WhatsApp Icon

Renungan: Melatih Keikhlasan dalam Setiap Ibadah

25/02/2026  |  Penulis: Humas

Bagikan:URL telah tercopy
Renungan: Melatih Keikhlasan dalam Setiap Ibadah

Ilustrasi, source: freepik.com

Alhamdulillah… segala puji bagi Allah yang masih memberi kita umur panjang, kesehatan, dan kesempatan mendapati dan bergembira dengan datangnya Ramadhan yang penuh keberkahan ini.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ?, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.

Ramadhan adalah latihan hati… latihan agar kita menjadi hamba yang ikhlas.

Ikhlas itu tidak terlihat oleh manusia.

Tidak bisa diukur dengan mata.

Tetapi sangat jelas di sisi Allah.

Rasulullah ? bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya… boleh jadi shalat kita sama, puasa kita sama, sedekah kita sama.

Tetapi nilainya di sisi Allah bisa sangat berbeda… karena yang membedakan adalah keikhlasan di dalam dada.

______________

Saudara2ku yang dimuliakan Allah,

Orang yang ikhlas tetap berbuat baik…

meski tidak dipuji.

Tetap beribadah…

meski tidak dilihat.

Tetap bersedekah…

meski tidak disebut.

Lihatlah teladan sahabat Nabi, Umar bin Khattab.

Pada malam hari beliau memikul sendiri karung gandum untuk seorang janda miskin.

Tidak ada kamera.

Tidak ada pujian.

Tidak ada manusia yang tahu.

Yang beliau inginkan hanya satu: Allah melihat.

Begitu pula Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Diam-diam beliau setiap hari membantu seorang nenek buta—membersihkan rumahnya, menyiapkan makanannya.

Tidak pernah diceritakan.

Tidak pernah diumumkan.

Amal itu baru diketahui setelah beliau wafat.

Inilah tanda keikhlasan sejati:

lebih sibuk beramal… daripada sibuk bercerita tentang amal.

______________

Saudaraku sekalian,

Ramadhan sebenarnya sedang mendidik kita untuk ikhlas.

Kita berpuasa…

tidak ada manusia yang tahu apakah kita benar-benar menahan diri.

Tapi kita tetap jujur… karena kita yakin Allah melihat.

Kita shalat tarawih…

meninggalkan rumah, meninggalkan istirahat…

semua karena berharap ridha Allah, bukan pujian manusia.

Maka mari malam ini kita bertanya dalam hati:

sudahkah ibadah kita benar-benar karena Allah?

Atau masih menunggu dilihat… dipuji… dihargai?

______________

Cara melatih keikhlasan

1. Luruskan niat sebelum beramal: “Ya Allah, ini hanya untuk-Mu.”

2. Sembunyikan kebaikan sebisa mungkin, terutama sedekah.

3. Jangan kecewa ketika tidak dipuji, karena tujuan kita bukan manusia… tapi Allah.

4. Perbanyak doa:

Ya Allah, jadikanlah amal kami semua ikhlas karena-Mu.”

______________

Akhirnya…

Kita tidak tahu…

apakah Ramadhan tahun depan kita masih bertemu atau tidak.

Boleh jadi… ini Ramadhan terakhir kita.

Kalau ini benar-benar Ramadhan terakhir…

maka yang kita butuhkan bukan banyaknya amal…

tetapi amal yang ikhlas… yang diterima oleh Allah.

Semoga setiap rakaat tarawih kita…

setiap tetes keringat puasa kita…

setiap sedekah yang kita keluarkan…

Allah terima sebagai amal yang tulus karena-Nya.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh:

Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Sleman

Muhaimin, M.Pd.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →