan memperbanyak dzikir, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berdoa, beristighfar, dan menunaikan ibadah kurban bagi yang mampu. Semoga Allah SWT memberikan rahmat, ampunan, dan keberkahan kepada kita semua serta menjadikan kita hamba-hamba yang semakin bertakwa.***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas
9 Macam Sedekah yang Dianjurkan dalam Islam untuk Meraih Keberkahan Hidup
9 Macam Sedekah yang Dianjurkan dalam Islam untuk Meraih Keberkahan Hidup
Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sedekah juga menjadi sarana untuk membantu sesama, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Sebagian masyarakat masih memahami sedekah sebatas memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa sedekah memiliki makna yang jauh lebih luas. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT dapat bernilai sedekah dan menjadi amal yang berpahala. Di tengah kehidupan modern saat ini, peluang untuk bersedekah semakin beragam. Tidak hanya melalui harta, tetapi juga melalui ilmu, tenaga, waktu, bahkan senyuman yang tulus kepada sesama. Dengan memahami berbagai macam sedekah, setiap muslim dapat lebih mudah memperbanyak amal saleh dan meraih keberkahan hidup. Pengertian Sedekah dalam Islam Secara bahasa, sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar atau jujur. Sementara secara istilah, sedekah adalah pemberian yang dilakukan seseorang dengan tujuan mengharap ridha Allah SWT tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan duniawi. Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan khusus mengenai jumlah, waktu, dan penerimanya, sedekah dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, serta dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan masing-masing. Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Oleh karena itu, sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk mendatangkan keberkahan dan meningkatkan kualitas keimanan. Macam-Macam Sedekah yang Dianjurkan dalam Islam 1. Sedekah Harta Sedekah harta merupakan bentuk sedekah yang paling dikenal masyarakat. Bentuknya dapat berupa uang, makanan, pakaian, perlengkapan sekolah, maupun kebutuhan lainnya yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Sedekah harta dapat disalurkan kepada fakir miskin, anak yatim, dhuafa, korban bencana, maupun melalui lembaga amil zakat yang terpercaya. Semakin ikhlas seseorang berbagi hartanya, semakin besar pula pahala yang dijanjikan Allah SWT. 2. Sedekah Makanan Memberikan makanan kepada orang lain termasuk amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memberi makan orang yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang. Sedekah makanan dapat dilakukan dengan membagikan nasi kotak, menyediakan hidangan berbuka puasa, memberikan sembako, atau membantu kebutuhan pangan masyarakat yang kurang mampu. 3. Sedekah Tenaga Tidak semua orang memiliki kelebihan materi, tetapi setiap muslim memiliki kesempatan untuk bersedekah melalui tenaga dan kemampuan yang dimiliki. Membantu tetangga yang membutuhkan, ikut kerja bakti, menjadi relawan dalam kegiatan sosial, membantu korban bencana, atau berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan merupakan contoh sedekah tenaga yang bernilai ibadah. 4. Sedekah Ilmu Ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang pahalanya terus mengalir. Mengajarkan ilmu agama, berbagi keterampilan, memberikan pelatihan, membimbing anak-anak belajar, atau menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat merupakan bentuk sedekah ilmu. Di era digital, berbagi pengetahuan yang positif melalui media sosial juga dapat menjadi sarana sedekah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan memberikan manfaat bagi banyak orang. 5. Sedekah Senyuman Islam mengajarkan bahwa senyum yang tulus kepada sesama merupakan sedekah. Meskipun terlihat sederhana, senyuman dapat memberikan kebahagiaan, menciptakan suasana yang nyaman, serta mempererat hubungan antarsesama. Sikap ramah dan wajah yang berseri-seri menjadi bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah SWT. 6. Sedekah dengan Perkataan Baik Ucapan yang baik juga termasuk bentuk sedekah yang mudah dilakukan setiap hari. Memberikan motivasi, menyampaikan nasihat yang bermanfaat, menghibur orang yang sedang bersedih, atau berbicara dengan sopan dan santun merupakan amalan yang bernilai pahala. Perkataan yang baik dapat memperkuat hubungan sosial dan membantu menciptakan lingkungan yang harmonis. 7. Menyingkirkan Gangguan dari Jalan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menyingkirkan sesuatu yang dapat membahayakan atau mengganggu orang lain di jalan merupakan sedekah. Contohnya adalah membersihkan sampah, memindahkan benda yang menghalangi jalan, atau menjaga kebersihan fasilitas umum agar tetap nyaman digunakan masyarakat. 8. Sedekah Waktu Waktu merupakan nikmat yang sangat berharga. Meluangkan waktu untuk membantu orang lain juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai besar. Misalnya mendampingi orang tua yang sedang sakit, mendengarkan keluh kesah sahabat, mengajar anak-anak mengaji, atau terlibat dalam kegiatan sosial dan dakwah di lingkungan sekitar. 9. Sedekah Jariyah Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya terus dirasakan dalam jangka panjang sehingga pahalanya tetap mengalir meskipun pemberinya telah meninggal dunia. Contoh sedekah jariyah antara lain pembangunan masjid, penyediaan sumur air bersih, bantuan sarana pendidikan, wakaf Al-Qur'an, serta program-program pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat berkelanjutan. Keutamaan Sedekah bagi Kehidupan Mendatangkan Keberkahan Rezeki Salah satu keutamaan sedekah adalah mendatangkan keberkahan dalam rezeki. Harta yang disedekahkan tidak akan berkurang, bahkan Allah SWT menjanjikan gantinya dengan kebaikan yang lebih besar dan lebih berkah. Membantu Menghapus Dosa Sedekah menjadi salah satu amalan yang dapat menghapus dosa-dosa kecil serta membantu seorang muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Orang yang gemar bersedekah akan lebih peka terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya. Sedekah melatih empati, kepedulian, dan semangat untuk membantu sesama. Mendapatkan Keutamaan di Akhirat Allah SWT menjanjikan berbagai keutamaan bagi orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas, termasuk memperoleh naungan pada hari kiamat ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Memberikan Ketenangan Hati Berbagi kepada sesama dapat menumbuhkan rasa syukur dan kebahagiaan. Sedekah membantu membersihkan hati dari sifat kikir serta menghadirkan ketenangan dalam menjalani kehidupan. Agar Sedekah Lebih Bernilai di Sisi Allah SWT Agar sedekah yang dilakukan semakin bernilai dan membawa keberkahan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Meluruskan niat hanya karena Allah SWT. Memberikan harta yang halal dan baik. Tidak mengungkit atau menyakiti penerima sedekah. Mengutamakan orang yang benar-benar membutuhkan. Bersedekah secara rutin meskipun nominalnya kecil. Menjaga keikhlasan dan menghindari riya. Menjadikan sedekah sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diingat bahwa amalan yang dilakukan secara konsisten lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan besar yang hanya dilakukan sesekali. Penutup Sedekah tidak hanya terbatas pada pemberian harta. Dalam Islam, banyak bentuk sedekah yang dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari berbagi ilmu, tenaga, waktu, senyuman, hingga perkataan yang baik. Dengan membiasakan berbagai bentuk sedekah dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim dapat memperoleh keberkahan hidup, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang gemar bersedekah dan mampu menjadikan kebaikan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Mari wujudkan kepedulian kepada sesama dengan menyalurkan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Sleman agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan.***
ARTIKEL09/06/2026 | Humas
Menikah di Bulan Dzulhijjah: Keutamaan, Hikmah, dan Pandangan Islam yang Perlu Diketahui
Menikah di Bulan Dzulhijjah: Keutamaan, Hikmah, dan Pandangan Islam yang Perlu Diketahui
Menikah di Bulan Dzulhijjah menjadi pilihan banyak pasangan Muslim yang ingin memulai kehidupan rumah tangga pada momen yang penuh keberkahan. Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriah, yang di dalamnya terdapat berbagai ibadah agung seperti haji, kurban, puasa Arafah, serta berbagai amalan saleh yang sangat dianjurkan. Tidak sedikit calon pengantin yang memilih melangsungkan akad nikah pada bulan ini dengan harapan memperoleh keberkahan dan kemuliaan yang Allah SWT limpahkan pada bulan Dzulhijjah. Meski demikian, Islam tidak menetapkan kewajiban ataupun larangan khusus terkait waktu pelaksanaan pernikahan. Pernikahan dalam Islam adalah Ibadah yang Mulia Dalam ajaran Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua insan, melainkan juga bentuk ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Pernikahan menjadi sarana untuk menjaga kehormatan diri, menyempurnakan separuh agama, serta membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Karena memiliki kedudukan yang penting, banyak pasangan dan keluarga yang mempertimbangkan waktu terbaik untuk melangsungkan akad nikah. Salah satu pilihan yang kerap dipilih adalah bulan Dzulhijjah karena nilai spiritual yang melekat pada bulan tersebut. Keutamaan Bulan Dzulhijjah dalam Islam Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Keutamaan bulan ini banyak disebutkan dalam Al-Qur'an maupun hadis Rasulullah SAW. Salah satu keistimewaan terbesar Dzulhijjah adalah sepuluh hari pertamanya yang memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)." (HR. Bukhari) Selain itu, pada bulan ini terdapat Hari Arafah yang penuh kemuliaan serta Hari Raya Iduladha yang menjadi momentum pelaksanaan ibadah kurban bagi umat Islam yang mampu. Kemuliaan inilah yang membuat sebagian umat Islam memandang Dzulhijjah sebagai waktu yang baik untuk memulai kehidupan rumah tangga dengan harapan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Tradisi Menikah di Bulan Dzulhijjah di Indonesia Tradisi menikah di bulan Dzulhijjah telah berkembang di berbagai daerah, termasuk di Indonesia. Tradisi ini tidak berasal dari ketentuan syariat yang secara khusus menganjurkan pernikahan pada bulan tersebut, melainkan lahir dari penghormatan masyarakat terhadap bulan yang dianggap mulia. Sebagian masyarakat meyakini bahwa menikah pada bulan Dzulhijjah dapat menjadi momentum yang baik untuk memulai kehidupan baru karena bertepatan dengan suasana religius yang lebih kuat. Pada bulan ini umat Islam umumnya lebih aktif dalam menjalankan ibadah, memperbanyak sedekah, dzikir, dan amal kebaikan lainnya. Selain itu, momen setelah Iduladha sering kali menjadi waktu berkumpulnya keluarga besar, sehingga memudahkan pelaksanaan acara pernikahan yang melibatkan kerabat dari berbagai daerah. Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa Islam tidak mengajarkan keyakinan bahwa hanya bulan Dzulhijjah yang baik untuk menikah. Semua bulan adalah ciptaan Allah SWT, dan keberkahan pernikahan pada hakikatnya berasal dari ketakwaan serta ketaatan kepada-Nya. Apakah Menikah di Bulan Dzulhijjah Diperbolehkan? Pertanyaan mengenai hukum menikah di bulan Dzulhijjah masih sering muncul di tengah masyarakat, terutama karena bulan ini bertepatan dengan musim haji. Secara syariat, tidak ada larangan menikah pada bulan Dzulhijjah. Larangan hanya berlaku bagi seseorang yang sedang berada dalam keadaan ihram ketika menjalankan ibadah haji atau umrah. Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah, menikahkan, dan tidak boleh meminang." (HR. Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa yang dilarang adalah aktivitas pernikahan bagi orang yang sedang berihram, bukan larangan menikah bagi umat Islam secara umum pada bulan Dzulhijjah. Hikmah Menikah di Bulan Dzulhijjah 1. Memulai Rumah Tangga pada Bulan yang Mulia Menikah di bulan Dzulhijjah dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan rumah tangga hendaknya dibangun di atas fondasi iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. 2. Menumbuhkan Semangat Ibadah Bersama Bulan Dzulhijjah identik dengan berbagai amalan saleh seperti puasa sunnah, takbir, dzikir, sedekah, dan kurban. Pasangan yang menikah pada bulan ini memiliki kesempatan untuk memulai kehidupan bersama dengan semangat ibadah yang lebih kuat. 3. Belajar dari Nilai Pengorbanan Dzulhijjah erat kaitannya dengan kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut mengajarkan tentang pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan, nilai-nilai yang juga sangat penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis. 4. Memperkuat Silaturahmi Keluarga Momentum Iduladha sering menjadi waktu berkumpulnya keluarga besar. Jika akad nikah dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, kesempatan untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan silaturahmi menjadi semakin luas. 5. Menanamkan Visi Keluarga yang Bertakwa Suasana ibadah yang kuat pada bulan Dzulhijjah dapat menjadi momentum yang tepat bagi pasangan untuk menyusun visi keluarga yang berorientasi pada ketakwaan, ibadah, dan kebermanfaatan bagi sesama. Persiapan Menikah di Bulan Dzulhijjah Agar pernikahan berjalan lancar dan penuh keberkahan, terdapat beberapa aspek penting yang perlu dipersiapkan. Persiapan Spiritual Calon pengantin dianjurkan memperbanyak doa, istikharah, membaca Al-Qur'an, serta memperbaiki niat sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Persiapan Ilmu Rumah Tangga Memahami hak dan kewajiban suami istri merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan pernikahan. Pernikahan bukan sekadar seremonial, melainkan amanah yang harus dijalankan sesuai tuntunan syariat. Persiapan Finansial Perencanaan keuangan yang baik akan membantu pasangan membangun keluarga yang lebih mandiri dan stabil secara ekonomi. Persiapan Mental dan Emosional Kehidupan rumah tangga membutuhkan kedewasaan dalam menghadapi perbedaan, menyelesaikan konflik, dan membangun komunikasi yang sehat. Pandangan Ulama tentang Menikah di Bulan Dzulhijjah Mayoritas ulama sepakat bahwa tidak ada bulan tertentu yang diwajibkan atau dilarang untuk melangsungkan akad nikah. Selama syarat dan rukun nikah terpenuhi, maka pernikahan dapat dilaksanakan kapan saja. Para ulama juga menjelaskan bahwa memilih waktu yang dianggap baik diperbolehkan selama tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam. Seseorang boleh memilih bulan Dzulhijjah karena suasana religiusnya, kemudahan pelaksanaan, atau harapan memperoleh keberkahan, namun tidak boleh meyakini bahwa bulan lain membawa kesialan. Pada akhirnya, keberkahan rumah tangga tidak ditentukan oleh waktu pelaksanaan pernikahan semata, melainkan oleh keimanan, akhlak yang baik, serta komitmen pasangan dalam menjalankan kehidupan sesuai ajaran Islam. Menikah di Bulan Dzulhijjah sebagai Awal yang Penuh Keberkahan Menikah di Bulan Dzulhijjah merupakan pilihan yang diperbolehkan dalam Islam dan memiliki banyak hikmah yang dapat menjadi inspirasi bagi pasangan Muslim. Bulan yang penuh kemuliaan ini mengajarkan nilai ketakwaan, pengorbanan, kebersamaan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Tradisi menikah pada bulan Dzulhijjah yang berkembang di masyarakat dapat dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap kemuliaan bulan tersebut. Namun, umat Islam perlu memahami bahwa keberkahan rumah tangga tidak semata-mata bergantung pada waktu pelaksanaan akad nikah, melainkan pada niat yang ikhlas, ketaatan kepada Allah SWT, serta kesungguhan pasangan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Dengan persiapan yang matang, pemahaman agama yang baik, dan komitmen yang kuat, pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Dzulhijjah dapat menjadi awal perjalanan rumah tangga yang penuh cinta, keberkahan, dan kebahagiaan dunia maupun akhirat.***
ARTIKEL08/06/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Sleman
Amalan Setelah Iduladha: Cara Meraih Pahala Dzulhijjah Hingga Akhir Bulan
Amalan Setelah Iduladha: Cara Meraih Pahala Dzulhijjah Hingga Akhir Bulan
Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriah. Banyak umat Islam memaksimalkan ibadah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, terutama menjelang Hari Raya Iduladha. Namun, tidak sedikit yang mengira bahwa keutamaan bulan ini berakhir setelah pelaksanaan salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban. Padahal, kesempatan untuk meraih pahala dan keberkahan di bulan Dzulhijjah masih terbuka hingga akhir bulan. Hari-hari setelah Iduladha tetap menjadi waktu yang sangat berharga untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Keutamaan Bulan Dzulhijjah dalam Islam Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam melaksanakan berbagai ibadah utama seperti haji, kurban, takbir, dzikir, sedekah, dan beragam amal saleh lainnya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36) Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah." (HR. Bukhari) Meski hadis tersebut menegaskan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, bukan berarti hari-hari setelah Iduladha kehilangan nilai ibadahnya. Justru, seorang muslim dianjurkan untuk menjaga semangat beramal agar keberkahan Dzulhijjah dapat dirasakan secara berkelanjutan. Memperbanyak Dzikir dan Takbir di Hari Tasyrik Salah satu amalan yang sangat dianjurkan setelah Iduladha adalah memperbanyak dzikir dan takbir, khususnya pada hari-hari tasyrik yang berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebut hari tasyrik sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak bacaan: · Subhanallah · Alhamdulillah · Allahu Akbar · Laa ilaaha illallah Dzikir yang dilakukan secara rutin dapat menenangkan hati, menguatkan keimanan, dan menjadi amalan ringan yang bernilai pahala besar di sisi Allah SWT. Menjaga Shalat Fardhu dan Memperbanyak Shalat Sunnah Shalat merupakan ibadah utama yang menjadi pondasi kehidupan seorang muslim. Setelah Iduladha, semangat beribadah yang telah dibangun selama Dzulhijjah hendaknya tetap dipertahankan dengan menjaga shalat lima waktu secara tepat waktu dan berjamaah bagi laki-laki. Selain shalat wajib, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak shalat sunnah seperti: · Shalat Dhuha · Shalat Tahajud · Shalat Rawatib · Shalat Witir Konsistensi dalam menjaga shalat menjadi salah satu bentuk kesungguhan seorang muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meningkatkan kualitas ketakwaannya. Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian Sosial Semangat berbagi tidak seharusnya berhenti setelah pembagian daging kurban selesai. Masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan bantuan dan perhatian dari sesama. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, antara lain: · Memberikan makanan kepada tetangga atau masyarakat yang membutuhkan. · Membantu fakir miskin dan kaum dhuafa. · Mendukung pembangunan masjid dan fasilitas keagamaan. · Membantu biaya pendidikan anak yatim dan keluarga kurang mampu. · Memberikan tenaga, waktu, atau bantuan sosial lainnya. · Setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas akan bernilai ibadah dan menjadi investasi pahala yang terus mengalir. Mempererat Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan Iduladha sering menjadi momentum berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan kerabat. Namun, menjaga silaturahmi tidak cukup dilakukan hanya saat hari raya. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menyambung tali persaudaraan, memperbaiki hubungan yang renggang, serta saling memaafkan. Silaturahmi bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan hidup. Menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan salah satu amalan yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT dan dapat menjadi sarana meraih ridha-Nya. Optimalkan Hari-Hari Tasyrik dengan Amal Saleh Hari tasyrik sering kali luput dari perhatian sebagian umat Islam, padahal hari-hari tersebut masih termasuk bagian penting dari rangkaian ibadah Dzulhijjah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan selama hari tasyrik antara lain: · Memperbanyak takbir dan tahmid. · Berdzikir kepada Allah SWT. · Membaca Al-Qur'an. · Menjaga shalat berjamaah. · Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. · Berbuat baik kepada sesama. Dengan mengisi hari tasyrik melalui berbagai amal saleh, seorang muslim dapat menjaga semangat ibadah yang telah dibangun sejak awal Dzulhijjah. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur'an Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Islam. Membaca dan memahami kandungannya merupakan amalan yang mendatangkan ketenangan hati sekaligus pahala yang besar. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur'an akan mendapatkan satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Untuk menjaga konsistensi, umat Islam dapat membuat target sederhana seperti: · Membaca satu juz setiap hari. · Membaca beberapa halaman setelah shalat wajib. · Menghafalkan ayat-ayat pilihan. · Mempelajari tafsir dan kandungan Al-Qur'an. Kebiasaan ini akan membantu meningkatkan pemahaman agama sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Menjaga Keikhlasan dalam Setiap Amal Keikhlasan merupakan syarat utama diterimanya amal ibadah. Amal yang besar sekalipun tidak akan bernilai di sisi Allah SWT apabila dilakukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia. Karena itu, setiap ibadah yang dilakukan setelah Iduladha hendaknya diniatkan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT. Muslim yang ikhlas akan tetap beramal meskipun tidak diketahui oleh orang lain karena tujuan utamanya adalah memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Jadikan Dzulhijjah Sebagai Titik Awal Perubahan Diri Momentum Dzulhijjah sebaiknya tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: · Memperbaiki akhlak dan perilaku sehari-hari. · Mengurangi dan meninggalkan perbuatan maksiat. · Menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat. · Memperbanyak ibadah sunnah. · Menambah ilmu agama melalui kajian dan pembelajaran. · Aktif dalam kegiatan sosial, dakwah, dan kemanusiaan. Perubahan yang dilakukan secara konsisten akan memberikan manfaat jangka panjang, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Penutup Keutamaan bulan Dzulhijjah tidak berhenti setelah Hari Raya Iduladha. Masih banyak peluang untuk meraih pahala melalui berbagai amalan seperti memperbanyak dzikir, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, mempererat silaturahmi, dan mengoptimalkan hari-hari tasyrik. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya terus menjaga semangat ibadah yang telah dibangun selama Dzulhijjah. Dengan istiqamah dalam amal saleh dan niat yang tulus karena Allah SWT, insya Allah keberkahan, pahala, dan ridha-Nya akan senantiasa menyertai kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.***
ARTIKEL05/06/2026 | Humas
Cara Aman Menangani dan Menyimpan Daging Kurban Agar Tetap Higienis dan Aman Dikonsumsi
Cara Aman Menangani dan Menyimpan Daging Kurban Agar Tetap Higienis dan Aman Dikonsumsi
Momentum Hari Raya Iduladha identik dengan penyembelihan dan pembagian daging kurban kepada masyarakat. Namun, selain memastikan proses ibadah berjalan lancar, penanganan daging kurban yang higienis dan aman juga menjadi hal penting agar kualitas daging tetap terjaga dan layak dikonsumsi. BAZNAS Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan proses penanganan, distribusi, hingga penyimpanan daging kurban guna menjaga keamanan pangan bagi keluarga. Edukasi ini juga sejalan dengan imbauan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman agar masyarakat semakin sadar pentingnya kebersihan dalam pengolahan daging kurban. Penanganan yang kurang tepat dapat menyebabkan daging lebih cepat rusak, terkontaminasi bakteri, hingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah sederhana namun penting dalam menjaga kualitas daging kurban. Berikut cara penanganan dan penyimpanan daging kurban agar tetap higienis dan aman dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Cara Penanganan Daging Kurban yang Benar Berikut beberapa tips penanganan daging kurban agar tetap higienis dan aman: 1. Cuci Tangan Sebelum dan Sesudah Memegang Daging Kebersihan tangan menjadi langkah utama untuk mencegah perpindahan kuman atau bakteri ke daging kurban. Gunakan sabun dan air mengalir sebelum maupun sesudah memegang daging. 2. Gunakan Talenan dan Pisau yang Bersih Pastikan menggunakan talenan berbahan food grade serta pisau yang bersih agar daging tetap higienis selama proses pemotongan dan pengolahan. 3. Pisahkan Daging dan Jeroan Daging, jeroan, dan bagian lain sebaiknya dipisahkan pada wadah yang berbeda dan bersih untuk mengurangi risiko kontaminasi silang. 4. Hindari Meletakkan Daging di Lantai Daging kurban sebaiknya tidak diletakkan langsung di lantai karena berisiko terkena kotoran dan bakteri yang dapat memengaruhi kualitas pangan. 5. Daging Tidak Perlu Dicuci Membersihkan daging cukup dengan cara dilap menggunakan tisu atau kain bersih. Mencuci daging justru dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri melalui percikan air. 6. Lindungi dari Lalat dan Debu Pastikan daging disimpan di tempat tertutup atau terlindung agar tidak terpapar lalat, debu, maupun kotoran lainnya. 7. Gunakan Kemasan Food Grade Gunakan wadah atau kantong berbahan food grade untuk menjaga keamanan pangan. Hindari penggunaan kantong plastik hitam daur ulang karena tidak aman untuk makanan. Tips Distribusi dan Penyimpanan Daging Kurban Selain penanganan, distribusi dan penyimpanan daging juga perlu diperhatikan agar kualitas tetap terjaga hingga sampai ke penerima manfaat. 1. Distribusikan Sesegera Mungkin Daging kurban sebaiknya segera dibagikan setelah dikemas untuk menjaga kesegarannya. 2. Hindari Paparan Sinar Matahari Langsung Paparan panas berlebih dapat mempercepat pertumbuhan bakteri pada daging. Simpan daging di tempat teduh selama proses distribusi. 3. Gunakan Alat Angkut yang Bersih Kendaraan atau alat angkut yang digunakan harus dalam kondisi bersih dan tertutup agar daging tetap aman selama perjalanan. 4. Pisahkan dari Barang Kotor Pastikan daging tidak bercampur dengan barang lain yang berpotensi menimbulkan kontaminasi. 5. Segera Simpan Maksimal 2 Jam Setelah Pemotongan Daging sebaiknya segera disimpan untuk menjaga kualitas dan kesegarannya, terutama dalam kondisi cuaca panas. 6. Simpan di Chiller untuk Konsumsi Jangka Pendek Jika daging akan digunakan dalam waktu 1–2 hari, simpan di kulkas atau chiller dengan suhu kurang dari 4 derajat Celsius. 7. Gunakan Freezer untuk Penyimpanan Lebih Lama Untuk penyimpanan jangka panjang, simpan daging di freezer dengan suhu kurang dari minus 18 derajat Celsius agar tetap awet dan aman dikonsumsi. 8. Kemas dalam Porsi Kecil Membagi daging dalam porsi kecil atau sekali masak akan memudahkan penyimpanan sekaligus menjaga kualitas daging tetap baik saat digunakan. Melalui edukasi ini, BAZNAS Kabupaten Sleman berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan pangan dalam pengelolaan daging kurban. Penanganan yang tepat tidak hanya menjaga kualitas daging, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan keluarga dan penerima manfaat kurban.***
ARTIKEL25/05/2026 | Humas
Kejar Pahala di 10 Hari Terbaik Zulhijah, Ini Amalan Sunah yang Dianjurkan
Kejar Pahala di 10 Hari Terbaik Zulhijah, Ini Amalan Sunah yang Dianjurkan
Menjelang Hari Raya Iduladha, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh di 10 hari pertama bulan Zulhijah. Dalam Islam, hari-hari ini memiliki keutamaan yang sangat besar karena disebut sebagai hari terbaik untuk beramal. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah selain sepuluh hari pertama Zulhijah.” (HR. Bukhari) Hadis tersebut menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada awal bulan Zulhijah memiliki nilai pahala yang istimewa di sisi Allah Swt. Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan momentum ini dengan memperbanyak ibadah sunah maupun amal sosial. Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah Sepuluh hari pertama Zulhijah menjadi momen istimewa karena di dalamnya terdapat berbagai ibadah utama seperti puasa sunah, zikir, sedekah, hingga ibadah kurban. Bahkan, para ulama menyebut hari-hari ini sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah setelah bulan Ramadan. Selain itu, pada tanggal 9 Zulhijah terdapat Hari Arafah, yaitu hari yang sangat mulia bagi umat Islam. Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunah yang memiliki keutamaan besar, yakni dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi yang tidak sedang berhaji. Amalan Sunah di Bulan Zulhijah Berikut beberapa amalan yang dianjurkan selama 10 hari pertama bulan Zulhijah: 1. Puasa Zulhijah Puasa Zulhijah dilakukan pada tanggal 1 sampai 7 Zulhijah. Ibadah ini menjadi salah satu amalan sunah yang dianjurkan untuk menambah pahala dan meningkatkan ketakwaan. Jadwal puasa Zulhijah tahun ini yaitu: - 1–7 Zulhijah: 18–24 Mei - Puasa Tarwiyah (8 Zulhijah): 25 Mei - Puasa Arafah (9 Zulhijah): 26 Mei Bagi umat Islam yang ingin menjalankan puasa sunah ini, dianjurkan untuk mencatat tanggalnya agar tidak terlewat. 2. Memperbanyak Zikir dan Doa Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak zikir seperti takbir, tahmid, tahlil, dan istigfar. Zikir menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mengingat kebesaran-Nya. Memperbanyak doa di hari-hari mulia ini juga menjadi kesempatan terbaik untuk memohon ampunan, keberkahan, dan kemudahan dalam kehidupan. 3. Membaca Al-Qur’an Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Zulhijah. Membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari dapat menambah pahala sekaligus menenangkan hati. 4. Bersedekah Sedekah menjadi salah satu amalan yang memiliki pahala berlipat, terlebih jika dilakukan pada hari-hari yang dimuliakan Allah Swt. Tidak harus dalam jumlah besar, sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Momentum Zulhijah juga menjadi waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat. 5. Berkurban Ibadah kurban merupakan amalan utama pada bulan Zulhijah, khususnya saat Iduladha. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, kurban juga menjadi sarana berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui ibadah kurban, umat Islam diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah Swt. Yuk Kejar Pahala di Bulan Zulhijah Bulan Zulhijah menjadi kesempatan emas bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Jangan sampai momen istimewa ini terlewat begitu saja. Yuk, manfaatkan 10 hari terbaik di bulan Zulhijah dengan puasa sunah, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berkurban. Catat tanggal puasanya, buat pengingat, dan ajak keluarga maupun sahabat untuk bersama-sama meraih keberkahan di bulan yang mulia ini. Sumber: mui.or.id
ARTIKEL19/05/2026 | Humas
Jejak Kebaikan Seorang Muzaki: Memberi dalam Diam, Menguatkan Banyak Kehidupan
Jejak Kebaikan Seorang Muzaki: Memberi dalam Diam, Menguatkan Banyak Kehidupan
Di tengah kehidupan yang semakin ramai oleh pencitraan dan pengakuan, masih ada orang-orang yang memilih berjalan sunyi dalam kebaikan. Mereka tidak sibuk memperlihatkan apa yang telah diberikan. Tidak mencari pujian. Tidak pula berharap dikenal banyak orang. Namun manfaat dari kehadirannya terasa luas dan panjang. Di BAZNAS Kabupaten Sleman, kami belajar banyak dari sosok-sosok seperti ini. Salah satunya adalah seorang muzaki yang dengan istiqamah menunaikan zakatnya melalui lembaga kami. Bukan hanya sekali, bukan pula sekadar formalitas tahunan. Zakat telah menjadi bagian dari cara beliau menjalani hidup. Yang paling mengagumkan bukan semata tentang besarnya nominal yang ditunaikan. Lebih dari itu, adalah cara beliau memandang harta. Bagi sebagian orang, harta sering dipahami sebagai sesuatu yang harus terus dikumpulkan dan dijaga untuk diri sendiri. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut kehilangan. Namun beliau memandang berbeda. Harta, menurut beliau, hanyalah titipan Allah yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Karena itulah, ketika Allah memberikan keluasan rezeki, beliau merasa bahwa tanggung jawab untuk membantu sesama juga semakin besar. Beliau memahami bahwa keberhasilan hidup bukan hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil dimiliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang dapat dibagikan. Dari Zakat Yang Beliau Tunaikan, Banyak Pintu Harapan Perlahan Terbuka Ada anak-anak yang kembali bisa melanjutkan sekolahnya. Ada pedagang kecil yang bangkit setelah usahanya hampir berhenti. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan hidup di tengah kesulitan ekonomi. Ada pula mereka yang terbantu biaya pengobatannya ketika sakit datang tanpa diduga. Mungkin beliau tidak pernah bertemu langsung dengan para penerima manfaat itu. Tidak melihat wajah mereka satu per satu. Tidak mendengar sendiri ucapan terima kasih mereka. Namun dari tangan yang memberi dengan ikhlas, Allah menghadirkan begitu banyak senyum dan harapan baru. Inilah Indahnya Menjadi Seorang Muzaki Sering kali kita berpikir bahwa untuk bisa memberi, seseorang harus menunggu kaya raya terlebih dahulu. Padahal kenyataannya, hati yang dermawan tidak selalu menunggu kelimpahan. Justru banyak keberkahan hadir karena seseorang mau berbagi dalam keadaan apa pun. Sosok Muzaki Ini Mengajarkan Satu Hal Penting Kepada Kita: Bahwa kesuksesan sejati adalah ketika kehadiran kita mampu menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi banyak orang. Beliau tidak hanya membangun kehidupan keluarganya sendiri, tetapi juga ikut menguatkan kehidupan orang lain. Dan itulah warisan terbaik yang akan terus hidup, bahkan ketika nama seseorang tidak lagi disebut. Tulisan ini bukan sekadar tentang seseorang yang gemar bersedekah. Ini adalah refleksi bagi kita semua. Tentang bagaimana harta seharusnya tidak hanya berhenti menjadi angka di rekening, tetapi juga menjadi jalan hadirnya manfaat dan keberkahan. Hari ini mungkin kita belum mampu berzakat dalam jumlah besar. Namun kita selalu bisa memulai dari niat yang besar. Sebab setiap kebaikan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tulus dan terus-menerus. Jangan Takut Berkurang Karena Memberi Jangan ragu berbagi karena zakat tidak pernah membuat seseorang miskin. Apa yang keluar dari tangan kita, sesungguhnya sedang Allah simpan menjadi keberkahan hidup yang mungkin tidak selalu terlihat hari ini, tetapi akan terasa pada waktunya. Semoga semakin banyak orang yang meneladani semangat para muzaki yang ikhlas: bekerja keras, hidup sederhana, dan menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi sesama. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan tentang berapa banyak kehidupan yang pernah kita kuatkan melalui titipan rezeki dari Allah. Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd. (Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL08/05/2026 | Humas
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyrik. Lebih dari sekadar penyembelihan hewan, kurban mengandung nilai keikhlasan, ketaatan, serta kepedulian sosial terhadap sesama. Namun, masih banyak umat Islam yang bertanya: apakah hukum kurban bagi yang mampu itu wajib atau hanya sunnah? Pertanyaan ini penting, terutama bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki namun masih ragu untuk melaksanakannya. Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian kurban, dalilnya, hingga perbedaan pendapat ulama terkait hukum kurban bagi yang mampu. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kata kurban berasal dari “qaruba” yang berarti dekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan. Allah SWT berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Dalil Keutamaan Ibadah Kurban Selain Al-Qur’an, terdapat hadis yang menjelaskan keutamaan kurban. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Kurban bagi yang Mampu 1. Pendapat yang Mewajibkan Sebagian ulama berpendapat bahwa kurban wajib bagi muslim yang mampu. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi dan beberapa ulama salaf. Mereka berdalil dengan hadis: “Barang siapa memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Menurut pendapat ini, adanya peringatan keras menunjukkan bahwa kurban bersifat wajib bagi yang memiliki kemampuan. 2. Pendapat Sunnah Muakkad Mayoritas ulama, seperti mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa kurban hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Dalil yang digunakan salah satunya adalah hadis: “Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban…” (HR. Muslim) Kata “ingin” dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban tidak bersifat wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi yang mampu. Mengapa Terjadi Perbedaan Pendapat? Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari kekayaan khazanah fiqih Islam. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam memahami dalil: Sebagian ulama menekankan adanya perintah dan ancaman Sebagian lainnya melihat konteks pilihan serta praktik para sahabat Meski berbeda, para ulama sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan meninggalkannya bagi yang mampu bukanlah hal yang baik. Siapa yang Termasuk Orang Mampu? Dalam konteks hukum kurban bagi yang mampu, seseorang dianggap mampu jika: Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi Tidak sedang dalam beban utang yang memberatkan Mampu membeli hewan kurban tanpa mengganggu kebutuhan keluarga Dengan demikian, kurban tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan sebagai ibadah bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki. Hikmah dan Keutamaan Ibadah Kurban Memahami hukum kurban tidak cukup dari sisi fiqih saja, tetapi juga dari hikmahnya: 1. Wujud Ketaatan kepada Allah Kurban meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah. 2. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan. 3. Menyucikan Harta Kurban menjadi salah satu cara membersihkan dan mensyukuri rezeki. 4. Mendekatkan Diri kepada Allah Ibadah ini menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Konsekuensi Meninggalkan Kurban Bagi yang mampu, meninggalkan kurban memiliki konsekuensi: Menurut pendapat wajib: berdosa jika tidak dilaksanakan Menurut pendapat sunnah: kehilangan pahala besar Walaupun terdapat perbedaan, meninggalkan kurban tanpa alasan tetap dianggap kurang baik oleh para ulama. Tips Melaksanakan Kurban dengan Benar Agar ibadah kurban lebih optimal, perhatikan beberapa hal berikut: Niat yang ikhlas karena Allah SWT Memilih hewan yang sehat dan sesuai syariat Menyembelih pada waktu yang ditentukan Membagikan daging secara adil Menghindari sikap riya Kesimpulan Hukum kurban bagi yang mampu memiliki dua pendapat utama: Wajib menurut mazhab Hanafi Sunnah muakkad menurut mayoritas ulama Meski berbeda pandangan, keduanya sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Sebagai bentuk kehati-hatian dan upaya meraih keutamaan, seorang muslim sebaiknya berusaha melaksanakan kurban ketika memiliki kelapangan rezeki. Sebab, kurban bukan hanya soal hukum, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.*** Sumber: baznas.go.id
ARTIKEL04/05/2026 | Humas
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?
Hukum Kurban Online dalam Islam: Sahkah Berkurban Secara Digital?
Perkembangan teknologi memudahkan berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah. Salah satu yang kini banyak diminati masyarakat adalah kurban online. Melalui layanan ini, seseorang dapat membeli hewan kurban, membayar, hingga proses penyembelihan dilakukan oleh lembaga terpercaya tanpa harus hadir langsung. Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana hukum kurban online dalam Islam? Apakah sah dan sesuai syariat? Artikel ini akan membahas secara lengkap hukum kurban online berdasarkan pandangan ulama serta penjelasan dari lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama. Apa Itu Kurban Online? Kurban online adalah layanan pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan secara tidak langsung (daring). Shohibul kurban (orang yang berkurban) mempercayakan proses pembelian, penyembelihan, hingga distribusi daging kepada lembaga atau panitia kurban. Biasanya, prosesnya meliputi: Pemilihan jenis hewan kurban melalui platform digital Pembayaran secara online Penyerahan pelaksanaan kurban kepada pihak penyelenggara Dokumentasi dan laporan kepada pekurban Hukum Kurban Online dalam Islam Secara umum, hukum kurban online adalah sah dan diperbolehkan dalam Islam, selama memenuhi syarat dan rukun kurban. Hal ini karena dalam praktiknya, kurban online menggunakan akad wakalah (perwakilan). Artinya, orang yang berkurban mewakilkan proses penyembelihan kepada pihak lain. Dalam fiqih Islam, wakalah adalah akad yang dibolehkan. Seseorang boleh mewakilkan ibadah tertentu yang bersifat amaliyah (perbuatan), termasuk penyembelihan hewan kurban. Dalil Kebolehan Kurban dengan Wakalah Konsep perwakilan dalam ibadah memiliki dasar dalam praktik Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah pernah mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada sahabat. Selain itu, para ulama juga sepakat bahwa penyembelihan hewan kurban tidak harus dilakukan sendiri oleh shohibul kurban. Yang terpenting adalah: Niat tetap dari orang yang berkurban Proses penyembelihan sesuai syariat Dengan demikian, kurban online yang menggunakan sistem perwakilan hukumnya diperbolehkan. Syarat Sah Kurban Online Agar kurban online sah menurut syariat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Niat dari Shohibul Kurban Niat berkurban tetap harus dilakukan oleh orang yang berkurban, bukan oleh perwakilan. 2. Hewan Memenuhi Syarat Hewan kurban harus sesuai ketentuan syariat, seperti: Sehat dan tidak cacat Cukup umur (misalnya kambing minimal 1 tahun) 3. Penyembelihan Sesuai Syariat Proses penyembelihan harus dilakukan: Pada waktu yang ditentukan (10–13 Dzulhijjah) Oleh penyembelih yang memahami tata cara syar’i 4. Penyaluran Daging Kurban Daging kurban harus didistribusikan kepada yang berhak, terutama fakir miskin. 5. Lembaga Terpercaya Pastikan memilih lembaga resmi dan amanah, seperti BAZNAS atau lembaga yang memiliki izin dan pengawasan. Keunggulan Kurban Online Kurban online hadir sebagai solusi praktis, terutama bagi masyarakat modern. Beberapa keunggulannya antara lain: Mudah dan praktis, tanpa harus datang ke lokasi penyembelihan Lebih tepat sasaran, karena distribusi bisa menjangkau daerah pelosok Transparan, biasanya disertai laporan dan dokumentasi Efisien waktu, cocok untuk masyarakat dengan mobilitas tinggi Hal yang Perlu Diwaspadai Meskipun diperbolehkan, kurban online tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: Hindari lembaga yang tidak jelas kredibilitasnya Pastikan ada laporan pelaksanaan kurban Pilih lembaga yang memiliki legalitas resmi Periksa harga yang wajar dan transparan Kurban Online Menurut BAZNAS dan Kemenag Lembaga resmi seperti BAZNAS dan Kementerian Agama pada prinsipnya membolehkan kurban online selama memenuhi syariat. BAZNAS bahkan menyediakan layanan kurban yang terkelola secara profesional, mulai dari pemilihan hewan hingga pendistribusian kepada masyarakat yang membutuhkan. Kementerian Agama juga menegaskan bahwa praktik kurban dengan sistem perwakilan diperbolehkan, selama tidak menghilangkan rukun dan ketentuan ibadah kurban. Hukum kurban online dalam Islam adalah sah dan diperbolehkan, karena menggunakan akad wakalah (perwakilan) yang dibenarkan dalam syariat. Namun, keabsahan tersebut bergantung pada terpenuhinya syarat dan rukun kurban, serta amanah dari pihak penyelenggara. Sebagai umat Islam, penting untuk tetap berhati-hati dalam memilih lembaga kurban online agar ibadah yang dilakukan tidak hanya sah, tetapi juga membawa keberkahan. Di era digital ini, kurban online bisa menjadi solusi untuk tetap beribadah dengan mudah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.***
ARTIKEL04/05/2026 | Humas
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan
Pendidikan untuk Semua: Saatnya Zakat Menghidupkan Harapan
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah momen untuk merenung: sudahkah pendidikan benar-benar menjadi milik semua anak bangsa? Ataukah ia masih menjadi “kemewahan” bagi sebagian, sementara yang lain hanya bisa memandang dari kejauhan? Di sudut-sudut negeri ini, masih banyak anak-anak yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan. Mereka ingin belajar, ingin membaca dunia, ingin mengubah nasib. Namun, kemiskinan seringkali memaksa mereka berhenti. Buku diganti beban, sekolah diganti pekerjaan, cita-cita pun perlahan memudar. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya yang paling dalam. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi jalan nyata untuk memutus rantai kemiskinan—terutama melalui pendidikan. Ketika zakat diarahkan untuk beasiswa, perlengkapan sekolah, atau pemberdayaan pendidikan bagi kaum dhuafa, ia tidak hanya membantu satu individu, tetapi mengubah masa depan sebuah generasi. Bayangkan seorang anak dari keluarga fakir yang bisa melanjutkan sekolah karena uluran tangan kita. Hari ini ia menerima, esok ia bisa memberi. Hari ini ia ditolong, esok ia menjadi penolong. Inilah siklus keberkahan yang Allah janjikan. Infak dan sedekah pun demikian. Ia mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama, dampaknya luar biasa. Seribu rupiah yang kita anggap ringan, bisa menjadi bagian dari seragam sekolah, buku pelajaran, atau bahkan membuka jalan bagi seorang anak untuk tetap bertahan di bangku pendidikan. Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi gerakan. Gerakan kepedulian. Gerakan berbagi. Gerakan memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal hanya karena alasan ekonomi. Mari kita ubah cara pandang kita. Zakat bukan sekadar membersihkan harta, tetapi juga menumbuhkan harapan. Infak dan sedekah bukan sekadar memberi, tetapi menghidupkan masa depan. Jika hari ini kita belum bisa membangun sekolah, setidaknya kita bisa membantu satu anak tetap bersekolah. Jika kita belum mampu mengubah sistem, kita bisa menjadi bagian dari solusi. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga—tetapi tanggung jawab kita semua. Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menjadi bagian dari harapan itu?.*** Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.I (Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman)
ARTIKEL02/05/2026 | Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini
Apa Tujuan Ibadah Kurban? Ini Makna, Hikmah, dan Keutamaannya Agar Mantap Menunaikan Kurban di Tahun Ini
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10–13 Dzulhijjah. Bagi umat Muslim yang mampu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki tujuan mulia yang sarat makna spiritual dan sosial. Ibadah kurban selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, khususnya saat Hari Raya Iduladha tiba. Di balik prosesi penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai-nilai mendalam yang tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak yang memaknai qurban sebatas tradisi tahunan tanpa memahami tujuan utamanya. Padahal, memahami tujuan ibadah qurban sangat penting agar pelaksanaannya tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menjadi bentuk ibadah yang penuh kesadaran dan keikhlasan. Qurban mengajarkan umat Islam tentang arti ketaatan kepada Allah SWT, pengorbanan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Melalui artikel ini, Anda akan diajak mengenal lebih dalam makna dan tujuan ibadah kurban berdasarkan ajaran Islam yang sahih. Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan kurban dengan lebih optimal, sekaligus menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Lalu, apa tujuan ibadah kurban? Artikel ini akan mengulas secara lengkap agar Anda semakin mantap menunaikan kurban di tahun 1447 H/2026. Pengertian Ibadah Kurban Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti “dekat”. Artinya, qurban atau kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta pada waktu tertentu. Ibadah ini meneladani kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang menjadi simbol kepatuhan total kepada perintah Allah SWT. Tujuan Ibadah Kurban dalam Islam Berikut beberapa tujuan utama ibadah kurban yang perlu dipahami: 1. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT Tujuan utama kurban adalah sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini menunjukkan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya. Allah SWT berfirman bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban. 2. Meneladani Keteladanan Nabi Ibrahim AS Kurban mengajarkan nilai pengorbanan dan kepatuhan tanpa syarat. Nabi Ibrahim AS bersedia mengorbankan putranya atas perintah Allah, yang kemudian digantikan dengan hewan sembelihan. Nilai ini menjadi pelajaran penting tentang keimanan, kesabaran, dan keikhlasan. 3. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin. Hal ini menjadikan kurban sebagai sarana berbagi dan mempererat solidaritas sosial. Melalui kurban, kebahagiaan Iduladha dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. 4. Mensucikan Harta Berqurban juga menjadi bentuk penyucian harta. Dengan mengeluarkan sebagian rezeki untuk kepentingan ibadah, seorang Muslim membersihkan hartanya dari sifat kikir dan cinta dunia berlebihan. 5. Menghidupkan Syiar Islam Pelaksanaan kurban secara bersama-sama di masyarakat menjadi simbol syiar Islam yang kuat. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan ketaatan umat kepada Allah SWT. Hikmah dan Keutamaan Berkurban Selain memiliki tujuan yang jelas, kurban juga menyimpan berbagai hikmah, di antaranya: · Menumbuhkan rasa empati terhadap sesama · Melatih keikhlasan dan pengorbanan · Memperkuat ukhuwah Islamiyah · Mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT Siapa yang Dianjurkan Berkurban? Ibadah kurban dianjurkan bagi Muslim yang mampu secara finansial. Kemampuan ini diukur setelah terpenuhinya kebutuhan pokok diri dan keluarga. Ayo Tunaikan Kurban Terbaik Anda di Sleman! Menunaikan kurban kini semakin mudah dan terpercaya. Anda dapat berpartisipasi dalam program kurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman, yang dikelola oleh peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman. Mengapa memilih di sini? · Dikelola secara profesional · Didampingi peternak berpengalaman · Hewan sehat, sesuai syariat · Memberdayakan ekonomi mustahik · Distribusi tepat sasaran Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya beribadah, tetapi juga turut membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak lokal. Tujuan ibadah kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki makna mendalam: mendekatkan diri kepada Allah, meneladani Nabi Ibrahim, serta membangun kepedulian sosial. Mari jadikan momen Iduladha 1447 H/2026 sebagai kesempatan untuk berkurban terbaik dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi sesama. Sumber Referensi 1. BAZNAS RI – https://baznas.go.id 2. Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id
ARTIKEL28/04/2026 | Humas
Apa Larangan Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat
Apa Larangan Orang yang Berkurban? Ini Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H/2026, umat Islam yang berniat menunaikan ibadah kurban perlu memahami tidak hanya syarat dan tata caranya, tetapi juga larangan yang harus diperhatikan. Hal ini penting agar ibadah kurban yang dilakukan benar-benar sesuai dengan tuntunan syariat dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Lalu, apa larangan orang yang berkurban? Artikel ini akan mengulasnya secara lengkap agar Anda dapat mempersiapkan kurban dengan lebih optimal. Larangan bagi Orang yang Berkurban Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa larangan yang dianjurkan untuk dipatuhi oleh orang yang hendak berkurban, khususnya sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. 1. Tidak Memotong Rambut dan Kuku Salah satu larangan yang paling utama adalah tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang berniat berkurban. Larangan ini berlaku sejak awal bulan Dzulhijjah hingga pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan agar orang yang berqurban menahan diri dari memotong rambut dan kuku sebagai bentuk kesempurnaan ibadah. 2. Tidak Mengambil Bagian Tubuh Lainnya Selain rambut dan kuku, dianjurkan juga untuk tidak mengambil bagian tubuh lain seperti kulit (misalnya kulit mati yang sengaja dihilangkan) selama periode tersebut, kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan mendesak. 3. Menjaga Niat dan Keikhlasan Meskipun bukan larangan fisik, menjaga niat dari riya (pamer) juga menjadi hal penting. Ibadah qurban harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. 4. Tidak Menjual Bagian dari Hewan Qurban Setelah penyembelihan, bagian dari hewan qurban tidak boleh diperjualbelikan, baik daging, kulit, maupun bagian lainnya. Semua hasil qurban sebaiknya didistribusikan sesuai ketentuan syariat. 5. Tidak Memberikan Upah Jagal dari Daging Kurban Memberikan upah kepada penyembelih (jagal) tidak diperbolehkan berasal dari bagian hewan qurban. Upah harus diberikan dalam bentuk lain di luar daging qurban. Hikmah dari Larangan Berkurban Larangan-larangan ini bukan tanpa tujuan. Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain: Melatih ketaatan terhadap syariat Menumbuhkan kesadaran spiritual Menyerupai sebagian amalan jamaah haji Menjaga kesempurnaan ibadah kurban Siapkan Kurban Terbaik Anda di Sleman Menjalankan ibadah kurban sesuai syariat tentu harus diiringi dengan pemilihan hewan kurban yang sehat dan layak. Untuk itu, Anda dapat mempercayakan kebutuhan qurban melalui Balai Ternak Lumbung Berkah Sleman. Hewan kurban di sini berasal dari peternak mustahik binaan BAZNAS Sleman yang telah mendapatkan pendampingan secara profesional. Proses pemeliharaan dilakukan dengan standar yang baik, didampingi oleh peternak berpengalaman, sehingga kualitas hewan terjaga dan sesuai syariat. Dengan berkurban di sini, Anda tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi para peternak lokal. Kesimpulan Memahami larangan orang yang berkurban merupakan bagian penting dalam menyempurnakan ibadah kurban. Mulai dari tidak memotong rambut dan kuku hingga menjaga keikhlasan, semua bertujuan agar ibadah diterima oleh Allah SWT. Mari sambut Iduladha 1447 H/2026 dengan kurban terbaik, sesuai syariat, dan penuh keberkahan.*** Sumber Referensi BAZNAS RI – https://baznas.go.id Kementerian Agama RI – https://kemenag.go.id
ARTIKEL28/04/2026 | Humas
Syarat Orang yang Berkurban: Panduan Lengkap Sesuai Syariat
Syarat Orang yang Berkurban: Panduan Lengkap Sesuai Syariat
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya pada Hari Raya Iduladha dan hari tasyrik. Namun, tidak semua orang memiliki kewajiban yang sama dalam melaksanakannya. Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar seseorang termasuk kategori yang dianjurkan untuk berkurban. Berikut adalah syarat orang yang berkurban sesuai dengan ketentuan syariat Islam. 1. Beragama Islam Syarat utama orang yang berkurban adalah beragama Islam. Ibadah kurban merupakan bagian dari ibadah dalam syariat Islam, sehingga hanya sah jika dilakukan oleh seorang Muslim. 2. Baligh dan Berakal Orang yang berkurban harus sudah baligh (dewasa) dan memiliki akal sehat. Artinya, ia memahami makna ibadah yang dilakukan serta mampu berniat secara sadar. Meski demikian, dalam praktiknya, orang tua juga diperbolehkan berkurban atas nama anaknya sebagai bentuk pendidikan dan pembiasaan ibadah. 3. Mampu Secara Finansial Kemampuan menjadi syarat penting dalam pelaksanaan kurban. Seseorang dianjurkan berkurban apabila memiliki kelebihan harta setelah mencukupi kebutuhan pokok diri dan keluarganya, seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Dalam hal ini, kurban tidak boleh memberatkan atau memaksakan kondisi keuangan. Jika seseorang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, maka ia tidak termasuk yang dianjurkan berkurban. 4. Bukan Termasuk Orang yang Memiliki Tanggungan Utang Mendesak Dalam penjelasan fikih yang dirujuk oleh Kementerian Agama, seseorang yang memiliki utang dan harus segera dilunasi sebaiknya mendahulukan kewajiban tersebut dibandingkan berkurban. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prioritas dalam pengelolaan keuangan, di mana kewajiban harus didahulukan daripada amalan sunnah. 5. Merdeka (Menurut Sebagian Pendapat Ulama) Dalam literatur fikih klasik, disebutkan bahwa syarat berkurban adalah merdeka (bukan hamba sahaya). Meskipun konteks ini sudah tidak relevan dalam kehidupan modern, poin ini tetap menjadi bagian dari pembahasan hukum dalam kitab-kitab fikih. 6. Tidak Sedang dalam Kondisi yang Menghalangi (Uzur) Meskipun tidak menjadi syarat mutlak, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang sedang dalam kondisi tertentu seperti sakit berat atau tidak mampu secara fisik dapat menunda atau tidak melaksanakan kurban. Namun, jika secara finansial mampu, pelaksanaan kurban tetap bisa diwakilkan kepada orang lain atau melalui lembaga resmi seperti BAZNAS. Hukum Berkurban bagi yang Memenuhi Syarat Bagi orang yang telah memenuhi syarat di atas, hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan, dalam beberapa pendapat ulama, kurban bisa menjadi wajib bagi yang benar-benar mampu. Hal ini menunjukkan bahwa kurban memiliki kedudukan penting dalam Islam, baik sebagai ibadah individual maupun sosial. Hikmah Memenuhi Syarat dalam Berkurban Memahami syarat orang yang berkurban memiliki beberapa manfaat, antara lain: - Membantu umat Islam melaksanakan ibadah secara tepat sesuai syariat - Menghindari pemaksaan diri dalam beribadah - Menanamkan kesadaran bahwa Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan - Mendorong pengelolaan keuangan yang bijak Syarat orang yang berkurban dalam Islam meliputi beragama Islam, baligh dan berakal, serta mampu secara finansial tanpa mengabaikan kebutuhan pokok dan kewajiban lainnya. Dengan memahami syarat ini, umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban secara tepat, penuh kesadaran, dan sesuai tuntunan syariat. Diharapkan masyarakat semakin paham bahwa kurban bukan hanya tentang kemampuan membeli hewan, tetapi juga tentang kesiapan secara spiritual dan tanggung jawab dalam beribadah.***
ARTIKEL27/04/2026 | Humas
Apa Itu Kurban? Ini Pengertian, Dasar Hukum, dan Syarat Sahnya
Apa Itu Kurban? Ini Pengertian, Dasar Hukum, dan Syarat Sahnya
Apa yang Dimaksud dengan Kurban? Kurban adalah ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan menyembelih hewan ternak tertentu pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pada Hari Raya Iduladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Ibadah ini merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian sosial dengan berbagi kepada sesama. Kurban tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai simbol pengorbanan, keikhlasan, serta ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya kemudian diganti oleh Allah dengan seekor hewan sembelihan, yang menjadi dasar disyariatkannya kurban hingga saat ini. Dasar Hukum Kurban Hukum kurban dalam Islam adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh BAZNAS RI dan Kementerian Agama RI berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis. 1. Dalil dari Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat ini menjadi landasan utama perintah berkurban sebagai bentuk ibadah kepada Allah. 2. Dalil dari Hadist Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah kurban bagi umat Islam yang mampu secara finansial. Syarat Orang yang Berkurban Agar ibadah kurban sah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang melaksanakannya: 1. Beragama Islam Kurban hanya sah dilakukan oleh seorang Muslim. 2. Baligh dan berakal Orang yang berkurban harus sudah dewasa dan memiliki akal sehat. 3. Mampu secara finansial T Tidak sedang dalam kondisi kekurangan, serta memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi. 4. Bukan musafir (menurut sebagian ulama) Dianjurkan bagi yang menetap, meskipun sebagian pendapat membolehkan bagi musafir. Syarat Hewan Kurban Selain syarat bagi pelaku, hewan kurban juga harus memenuhi ketentuan tertentu agar sah: 1. Jenis hewan ternak Hewan yang diperbolehkan adalah kambing, domba, sapi, atau unta. 2. Cukup umur - Kambing/domba: minimal 1 tahun (atau domba 6 bulan yang sudah tampak dewasa) - Sapi: minimal 2 tahun - Unta: minimal 5 tahun 3. Sehat dan tidak cacat Hewan tidak boleh buta, pincang, kurus ekstrem, atau memiliki penyakit serius. 4. Disembelih pada waktu yang ditentukan Yaitu setelah salat Iduladha hingga akhir hari tasyrik. Hikmah dan Keutamaan Kurban Ibadah kurban memiliki banyak hikmah yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga masyarakat luas: - Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT - Menumbuhkan rasa empati dan solidaritas social - Membantu masyarakat yang membutuhkan - Menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat Bahwa kurban merupakan salah satu cara efektif dalam mendistribusikan manfaat kepada masyarakat luas, terutama bagi mereka yang jarang mengonsumsi daging. Kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ibadah yang sarat makna spiritual dan sosial. Dengan memahami pengertian, dasar hukum, serta syarat-syaratnya, diharapkan umat Islam dapat melaksanakan ibadah kurban dengan benar dan penuh kesadaran. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya kurban sebagai bentuk ketaatan sekaligus kepedulian terhadap sesama.***
ARTIKEL24/04/2026 | Humas
5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah yang Wajib Dipahami Umat Muslim
5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah yang Wajib Dipahami Umat Muslim
Masih bingung perbedaan zakat, infak, dan sedekah? Simak penjelasan lengkap mulai dari pengertian, hukum, hingga contoh penerapannya di sini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah zakat, infak, dan sedekah sering digunakan secara bergantian. Padahal, ketiganya memiliki makna, hukum, dan ketentuan yang berbeda dalam Islam. Memahami perbedaan zakat infak sedekah sangat penting agar ibadah yang kita lakukan sesuai dengan syariat dan memberikan manfaat maksimal bagi sesama. Pengertian Zakat, Infak, dan Sedekah 1. Pengertian Zakat Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim apabila telah memenuhi syarat tertentu, seperti mencapai nisab dan haul. Zakat termasuk rukun Islam dan memiliki ketentuan yang jelas terkait jumlah serta siapa saja yang berhak menerimanya. 2. Pengertian Infak Infak adalah pengeluaran harta yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan yang dianjurkan dalam Islam, tanpa batasan jumlah tertentu. Infak bisa dilakukan kapan saja, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. 3. Pengertian Sedekah Sedekah memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya berupa harta, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan, seperti senyum, tenaga, hingga bantuan non-materi lainnya. 5 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah Berikut adalah perbedaan utama yang perlu dipahami: 1. Hukum Pelaksanaan Zakat: Wajib bagi yang memenuhi syarat Infak: Sunnah (dianjurkan) Sedekah: Sunnah (lebih luas bentuknya) 2. Ketentuan dan Batasan Zakat: Memiliki nisab dan haul Infak: Tidak memiliki batasan tertentu Sedekah: Tidak dibatasi, bahkan bisa non-materi 3. Penerima Manfaat Zakat: Hanya untuk 8 golongan (asnaf) Infak: Lebih fleksibel Sedekah: Bisa diberikan kepada siapa saja 4. Waktu Pelaksanaan Zakat: Pada waktu tertentu (misalnya zakat fitrah saat Ramadan) Infak: Kapan saja Sedekah: Kapan saja dan dalam kondisi apa pun 5. Bentuk Pemberian Zakat: Harus berupa harta tertentu Infak: Umumnya berupa harta Sedekah: Bisa berupa harta maupun non-harta Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapannya: Zakat: Membayar zakat mal atau zakat fitrah melalui lembaga resmi Infak: Menyumbang untuk pembangunan masjid atau kegiatan sosial Sedekah: Memberikan makanan kepada tetangga atau membantu orang lain Peran BAZNAS dalam Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah Sebagai lembaga resmi pemerintah, BAZNAS Kabupaten Sleman memiliki peran penting dalam mengelola dana zakat, infak, dan sedekah secara profesional dan amanah. Beberapa peran utama BAZNAS antara lain: Menghimpun dana dari masyarakat (muzaki) Menyalurkan kepada yang berhak (mustahik) Menjalankan program pemberdayaan ekonomi Menjamin transparansi dan akuntabilitas Dengan menyalurkan melalui BAZNAS, dana yang Anda berikan dapat lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan umat. Memahami pengertian zakat serta perbedaan zakat, infak, dan sedekah membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih tepat dan maksimal. Zakat bersifat wajib dengan aturan khusus, sementara infak dan sedekah bersifat sunnah dengan cakupan yang lebih luas. Ketiganya memiliki peran penting dalam membangun kepedulian sosial dan kesejahteraan masyarakat. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. Salurkan kebaikan Anda hari ini dan jadilah bagian dari perubahan untuk umat yang lebih sejahtera.***
ARTIKEL14/04/2026 | Humas
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Amalan Ringan dengan Pahala Berlipat
Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal: Amalan Ringan dengan Pahala Berlipat
Sedekah Syawal memiliki keutamaan besar sebagai amalan setelah Ramadan. Simak dalil, manfaat, dan inspirasi sedekah agar pahala terus mengalir. Setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan, banyak umat Muslim mengalami penurunan semangat dalam beribadah. Padahal, bulan Syawal justru menjadi momentum penting untuk menjaga konsistensi amal kebaikan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah sedekah Syawal. Meski terkesan sederhana, sedekah memiliki keutamaan besar, bahkan mampu mendatangkan pahala berlipat dan keberkahan dalam kehidupan. Dalil Keutamaan Sedekah dalam Islam Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji…” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menjelaskan bahwa pahala sedekah akan dilipatgandakan berkali-kali lipat. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa sedekah bukanlah kerugian, melainkan investasi kebaikan yang akan diganti dengan keberkahan oleh Allah SWT. Keutamaan Sedekah di Bulan Syawal Berdasarkan rujukan dari BAZNAS RI, sedekah di bulan Syawal memiliki nilai istimewa, di antaranya: 1. Tanda Konsistensi Ibadah Melanjutkan kebiasaan baik setelah Ramadan adalah tanda diterimanya amal ibadah. Sedekah Syawal menjadi bukti bahwa semangat berbagi tetap terjaga. 2. Pahala Tetap Berlipat Meskipun Ramadan telah berakhir, pahala sedekah tetap besar dan terus mengalir, terlebih jika dilakukan dengan ikhlas. 3. Menghapus Dosa Sedekah dapat menjadi sarana penghapus dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadis bahwa sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api. 4. Membuka Pintu Rezeki Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi sebab datangnya rezeki yang lebih luas dan berkah. Manfaat Sedekah: Sosial dan Spiritual 1. Manfaat Spiritual Mendekatkan diri kepada Allah SWT Menumbuhkan rasa syukur Membersihkan hati dari sifat kikir Sedekah juga melatih keikhlasan dan menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. 2. Manfaat Sosial Membantu masyarakat yang membutuhkan Mengurangi kesenjangan sosial Memperkuat ukhuwah Islamiyah Dalam konteks pasca Idulfitri, sedekah sangat relevan untuk membantu mereka yang masih mengalami kesulitan ekonomi setelah Ramadan. Kisah Inspiratif: Sedekah Membawa Keberkahan Banyak kisah nyata menunjukkan bahwa orang yang gemar bersedekah mendapatkan kemudahan dalam hidupnya. BAZNAS menyebutkan bahwa sedekah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga membawa keberkahan bagi pemberinya, bahkan bisa menjadi sebab datangnya rezeki yang tidak terduga. Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun sedekah yang diberikan, tetap memiliki dampak besar jika dilakukan dengan ikhlas. Sedekah Syawal sebagai Amalan Setelah Ramadan Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk menjaga ritme ibadah. Jangan sampai semangat berbagi hanya berhenti di bulan Ramadan. Melalui sedekah Syawal, kita bisa: - Menjaga konsistensi ibadah - Melanjutkan kebiasaan baik - Menguatkan kepedulian sosial BAZNAS juga mengajak masyarakat untuk menjadikan sedekah sebagai amalan rutin, bukan hanya musiman. Memahami keutamaan sedekah di bulan Syawal membantu kita untuk tetap istiqamah dalam berbuat kebaikan setelah Ramadan. Sedekah bukan hanya amalan ringan, tetapi juga memiliki dampak besar, baik secara spiritual maupun sosial. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membuka pintu keberkahan dalam hidup. Mari lanjutkan semangat Ramadan dengan sedekah Syawal melalui BAZNAS Kabupaten Sleman. ???? Salurkan sedekah terbaik Anda hari ini ???? Jadikan berbagi sebagai kebiasaan ???? Bersama, kita wujudkan kesejahteraan umat
ARTIKEL14/04/2026 | Humas
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →