WhatsApp Icon
Hikmah Kemerdekaan: Merdeka untuk Berbagi, Merdeka untuk Menyejahterakan

Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah amanah untuk mengisi ruang kebebasan dengan kebaikan, menghadirkan keadilan, dan memastikan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan untuk hidup layak dan bermartabat.

Setiap tanggal 17 Agustus, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi lahirnya Indonesia yang merdeka. Tetapi ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan: untuk apa kemerdekaan ini kita warisi?

Kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berkecukupan. Kemerdekaan harus menghadirkan harapan bagi mereka yang masih kekurangan. Kemerdekaan harus membuat anak-anak dapat bersekolah, keluarga dapat memenuhi kebutuhan hidup, orang sakit memperoleh pengobatan, para mustahik mampu bangkit, dan masyarakat memiliki kesempatan untuk menjadi lebih mandiri.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya yang sangat dalam.

Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah. Zakat adalah jalan untuk menghadirkan keadilan sosial. Ia mengajarkan bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain. Ada bagian yang harus mengalir dari tangan orang yang berkecukupan kepada mereka yang membutuhkan.

Zakat, infak, dan sedekah adalah bentuk nyata dari semangat gotong royong yang menjadi jiwa bangsa Indonesia. Ketika seorang muzaki menunaikan zakatnya, sesungguhnya ia sedang ikut membangun jembatan antara mereka yang memiliki kemampuan dan mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.

Bayangkan jika semangat itu tumbuh di seluruh penjuru negeri.

Yang mampu membantu yang lemah.

Yang memiliki kelebihan menguatkan yang kekurangan.

Yang sudah bangkit membantu saudaranya untuk bangkit.

Yang memiliki ilmu membagikannya.

Yang memiliki harta mengalirkannya untuk kemaslahatan.

Maka kemerdekaan tidak berhenti sebagai sebuah perayaan. Kemerdekaan berubah menjadi gerakan kesejahteraan.

Di Kabupaten Sleman, semangat itu perlu terus kita hidupkan. Zakat tidak cukup hanya dikumpulkan dan disalurkan; zakat harus dikelola secara amanah, profesional, transparan, dan berdampak. Kita ingin zakat mampu mengubah mustahik menjadi lebih berdaya, membuka peluang usaha, meningkatkan pendidikan, membantu kesehatan, memperkuat ketahanan keluarga, dan pada akhirnya mengantarkan penerima manfaat menjadi pribadi yang mandiri.

Sebab ukuran keberhasilan zakat bukan hanya berapa rupiah yang terkumpul, tetapi berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi lebih baik karena zakat.

Kemerdekaan mengajarkan kepada kita bahwa sebuah bangsa tidak dibangun oleh satu atau dua orang. Indonesia dibangun oleh kebersamaan. Demikian pula kesejahteraan masyarakat tidak mungkin hanya menjadi tugas pemerintah atau lembaga tertentu. Ia membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat.

Maka, di momentum kemerdekaan ini, mari kita maknai kembali arti berbagi.

Zakat adalah tanda syukur atas rezeki.

Infak adalah wujud kepedulian.

Sedekah adalah bahasa cinta kepada sesama.

Ketika harta yang kita miliki kita keluarkan untuk membantu orang lain, sesungguhnya kita tidak sedang kehilangan. Kita sedang menanam kebaikan. Kita sedang membersihkan harta, menumbuhkan keberkahan, sekaligus menumbuhkan harapan di tengah masyarakat.

Karena itu, mari kita jadikan kemerdekaan sebagai momentum untuk membebaskan saudara-saudara kita dari belenggu kemiskinan, keterbatasan, dan ketidakberdayaan.

Mari kita isi kemerdekaan dengan kepedulian.

Mari kita wujudkan kemerdekaan dengan kebermanfaatan.

Mari kita bangun kesejahteraan melalui zakat, infak, dan sedekah.

Sebab sesungguhnya, bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang bebas dari penjajahan, tetapi bangsa yang mampu menghadirkan kehidupan yang bermartabat bagi seluruh rakyatnya.

Dan mungkin, salah satu cara kita menghormati pengorbanan para pahlawan hari ini adalah dengan meneruskan perjuangan mereka melalui jalan yang kita miliki: berbagi, memberdayakan, dan menyejahterakan sesama.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Dari kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan, mari kita lahirkan kesejahteraan yang dirasakan seluruh masyarakat.

Zakat Kuat, Masyarakat Berdaya, Indonesia Sejahtera.

 

Oleh: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.

(Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Sleman)

21/09/2026 | Kontributor: Muhaimin, S.Ag., M.Pd.
Manfaat Sedekah dan Berbagi bagi Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam

Berbagi merupakan salah satu bentuk kebaikan yang dianjurkan dalam Islam. Berbagi tidak selalu harus dilakukan dengan memberikan uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, meluangkan waktu, mendengarkan keluh kesah, hingga menyampaikan perkataan yang baik juga merupakan bentuk kebaikan.

Menariknya, kebiasaan berbagi tidak hanya memberikan manfaat bagi orang yang menerima. Orang yang memberi juga dapat merasakan dampak positif bagi kesejahteraan psikologisnya. Karena itu, manfaat berbagi bagi kesehatan mental menjadi hal yang menarik untuk dipahami dari perspektif agama maupun psikologi.

Sebagai seorang Muslim, setiap kebaikan diyakini memiliki nilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar karena Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa kebaikan memiliki makna sedekah. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa setiap perbuatan baik merupakan sedekah.

Artinya, seseorang tidak perlu menunggu kaya atau memiliki kelebihan harta untuk berbagi. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari perspektif psikologi modern, perilaku membantu atau perilaku prososial juga berkaitan dengan kesejahteraan psikologis. Sebuah meta-analisis yang melibatkan 201 studi dan hampir 200.000 peserta menemukan adanya hubungan positif antara perilaku prososial dan kesejahteraan, meskipun hubungan tersebut tergolong moderat dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Dengan demikian, berbagi dapat menjadi salah satu kebiasaan yang mendukung kesejahteraan mental, tetapi bukan pengganti pengobatan atau penanganan profesional bagi seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Mengapa Berbagi Dapat Membuat Hati Lebih Bahagia?

Salah satu manfaat berbagi bagi kesehatan mental yang mudah dirasakan adalah munculnya perasaan bahagia setelah melakukan kebaikan.

Ketika membantu seseorang yang membutuhkan, muncul perasaan bahwa apa yang dilakukan memiliki arti. Kepuasan tersebut berbeda dengan kesenangan yang muncul ketika memperoleh sesuatu untuk diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan ini dapat muncul ketika kita memberikan makanan kepada tetangga, membantu teman menyelesaikan pekerjaan, atau memberikan sedekah kepada seseorang yang membutuhkan.

Saat berbagi, perhatian kita tidak hanya tertuju pada persoalan pribadi, tetapi juga pada kebutuhan orang lain. Hal tersebut dapat memberikan ruang bagi pikiran untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.

Sejumlah penelitian mengenai perilaku prososial menunjukkan bahwa tindakan membantu orang lain berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan. Penelitian tentang aktivitas kebaikan dan interaksi sosial juga menemukan bahwa perilaku prososial dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan seseorang.

Bagi seorang Muslim, kebahagiaan dalam berbagi tentu tidak semata-mata dicari melalui pujian atau pengakuan manusia. Islam mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam beramal.

Al-Qur'an menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti benih yang menghasilkan banyak buah. Karena itu, berbagi sebaiknya dilakukan dengan tujuan utama mencari rida Allah SWT.

Ketika dilakukan dengan ikhlas, berbagi juga dapat mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang kita miliki. Terkadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu membantu orang lain.

Dari sinilah salah satu manfaat berbagi yang jarang disadari dapat dirasakan: perhatian kita perlahan bergeser dari pertanyaan “apa yang belum saya punya?” menjadi “apa yang masih bisa saya berikan?”

Berbagi Dapat Membantu Mengurangi Kesepian

Kesepian merupakan pengalaman psikologis yang dapat dialami seseorang meskipun berada di tengah banyak orang. Seseorang bahkan dapat memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tetap merasa tidak mempunyai hubungan yang benar-benar bermakna.

Dalam kondisi seperti ini, berbagi dan membantu orang lain dapat menjadi salah satu cara membangun hubungan sosial yang lebih positif.

Berbagi juga tidak harus selalu berupa materi. Meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarga, mendengarkan teman yang sedang menghadapi masalah, atau membantu tetangga merupakan bentuk kepedulian yang dapat memperkuat hubungan.

Perilaku tersebut dapat menumbuhkan rasa terhubung dengan orang lain sekaligus memberikan perasaan bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi lingkungan sekitar.

Penelitian eksperimental mengenai perilaku prososial juga menemukan kaitan antara perilaku membantu dengan penurunan rasa kesepian. Salah satu penelitian yang dilakukan melalui dua studi menemukan bahwa perilaku prososial secara konsisten berkaitan dengan penurunan loneliness atau kesepian.

Dalam Islam, kepedulian kepada sesama merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kebiasaan berbagi membuat seseorang tidak hanya berfokus pada kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih hangat dengan keluarga, teman, tetangga, dan masyarakat.

Rasa terhubung dengan orang lain menjadi sangat berharga ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit. Hubungan sosial yang sehat memang tidak otomatis menghilangkan seluruh persoalan, tetapi dapat membantu seseorang merasa bahwa dirinya tidak menghadapi semuanya sendirian.

Berbagi Menumbuhkan Rasa Syukur

Manfaat berbagi bagi kesehatan mental juga dapat berkaitan dengan tumbuhnya rasa syukur.

Ketika memberikan sebagian dari apa yang kita miliki kepada orang lain, kita secara tidak langsung belajar menyadari bahwa masih ada nikmat yang dapat digunakan untuk membantu sesama.

Sebagai contoh, seseorang yang berbagi makanan dapat menjadi lebih sadar bahwa dirinya masih memiliki makanan yang cukup. Sementara itu, orang yang menyumbangkan pakaian layak pakai dapat menyadari bahwa dirinya memiliki pakaian lebih dari yang benar-benar dibutuhkan.

Kesadaran tersebut dapat membantu menggeser perhatian dari apa yang kurang menuju penghargaan atas nikmat yang telah dimiliki. Dengan begitu, berbagi tidak hanya berkaitan dengan emosi sesaat, tetapi juga dapat mendorong pola pikir yang lebih positif.

Dalam Islam, rasa syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan “alhamdulillah”, tetapi juga dengan menggunakan nikmat Allah untuk sesuatu yang baik.

Harta, tenaga, waktu, ilmu, dan kemampuan dapat menjadi sarana untuk membantu orang lain. Ketika digunakan dengan cara tersebut, seorang Muslim belajar memandang nikmat sebagai amanah.

Al-Qur'an juga memberikan perhatian besar terhadap infak dan sedekah. Surah Al-Baqarah ayat 261 menggambarkan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan bagaimana Allah melipatgandakan balasannya.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa berbagi bukan sekadar kehilangan sesuatu yang dimiliki, tetapi merupakan bagian dari amal yang memiliki nilai di sisi Allah. Pemahaman ini dapat memperkuat rasa bermakna dalam menjalani kehidupan.

Namun, niat dalam berbagi tetap perlu dijaga. Al-Qur'an mengingatkan agar sedekah tidak dirusak dengan menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti penerimanya.

Karena itu, berbagi sebaiknya tidak dilakukan demi mendapatkan pujian atau pengakuan. Berbagi yang sehat secara spiritual dilakukan dengan ikhlas sekaligus tetap menjaga martabat orang yang menerima.

Berbagi, Makna Hidup, dan Ketenangan Batin

Manusia membutuhkan lebih dari sekadar kesenangan untuk merasa bahwa hidupnya berarti. Kita juga membutuhkan tujuan, hubungan yang bermakna, serta keyakinan bahwa keberadaan kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Dalam konteks tersebut, perilaku berbagi dapat berkaitan dengan munculnya rasa bahwa kehidupan kita memiliki kontribusi bagi orang lain.

Penelitian mengenai hubungan perilaku prososial dan kesehatan mental juga menemukan hubungan positif yang signifikan. Meta-analisis tahun 2026 yang mencakup 121 studi dan lebih dari 222.000 peserta menemukan bahwa perilaku prososial memiliki hubungan positif dengan kesehatan mental.

Menariknya, hubungan tersebut paling kuat pada indikator makna hidup dibandingkan beberapa indikator lainnya. Temuan ini semakin memperlihatkan bahwa membantu orang lain dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang menemukan makna dalam kehidupannya.

Bagi seorang Muslim, makna hidup memiliki dimensi yang lebih dalam. Kehidupan tidak hanya tentang mengejar kekayaan, jabatan, atau pengakuan manusia, tetapi juga merupakan kesempatan untuk beribadah dan melakukan kebaikan.

Ketika seseorang berbagi karena Allah, tindakan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari ibadah. Di sinilah berbagi dapat dipahami melalui perpaduan antara tujuan hidup, hubungan sosial, dan keimanan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa sedekah memiliki cakupan yang luas. Ketika seseorang tidak mampu memberikan sesuatu secara materi, ia tetap dapat membantu orang yang membutuhkan, mengajak kepada kebaikan, atau menahan diri dari keburukan.

Dengan demikian, kesempatan untuk berbuat baik terbuka bagi siapa saja, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Berbagi ilmu, membantu pekerjaan orang tua, memberikan makanan kepada tetangga, mendengarkan seseorang yang membutuhkan teman bicara, hingga menyampaikan kata-kata yang baik merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan hampir setiap hari.

Hadis dalam Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa setiap kebaikan merupakan sedekah. Artinya, berbagi tidak terbatas pada pemberian uang atau harta.

Cara Membiasakan Berbagi dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar berbagi menjadi kebiasaan yang sehat dan berkelanjutan, ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, berbagi sesuai kemampuan. Jangan memaksakan diri memberikan sesuatu di luar kemampuan finansial. Islam tidak mengajarkan seseorang menyakiti dirinya sendiri demi terlihat dermawan. Berbagi dapat dilakukan secara proporsional, konsisten, dan ikhlas.

Kedua, tidak harus menunggu momen tertentu. Berbagi dapat dilakukan dalam keseharian. Misalnya, menyisihkan sebagian uang setiap minggu untuk sedekah, menyediakan makanan tambahan untuk dibagikan, atau meluangkan waktu membantu keluarga.

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membuat aktivitas berbagi lebih mudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketiga, memperluas makna berbagi. Berbagi bukan hanya memberikan harta. Kita dapat berbagi ilmu, tenaga, waktu, perhatian, pengalaman, senyuman, maupun perkataan yang baik.

Pemahaman ini penting karena kesempatan berbuat baik terbuka bagi hampir semua orang, termasuk mereka yang sedang mengalami keterbatasan ekonomi.

Keempat, tetap memiliki batas yang sehat. Membantu orang lain tidak berarti harus selalu memenuhi semua permintaan. Aktivitas membantu sebaiknya tidak membuat seseorang mengalami kelelahan fisik maupun emosional.

Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara perilaku prososial dan kesehatan mental, tetapi hal tersebut bukan berarti seseorang harus mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

Kelima, luruskan niat. Sebelum berbagi, seorang Muslim dapat mengingat bahwa tujuan utama beramal adalah mencari rida Allah SWT.

Dengan niat tersebut, manfaat positif bagi kesehatan mental menjadi bagian dari hikmah yang menyertai amal, bukan satu-satunya alasan untuk berbuat baik. Bahkan ketika tidak memperoleh pujian atau ucapan terima kasih, seseorang tetap dapat merasa tenang karena yakin bahwa Allah mengetahui setiap amal yang dilakukan.

Apakah Berbagi Bisa Menghilangkan Stres dan Masalah Kesehatan Mental?

Membahas manfaat berbagi bagi kesehatan mental bukan berarti menganggap berbagi sebagai obat untuk semua masalah psikologis.

Seseorang yang mengalami depresi, gangguan kecemasan, trauma, atau masalah kesehatan mental lainnya tetap membutuhkan bantuan yang sesuai. Berbagi dapat menjadi kebiasaan yang mendukung kesejahteraan, tetapi tidak seharusnya menggantikan konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan profesional.

Meski demikian, penelitian menunjukkan adanya mekanisme yang menarik. Sebuah penelitian mengenai perilaku memberi setelah seseorang mengalami stres menemukan bahwa kelompok yang melakukan tindakan prososial menunjukkan pemulihan beberapa respons fisiologis terhadap stres yang lebih baik dibandingkan kelompok tertentu dalam eksperimen tersebut.

Temuan tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana perilaku prososial dapat berkaitan dengan pengelolaan stres.

Berbagai kajian juga menunjukkan bahwa membantu orang lain dapat berkaitan dengan hubungan sosial, rasa memiliki tujuan, dan kesejahteraan psikologis. Namun, hasil penelitian tidak boleh dipahami secara berlebihan.

Berbagi bukan berarti setiap orang yang bersedekah otomatis terbebas dari kecemasan, stres, atau kesedihan.

Sebagai Muslim, kita juga memahami bahwa kehidupan tetap menghadirkan berbagai ujian. Berbagi bukan sarana untuk memastikan hidup tanpa masalah. Sebaliknya, berbagi dapat menjadi salah satu cara menjalani kehidupan dengan hati yang lebih lapang, memperkuat hubungan dengan sesama, sekaligus mengingatkan diri bahwa kita selalu memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Karena itu, ketika menghadapi masalah kesehatan mental yang berat atau berkepanjangan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional sekaligus memperkuat ikhtiar spiritual.

Berdoa, beribadah, bersedekah, dan membantu orang lain dapat tetap dilakukan, tetapi pertolongan medis atau psikologis juga perlu dicari ketika dibutuhkan.

Pada akhirnya, manfaat berbagi bagi kesehatan mental dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari kehidupan yang seimbang: membantu sesama, membangun hubungan sosial, menemukan makna, menumbuhkan rasa syukur, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.***

14/09/2026 | Kontributor: Humas
Amalan Terbaik di Bulan Safar Menurut Islam: Tinggalkan Mitos, Perbanyak Ibadah dan Amal Saleh

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Di sebagian masyarakat masih berkembang anggapan bahwa Safar identik dengan kesialan, musibah, atau waktu yang kurang baik untuk memulai suatu aktivitas. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki landasan dalam ajaran Islam.

Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Karena itu, umat Islam tidak perlu merasa takut atau menunda berbagai urusan hanya karena memasuki bulan ini. Sebaliknya, Bulan Safar dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh demi meraih rida Allah SWT.

Lalu, amalan apa saja yang dianjurkan selama Bulan Safar? Simak penjelasannya berikut ini.

Mengenal Bulan Safar dalam Islam

Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalender Hijriah. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa Bulan Safar membawa kesialan sehingga mereka enggan melakukan perjalanan, menikah, atau berdagang pada bulan tersebut.

Islam datang untuk meluruskan keyakinan yang keliru itu. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada kesialan pada Bulan Safar, dan tidak ada hantu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Tidak ada waktu atau bulan tertentu yang secara hakikat membawa keberuntungan maupun kesialan. Karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk mengisi Bulan Safar dengan amal saleh, bukan dengan mempercayai mitos yang bertentangan dengan akidah.

Mengapa Perlu Memperbanyak Amal Saleh di Bulan Safar?

Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan hanya karena memasuki Bulan Safar. Namun, setiap waktu merupakan kesempatan bagi seorang muslim untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Memperbanyak amal saleh di Bulan Safar memiliki banyak manfaat, di antaranya:

  • Menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

  • Menambah pahala sebagai bekal di akhirat.

  • Membersihkan hati dari sifat-sifat buruk.

  • Menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil.

  • Mempererat hubungan dengan sesama.

  • Menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.

10 Amalan Terbaik di Bulan Safar yang Dianjurkan

1. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Selain membantu sesama, sedekah juga menjadi sarana membersihkan harta dan jiwa.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki."

Sedekah dapat dilakukan kapan saja, termasuk selama Bulan Safar. Yang terpenting adalah niatnya semata-mata mengharap rida Allah SWT, bukan karena menganggap sedekah sebagai penolak bala.

2. Membaca dan Mentadaburi Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an setiap hari merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Lebih dari itu, seorang muslim juga dianjurkan memahami kandungan ayat-ayatnya agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup akan memberikan manfaat besar, baik di dunia maupun di akhirat.

3. Memperbanyak Zikir

Zikir merupakan amalan yang ringan dilakukan tetapi memiliki keutamaan yang besar. Dengan memperbanyak tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istigfar, hati menjadi lebih tenang dan selalu mengingat Allah SWT.

4. Memperbanyak Istigfar

Setiap manusia tidak lepas dari kesalahan. Karena itu, memperbanyak istigfar merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW sendiri senantiasa beristigfar setiap hari sebagai teladan bagi umatnya.

5. Menjaga Salat Wajib dan Menambah Salat Sunnah

Salat merupakan tiang agama. Selain menjaga salat lima waktu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak salat sunnah seperti:

  • Salat Tahajud

  • Salat Duha

  • Salat Rawatib

  • Salat Witir

Amalan ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

6. Melaksanakan Puasa Sunnah

Puasa sunnah dapat menjadi pilihan ibadah selama Bulan Safar, di antaranya:

  • Puasa Senin dan Kamis.

  • Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah apabila masih berada di Bulan Safar.

  • Puasa Daud bagi yang mampu.

Selain memperoleh pahala, puasa juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.

7. Menjalin Silaturahmi

Menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, sahabat, maupun sesama muslim merupakan amalan yang memiliki banyak keutamaan.

Silaturahmi menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan umur dan rezeki sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis Rasulullah SAW.

8. Membantu Sesama

Membantu orang lain tidak selalu harus dengan harta. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, maupun perhatian juga termasuk bentuk amal saleh yang bernilai di sisi Allah SWT.

Sikap peduli terhadap sesama merupakan cerminan akhlak mulia seorang muslim.

9. Menuntut Ilmu Agama

Belajar agama merupakan kewajiban setiap muslim. Mengikuti kajian Islam, membaca buku-buku keislaman, mempelajari tafsir Al-Qur'an, atau mendengarkan ceramah menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas ibadah.

Ilmu yang benar akan membimbing seseorang menjalankan ajaran Islam sesuai tuntunan syariat.

10. Memperbanyak Doa

Doa adalah bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah SWT. Memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, kemudahan urusan, serta keteguhan iman merupakan amalan yang dianjurkan setiap saat.

Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui doa-doa yang tulus.

Hikmah Memperbanyak Amal Saleh di Bulan Safar

Mengisi Bulan Safar dengan ibadah dan amal saleh memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim, antara lain:

  • Semakin dekat dengan Allah SWT.

  • Mendapatkan pahala yang berlimpah.

  • Membersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan kesombongan.

  • Membentuk akhlak yang lebih baik.

  • Memberikan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Meluruskan Mitos tentang Bulan Safar

Hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan Bulan Safar dengan berbagai ritual penolak bala atau menganggapnya sebagai bulan pembawa kesialan.

Dalam Islam, keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Oleh sebab itu, umat Islam tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, membuka usaha, maupun aktivitas baik lainnya hanya karena berada di bulan ini.

Yang lebih utama adalah memperkuat tawakal kepada Allah SWT dan mengisi waktu dengan berbagai amal kebajikan.

Tips Istikamah Beribadah di Bulan Safar

Agar semangat beribadah tetap terjaga selama Bulan Safar, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

  • Membuat target ibadah harian.

  • Menjadwalkan membaca Al-Qur'an setiap hari.

  • Menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.

  • Membiasakan salat sunnah sebelum dan sesudah salat wajib.

  • Mengikuti majelis ilmu atau kajian Islam secara rutin.

  • Mengajak keluarga untuk beribadah bersama.

  • Memperbanyak doa agar diberikan keistiqamahan.

  • Mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kualitas ibadah, tidak hanya di Bulan Safar tetapi juga sepanjang tahun.

Pada hakikatnya, amalan terbaik di Bulan Safar adalah seluruh amal saleh yang dianjurkan dalam Islam dan dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan, sehingga tidak ada alasan untuk takut ataupun menunda berbagai aktivitas yang baik.

Sebaliknya, jadikan Bulan Safar sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan melalui sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, menjaga salat, berpuasa sunnah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, menuntut ilmu agama, serta memperbanyak doa.

 

Semoga setiap amal yang dilakukan diterima oleh Allah SWT, menjadi sebab turunnya keberkahan dalam kehidupan, dan menjadi bekal terbaik menuju kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat.***

04/08/2026 | Kontributor: Humas
Zakat untuk Dhuafa di Bulan Safar: Waktu yang Tepat untuk Berbagi dan Menebar Manfaat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki nilai ibadah sekaligus kepedulian sosial. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga berfungsi membantu masyarakat yang membutuhkan agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak.

Salah satu golongan yang berhak menerima zakat adalah kaum dhuafa, yaitu mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagian masyarakat masih mengaitkan Bulan Safar dengan berbagai mitos, seperti anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan atau bukan waktu yang baik untuk memulai sesuatu, termasuk beramal.

Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar.

Karena itu, Bulan Safar justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial, salah satunya dengan menunaikan zakat kepada kaum dhuafa. Selama syarat wajib zakat telah terpenuhi, tidak ada larangan menyalurkannya pada bulan ini.

Mengapa Menunaikan Zakat di Bulan Safar Tetap Dianjurkan?

Dalam Islam, waktu terbaik untuk beramal adalah ketika seseorang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Tidak ada ketentuan yang melarang pembayaran zakat pada Bulan Safar.

Menunaikan zakat di bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

·         Menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan.

·         Membersihkan dan menyucikan harta.

·         Menghadirkan keberkahan dalam rezeki.

·         Membantu memenuhi kebutuhan hidup kaum dhuafa.

·         Mempererat ukhuwah Islamiyah.

·         Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Harta yang telah ditunaikan zakatnya akan menjadi lebih berkah karena di dalamnya terdapat hak orang lain yang telah disampaikan sesuai ketentuan syariat.

Mengapa Kaum Dhuafa Menjadi Prioritas Penerima Zakat?

Allah SWT telah menetapkan delapan golongan (asnaf) yang berhak menerima zakat. Di antara mereka adalah fakir dan miskin yang termasuk dalam kategori kaum dhuafa.

Penyaluran zakat kepada kelompok ini memiliki dampak yang sangat besar karena dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan dasar, seperti:

·         Kebutuhan pangan.

·         Pakaian yang layak.

·         Biaya pendidikan.

·         Layanan kesehatan.

·         Modal usaha bagi dhuafa produktif.

Melalui zakat, kesenjangan sosial dapat dikurangi karena harta yang dimiliki orang mampu didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan. Inilah salah satu bentuk keadilan sosial yang diajarkan dalam Islam.

Lebih dari sekadar bantuan materi, zakat juga menghadirkan harapan dan rasa kepedulian sehingga penerima manfaat merasa diperhatikan oleh sesama umat Islam.

Cara Menyalurkan Zakat agar Tepat Sasaran

Agar manfaat zakat benar-benar dirasakan oleh pihak yang berhak, penyalurannya perlu dilakukan secara tepat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memastikan Penerima Termasuk Mustahik

Pastikan zakat diberikan kepada orang yang benar-benar memenuhi kriteria penerima zakat sesuai syariat Islam, terutama fakir dan miskin.

2. Menyalurkan Melalui Lembaga Amil Zakat Resmi

Menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang terpercaya menjadi pilihan yang tepat. Lembaga resmi umumnya memiliki sistem pendataan mustahik, survei lapangan, serta mekanisme distribusi yang lebih profesional sehingga bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.

3. Memberikan Langsung kepada Mustahik

Apabila mengetahui secara pasti kondisi seseorang yang berhak menerima zakat, penyaluran secara langsung juga diperbolehkan selama sesuai dengan ketentuan syariat.

4. Memastikan Pengelolaan yang Transparan

Transparansi menjadi salah satu faktor penting dalam pengelolaan zakat. Laporan penyaluran yang terbuka akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan dana zakat dimanfaatkan secara optimal.

Dengan pengelolaan yang amanah, zakat tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hikmah Menunaikan Zakat kepada Kaum Dhuafa

Menyalurkan zakat kepada kaum dhuafa memberikan manfaat besar, baik bagi muzaki maupun mustahik.

Beberapa hikmah yang dapat dirasakan antara lain:

Menumbuhkan Rasa Syukur

Zakat mengingatkan bahwa harta hanyalah titipan dari Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Memperkuat Solidaritas Sosial

Hubungan antara masyarakat yang mampu dan mereka yang membutuhkan menjadi semakin erat karena dilandasi rasa saling peduli dan saling membantu.

Membersihkan Hati dari Sifat Kikir

Berzakat melatih seseorang agar tidak terlalu mencintai harta dan membiasakan diri untuk berbagi dengan ikhlas.

Meningkatkan Kesejahteraan Umat

Apabila dikelola dengan baik, zakat tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga dapat digunakan untuk program pemberdayaan ekonomi sehingga mustahik memiliki kesempatan menjadi lebih mandiri.

Menjadi Bekal Amal di Akhirat

Zakat merupakan ibadah yang mendatangkan pahala sekaligus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kepedulian terhadap sesama.

Bulan Safar Bukan Penghalang untuk Berzakat

Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap Bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan sehingga enggan memulai usaha, bepergian, atau bahkan menunda beramal.

Dalam Islam, anggapan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa tidak ada kesialan pada Bulan Safar. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menunda pembayaran zakat maupun amal kebaikan lainnya.

Sebaliknya, Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, dan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Menunaikan zakat kepada kaum dhuafa di Bulan Safar merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan ketika kewajiban zakat telah terpenuhi. Islam tidak mengenal anggapan bahwa Bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan atau menjadi penghalang untuk beramal.

Sebaliknya, bulan ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

Penyaluran zakat yang tepat sasaran tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan mustahik, tetapi juga menghadirkan keberkahan bagi muzaki.

 

Semoga semakin banyak umat Islam yang memahami pentingnya menunaikan zakat kepada kaum dhuafa kapan pun memiliki kesempatan, termasuk di Bulan Safar. Dengan demikian, zakat akan terus menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan, penguat solidaritas sosial, dan wujud nyata kepedulian sesuai tuntunan syariat Islam.***

04/08/2026 | Kontributor: Humas
Harta yang Wajib Dizakati dalam Zakat Maal: Panduan Lengkap Menurut Syariat Islam


Zakat maal merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim yang telah memiliki harta sesuai ketentuan syariat Islam. Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya, harta apa saja yang wajib dizakati? Apakah seluruh kekayaan yang dimiliki harus dikeluarkan zakatnya?

Pada dasarnya, Islam telah menetapkan bahwa hanya jenis harta tertentu yang dikenai zakat. Selain termasuk dalam kategori harta yang wajib dizakati, harta tersebut juga harus memenuhi syarat seperti mencapai nisab (batas minimal kepemilikan) dan haul (masa kepemilikan satu tahun hijriah) untuk sebagian besar jenis zakat maal.

Melalui edukasi ini, BAZNAS Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk memahami ketentuan zakat maal agar ibadah yang ditunaikan sesuai syariat sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi para mustahik.

Pengertian Harta yang Wajib Dizakati

Harta yang wajib dizakati adalah harta yang dimiliki secara sah oleh seorang muslim, memiliki nilai ekonomi, dapat berkembang atau berpotensi berkembang, serta telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam syariat Islam.

Allah SWT berfirman:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana membersihkan harta, menyucikan jiwa, serta membantu masyarakat yang membutuhkan sehingga tercipta keseimbangan sosial dan ekonomi.

Syarat Harta yang Wajib Dizakati

Tidak semua harta secara otomatis dikenai zakat. Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi:

1. Dimiliki Secara Penuh

Harta berada dalam kepemilikan yang sah sehingga pemilik memiliki hak penuh untuk memanfaatkannya.

2. Diperoleh dengan Cara yang Halal

Harta berasal dari usaha atau transaksi yang sesuai syariat, bukan dari hasil yang diharamkan seperti korupsi, pencurian, riba, maupun praktik yang dilarang agama.

3. Bersifat Produktif atau Berpotensi Berkembang

Harta mampu menghasilkan keuntungan atau memiliki potensi untuk bertambah nilainya, baik melalui perdagangan, investasi, maupun bentuk usaha lainnya.

4. Mencapai Nisab

Nisab merupakan batas minimal kepemilikan harta yang menyebabkan seseorang wajib mengeluarkan zakat. Besarannya berbeda sesuai jenis hartanya.

5. Telah Mencapai Haul

Sebagian besar zakat maal diwajibkan setelah harta dimiliki selama satu tahun hijriah. Namun, terdapat pengecualian seperti zakat hasil pertanian yang ditunaikan setiap kali panen.

6. Melebihi Kebutuhan Pokok

Harta yang dizakati merupakan kelebihan dari kebutuhan dasar sehari-hari serta telah memperhitungkan kewajiban utang yang telah jatuh tempo.

Jenis Harta yang Wajib Dizakati

Berikut beberapa jenis harta yang termasuk objek zakat maal menurut syariat Islam.

1. Emas, Perak, dan Uang Tunai

Emas dan perak merupakan objek zakat yang telah ditetapkan sejak masa Rasulullah SAW. Dalam praktik saat ini, uang tunai dipersamakan dengan emas karena memiliki fungsi sebagai alat tukar.

Yang termasuk dalam kategori ini antara lain:

  • Emas batangan
  • Perhiasan emas yang memenuhi ketentuan zakat
  • Perak
  • Tabungan
  • Giro
  • Deposito
  • Saldo rekening
  • Uang tunai
  • Saldo dompet digital

Apabila telah mencapai nisab dan haul, zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 persen dari total harta.

2. Harta Perniagaan

Seluruh aset yang digunakan untuk aktivitas bisnis juga termasuk objek zakat, seperti:

  • Barang dagangan
  • Persediaan toko
  • Nilai stok barang
  • Keuntungan usaha
  • Piutang yang diperkirakan dapat ditagih

Besaran zakat perdagangan adalah 2,5 persen dari total aset bersih setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.

3. Hasil Pertanian

Berbeda dengan jenis zakat lainnya, zakat hasil pertanian ditunaikan setiap kali panen apabila hasilnya telah mencapai nisab.

Contohnya meliputi:

  • Padi
  • Jagung
  • Gandum
  • Kurma
  • Anggur

Besaran zakatnya:

  • 10 persen apabila pengairan mengandalkan air hujan atau sumber alami.
  • 5 persen apabila menggunakan sistem irigasi yang memerlukan biaya.

4. Hasil Peternakan

Hewan ternak tertentu juga memiliki ketentuan zakat apabila jumlah kepemilikannya telah mencapai batas minimal sesuai syariat.

Jenis ternak tersebut meliputi:

  • Unta
  • Sapi
  • Kerbau
  • Kambing
  • Domba

Besaran zakatnya disesuaikan dengan jumlah ternak yang dimiliki.

5. Hasil Tambang dan Barang Temuan

Hasil tambang seperti emas, perak, maupun logam berharga lainnya termasuk objek zakat. Demikian pula rikaz atau harta temuan tertentu yang memiliki ketentuan zakat tersendiri menurut syariat.

6. Investasi dan Surat Berharga

Seiring perkembangan ekonomi modern, berbagai instrumen investasi juga dapat menjadi objek zakat apabila memenuhi syarat, antara lain:

  • Saham
  • Reksa dana
  • Sukuk
  • Obligasi syariah
  • Investasi emas digital

Perhitungan zakat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing instrumen investasi.

Cara Menghitung Zakat Maal

Untuk mengetahui apakah telah wajib menunaikan zakat maal, lakukan langkah berikut:

  1. Hitung seluruh harta yang termasuk objek zakat, seperti uang tunai, tabungan, emas, investasi, piutang yang dapat ditagih, dan aset usaha.
  2. Kurangi dengan kewajiban jangka pendek yang harus segera dibayarkan.
  3. Pastikan jumlah harta telah mencapai nisab.
  4. Apabila telah memenuhi nisab dan haul, keluarkan zakat sebesar 2,5 persen.

Contoh perhitungan:

Total harta bersih: Rp250.000.000

Zakat maal:

Rp250.000.000 × 2,5% = Rp6.250.000

Hikmah dan Manfaat Menunaikan Zakat Maal

Menunaikan zakat maal memberikan banyak manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat. Di antaranya:

  • Membersihkan harta dan menyucikan jiwa.
  • Menghadirkan keberkahan dalam rezeki.
  • Membantu fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat.
  • Mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.
  • Menumbuhkan rasa syukur serta kepedulian terhadap sesama.

Melalui zakat, setiap muslim tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan ekonomi.

Salurkan Zakat Maal Melalui BAZNAS Kabupaten Sleman

Di balik setiap senyum para penerima manfaat, terdapat kepedulian para muzaki yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada BAZNAS Kabupaten Sleman. Setiap amanah yang ditunaikan menjadi harapan baru bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai keterbatasan.

Mari jadikan setiap rezeki yang Allah SWT titipkan sebagai jalan menghadirkan manfaat, keberkahan, dan kebahagiaan bagi sesama.

Tunaikan zakat maal, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sleman untuk mendukung berbagai program pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Sleman.

Semoga setiap harta yang dizakatkan menjadi penyuci jiwa, penambah keberkahan rezeki, serta investasi amal yang pahalanya terus mengalir di sisi Allah SWT.***

15/07/2026 | Kontributor: Humas

Artikel Terbaru

Wajib Tahu! Syarat dan Waktu Membayar Zakat Mal dan Fitrah
Wajib Tahu! Syarat dan Waktu Membayar Zakat Mal dan Fitrah
Sleman – Masih banyak umat Muslim yang masih bingung soal siapa saja yang wajib zakat, bagaimana cara menghitungnya, dan kapan harus menunaikannya. Berikut panduan praktis zakat dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan dan keadilan sosial. Apakah Anda pernah bertanya, “Siapa sih yang wajib zakat, berapa yang harus dikeluarkan, dan kapan waktu tepatnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menghantui kaum muslimin, apalagi bagi yang baru awal belajar kewajiban zakat. Di artikel ini, kami akan kupas tuntas zakat secara ringkas, jelas, dan sistematis. Mulai dari zakat fitrah yang wajib dikeluarkan sebelum Idul Fitri, hingga zakat mal yang harus dibayar saat harta sudah cukup dan mencapai syarat akan diulas pada artikel ini. Siapa yang Wajib Membayar Zakat? Zakat wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang: Beragama Islam Baligh dan berakal Merdeka (bukan hamba sahaya) Memiliki harta yang telah mencapai nisab dan haul (untuk zakat mal) Kepemilikan penuh Bebas hutang Sudah mencapai nisab Sudah melewati haul (siklus kepemilikan satu tahun) Zakat mal (harta): wajib jika total harta; uang, emas, aset perdagangan, pertanian, peternakan, investasi, dan sebagainya telah mencapai nisab dan haul. Zakat fitrah: wajib bagi setiap jiwa muslim yang mampu, tanpa melihat kepemilikan harta. Untuk zakat fitrah, syarat wajibnya lebih sederhana: setiap Muslim yang hidup pada malam Idul Fitri dan memiliki kelebihan makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya sehari semalam. Jenis-Jenis Zakat 1. Zakat Fitrah Zakat ini wajib dibayarkan pada bulan Ramadan hingga sebelum salat Idul Fitri. Besarannya setara dengan 1 sha’ (sekitar 2,5–3 kg) bahan makanan pokok seperti beras. Di Indonesia, nilainya biasanya disesuaikan dengan harga beras di wilayah masing-masing, rata-rata sekitar Rp 47.000 – Rp 60.000 per jiwa. 2. Zakat Mal (Harta) Zakat ini mencakup berbagai jenis harta seperti: Zakat penghasilan/gaji (2,5%) Zakat emas/perak (nisab emas 85 g, perak 595 g, zakat 2,5%) Zakat perdagangan, pertanian, peternakan, pertambangan, jasa, saham, reksa dana, property sewaan, dan rikaz (harta temuan) semuanya juga diwajibkan zakat mal di haulnya, umumnya 2,5%. Zakat hasil investasi dan tabungan atau uang kontan (2,5%) Cara Menghitung Zakat Zakat Fitrah Jumlah jiwa x 2,5 kg beras (atau ekuivalen uang). Contoh: keluarga 4 jiwa x 2,5 kg = 10 kg beras atau setara uang Rp52.000 x 4 = Rp208.000 Zakat Mal 1. Investasi semua harta (uang, emas, saham, aset dagang, dan sebagainya) setelah dikurangi utang. 2. Cek apakah total mencapai nisab: nisab asuan 85 g emas (sekitar Rp85-123 juta tergantung harga emas). 3. Jika sudah haul satu tahun, hitung: total harta x 2,5%. Contoh emas: 100 g emas x harga Rp800.000/g = Rp80 juta; Zakat = 2,5% x Rp80 juta = Rp2 juta. Contoh penghasilan: jika penghasilan rutin bulanan melebihi nisab bulanan (85 g emas/tahun dibagi 12), zakat tiap bulan 2,5% dari penghasilan bersih. Contoh perhitungan zakat penghasilan: Gaji per bulan: Rp 10.000.000 Nisab: Setara 522 kg beras x Rp 12.000 = Rp 6.264.000 Karena gaji > nisab, maka zakat wajib: Zakat = 2,5% x Rp 10.000.000 = Rp 250.000 per bulan Untuk kemudahan, Anda bisa menggunakan kalkulator zakat online yang tersedia di https://kabsleman.baznas.go.id/kalkulator-zakat. Kapan Waktu Membayar Zakat? Zakat Fitrah Ditunaikan mulai awal Ramadan dan paling lambat sebelum salat Idul Fitri. Zakat Mal Ditunaikan saat harta mencapai nisab dan sudah dimiliki satu tahun (haul). Untuk pertanian, hewan, dan rikaz haul tidak diperlukan, biasanya pada saat panen atau ditemukan. Zakat harta bisa juga secara bulanan, seperti zakat penghasilan yang dikeluarkan tiap bulan. Penyaluran Zakat Pastikan Anda menyalurkan zakat ditempat yang terpercaya, gunakan kanal resmi BAZNAS Kabupaten Sleman, dengan langkah berikut: - Transfer ke rekening resmi atau melalui aplikasi atau situs https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat - Bisa juga membayar langsung ke kantor BAZNAS Kabupaten Sleman. BAZNAS Sleman menjamin penyaluran kepada 8 golongan mustahik: fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil. Menunaikan zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga cara kita membersihkan harta, menumbuhkan solidaritas sosial, dan menghadirkan keberkahan dalam hidup. Dengan memahami siapa yang wajib, berapa yang harus dikeluarkan, dan kapan waktunya, semoga kita semua dapat lebih ringan dan ikhlas dalam berbagi. Mari tunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Sleman, agar dana zakat Anda tersalurkan tepat sasaran dan berdampak nyata bagi sesama.***
ARTIKEL23/07/2025 | AYW./
Zakat, Infak, Sedekah Apa Bedanya? Berikut Penjelasannya
Zakat, Infak, Sedekah Apa Bedanya? Berikut Penjelasannya
Sleman – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah zakat, infak, dan sedekah atau disingkat ZIS. Lantas apa perbedaan dari ketiganya? Berikut penjelasannya. Ketiganya merupakan bentuk ibadah sosial dalam Islam yang sangat dianjurkan untuk membantu sesama, khususnya yang membutuhkan. Namun, masih banyak umat Islam yang belum memahami secara tepat perbedaan antara ketiga istilah tersebut. Berikut penjelasan lengkap tentang perbedaan zakat, infak, dan sedekah agar tidak lagi keliru dalam penerapannya. Zakat: Kewajiban bagi yang Memenuhi Syarat Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu (nishab dan haul), untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik). Zakat memiliki aturan yang sangat rinci, baik dari segi jumlah, jenis harta, maupun waktu pengeluarannya. Ada dua jenis zakat, yaitu: Zakat Fitrah: Dikeluarkan menjelang Idulfitri, sebagai bentuk pensucian jiwa. Besarnya setara dengan 1 sha’ (sekitar 2,5–3 kg makanan pokok). Zakat Mal: Zakat atas harta seperti penghasilan, emas, perdagangan, hasil pertanian, dan lain-lain. Zakat bersifat wajib, dan tidak menunaikannya dianggap dosa. Perintah zakat tertulis jelas dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. At-Taubah ayat 103 dan QS. Al-Baqarah ayat 267. Infak: Memberi dari Harta tanpa Batas Waktu dan Jumlah Infak berarti mengeluarkan sebagian harta untuk tujuan kebaikan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Berbeda dari zakat, infak tidak wajib, tidak ada batas minimal, dan tidak ditentukan jenis hartanya. Infak bisa diberikan kepada siapa saja, bukan hanya kepada 8 golongan mustahik. Misalnya, membantu pembangunan masjid, biaya pendidikan, menolong korban bencana, atau mendukung dakwah. Infak dapat diberikan kapan saja dan kepada siapa saja yang membutuhkan, bahkan kepada orang tua, kerabat, atau teman. Sedekah: Tak Selalu Soal Uang Sedekah memiliki makna yang lebih luas dibanding zakat dan infak. Tidak hanya berupa harta, sedekah bisa dalam bentuk amal perbuatan baik, seperti senyum, menyingkirkan batu dari jalan, memberi nasihat baik, atau menolong orang lain. Sedekah adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki pahala besar. Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi) Dalam Islam, sedekah adalah cerminan kepekaan sosial dan keikhlasan hati dalam berbagi. Kesimpulan: Mana yang Harus Didahulukan? Zakat wajib, dikeluarkan jika memenuhi syarat tertentu. Infak sunnah, tidak terbatas jumlah maupun waktu. Sedekah lebih umum, bisa berupa harta atau non-materi. Semua bentuk ZIS memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang berkeadilan, sejahtera, dan penuh kasih sayang. Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih bijak dan tepat dalam menunaikan kewajiban dan memperluas kebaikan. Tunaikan Zakat dan Infak Anda melalui BAZNAS Sleman. Amanah, transparan, dan berdampak. “Karena zakatmu, harapan mereka tumbuh”. Tunaikan zakat sekarang: https://kabsleman.baznas.go.id/bayarzakat Sumber: baznas.go.id , kemenag.go.id
ARTIKEL22/07/2025 | AYW./
Program Kurban Berkah BAZNAS Sleman 2025: Cahaya bagi Mudohi dan Mustahik
Program Kurban Berkah BAZNAS Sleman 2025: Cahaya bagi Mudohi dan Mustahik
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sleman kembali menghadirkan **Program Kurban Berkah 2025**, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk memperluas manfaat ibadah kurban bagi masyarakat yang membutuhkan. Program ini merupakan bagian dari upaya BAZNAS dalam mendistribusikan hewan kurban secara lebih merata, termasuk ke daerah-daerah yang sulit dijangkau dan kantong-kantong kemiskinan di wilayah Sleman. Kemudahan Akses dan Layanan BAZNAS Sleman menyediakan berbagai kanal pembayaran dan layanan untuk memudahkan masyarakat dalam berkurban. Dengan integrasi kanal digital dan kerja sama dengan berbagai mitra ritel, masyarakat dapat menunaikan ibadah kurban dengan lebih mudah dan terpercaya. Kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan wujud ketakwaan kepada Allah SWT, kurban menjadi bagian dari ajaran Islam yang tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga sosial. BAZNAS Kabupaten Sleman hadir sebagai lembaga yang siap mengelola dan menyalurkan kurban dari para donatur kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dengan sistem yang transparan, amanah, dan profesional, kami berkomitmen untuk memastikan bahwa ibadah kurban yang dilakukan para donatur dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat di Sleman. Kurban yang disalurkan melalui BAZNAS Kabupaten Sleman akan diberikan kepada kaum dhuafa, fakir miskin, yatim piatu, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah yang jarang mendapatkan distribusi daging kurban. Dengan program ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati kebahagiaan hari raya Idul Adha dan memperoleh gizi yang cukup dari daging kurban yang disalurkan.
ARTIKEL16/05/2025 | AS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →