WhatsApp Icon

BAZNAS Sleman Ikuti Apel Kesiapsiagaan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah di Prambanan

25/05/2026  |  Penulis: ayw/HumasBAZNASSleman

Bagikan:URL telah tercopy
BAZNAS Sleman Ikuti Apel Kesiapsiagaan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah di Prambanan

Dokumentasi: ayw/BAZNAS Kabupaten Sleman

BAZNAS Kabupaten Sleman bersama BAZNAS se-Daerah Istimewa Yogyakarta turut ambil bagian dalam Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan dalam rangka Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah yang digelar di Lapangan Garuda, kawasan Candi Prambanan, pada 22–23 Mei 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya sadar bencana dan ketangguhan masyarakat menghadapi risiko kebencanaan.

Kehadiran BAZNAS Kabupaten Sleman bersama Baznas Tanggap Bencana (BTB) menunjukkan komitmen lembaga zakat dalam mendukung upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana melalui kolaborasi lintas sektor.

Dalam kegiatan tersebut, berbagai unsur pemerintah, relawan, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat turut terlibat sebagai bentuk sinergi bersama membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Peringatan dua dekade Gempa Jogja 2006 menjadi refleksi bersama bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Pemerintah Daerah DIY selama ini terus memperkuat langkah mitigasi melalui edukasi kebencanaan, peningkatan kapasitas personel penyelamat, perluasan kolaborasi, hingga pemanfaatan teknologi berbasis data untuk mendukung identifikasi risiko bencana.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti saat membacakan sambutan Gubernur DIY pada Apel Kesiapsiagaan Bencana dan Gelar Peralatan, Sabtu (23/05), menegaskan bahwa peringatan 20 tahun Gempa Jogja harus menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat agar terus membangun budaya kesiapsiagaan.

“Maka, peringatan 20 tahun Gempa harus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kita belajar dan bersiap terhadap risiko bencana. Sebab, kesiapsiagaan adalah sebuah ekosistem yang mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat, sistem informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat, dan mudah dipahami warga, serta pendidikan kebencanaan sejak dini,” tegas Ni Made di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman.

Ia menyampaikan bahwa pengalaman Gempa Jogja 2006 menjadi pijakan penting dalam membangun kebijakan kebencanaan yang lebih matang dan terarah. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam tindakan sesaat, tetapi harus ditanamkan sebagai budaya hidup sehari-hari.

Lebih lanjut, nilai-nilai falsafah Jawa seperti “eling lan waspada” dan “hamemayu hayuning bawana” menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa menjaga kesadaran terhadap lingkungan sekitar serta memperkuat harmoni antara manusia dan alam.

“Mari kita jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup sehari-hari. Peringatan 20 tahun Gempa Jogja sebagai janji bersama bahwa setiap pembangunan harus menghitung keselamatan dan setiap warga berhak hidup dalam lingkungan yang lebih siap, lebih tangguh, dan lebih berdaya,” ucapnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diajak kembali mengingat semangat gotong royong saat Gempa Jogja 2006 terjadi. Kala itu, warga menjadi garda terdepan dalam proses evakuasi, pertolongan korban, hingga pemulihan pascabencana di tengah berbagai keterbatasan.

“Dari pengalaman itu kita belajar bahwa dalam bencana, korban dapat berjatuhan dalam hitungan detik. Tetapi keselamatan hanya dapat tumbuh dari kesiapsiagaan yang dibangun secara terus-menerus, jauh sebelum bencana terjadi,” lengkap Ni Made.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata sinergi seluruh unsur pentahelix dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana yang siaga dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mewujudkan budaya tangguh bencana dan memperingati dua dekade peristiwa gempa bumi Jogja dan Jawa Tengah sebagai pembelajaran berharga bagi bangsa,”.

“Tapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana termasuk potensi dampak fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan serta gangguan sektor pertanian dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak,” ujarnya saat membacakan amanat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno.

Lilik menambahkan, penguatan kesiapsiagaan sejalan dengan tiga pilar utama yang diusung Kemenko PMK, yakni membangun pemahaman risiko bencana sebagai bagian dari budaya masyarakat, memperkuat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor, serta memanfaatkan teknologi dan sistem informasi terintegrasi untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Partisipasi aktif BAZNAS Kabupaten Sleman dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan peran lembaga dalam mendukung aksi-aksi kemanusiaan dan kebencanaan.

Melalui Baznas Tanggap Bencana (BTB), BAZNAS Sleman terus berupaya hadir dalam penguatan kapasitas relawan, kesiapsiagaan masyarakat, serta kolaborasi penanggulangan bencana di wilayah Sleman dan DIY.

Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, peringatan 20 tahun Gempa Jogja diharapkan menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat demi terciptanya lingkungan yang lebih aman, tangguh, dan berdaya menghadapi bencana.***

Bagikan:URL telah tercopy

Berita Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sleman.

Lihat Daftar Rekening →